My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 13 Pacar pura pura


__ADS_3

"Gadis mana yang akan anda bawa pulang, anda bahkan tidak mempunyai teman wanita." Ujar Rafli mencoba mengingatkan atasannya jika dia seorang jomblo sejati.


"Diluar sana kan banyak wanita, kau sewa saja satu untukku." Ucap Arthur sembari memijat pangkal hidungnya.


"Baik."


Rafli lalu meninggalkan Arthur yang masih duduk dikursi kebesarannya. Jika hanya menyewa seorang gadis sebenarnya adalah hal yang sangat gampang segampang menjentikan jari, namun membohongi seorang Raymon Bagaskara adalah masalahnya.


Rafli menoleh dan melihat Mala yang sedang membersihkan kaca, Rafli memicingkan matanya dan menatap Mala dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kenapa tidak dia saja, dia juga lumayan cantik, ditambah dia sudah mengetahui masalah pak Arthur." Gumam Rafli seraya menyunggingkan senyum diwajahnya yang datar.


"Mala." Panggil Rafli.


Mala menoleh kesumber suara, dia meletakan lap dan alat pembersih kaca pada tempatnya lalu berlari menghampiri Rafli. "Ada apa Asisten Rafli memanggil saya?"


"Saya punya pekerjaan untukmu." Rafli menggerakan jari telunjuknya, memberi kode supaya Mala mendekat.


"Apa?" Mala berangsur mendekati Rafli.


"Menjadi kekasih pura-pura Tuan Arthur." Bisik Rafli .


"Apa." Teriak Mala sehingga beberapa staf yang berada disana menatap mereka berdua, menyadari itu Mala segera membungkam mulutnya. "Saya tidak mau." Tolak Mala secara langsung.


"Ini perintah, bukan tawaran, kamu tidak berhak menolak. Lagi pula kau sudah terikat perjanjian dengan Tuan Arthur."


"Perjanjian? Bukannya itu perjanjian agar saya menjaga rahasia Tuan Arthur, lalu apa hubungannya dengan ini?" Tanya Mala tak mengerti.


"Apa kamu tidak membaca surat perjanjian itu sampai habis?"


Mala hanya menggeleng, waktu itu dia terburu-buru menandatangani surat itu karena Arthur membuatnya takut.


"Disana jelas dituliskan bahwa pihak kedua setuju akan melakukan apa saja sesuai perintah pihak pertama demi menjaga rahasia pihak pertama."


Mala memukul kepalanya sendiri, merutuki kecerobohannya. "Lalu apa hubungannya dengan menjadi kekasih pura-pura Tuan Arthur?"


"Tuan Arthur harus pulang kerumah utama dan dia harus membawa seorang gadis untuk menjadi kekasihnya supaya dia bisa terlepas dari perjodohan yang sudah diatur oleh orangtua Tuan Arthur. Masalahnya adalah, bagaimana jika nanti kepribadian lain Tuan Arthur keluar saat mereka sedang makan malam? Jadi kamu harus menemani Tuan Arthur dan berpura-pura menjadi kekasihnya."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi, saya akan membayarmu 3 kali lipat dari gajimu."

__ADS_1


"Benarkah?" Mata Mala berbinar begitu mendengar uang gaji 3 kali lipat.


"Ya."


Mala diam sejenak, gadis itu menimbang-nimbang tawaran Asisten Rafli, Mala memang membutuhkan uang itu untuk menambah tabungannya agar tahun depan dia bisa melanjutkan kuliahnya, tapi apakah Tuan Arthur tidak keberatan jika aku menjadi kekasih bohongannya."Desis Mala dalam hati.


"5 kali lipat." Imbuh Rafli dan tanpa berfikir panjang Mala segera menyetujui perintah Asisten Rafli, mereka bersalaman sebagai tanda mereka sepakat untuk bekerja sama.


"Pulang kerja nanti tunggilah didepan Art Life." Titah Rafli, lalu asisten tampan itu meninggalkan Mala dan kembali masuk kedalam ruangan Tuannya.


**


"Sudah menemukan gadis yang akan menemaniku pulang?" Tanya Arthur santai, matanya masih sibuk menyapu halaman demi halaman dokumen yang menumpuk dimejanya.


"Sudah."


"Lalu ada apa lagi kau kemari, apa pekerjaanmu kurang banyak." Arthur menghentikkan pekerjaannya, tangannya ia tekuk diatas meja, mata tajamnya kini menatap Asistennya yang berdiri didepannya.


"Anda yakin akan pulang nanti malam?" Tanya Rafli setelah cukup lama diam.


"Kau khawatir padaku?"


"Aku hanya takut salah satu dari mereka akan muncul."


"Tapi itu kan acara keluarga, saya tidak mungkin ikut."


"Apa kau bukan keluargaku?"


"Tapi tuan.." Rafli tidak melanjutkan kalimatnya, karena Arthur telah memotongnya lebih dulu.


"Sudah berapa kali aku melarangmu memanggilku tuan, apa kau sudah tidak mau menjadi sahabatku."


"Tapi saya sudah terbiasa."


"Ya sudah terserah kau saja."


Arthur menyerah membujuk Rafli agar tidak memanggilnya tuan, sudah beberapa kali Arthur melarangnya namun Rafli tetap saja memanggilnya tuan. Arthur menghela nafas panjang lalu dia kembali fokus pada tumpukan dokumennya, dia juga sedang menyiapkan mental untuk bertemu dengan keluarganya nanti.


***

__ADS_1


Pukul 5 sore, para karyawan Art Life mulai meninggalkan kantor satu persatu, sementara Mala masih menunggu Arthur dan Rafli didalam gedung.


"Ngapain bengong disini, ayo pulang?" Ucap Lala seraya menepuk punggung Mala dan membuat Mala terkejut.


"Ah, aku, mm aku lagi nungguin Tuan Arthur, aku mau bersihin ruangannya." Jawab Mala bohong, dia tidak mungkin menceritakan mengenai tugasnya menjadi pacar pura-pura Tuan Arthur kepada sahabatnya karena sudah pasti Lala akan menceramahinya panjang lebar.


"Ok, aku tunggu aja, biar kita bisa pulang bareng."


"Jangan." Teriak Mala. "Mm maksudku kamu pasti capek, pulang saja dulu, aku juga nggak tau kapan Tuan Arthur keluar dari ruangannya."


"Yakin aku pulang duluan."


"Iya, hati-hati ya."


Lala hanya mengangguk, dia melambaikan tangannya lalu meninggalkan Mala.


Tak berselang lama Arthur keluar dari ruangannya dan diikuti Rafli dibelakangnya. Saat melewati Mala, Rafli mengedipkan sebelah matanya, memberi tanda agar Mala mengikuti mereka, Mala hanya mengangguk lalu mengekor dibelakang Rafli.


Menyadari kehadiran orang lain dibelakangnya Arthur berhenti dan memutar tubuhnya, dia menghela nafas panjang saat melihat Mala berada dibelakang Rafli, Arthur menatap Mala sesaat lalu menyuruh gadis itu untuk mendekat. "Kau mengikutiku?"


"Tidak."


"Lalu kenapa kau ada disini?" Seru Arthur


"Aku mengikuti Asisten Rafli."


Arthur menatap Rafli meminta penjelasan, tidak mungkin gadis ini mengikuti mereka jika bukan Rafli yang menyuruhnya.


"Anda bilang saya harus mencari seorang gadis, saya menemukan satu untuk anda." Jawab Rafli sembari menunjuk Mala dengan kedua tangannya.


"Dia? Kau sudah gila? Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau sewa?" Bentak Arthur hingga suaranya menggema diseluruh ruangan. "Kau lihat saja tampangnya, kampungan, dia hanya akan mempermalukanku didepan keluargaku nanti." Imbuh Arthur seraya menatap Mala dengan tatapan hina.


"Tapi hanya dia pilihan yang tepat, dia sudah tau kondisi anda, dengan begitu aku tidak terlalu khawatir anda pergi kerumah utama. Soal penampilan kita bisa merubahnya."


"Sepertinya Tuan Arthur tidak setuju, silahkan cari orang lain saja, saya juga tidak berminat untuk membantu anda." Mala menyela percakapan bos dan asistennya itu, lalu dia menunduk hormat dan berlalu meninggalkan Arthur dan Rafli.


Arthur mengusap wajahnya dengan kasar, tangannya kini berkacak pinggang dan dia mulai jengkel karena semua yang dikatakan Rafli memang benar adanya, setidaknya jika Arthur berubah ada Mala yang bisa membantunya.


"Tunggu." Panggil Arthur sehingga gadis itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ikut kami." Ucap Arthur lalu dia keluar dari kantornya dan masuk kedalam mobil.


BERSAMBUNG..


__ADS_2