My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 141 Selamat tinggal


__ADS_3

Perdebatan panjang yang tak ada titik temunya, tuan Bagaskara masih tetap pada egonya, ia enggan mengakui kesalahannya dan memohon maaf atas apa yang telah di lakukannya di masa lalu.


Karena merasa kesal, Mala memilih meninggalkan rumah besar itu bersama dengan Rey, namun Mala juga tak main-main dengan ancamannya, jika tuan Bagaskara masih tetap menyangkal maka ia sendiri yang akan memberikan hukuman kepada pria tua itu.


Di tengah jalan, tiba-tiba Rey menghentikan taxi yang mereka tumpangi membuat Mala bertanya-tanya. Namun Rey hanya diam, ia menarik tangan Mala keluar dari taxi tersebut setelah membayar ongkos.


"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Mala penasaran.


"Pulang." Jawabnya singkat.


"Lalu kenapa turun dari taxi."


"Aku ingin berjalan bersamamu."


"Astaga, sayangku, apartemen kita masih jauh."


"Tidak masalah, kalau kamu cape aku bisa menggendongmu, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."


Mala tak lagi menjawabnya, ia lebih memilih diam dan berjalan mengiikuti Rey, mereka berjalan seraya bergandengan tangan, pemandangan malam kota Jakarta membuat suasana semakin romantis.


Setengah jam berlalu, mereka hampir tiba di kawasan apartemen, mereka berjalan menyusuri jembatan penyeberangan yang berada di atas jalan raya. Rey mengehentikan langkahnya tepat di tengah jembatan tersebut, ia mengajak Mala untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang di bawah jembatan itu.


"Sudah malam tapi jalanan masih begitu ramai." Ucap Rey, ia menatap ke bawah dengan tatapan sedih.


Mala tak merespon, ia turut larut menikmati bunyi klakson yang saling bersautan menciptakan sebuah irama tersendiri.


"Mala." Panggil Rey membuat gadis itu menoleh.


Rey memutar sedikit tubuhnya, ia meraih kedua tangan Mala dengan sekuat tenaga, entah mengapa energinya seaakan terkuras habis, ia merasa lelah, namun ia nekat untuk berjalan kaki bersama pujaan hatinya.

__ADS_1


"Mala, aku sangat mencintaimu, jika bersama Arthur membuatmu bahagia maka aku akan berusaha untuk menerimanya."


"Mala, aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkanmu untuk bertemu denganku, setidaknya di dalam hidupku yang tak berarti ini aku memilikimu yang sangat berharga di hidupku."


"Mala, terimakasih untuk kasih sayang yang pernah kau berikan kepadaku. Aku harap kamu bahagia selamanya bersama Arthur. Aku tak akan memohon agar kau mengingatku, aku cukup bersyukur karena aku bisa melihatmu di sisa-sisa hidupku."


Setelah mengucapkan kalimat panjang lebar, Rey meraih dagu Mala, ia sedikit mengangkatnya sebelum sebuah ciuman mendarat di bibir mungil Mala. Ciuman yang begitu hangat Rey berikan sebagai bentuk kenang-kenangan atas kehadiran dirinya. Detik berlalu, meskipun bibir mereka saling menempel namun Rey tak merasakan hangatnya bibir Mala, pandangannya semakin buram, samar-samar ia melihat Mala menangis. Rey melepaskan ciumanya, ia berniat menghapus air mata Mala, namun ia kembali tak bisa menggerakkan tangannya, ia kembali merasa mati rasa.


"Aku mohon tersenyumlah."


Dengan sisa penglihatan yang tak seberapa, Rey melihat sebuah senyum mengembang di wajah Mala..Pria itu turut tersenyum, sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap.


"Selamat tinggal." Ucapnya sebelum ia jatuh tak sadarkan diri.


Mala berusaha untuk menahan tubuh Rey agar tak jatuh ke bawah, dengan sekuat tenaga ia menopang tubuh besar pria itu, namun karena porsi tubuhnya yang kalah besar, akhirnya tubuh Mala merosot, keduanya tergeletak di atas jembatan penyeberangan.


Mala bernajak bangun, ia membawa kepala Rey ke dalam pangkuannya, ia menepuk kedus sisi wajah Rey, namun pria itu tak merespon sama sekali.


Mala mulai terisak, keduanya menjadi pusat perhatian beberapa orang yang menyeberangi jembatan layang tersebut, namun tak ada satupun dari mereka yang menolongnya. Mala berusaha untuk menghentikan air matanya, namun dadanya terasa begitu sesak, biar bagaimanapun Rey adalah sosok yang spesial untuknya, kehilangan Rey tentu mengores luka tersendiri di hati Mala meskipun semua itu demi kebaikan Arthur.


"Terimakasih Rey, terimakasih karena kau selalu ada saat aku menangis, aku berdoa semoga Tuhan memberimu kesempatan hidup secara layak suatu saat nanti." Bisik Mala sebagai salam perpisahan untuk Rey, pria baik hati yang selalu tersenyum.


Hampir satu jam lamanya Arthur tak sadarkan diri, Mala masih berusaha untuk membuatnya bangun. Beberapa saat kemudian, Arthur mulai menggerakan kelopak matanya di susul dengan gerakan kecil dari tangannya. Perlahan Arthur mulai membuka matanya, ia tersenyum lebar melihat Mala begitu matanya terbuka.


"Aku menemukanmu." Ucapnya dengan suara berat.


Mala segera menyadari siapa sosok yang kini mengendalikan tubuh Arthur, ia segera berdiri membiarkan kepala sang kekasih membentur lantai.


"Auuw." Pekik pria itu seraya memegang kepala belakangnya. Ia lalu berdiri menyusul Mala dan mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu.

__ADS_1


"Kau jahat sekali. Sakit tau." Omelnya.


"Siapa suruh kau yang muncul Petra!" Ketus Mala.


"Kenapa kau sangat membenciku si?"


"Karena kau sangat mesyuummm." Ujar Mala, ia lalu melewati Petra dan meninggalkannya.


"Tunggu aku." Teriak Petra, ia berlari mengejar Mala yang sudah jauh di depannya.


***


Kantor tuan Mahesa...


Setelah kepergian Mala, pak Darman masih duduk menunduk dan tak mengucapkan sepatah katapun, ia memang telah menyesali perbuatanya, rasanya tidak adil jika ia mengharapkan pengampunan dari Mala.


"Pak Darman, mulai hari ini lebih baik bapak berhenti bekerja." Ucap tuan Mahesa.


"Saya di pecat tuan?" Jawab pak Darman lemah.


"Putriku pasti sudah memberi tahu tuan Bagaskara tentang anda, jadi lebih baik anda berhenti bekerja untuk sementara waktu, jangan sampai tuan Mahesa menemukan anda di sini, dia pasti akan menghabisi anda jika menemukan anda."


"Anda tak perlu khawatir, saya akan tetap menggaji anda."


Pak Darman akhirnya mengikuti saran tuan Mahesa, ia akan bersembunyi untuk sementara waktu, bukan hal yang sulit bagi tuan Mahesa menemukannya, untuk itu ia akan kembali menghilang seperti belasan tahun silam.


Tuan Mahesa begitu ingin menghukum pak Darman, namun ia mencoba menghormati keputusan Mala untuk melepaskan pak Darman, menurut Mala, mantan pelayan itu sudah membayar lunas perbuatannya, ia meleyapkan tiga nyawa sementara itu Tuhan mengambil dua nyawa orang terkasihnya.


Dan begitulah hidup, selalu ada timbal balik atas setiap perilaku kita, jika kau menanam kebaikan maka yang mau tuai juga sebuah kebaikan, begitupun sebaliknya jika kau berbuat buruk terhadap orang lain, maka Tuhan akan memberimu karma buruk atas perbuatanmu. Untuk itu, seberat apapun hidupmu, sesulit apapun rintangan yang kau hadapi, tetaplah menjadi orang baik yang menebarkan kebaikan, dengan begitu Tuhan akan memberimu kekuatan untuk melewati setiap rintangan.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2