
Setibanya di rumah, Rani yang baru saja bertemu dengan Mala segera menghampiri ibun dan kakaknya yang sedang duduk sambil menonton televisi.
"Dari mana kamu?" Tanya Bi Ningsih namun tatapannya masih fokus pada layar menyala dihadapannya.
"Main bu." Jawab Rani, gadis itu duduk di sofa yang berada di sebelah ibunya.
"Jangan main terus dong Ran, kalau kamu nggak mau sekolah ya cari kerja, bantu ibu nyari duit, kalian ini memang nggak ada yang berguna." Omel Bi Ningsih kepada kedua anaknya.
Kedua anak yang di maksud hanya diam, keduanya terlalu di manja sewaktu ayahnya masih hidup sehingga mereka tak memiliki bakat apapun kecuali menghabiskan uang. Setelah lama diam dan mengumpulkan keberaniannya, Rani akhirnya mulai angkat bicara.
"Bu." Ucap Rani sedikit ragu.
"Hemm." Bi Ningsih masih fokus kepada tontonannya.
"Kenapa Mala bisa tinggal bersama kita?" Rani mulai berbasa-basi agar ibunya tak curiga jika dia tiba-tiba menanyakan perihal orang tua Mala.
"Tanya ayahmu."
"Ah ibu, ayah kan sudah meninggal, masa Rani harus bertanya sama mayat?" Rani menggerutu mendengar jawaban ibunya.
"Ya karena ayahmu yang baik hati itu tidak tega menaruh yatim piatu itu di panti asuhan. Mengingat itu membuat ibu kesal, harusnya dulu ibu membuangnya di panti asuhan."
"Emang dimana sih kejadiannya bu, kenapa Mala nggak ikut mati sama orang tuannya."
*****
Pagi hari, pasangan yang memiliki kisah rumit sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Sejak semalam Arthur cosplay menjadi cicak karena selalu 'menempel pada Mala' dan sepertinya masih berlanjut hingga pagi ini karena Arthur memilih duduk di bangku depan agar berdekatan dengan Mala.
Mala membuang nafasnya kasar, dia tak berusaha untuk melarang kehendak Arthur karena percumah saja. Mala melirik Arthur sekilas sebelum akhirnya dia melajukan mobilnya.
"La." Panggil Arthur, entah kenapa akhir-alhir ini suaranya terdengar sangat lembut.
"Ya tuan." Jawab Mala tanpa menoleh.
"Nanti malam tidak usah masak, kita makan di luar saja sekalian belanja, aku lihat persediaan kita mulai habis, mama Wulan juga sedang sibuk jadi nggak bisa belanja untuk kita."
Arthur tersenyum simpul saat membayangkan dia tengah belanja bersama dengan Mala, dia teringat saat pengunjung lain mengira mereka sepasang suami istri. Arthur menjadi salah tingkah saat kata suami istri terlintas dikepalanya.
"Mala, kenapa kita tidak menikah saja."
Ciiiiittttt,, Mala membanting setirnya ke kiri, suara gesekan ban mobil dan aspal melengking menandakan pengemudinya menginjak rem secara mendadak.
"Kau gila, kenapa ngerem mendadak?"Protes Arthur.
__ADS_1
"Anda yang gila." Jawab Mala dengan wajah kesal.
"Kenapa jadi aku?"
"Kenapa tiba-tiba anda mengajak saya menikah, bercanda anda tidaklah lucu tuan."
"Aku tidak bercanda, aku serius. Kita sudah cukup lama tinggal bersama dan tau kebiasaan masing-masing."
"Apa anda mencintai saya?" Tanya Mala seraya menatap tajam ke arah Arthur.
"Ya aku mencintaimu. Kau fikir selama ini aku hanya bercanda? Apa kau benar-benar tidak merasakan ketulusanku?"
Dug dug dug dug, jantung Mala mulai memompa dengan cepat, iramanya terdengar sangat nyaring sehingga Arthur mungkin bisa mendengarnya. Mala segera membuang wajahnya ke arah lain karena gugup dan salah tingkah.
"Berhentilah berdebar-debar wahai jantung sialan." Maki Mala dalam hati, semenjak tinggal bersama Arthur dia mulai pandai mengumpat.
"Lihat aku." Arthur memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa dengan leluasa menatap Mala. Kedua tangannya menangkup wajah Mala, dengan pelan Arthur menarik wajah Mala agar gadis itu menatapnya.
"Aku tau yang kau cintai adalah Rey dan kalian diam-diam berhubungan di belakangku."
Mala kembali terkejut dengan penuturan Arthur, alih-alih penasaran sejak kapan Arthur mengetahuinya, Mala justru merasa dia seperti seorang yang tengah berselingkuh dan tertangkap basah oleh pasangan aslinya.
"Tapi kau harus ingat, dia tak nyata."
"Kau pasti tau kan, tubuh yang kau peluk saat bersama Rey, bibir yang kau cium dan menciummu, tangan yang dengan lembut mengusap kepalamu, itu semua milikku."
"Jika kau bisa mencintai Rey kenapa kau tak bisa mencintaiku, padahal kami adalah orang yang sama."
Arthur beralih pada tangan Mala, dia menggenggam kedua tangan mungil itu. Mala dapat merasakan kehangatan dari tangan Arthur dan tanpa disadarinya kehangatan itu mulai merambat di hatinya.
Arthur melepas salah satu tangannya, dia mengambil sesuatu dari saku jas yang ia kenakan.
"Fikirkan baik-baik, aku serius dengan ucapanku, menikahlah denganku dan bantu aku melawan penyakitku, aku rasa aku bisa sembuh jika kau terus bersamaku."
"Jangan lepaskan ini sampai kau memiliki jawabannya." Ucap Arthur seraya menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Mala.
Cup..
Sebuah kecupan Arthur berikan di punggung tangan Mala, lalu detik berikutnya kecupan itu berganti pada dahi Mala.
Sungguh lamaran yang romantis bukan?
Mala berusaha mengembalikan akal sehatnya, dia luluh namun ada hal yang lebih penting sekarang selain memikirkan bagaimana perasaannya.
__ADS_1
"Ayo jalan, kita bisa telat sampai di kantor." Ujar Arthur setelah melepaskan genggamannya.
Mala menelan ludahnya kasar, dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, setelah merasa sedikit tenang Mala menghidupkan mesin mobil dan kembali melajukannya.
Sepanjang perjalanan Mala hanya diam, sekilas dia mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya. "Seandainya kisah kita tak serumit ini, mungkin aku tak perlu berfikir untuk menjawab Ya dan menikah denganmu." Batin Mala sedih.
***
Lala memutar bola matanya saat melihat Rafli tengah berdiri di depan lobby Art Life, dia merasa sangat kesal karena saat dia berusaha untuk melupakan perasaannya justru Rafli semakin sering di temuinya.
Lala berusaha untuk tidak gugup, dia berusaha untuk terlihat biasa saja, saat melewati Rafli, gadis itu menundukan kepalanya sopan dan segera masuk ke dalam bangunan tiga lantai yang menjadi tempat magangnya.
"Lala." Panggil Rafli setelah gadis itu melewatinya.
Lala membuang nafasnya kasar, dia menghentikan langkahnya dan berputar arah. "Ya." jawabnya singkat.
"Ada apa?" Tanya Lala karena Rafli tak kunjung bicara.
"Kapan magangmu selesai?" Tanya Rafli setelah tak menemukan topik yang harus ia bicarakan kepada Lala.
"Dua minggu lagi."
"Oh, cepat juga ya, tidak terasa sudah hampir 3 bulan kamu magang disini." Jawab Rafli yang terdengar sedikit kecewa karena Lala hampit menyelesaikan magangnya.
"Ya."
Hening, keduanya saling diam hingga akhirnya kecanggungan itu terpecah setelah kedatangan Arthur dan Mala.
"Mala." Panggil Lala seraya melambaikan tangannya.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Rafli.
"Ya aku baik. Bagaimana pekerjaan kemarin?"
Keduanya lalu sibuk membicarakn pekerjaan dan meninggalkan kedua gadis itu. Lala segera menghampiri sahabatnya dan menggandeng lengannya.
"Kenapa wajahmu sedih sekali?" Tanya Lala penasaran, karena semenjak datang wajah Mala terlihat sedih.
"Tuan Arthur melamarku." Jawabnya seraya menunjukkan cincin dijari manisnya.
"Apa?"
BERSAMBUNG...
__ADS_1