
Pakde Karto mengarahkan Mala menuju sebuah tempat dipinggiran kota, Mala sedikit terkejut begitu mereka tiba diperkampungan kumuh yang berdekatan dengan saluran irigasi. Mala memarkirkan mobilnya dilahan kosong, pakde Karto terlihat bersemangat keluar dari mobil, dia lalu mengambil sangkar jangkriknya yang berada dikursi belakang.
Mala mengikuti pakde Karto yang berjalan masuk kedalam gang sempit, tak jauh dari sana pakde Karto sudah disambut oleh beberapa teman yang usianya sudah tergolong tua, mereka tersenyum dan melambai kepada pakde Karto, begitupun sebaliknya.
"Pakde, lama banget nggak pernah kesini?" Tanya salah seorang teman pakde Karto yang usianya mungkin 40 tahunan.
"Iyo aku sibuk. Aku wis bawa jangkrik, kita adu sekarang saja, mumpung aku bisa keluar."
"Sabar pakde, kenalin dulu to gadis cantik yang bersamamu itu."
Pakde menepuk keningnya sendiri, dia menoleh kearah Mala, lalu menarik tangan Mala. "Kenalin ini ponakanku, cantik to, dia masih single, kalau kalian punya anak bujang kenalin saja sama Mala." Ujar pakde Karto dengan semangat. Mala menoleh kearah pakde dan menatapnya tajam, bisa-bisanya dia malah mempromosikan diriku, batin Mala.
Mala tersenyum dan menjabat tangan satu persatu teman pakde Karto, dia berusaha untuk terlihat seramah mungkin.
"Coba aku masih muda, lebih baik sama aku saja, sudah cantik, murah senyum, ramah lagi, paket komplit pokoknya keponakanmu ini pakde." Puji salah seorang teman dan membuat Mala tersipu karena malu.
"Yo wis ayo adu sekarang, nanti keburu malem." Ajak pakde Karto. Lalu mereka semua pergi kedekat saluran irigasi, di sana sudah banyak orang rupanya, bukan hanya untuk adu jangkrik, ada juga yang tengah mengadu ayam. Mala merasa risih karena disana hanya dia perempuan satu-satunya, namun dia tetap mengekori pakde Karto karena itu bagian dari pekerjaannya.
Pakde Karto dan teman-temannya sudah berada didekat arena adu jangkrik yang berbentuk kotak dengan 4 kaki dan terbuat dari kayu. Pakde Karto mengeluarkan jangkriknya dan menaruhnya diarena aduan, lalu salah satu temannya melakukan hal yang sama, kini dua jangkrik sudah siap untuk diadu. Mala mengamati dengan seksama, baginya ini adalah hal baru yang lumayan menarik untukknya.
Salah seorang yang bertindak sebagai juri, merangsang jangkrik-jangkrik yang siap diadu dengan rumput, lalu kedua jangkrik itu saling menyerang satu sama lain. Selama pertandingan, mereka semua diam dan mengamati dengan seksama, setelah salah satu jangkrik kalah pakde Karto berteriak dengan girang karena jangkriknyalah yang menang.
Namun rupanya teriakan pakde Karto mengganggu pengadu jangkrik yang lainnya, beberapa orang bahkan menatap sangar pakde Karto, bahkan ada beberapa orang yang tengah menghampiri pakde Karto dan teman-temannya. Diantara orang-orang yang sedang berjalan kearah rombongan pakde Karto, Mala menangkap sosok yang tidak asing baginya, kak Sofyan, desis Mala. Sebelum orang-orang itu dekat pakde Karto lebih dulu menarik Mala untuk bersembunyi dibalik punggungnya.
"Brisik banget si kalian." Maki salah satu orang yang datang bersama Sofyan.
"Maaf, maaf, aku tadi keceplosan, saking senangnya karena sudah lama ndak main jangkrik." Ucap pakde Karto menyadari kesalahannya, karena saat sedang adu jangkrik memang tidak boleh ada suara apapun agar jangkriknya tidak terganggu.
__ADS_1
"Dasar gob*lok." Maki orang tadi dan mendorong tubuh pakde hingga terhuyung namun tidak sampai jatuh. Namun karena itu Sofyan menyadari keberadaan Mala, dia menyeringai dan menghampiri Mala.
"Akhirnya gue ketemu sama lo." Ucap Sofyan seraya mencekal pergelangan tangan Mala. "Kasih tau gue dimana lo nyimpen stempel orang tua lo?" Imbuh Sofyan dengan kasar.
"Stempel apa kak?" Mala bingung karena tidak mengerti dengan maksud Sofyan.
"Nggak usah pura-pura bego deh lo, ayo ikut gue sekarang." Sofyan menarik tangan Mala dengan kasar sehingga mereka menjadi pusat perhatian.
Pakdeh Karto menghadang Sofyan, dia tidak terima karena Sofyan membawa Mala dengan paksa.
"Lepaskan dia." Seru pakde Karto.
"Bukan urusan lo, minggir."
"Ini urusanku karena Mala datang bersamaku."
"Bocah kurang ajar, dikasih tau baik-baik malah main kasar."
" Sini maju lawan gue." Tantang Sofyan dengan angkuhnya.
Belum juga pakde Karto menjawab Sofyan kembali meninju wajah pakde Karto, dia menarik kerah pakde Karto lalu lututnya ia gunakan untuk memukul perut pakde Karto.
Mala berteriak melihat wajah pakde Karto yang lebam dan sudut bibirnya berdarah, Mala mencoba untuk melerai mereka namun Sofyan justru mendorongnya sehingga Mala terjatuh ditanah. Orang-orang yang berada disana hanya menyaksikan perkelahian itu, mereka tidak ingin ikut campur.
Melihat Mala tersungkur ditanah mata pakde Karto mulai memerah, kepalanya bergerak kekiri dan kekanan, lalu dia menatap tajam kearah Sofyan. Tanpa basa basi pakde Karto segera meninju wajah Sofyan, bukan sekali namun berkali-kali dan tanpa ampun. Mala menelam ludahnya melihat pakde Karto memukul Sofyan membabi buta, namun Mala segera sadar yang kini tengah mengamuk bukanlah pakde Karto, melainkan Petra. Melihat Sofyan yang sudah tidak berdaya, Mala segera bangun dan menahan Petra, biar bagaimanapun Sofyan tetaplah keluarganya, dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Sofyan.
"Hentikan, aku mohon." Ucap Mala seraya menahan tangan Petra yang mengayun diudara.
__ADS_1
"Minggir." Seru Perta, dia melirik Mala sekilas lalu menepis tangan Mala dan kembali menghajar Sofyan yang sudah tergetak ditanah.
Mala semakin panik saat Petra menarik kaki Sofyan dan membawanya kepinggir saluran irigasi, Mala segera berlari, gadis itu bingung namun dia segera memeluk tubuh Petra dari belakang dan memohon kepada Petra untuk berhenti.
"Aku mohon hentikan, aku tidak mau anda menjadi pembunuh." Ucap Mala dengan suara terpenggal-penggal.
Petra menghela nafas kasar, dia memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan dengan posisi Mala masih memeluknya.
"Apa kau tau siapa aku?" Tanya Petra dengan suara seraknya.
Mala mengangguk, gadis itu mendongakan kepalanya dan menatap Petra yang matanya masih merah.
"Siapa aku?" Tanya Petra lagi, namun kini suaranya terdengar lebih lembut.
"Petra." Jawab Mala.
"Arthur sudah memberitahu bagaimana sifatku kan. Jadi lepaskan aku, aku harus membunuh badjingan yang sudah memukul wajah tampanku." Ucap Petra lalu dia melepaskan kaitan tangan Mala dengan paksa.
Terlepas dari Mala, pemuda itu segera menghampiri Sofyan dan kembali menarik kakinya, kini mereka sangat dekat dengan saluran irigasi yang ukurannya sangat lebar.
"Lepaskan, gue mohon jangan bunuh gue." Iba Sofyan, namun Petra hanya meliriknya dan tersenyum smrik.
Perta mengangkat tubuh Sofyan, dia hendak melemparkan Sofyan kedalam air keruh itu, namun tiba-tiba Mala melompat kedalam air dan menghilang disana.
"Mala.."
BERSAMBUNG...
__ADS_1