
Arthur berada di pusat perbelanjaan yang jaraknya tak terlalu jauh dari Rumah Sakit, Mala memang tak memintanya secara langsung, namun Arthur berinisiatif membelikan Mala pakaian dalam. Arthur menelusuri setiap lantai pusat perbelanjaan tersebut, hingga ia tiba di lantai tiga dan melihat toko perlengkapan wanita.
Arthur nampak ragu untuk masuk ke dalam toko tersebut, namun demi Mala akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk, ia mencoba menepis rasa malunya..Kehadiran Arthur tentu menarik perhatian karyawan toko dan beberapa pengunjung wanita di sana.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya pelayan toko dengan ramah.
Arthur menatap sekeliling, ia sedikit menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga pelayan itu. "Saya butuh pakaian dalam wanita."
"Baik tuan, model seperti apa yang anda inginkan dan berapa ukurannya?" Ucap pelayan itu dengan pelan.
"Ukuran?" Gara-gara ucapan itu Arthur kembali mengingat tubuh polos Mala. Arthur segera menepis fikiran kotornya, ia mengamati pelayan yang berdiri di depannya. "Porsi tubuhnya hampir sama dengan anda."
"Baik tuan, berapa yang anda butuhkan?" Pelayan itu sangat cekatan, ia menangkap maksud Arthur.
"Bungkus semua model yang ada."
"Baik tuan."
Pelayan tersebut meninggalkan Arthur dan mulai mencari yang di butuhkan Arthur, tak berselang lama pelayan itu membawa setumpuk pakaian dalam dengan berbagai jenis model ke kasir. Arthur mengikuti pelayan tersebut ke kasir untuk membayar, namun Arthur dibuat terkejut melihat berbagai model pakaian dalam wanita yang sedang di kemas.
"Kenapa banyak sekali modelnya." Batin Arthur.
"Terimakasih atas kunjungannya tuan." Ucap pelayan itu setelah Arthur mebayar tagihannya. Arthur bergegas keluar dari toko itu, kedua tangannya membawa paper bag berukuran cukup besar.
Arthur tiba di Rumah Sakit, ia menghampiri Mala yang sedang duduk di atas tempat tidurnya..Senyum manis Mala mengobati rasa malunya yang sejak tadi mengganggu fikirannya.
"Beli apa?" Tanya Mala seraya menatap paper bag di tangan Arthur.
"Pakaian dalam."
Mala tercekat, ia menatap Arthur tak percaya..Arthur menaruh paper bag tersebut di atas tempat tidur dan Mala segera memeriksanya.
Mala tak bisa menahan tawanya, Arthur benar-benar membelikannya pakaian dalam, bukan hanya satu, Arthur membelikannya sangat banyak.
"Kamu memborong semuanya?" Tanya Mala sambil menahan tawanya.
"Aku nggak tau ukurannya berapa, jadi aku beli semua yang ada." Tutur Arthur dengan wajah masam karena Mala mentertawakannya.
"Sayang kamu yakin namamu Arthur Bagaskara?"
"Tentu saja, memang siapa lagi." Sahut Arthur.
"Siapa sangka bos galak ini akan membelikan pakaian dalam untuk karyawannya." Ledek Mala, di dalam hatinya ia tertawa puas.
__ADS_1
"Terimakasih ya." Ucap Mala dengan tulus, ia mengganggam tangan Arthur yang sangat hangat.
Arthur mengulas senyum, ia menunduk sehingga dapat mencium bibir Mala dengan leluasa.
"Cepat sembuh ya." Bisik Arthur, ia kembali mengecup bibir Mala.
***
Di rumah utama Bagaskara Group..
Mama Wulan tengah sibuk memasak di dapur, sore nanti ia berniat mengunjungi Mala di Rumah Sakit. Setelah kepulangan Arthur tengah malam kemarin suasana rumah besar tersebut semakin sepi, tuan Raymon mulai menutup diri, ia tak pernah bergabung untuk makan malam bersama keluarganya.
Semua masakan sudah siap, mama Wulan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Mama Wulan terkejut karena melihat suaminya berada di dalam kamar.
"Kapan kamu pulang mas?" Tanya mama Wulan, ia menghampiri suaminya yang duduk di tepi tempat tidur.
"Baru saja." Jawab tuan Raymon, suaranya sangat lesu.
"Kamu sakit, kenapa wajahmu pucat sekali mas?"
"Wulan." Ucap tuan Raymon seraya menatap istrinya.
"Marsel.....Marsel meninggal, seseorang telah membunuhnya."
Mama Wulan syok mendengar kabar kematian Asisten Pribadi suaminya, ia membekap mulutnya dengan kedua tangan, suaranya tercekat, ia tak bisa berkata-kata lagi.
Mata mama Wulan mulai berair, ia menatap suaminya, rasa curiga terlihat jelas di matanya.
"Kau mencurigaiku?" Seru tuan Raymon.
"Aku sungguh tak melakukan hal sekejam itu, aku mencarinya untuk bertanya mengenai kecelakaan yang menimpa Mala, saat aku sampai di rumahnya ia sudah menjadi mayat, sungguh aku tidak tahu apapun Wulan."
Tuan Raymon menjelaskan kepada mama Wulan kronologi yang sebenarnya, namun mama Wulan nampak masih ragu, ia bahkan menepis uluran tangan suaminya yang akan menyentuh tangannya, mengingat kemarahan Arthur membuat mama Wulan semakin mencurigai suaminya.
"Aku mau ke Rumah Sakit." Ucap mama Wulan, ia meninggalkan suaminya dan bersiap menjenguk Mala.
Setelah siap, mama Wulan keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata apapun, wajahnya nampak pias, kekecewaan jelas mengurai di dalam matanya.
Tuan Raymon menatap nanar kepergian istrinya, hatinya bak di cabik karena orang-orang terdekatnya malah mencurigainya. Tuan Raymon mengusap wajahnya dengan kasar, ia berjanji akan membuktikan kepada semua orang jika bukan dia pelakunya.
Mama Wulan turun dan meraih kotak makan yang sudah ia siapkan untuk Mala, saat akan keluar rumah tiba-tiba oma Lusi memahannya.
"Mau kemana kamu?" Tanya oma Lusi.
__ADS_1
"Ke Rumah Sakit, aku mau menjenguk Mala bu." Jawab mama Wulan.
"Kamu itu perhatian sekali sama orang asing itu."
"Dia bukan orang asing bu, dia akam menjadi menantuku." mama Wulan mempertegas kalimat terakhirnya.
"Cih, terserah kamu saja. Oh ya bagaimana hubungan bapak dan anak itu, apa mereka sudah baikan. Ibu harap hubungan mereka semakin renggang, sehingga kesempatan Lea untuk menggantikan Arthur semakin besar." Ujar oma Lea, ia menampakan senyuman licik di wajah tuannya.
"Sudah Wulan katakan berulang kali bu, Lea tidak berhak atas apapun, berhenti menjadi orang yang serakah, harusnya ibu bersyukur karena keluarga ini mau meneriman dan menampung kita di rumah besar ini." Tegas mama Wulan, ia sangat muak dengan sikap serakah ibunya.
"Aku pergi." Pamitnya dengan cuek.
***
Mama Wulan telah tiba di Rumah Sakit, ia bertanya kepada resepsionis di mana kamar perawatan atas nama Mala, setelah mendapat informasi, mama Wulan segera menuju kamar Mala.
Mama Wulan berdiri tak jauh dari ruangan Mala, namun ia ragu untuk masuk karena ada dua pria seram yang berjaga di depan pintu Mala.
"Apa benar ini kamarnya?" Gumamnya dalam hati.
Mama Wulan mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Arthur. Beberapa menit kemuadian Arthur keluar dari ruangan itu dan menghampirinya.
"Ayo masuk ma." Ajak Arthur.
"Mereka siapa nak?"
"Mereka boddyguard yang di sewa oleh Rafli ma."
Mama Wulan hanya mengangguk, ia paham mengapa Arthur sampai menyewa boddyguard untuk menjaga kamar Mala, kecelakaan Mala pasti membuat Arthur ketakutan.
Mama Wulan masuk ke dalam kamar perawatan Mala yang super besar, namun di dalam sana Mala tengah beristirahat sehingga kedua orang itu memutuskan untuk duduk di sofa dan menunggu hingga Mala bangun.
"Apa yang mama bawa?" Tanya Arthur seraya melirik kotak makan yang berada di atas meja.
"Makanan untuk Mala, mama yakin masakan Rumah Sakit kurang enak."
"Terimakasih ma, maaf sudah merepotkan mama."
"Mama tidak merasa repot nak. Oh ya ada yang mama ingin sampaikan." Mama Wulan melirik Mala sekilas, ia menatap Arthur setelah memastikan Mala masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Marsel meninggal, dia di bunuh." Ucap mama wulan dengan setengah berbisik.
"Siapa yang memberi tahu mama?" tanya Arthur dengan ekspresi wajah yang susah di tebak.
__ADS_1
"Dadymu pulang cepat, dia bilang sedang mencari Marsel untuk menanyakan tentang kecelakaan Mala, namum saat dia datang ke rumahnya ternyata Marsel sudah meninggal, katanya mayatnya di temukam di pinggir jalan, tubuhnya penuh dengan luka."
Arthur mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras begitu mendengar cerita mama Wulan. Kematian Marsel membuatnya semakin penasaran, siapa dalang di balik semua ini dan kenapa orang itu mengincar Mala.