
Keringat dingin membasahi hampir sebagian tubuh Arthur, jiwa pengusaha yang selalu siap dengan segala keadaan seakan sirna, nyalinya menciut saat berhadapan dengan tuan Mahesa. Arthur kalang kabut menghadapi pria tua yang akan menjadi mertuanya.
"Bagaimana kondisi Mala?" Tanya tuan Mahesa, ia menatap Arthur yang duduk menegang.
"Mala sudah sadar tuan?" Jawab Arthur dengan pelan, ia berusaha mengontrol dirinya sendiri agar tak terlihat sedang gugup.
"Syukurlah."
"Anda ingin menemui Mala?" Tawar Arthur.
Tuan Mahesa menggeleng lemah, ia menolak untuk bertemu Mala. "Nanti saja setelah kondisinya lebih baik."
Arthur mengerti, pasti bukan hal mudah bagi Mala untuk menerima semua ini, pria asing yang baru beberapa bulan di kenalnya tiba-tiba menjadi ayah kandungnya.
Tuan Mahesa datang hanya untuk memastikan kondisi Mala, ia kembali ke kamarnya dengan di bantu seorang perawat. Tuan Mahesa tengah mempersiapkan diri untuk memberi tahu Mala siapa dia sebenarnya, jauh di lubuk hatinya ia sungguh ingin Mala menerima kehadirannya.
***
Mama Wulan baru saja tiba di Rumah Sakit, ia buru-buru menemui Arthur. Mendengar kabar Mala telah sadar mebuatnya sangat lega dan bersyukur. Mama Wulan menatap Arthur yang sedang duduk, wajahnya terlihat tegang.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu tegang sekali." Tanya mama Wulan, wanita itu lalu duduk di sebelah putranya.
"Ma." Ucap Arthur, ia menoleh dan menatap mamanya.
"Ya."Jawab mama Wulan lembut.
"Apakah Mala akan menerima tuan Mahesa nantinya?"
"Mala gadis yang baik, mama tau semua ini pasti berat, namun mama yakin Mala akan menerima tuan Mahesa, ya meskipun pasti butuh waktu yang tidak sebentar."
"Apakah hal ini yang mengganggu fikiranmu?"
"Bukan ma, aku tadi bertemu tuan Mahesa, tapi tiba-tiba aku berkeringat dingin dan tidak tau harus berbicara apa padanya." Ujar Arthur dengan polosnya.
Mama Wulah terkekeh, ia tak menyangka jika Arhur juga bisa gugup. "Wah jadi kamu gugup bertemu calon mertua." Goda mama Wulan
"Jangan tertawa mah." Arthur menunduk Malu.
"Mama cuma tidak menyangka kamu juga bisa gugup rupanya." Mama Wulan kembali tertawa.
"Arthur juga manusia ma."
***
Sore hari Lala datang bersama Rafli untuk menjenguk Mala. Mala sudah dipindahkan ke sebuah kamar VVIP dengan luas ruangan 38 meter persegi yang di lengkapi dengan tempat tidur elektrik, kursi dan sofabed, satu set meja makan beserta kulkas dan microwave, tidak ketinggalan lemari baju serta smart TV 50 inch.
Mala menelan ludahnya dengan kasar, kepalanya yang sakit semakin berdenyut saat tiba di ruangan rawat inapnya. "Dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar ruangan ini?" Batin Mala.
Mala berada di atas tempat tidur dengan posisi setengah duduk, sementara Arthur duduk kursi yang berada di sebelah tempat tidur Mala sambil memegang semangkuk bubur, ia berniat menyuapi Mala.
"Tuan saya mau pindah ruangan." Pinta Mala dengan wajah sedih, Arthur yang tengah mengaduk buburpun menghentikan aktivitasnya dan menatap Mala.
"Kenapa?" Tanya Arthur.
__ADS_1
"Anda lupa kalau saya miskin, saya tidak mampu membayar ruangan ini, apa saya harus menjual ginjal saya demi membayar biaya Rumah Sakit?"
Arthur tersenyum simpul, ia berdiri dan duduk di bibir tempat tidur Mala, jarak mereka sangat dekat membuat Mala kurang nyaman.
"Ginjal? Aku lebih tertarik dengan tubuhmu, kau bisa menjualnya kepadaku." Bisik Arthur dengan senyum mesyumm di wajahnya.
"Dasar mesyum."
Arthur tersenyum lebar sehingga lesung pipi yang beberapa hari ini tak terlihat kembali muncul, dua cekungan di pipi kanan dan kirinya menambah ketampanan paripurnanya tak terkalahkan.
"Jangan fikirkan itu, yang terpenting sekarang kamu harus cepat sehat dan pulang ke rumah." Ucapnya lembut, ia merapikan rambut Mala dan menatap wajah Mala yang penuh dengan luka goresan.
"Tapi saya sungguh tidak punya uang untuk membayar semua ini tuan." Mala menunduk lemah, tabungannya tidak akan cukup untuk membayarnya, rasanya ia ingin segera pulang dan kembali bekerja.
"Perusahaan yang akan membayarnya, kamu tak perlu khawatir." Arthur terpaksa berbohong, nyatanya semua pengobatan Mala sudah di tanggung oleh tuan Mahesa. Arthur sempat bersikeras untuk membayar biaya pengobatan Mala, namun tuan Mahesa memohon, ia ingin menebus semua kesalahannya kepada Mala.
"Anda yakin?" Tanya Mala dengan wajah serius.
"Kamu nggak percaya sama aku?"
Mala hanya mengangguk, ia mempercayai Arthur sepenuhnya.
"Gadis pintar, sekarang makan dulu ya." Arthur kembali meraih mangkok bubur yang ia letakkan di atas nakas, ia menyendoknya dan mengarahkan ke mulut Mala.
"Buka mulutnya." titahnya lagi, Mala membuka mulutnya dan sendok berisi bubur telah berpindah ke dalam rongga mulutnya.
"Tuan." Ucap Mala, ia sedikit kesulitan karena mulutnya masih berisi bubur.
"Hem."
"Tulang rusukmu patah dan merobek organ hati, kemarin kamu melakukan operasi cangkok hati." Jelas Arthur seraya menyuapi Mala.
"Cangkok hati." Mala terkejut, bubur di dalam mulutnya hampir saja menyembur keluar.
"Iyaa. Untuk itu kamu harus makan yang banyak agar tubuhmu cepat pulih."
"Lalu siapa yang sudah berbaik hati mendonorkan hatinya untuk saya?"
Arthur terdiam sejenak, lalu kembali menyuapkan bubur ke dalam mulut kekasihnya. "Ada seorang pria baik hati yang memberikan sebagian hatinya untukmu, setelah sehat nanti kalian akan bertemu, kamu harus berterimakasih kepada pria itu."
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan pria itu."
Arthur tersenyum sendu, ia khawatir Mala akan menolak tuan Mahesa saat ia tahu kebenarannya.
"Mala." Panggil Arthur, suaranya sangat lembut.
"Ya."
"Bisakah kamu berhenti memanggilku tuan?"
Mala mengedipkan matanya berulang kali, permintaan Arthur membuatnya merasa aneh.
"Lalu saya harus memanggil anda apa?" Tanya Mala ragu.
__ADS_1
"Kamu bisa memanggil namaku atau mungkin sayang?"
Mala tersedak ludahnya sendiri, ia terkejut dengan permintaan Arthur .
"Kamu sudah menerima lamaranku, bukankah kita akan segera menikah. Pasti sangat aneh kalau kamu tetap memanggilku tuan."
"Sayang." Ucap Mala.
Arthur menegang, ia tak menyangka sebutan sayang terdengar begitu indah saat keluar dari bibir Mala. Wajah Arthur mulai terasa hangat, ia tersipu.
"Ulangi lagi." Pinta Arthur.
"Apanya?" Mala pura-pura bodoh.
"Yang tadi."
"Yang mana?"
"Barusan kamu manggil aku apa?"
"Aku lupa."
Arthur bangun dari duduknya, ia berdiri sambil menatap Mala, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Lupakan." Sungut Arthur, wajahnya tiba-tiba murung. Arthur beranjak dari tempatnya dan berniat untuk keluar dari ruangan itu, Arthur sangat kesal.
"Sayaang."
Langkah Arthur terhenti, tangannya urung meraih gagang pintu. Wajahnya kembali berbinar, Arthur berbalik dan berjalan menuju tempat tidur Mala.
"Lagi, katakan lagi." Pintanya dengan sangat semangat.
"Sayang."
"Sekali lagi."
"Saaaaayaaaang."
Arthur tak bisa menahan senyumnya lagi, dengan hati-hati ia memeluk tubuh Mala. Senyum Mala tak kalah lebar, ia membalas pelukan Arthur, lilitan selang infus tak mengurangi ruang geraknya. Aroma tubuh Arthur membuat nyeri di kepalanya sedikit mereda.
Arthur melepas pelukannya, ia menangkup pipi Mala dan memperhatikan bekas luka di wajah gadisnya. Arthur mengecup bekas luka itu dengan hati-hati.
"Pasti sangat sakit."
"Tidak, kamu baru saja mengobatinya."
Kebahagiaan kembali Arthur rasakan saat Mala memanggilnya dengan sebutan kamu.
Cup cup cup..
Arthur mengecup bibir Mala untuk mengekspresikan rasa bahagianya, namun tanpa mereka sadari dua sejoli tengah berdiri dan menonton adegan romantis ini.
"Sayang, apa kau tak ingin melamarku juga." Ucap Lala asal-asalan, ia hanya terlalu iri dengan keromantisan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kau siap, kalau begitu ayo menikah!!"
BERSAMBUNG...