
Tiga hari kemudian...
Siang ini Mala sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Cervical Collar / Penyangga leher serta selang infus sudah di lepas oleh Dokter. Meskipun demikian Mala masih harus banyak beristirahat agar luka bekas operasinya cepat mengering.
Arthur tengah sibuk mengemasi baju-baju miliknya dan milik Mala, semantara Mala duduk di atas sofa seraya mengamati kesibukan Arthur.
Tok..tok..tok..
Pintu terbuka, mama Wulan, Lea, Lala serta Rafli berada di baliknya, mereka segera menghampiri Mala.
Mama Wulan memeluk Mala penuh sayang, ia juga mencium pipi Mala, mereka terlihat seperti ibu dan anak. Setelah mama Wulan kini giliran Lea yang memeluknya, gadis kecil itu terlihat sangat senang.
"Akhirnya kakak bisa pulang, Lea udah nggak sabar mau jalan-jalan sama kakak." Ujarnya penuh semangat.
Semua mata tertuju pada gadis kecil itu, begitupun Arthur, ia meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Lea yang kini duduk di sebelah mata.
"Kak Mala harus banyak istirahat, Lea jalan-jalan sendiri saja."Kata Arthur mengingatkan adik kecilnya.
"Nggak asik." Sahut Lea dengan bibir mencebik.
Semua orang tertawa melihat tingkah polos Lea, gadis yang mulai beranjak dewasa itupun ikut tersenyum karena yang lain mentertawakannya.
"Bagaimana kondisimu hari ini?" Tanya Lala yang akhirnya mendapat bagian untuk memeluk sahabatnya.
"Jauh lebih baik."
Tok..tok..tok..
Setelah ketukan ketiga seorang pengawal masuk dan segera menghampiri Arthur.
"Di depan ada tuan Mahesa."
Ucapan pengawal itu seketika menghilangkan senyum di wajah Mala, semua orang menatap Mala sendu. Arthur mendekat ke arah Mala, dia berjongkok di depan Mala dan memegang tangannya yang mulai berkeringat.
"Apa aku harus mengusirnya?" Tanya Arthur, ia menatap wajah Mala yang terlihat murung.
"Apakah boleh aku melakukannya?" Mala menunduk, setitik air mata menetes di atas punggung tangan Arthur.
__ADS_1
"Tentu saja, itu hakmu..Tapi jika aku boleh memberi saran, sebaiknya kamu temui tuan Mahesa, bicarakan semua ini dengan kepala dingin, biar bagaimanapun beliau adalah ayah kandungmu." Arthur menjeda kalimatnya, tangannya menyeka air mata di pipi Mala.
"Tapi kalau kamu belum siap, aku akan menyuruh tuan Mahesa pergi sekarang."
Mala masih diam, benar kata Arthur, ia harus segera menyelesaikan masalah ini agar hidupnya bisa tenang. Mala mengangkat kepalanya dan menatap Arthur yang juga tengah menatapnya. "Temani aku." Pintanya pelan.
Arthur hanya menjawabnya dengan anggukan, setelah itu mama Wulan, Lea, Lala dan Rafli keluar dari ruangan Mala, mereka memberikan ruang kepada Mala untuk menyelesaikan masalahnya.
Sebelum keluar mama Wulan kembali memeluk Mala sekedar memberinya kekuatan, begitupun Lala, ia menepuk bahu sahabatnya dan tersenyum. "Semua akan baik-baik saja."
Setelah semua orang keluar, tuan Mahesa masuk ke dalam ruangan Mala, pria paruh baya itu masih duduk di kursi roda, seorang perawat mengantarnya masuk, setelah itu ia keluar dan menunggu di luar ruangan.
Arthur duduk di sebelah Mala, tangannya tak sedetikpun lepas dari tangan sang kekasih, tuan Mahesa tersenyum tipis melihat kasih sayang Arthur kelada putrinya.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya tuan Mahesa mememcahkan canggun di dalam ruangan itu.
"Baik, bagaimana dengan anda?" Jawab Mala dengan wajah dingin, senyum yang selalu menghias wajah ayunya kali ini tersembunyi di balik kesedihannya.
"Saya juga baik."
Hening, ruangan itu kembali sunyi, mereka saling diam dan sibuk membenahi perasaan masing-masing. Sekilas Mala menatap wajah sang ayah, namun detik berikutnya ia melengos, rasa sakit yang ia rasakan belum pulih, fakta jika tuan Mahesa meninggalkannya dan tak mengakuinya sebagai anak membuat Mala masih belum bisa memaafkannya.
"Hari ini." Singkat tuan Mahesa.
Tuan Mahesa mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, ia nampak ragu namun akhirnya ia memberikan benda tersebut untuk Mala, ia meraih tangan kiri Mala, membuka telapak tangannya dan meletakan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.
"Simpanlah, kalung ini milik ibumu, saya tidak berhak untuk menyimpannya lagi."
Mala memperhatikan kalung itu, namun yang mencuri perhatiannya justru liontin dengan bentuk hati, Mala mengamati liontin itu lebih dekat, Mala dapat melihat sedikit celah di sisi liontin itu dan mambuat Mala penasaran.
"Apakah bisa di buka?" Batinnya, tangannya berusaha membuka liontin tersebut.
Liontin berhasil di buka, Mala tercekat melihat isi liontin itu, sebuah foto pernikahan berukuran sangat kecil tersimpan di dalam liontin hati.
"Itu foto pernikahan kami." Cetus tuan Mahesa, ia menatap putrinya sendu, ingin rasanya ia memeluk Mala dan memanggilnya putriku.
Mala tak merespon sedikitpun, ia masih menatap foto sepasang suami istri yang terlihat saling mencintai. Mala mengusap foto ibunya, perlahan air matanya mulai keluar, kerinduan akan sosok seorang ibu menelusuk relung hati Mala membuatnya merasa nelangsa.
__ADS_1
"Saya mungkin terkesan tidak tahu malu, tapi saya sungguh-sungguh meminta maaf padamu atas semua kesalahan saya di masa lalu, saya tidak akan memaksamu untuk menerima saya sebagai ayah kandungmu, saya hanya berharap kamu selalu bahagia."
Setelah mengucapkan kalimat itu, tuan Mahesa memutar kursi rodanya, ia beranjak dari ruangan Mala dengan perayaan terkoyak, hatinya hancur karena Mala belum bisa menerima kehadirannya.
Selepas kepergian tuan Mahesa, Mala tak bisa membendung air matanya, isak tangin mulai keluar dari bibirnya..Arthur mengusap punggung Mala sejenak sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh Mala ke dalam pelukannya.
***
Mala sudah di perbolehkan untuk pulang, seorang perawat mendorong kursi rodanya hingga parkiran Rumah Sakit. Arthur membuka pintu mobil dan membantu Mala untuk masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih Sus." Ucap Arthur tulus.
"Sama-sama tuan, semoga nyonya cepat sembuh." Jawah sang Perawat di iringi doa untuk kesembuhan Mala.
Mama Wulan dan Lea sudah berada di dalam mobilnya, begitupun dengan Rafli dan Lala, mereka mengikuti mobil Arthur dari belakang menuju apartemen Arthur.
Selama perjalanan pulang Mala hanya diam, tangannya terus memegangi kalung milik ibunya, satu-satunya peninggalan ibunya yang ia miliki sekarang.
"Sayang." Ucap Mala lembut, ia mulai terbiasa memanggil Arthur dengan sebutan sayang.
"Ya, kau butuh sesuatu?" Tanya Arthur tanpa menoleh, ia fokus pada kemudinya.
"Kamu masih ingat dimana kamu bertemu denganku sebelum aku tinggal di apartemen kamu?"
Arthur berfikir sejenak, sesaat kemudian ia mengangguk. "Rumah kosong kan?" Arthur memastikan.
"Iya. Itu rumahku, rumah kedua orangtuaku."
Arthur nampak biasa saja, ia tak terkejut sama sekali. "Ya aku tau. Apa kamu ingin membenahi rumah itu?"
"Dari mana kamu tau, sepertinya aku belum pernah cerita? Mala menatap Arthur dengan wajah penasaran.
Arthur mengulas senyum, ia mengelus kepala Mala dengan tangan kirinya. "Aku tau dari Lala."
"Dasar anak itu." Batin Mala.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen, Arthur memapah Mala, sementara barang-barang mereka masih berada di dalam mobil.
__ADS_1
Arthur membuka pintu apartemennya, ia terkejut melihat orang lain berada di rumahnya, bukan hanya satu orang namun ada dua orang asing.
"Siapa kalian?" Teriak Arthur, wajahnya memerah karena menahan amarah.