
"Nismala?" Panggil seseorang saat mereka sudah berada diruang makan.
"Tante Wulan?"
"Kalian saling kenal?" Tanya Arthur seraya menatap keduanya bergantian.
Perempuan yang dipanggil tante wulan itu berdiri dan mendekati Mala.
"Mala pernah menolong mama sewaktu mama dicopet, waktu itu mama pergi sendiri dan untung saja ada gadis cantik ini yang mau membantu mama sehingga mama bisa pulang. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi?" Jelas perempuan itu sembari mengelus tangan Mala.
"Mama?" Ucap Mala terkejut, dia tidak menyangka akan bertemu wanita yang pernah ditolongnya dirumah besar ini dan meneyebutkan dirinya sebagai mama. "Apa dia ibu Tuan Arthur, tapi kenapa masih muda sekali."Imbuh Mala dalam hati.
"Ah tante lupa belum memperkenalkan diri ya, tante adalah mama sambung Arthur." Jelas mama Wulan dan hanya diangguki oleh Mala.
"Apa Mala gadis yang ingin kamu kenalkan kepada kami?" Kini mama wulan bertanya pada Arthur.
"Hem." Jawab Arthur singkat.
"Duduklah dulu, sebentar lagi dady turun."
Arthur menggandeng tangan Mala dan menuntunnya menuju meja makan. Hal yang tak terduga terjadi, Arthur menarik kursi dan menyuruh Mala duduk, sungguh sebuah hal manis yang tak pernah dibayangkan Mala akan dilakukan oleh seorang Arthur.
Beberapa menit kemudian seorang wanita tua dan seorang gadis muda yang berumur belasan taun turun dan menghampiri mereka dimeja makan. Gadis muda itu segera berlari dan memeluk Arthur yang tengah duduk disebelah Mala, sementara wanita tua yang bersamanya duduk disebelah mama Wulan dan menatap Mala dengan tajam.
"Kenapa baru pulang, aku kan kangen sama kakak."Ucap gadis muda itu tanpa melepas pelukannya.
"Kakak sibuk. Kau baik-baik saja?" Balas Arthur, pria berwajah datar itu kini menyunggingkan senyum diwajahnya.
"Lea lepaskan kakakmu." Sergah mama Wulan, meskipun hanya ibu sambung, namun mama Wulan sangat mengerti tentang Arthur, dia takut Arthur terganggu jika Lea terus saja menempel kepadanya.
"Lea masih ingin memeluk kak Arthur." Gadis muda itu menolak untuk melepas pelukannya.
Alea Putri Bagaskara, putri kedua Tuan Raymon Bagaskara dari pernikahan keduanya bersama Wulandari. Setelah 2 tahun kepergian istrinya, Tuan Raymon memutuskan untuk menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan. Meski berbeda ibu namun Lea sangat menempel kepada Arthur. Gadis yang kini berusia 12 tahun itu sangat manja kepada kakaknya. Setiap Arthur pulang Lea akan mengikuti Arthur kemanapun Arthur pergi.
Meskipun hubungannya dengan sang dady tidak begitu baik, bukan berarti hubungannya dengan sang mama sambung juga tidak baik. Awalnya Arthur menentang pernikahan mereka, namun setelah Lea lahir perlahan Arthur mulai menerima mama Wulan.
Karena memilih tinggal sendiri, mama Wulan kerap kali mengunjungi Arthur, sang mama angkat tidak pernah lupa mengisi kulkas diapartemennya dan karena hal inilah Arthur mulai menerima kehadiran mama Wulan ditengah keluarganya.
"Siapa dia?" Tanya wanita tua itu kepada mama Wulan.
"Kekasih Arthur." Ucap mama Wulan dengan senyuman merekah diwajahnya. "Oh ya Mala kenalin ini oma Lusi, ibu tante dan itu Lea adik Arthur." Imbuh mama Lusi memperkenalkan anggota kekuarga yang lain.
Perempuan tua itu kembali menatap Mala dengan tajam dan membuat Mala sedikit canggung. Oma Lusi, perempuan berusia 60 tahun yang juga merupakan ibu kandung Wulandari. Semenjak anaknya dinikahi oleh Tuan Raymon, dia ikut tinggal dirumah utama dan menempatkan dirinya sebagai sesepuh dirumah besar itu. Namun hubungan oma Lusi dan Arthur tidak terlalu baik, Arthur mengetahui niat buruk oma Lusi yang ingin menggantikan posisinya dengan Lea, oma Lusi tidak terima karena Arthurlah yang akan memimpin Bagaskara Group nantinya.
__ADS_1
Merasa namanya kembali dipanggil Lea melepaskan pelukannya dan kini gadis itu menatap Mala yang berada disebelah Arthur.
"Siapa dia kak?" Tanya Lea tanpa mengalihkan pandangannya dari Mala.
"Pacar kakak."
Lea membuka mulutnya lebar, gadis kecil itu terkejut mendengar pengakuan dari kakaknya. "Kakak punya pacar? Lea fikir selama ini kakak tidak menyukai perempuan?" Coloteh Lea mengejek kakanya.
"Lea, tidak sopan bicara begitu." Mama Wulan menimpali candaan putri kecilnya.
Lea hanya terkekeh, gadis muda itu tersenyum kepada Mala dan meraih tangan Mala sehingga tangan mereka saling menjabat. "Aku Lea." Gadis kecil itu memperkenalkan dirinya.
"Mala." Ucap Mala seraya tersenyum.
"Mantra apa yang kakak gunakan untuk menahklukkan kakakku yang sedingin es itu?" Bisik Lea sehingga Mala terkekeh dibuatnya.
Senyum Mala pudar seketika saat dia melihat Tuan Raymon turun dari tangga dan menghampiri keluarganya. Mala fikir wajah Arthur sudah menyeramkan, namun ternyata Mala salah, baginya wajah Tuan Raymon lebih menyeramkan, tatapan matanya begitu dingin dan wajahnya tak berekspresi. Kini Mala tau dari mana asal muasal wajah datar atasannya.
"Permisi tuan, tamu anda sudah datang." Ucap salah satu pelayan dirumah itu.
"Suruh mereka kemari." Titah Tuan Raymon.
Pelayan itu berangsur pergi dan tak lama setelahnya tamu Tuan Raymon datang.
"Apa kabarmu? Imbuh Tuan Raymon.
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja. Ini putrimu?" Tuan Raymon menunjuk gadis cantik yang berada dibelakang Tuan Handoko.
"Ya, ini Sheila, calon menantumu."Celetuk Tuan Handoko lalu dibarengi tawa oleh keduanya.
"Cantik sekali." Puji Tuan Raymon.
"Arthur." Panggil Tuan Raymon.
Arthur berdiri dan menghampiri tamu dadynya.
"Lihatlah, dia cantik kan." Ucap Tuan Raymond seraya menepuk punggung putranya.
"Sheila." Gadis yang tengah diagung-agungkan kecantikannya itu menjulurkan tangannya kepada Arthur.
"Arthur." Jawab Arthur tanpa meraih uluran tangan sang gadis.
__ADS_1
Tuan Raymon yang melihat aksi kurang ajar anaknya segera mengalihkan pembicaraan dan mengajak mereka semua untuk duduk.
Gadis bernama Sheila itu menatap tidak suka kearah Mala yang duduk bersebelahan dengan Arthur, menyadari itu Tuan Handoko menatap Tuan Arthur meminta penjelasan siapa gadis yang bersama Arthur itu.
"Arthur kau tidak ingin mengenalkan siapa gadis yang bersamamu?" Tanya Tuan Handoko karena tak kunjung mendapat jawaban dari rekan bisnisnya
"Dia asisten baru Arthur." Jawab Tuan Raymon.
Mala hanya menunduk, dia merasa canggung berada ditengah keluarga ini, ingin rasanya dia pergi sekarang, dia menyesal karena tergiur oleh gaji 5 kali lipat yang ditawarkan oleh Asisten Rafli.
"Dia tunanganku." Ucap Arthur sembari menggenggam tangan Mala yang dingin. Semua yang berada diruangan itu terkejut mendengar penuturan Arthur.
Mala mengangkat kepalanya dan menatap Arthur. Bagaimana bisa Arthur mengenalkannya sebagai tunangan, sementara perjanjian awal mereka hanyalah pacar pura-pura.
Tuan Raymon murka mendengar jawaban putranya, dia memukul meja dengan keras sehingga lilin yang berada ditengah meja makan terjatuh dan membakar kain penutup meja makan.
Melihat api didepan matanya membuat Arthur terkejut, dia mulai nampak gelisah, Arthur mengendurkan dasinya, matanya mulai memerah dan nafasnya mulai tak beraturan.
Mala menyadari gelagat aneh Arthur, Mala menggigit bibir bawahnya, gadis itu kebingungan, apa yang harus dia lakukan jika Arthur berubah nanti?
"Sepertinya Arthur tidak enak badan, Mala ayo bantu tante, bawa Arthur kekamarnya."
Mendengar ucapan mama Wulan akhirnya Mala bisa bernafas lega, dia segera memapah Arthur, tanpa permisi dia meninggalkan meja makan dan mengikuti mama Wulan naik keatas.
"Bertahanlah, jangan sampai anda dikalahkan oleh kepribadian yang lainnya."
Visual Tuan Raymon
Mam Wulandari
Lea
Oma Lusi
BERSAMBUNG...
__ADS_1