
Acara lamaran telah usai, Rafli dan ibunya sudah kembali ke rumah, sementara Arthur mengajak Mala berkeliling ibukota sekedar menikmati waktu mereka berdua.
Arthur mengajak Mala ke kawasan Ancol, destinasi wisata yang sangat populer di kota Jakarta. Arthur tak membawa Mala ke taman hiburan, ia ingin mengajak Mala menikmati matahari terbenam di pantai yang berada di kawasan Ancol.
"Kenapa kesini?" Tanya Mala setelah menyadari ia berada di tepi pantai.
"Refresing. Mau turun nggak?"
Mala hanya mengangguk, senyumnya tak bisa ia sembunyikan lagi, setelah terkurung di dalam penthouse mewah selama beberapa hari akhirnya ia bisa menghirup udara segar di tepi pantai.
Mala keluar dari mobil, ia berlari kecil menuju tepi pantai. Arthur mengikutinya dengan senyum lebar hingga menampakan kedua lesung pipinya. Sudah lama ia tak melihat Mala sebahagia itu.
Mala duduk di atas pasir putih dan menatap lautan yang tak berombak itu, ia menoleh saat Arthur menyusulnya dan duduk di sebelahnya. Setelah itu Mala kembali menatap lautan luas di hadapannya.
"Kenapa pantai Ancol tidak memiliki ombak besar? Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu karena tidak ada angin yang bergerak searah dan konsisten dengan kecepatan yang besar." Jawab Arthur.
"Kamu tau dari mana?" Mala menoleh dan menatap kekasihnya.
"Gugel." Jawabnya seraya menunjukkan mesin pencarian yang berada di gawai pintarnya.
"Cih, aku fikir kamu memang tau." Ucap Mala dengan senyum mengejek di wajahnya.
"Mau ke jembatan itu?" Ajak Arthur , ia menunjuk jembatan kayu yang membentang di pinggir pantai.
"Ayo."
Mala berdiri dari duduknya, ia menepuk baju bagian belakang guna menyingkirkan pasir yang menempel di bajunya. Mala lalu meraih tangan Arthur dan menggandengnya dengan erat, ia menarik Arthur menuju jembatan yang terkenal dengan nama Love Bridge Taman Impian Jaya Ancol.
Mala menikmati pemandangan laut dari atas jembatan itu, matanya tak lepas dari perahu wisata yang berlalu lalang,.
"Mau naik perahu?" Tawar Arthur, ia seolah tau keinginan Mala yang tak terucapkan itu.
__ADS_1
"Memangnya bisa?" Tanya Mala penasaran.
"Bisa, kita naik dari sebelah sana." Arthur menujuk deretan perahu yang sedang menunggu sewa.
Mala sangat antusias dengan ajakan Arthur, ia kembali menarik tangan Arthur dan membawanya ke bibir pantai tempat dimana perahu itu berada.
Mala menunggu dengan tak sabar saat Arthur tengah berbincang dengan salah satu pemilik perahu motor itu, setelah beberapa menit akhirnya Arthur mengajak Mala naik ke atas perahu itu.
"Kenapa hanya kita berdua?" Tanya Mala, ia sudah duduk di atas perahu dan menatap kursi kosong di sekelilingnya.
"Aku menyewanya." Jawab Arthur dengan wajah datar.
"Dasar orang kaya." Gumam Mala dalam hati.
Perahu mulai bergerak ke tengah, Mala berpegang erat pada lengan Arthur, ia mengamati beberapa orang yang berjalan kaki di atas jembatan, semilir angin menusuk kulit putihnya, ia merasa dingin namun juga hangat di saat bersamaan.
Jika di pantai lain mungkin pengunjung akan di suguhkan oleh pemandangan alam yang indah, namun jika kita berlayar di pantai Ancol pengunjung akan di suguhkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sisi pantai.
"Lihatlah." Bisik Arthur seraya menunjuk jembatan yang berada di sisi kanan Mala.
Mala menoleh ke arah jembatan sesuai instruksi Arthur, gadis itu tercengang ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, sekelompok orang yang ia lihat sebelumnya tengah berjalan di atas jembatan kini berbaris dengan rapi, saat Mala menolehkan kepalanya saat itu juga mereka berbalik sehingga menunjukkan satu per satu huruf yang menempel di baju bagian belakang mereka, dan jika huruf huruf itu terangkai maka akan membentuk sebuah kalimat yang sangat indah.
MARRY ME, MALA..
Tak sampai di situ Arthur kembali menunjukan sesuatu kepada kekasihnya. Mala semakin tercekat, sebuah billboard berukuran raksasa yang terpasang di gedung pencakar langit mulai menyala, untaian kata demi kata bergulir indah membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan dua hal, bahagia dan juga haru.
Dear Mala..
Awalnya aku tak mengenal akan cinta..
Hingga kau datang membawa sebuah rasa yang belum pernah aku rasa sebelumnya..
Dear Mala..
__ADS_1
Aku bukan orang yang pandai berkata-kata..
Salahkan aku yang tak bisa berucap di hadapanmu..
Salahkan aku yang tak bisa berlutut untuk memohon kepadamu..
Melalui tulisan ini aku bersungguh sungguh ingin meminangmu..
Dear Mala..
WILL YOU MARRY ME?
Duar..Duarr..Duar.
Tepat setelah tulisan di billboard berhenti bergulir, puluhan kembang api menggema di langit yang mulai gelap, Mala masih membisu, suaranya tercekat hingga ia tak bisa berkata kata..
Duaaaarr...
Pijaran kembang api kembali menghiasi langit malam, namun kali ini berbeda, pijaran itu tak langsung menghilang, mereka bersatu membentuk sebuah kata indah di atas sana..
MARRY ME..
"Marry me." Ucap Arthur setelah tulisan di atas langit itu memudar, ia mengeluarkan kotak dari saku celananya,detik berikutnya kotak itu terbuka, sebuah cincin berhias permata bertengger dengan indah di dalamnya.
Arthur mengeluarkan cincin itu dari tempatnya, ia meraih tangan Mala dan melepaskan cincin yang pernah ia berikan sebelumnya. Arthur masih menunggu jawaban Mala, ia menatap gadisnya dengan lekat.
Sebuah anggukan Mala berikan, tanpa sepatah katapun ia menerima lamaran Arthur , lidahnya yang kelu begitu sulit mengucapkan kata. "Ya aku bersedia."
Arthur tersenyum bahagia, ia menyematkan cincin itu di jari manis Mala, malam itu dengan di saksikan gelombang air di lautan, gemuruh kembang api di atas langit, serta berpasang-pasang mata yang berpijak di atas bumi, akhirnya Arthur melabuhkan hatinya pada seorang gadis yang datang ke dalam hidupnya tanpa ia duga.
BERSAMBUNG..
__ADS_1