My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 112 Berbagi Ingatan


__ADS_3

Malam itu juga Arthur mengajak Mala untuk menemui Dokter Sheila, ia ingin mendiskusikan mengenai mimpi dan ingatan yang ia yakini bukanlah miliknya. Sepanjang perjalanan Mala hanya diam, ia masih belum tau kemana Arthur membawanya pergi, ia juga masih merasa bingung karena sebelum pergi Arthur menyuruhnya makan nasi goreng didalam mobilnya, padahal Mala sangat tau, Arthur paling anti jika makan sesuatu di dalam mobil.


Mobil Arthur berhenti tepat di depan bangunan dua lantai, Mala baru menyadari jika bangunan tersebut adalah tempat praktek Dokter Sheila.


Arthur keluar dengan buru-buru, ia bahkan melupakan Mala yang masih berada di dalam mobil. Mala menatap punggung Arthur dengan heran, namun ia segera keluar menyusul Arthur, ia mulai khawatir jika terjadi sesuatu pada Arthur.


Dokter Sheila menunggu Arthur di depan ruangannya, Dokter cantik itu selalu sigap setiap Arthur menghubunginya, Arthur merupakan salah satu pasiennya yang spesial, untuk itu Dokter Sheila selalu meluangkan waktu untuk Arthur.


"Kau sudah datang." Sapa Dokter Sheila dengan ramah. "Ayo masuk." Dokter Sheila lalu membuka pintu dan mempersilahkan Arthur masuk ke dalam ruangannya.


Sesaat sebelum Dokter Sheila menyusul Arthur masuk ke dalam ruangannya, ia melihat Mala berlari kecil menuju ke arahnya. Dokter Sheila berhenti sejenak, ia sengaja menunggu Mala.


"Dokter." Sapa Mala dengan nafas memburu.


"Kamu nyari Arthur, dia di dalam, ayo masuk!"


Dokter Sheila mempersilahkan Mala untuk masuk, lalu ia mengikuti Mala dan menutup pintu ruangannya.


Setelah masuk, Mala segera menghampiri Arthur dan duduk di sebelahnya.


"Astaga sayang, maafin aku, aku buru-buru." Sesal Arthur seraya mengusap rambut Mala.


"Aku tau." Sahut Mala seraya tersenyum.


Tak lama Dokter Sheila duduk di hadapan mereka, ia membuka rekam medis Arthur yang sudah ia siapkan di atas mejanya.

__ADS_1


"Jadi apa alasanmu datang kali ini?" Tanya Dokter Sheila seraya menatap Arthur.


"Aku bermimpi. Ah bukan, aku seperti mengingat sesuatu yang tak pernah terjadi kepadaku."


Dokter Sheila mengerutkan dahinya hinggaa kedua alis tebalnya hampir menyatu. "Apa maksudmu?"


"Kemarin malam aku bermimpi bertemu dengan Mala, aku menghiburnya karena ia baru saja di pecat, anehnya aku mengenalkan diriku sebagai Rey?" Terang Arthur dengan ekspresi bingung.


"Tunggu sebentar, maksudmu kamu memimpikanku?" Sela Mala.


"Ya, tapi mimpi itu terasa sangat nyata, aku sangat ingat aku menyuruhmu mencari pekerjaan baru setelah kamu di pecat?"


"Aku juga mengaku sebagai kembaranku sendiri, maksudnya di dalam mimpi itu aku berperan sebagai Rey dan aku mengaku sebagai kembaran Arthur."


"Apa kamu ingat kita ada dimana saat kamu bermimpi?" Tanya Mala, wajahnya mengisyaratkan akan sesuatu


Mala beralih menatap Dokter Sheila. "Mimpi Arthur sama persis dengan kejadian saat pertama kali aku bertemu dengan Rey." Turur Mala, meskipun sudah lama berlalu namun Mala masih mengingat momen itu, saat ia hampir menangis karena kehilangan pekerjaannya, tiba-tiba pria yang sangat mirip dengan orang yang telah memecatnya datang dan menghiburnya.


"Kau yakin?" Dokter Sheila menimpali ucapan Mala, ia dan Arthur menatap gadis itu bersamaan.


"Aku sangat yakin, hari itu Rey mengaku sebagai kembaran Arthur, dia juga berkata akan membujuk Arthur agar membatalkan pemecatanku." Ujar Mala dengan sangat yakin.


"Mungkikah kamu memimpikan ingatan Rey?" Terka Dokter Sheila, ia sendiri tak yakin dengan pemikirannya. "Apa ada yang lain?" Imbuh Dotker Sheila, mungkin saja ada petunjuk lain yang mereka dapatkan.


"Ini baru saja terjadi dan aku dalam keadaan sadar. Aku sedang menunggu Mala minum kopi di pinggir jalan, tiba-tiba aku merasa ada yang memutar film di dalam kepalaku, aku melihat Rey dan Mala berboncengan, mereka berhenti di bahu jalan, Rey memesan dua gelas kopi, ia menghampiri Mala dan memerikan satu gelas kopinya kepada Mala. Mereka menikmati kopi seraya memandang ke bawah, ada kereta api listrik berhenti tepat di bawah jembatan yang mereka pijaki. Mala menoleh dan bertanya kepapa Rey.

__ADS_1


"Kenapa keretanya berhenti." Ucap Arthur dan Mala bersamaan.


Dokter Sheila semakin tercekat, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Lalu apa yang di jawab Rey?" Pancing Dokter Sheila.


"Di depan sana ada stasiun, kereta sedang menunggu antrian masuk stasiun." Mala dan Arthur kembali menjawab dengan kompak dan membuat mereka saling melempar pandang.


"Apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Dokter Sheila kepada dua pasangan itu.


"Aku sangat ingat momen ini, saat Rey tiba-tiba mencium Mala dan Mala membalas ciumannya, namun anehnya aku tidak merasa marah, aku merasa perasaan yang berbeda, jantungku justru berdebar menyaksikan ciuman mereka berdua."


Dokter Sheila mengetuk meja kerjanya menggunakan bolpoint, ia mencoba mencerna setiap perkataan Arthur, jujur saja penyakit Arthur membuatnya pusing, namun ia berjanji akan membantu Arthur hingga ia sembuh dan tak membutuhkan bantuannya lagi.


"Aku rasa Rey membagi sebagian ingatannya kepadamu!" Ucap Dokter Sheila setelah diam beberapa saat.


"Apa maksudmu Dok?"


"Yang kamu mimpikan dan kau lihat kemungkinan adalah memori yang di miliki oleh Rey, aku tidak tau alasannya, namun aku yakin ini awal yang bagus." Dokter Sheila berusaha memaparkan pemikirannya.


"Jadi maksudmu Rey memberikan ingatannya kepadaku?" Arthur semakin merasa kebingungan.


"Aku rasa begitu, jika memang benar, aku yakin ini awal yang baik, mungkin saja setelah ini Rey akan menghilang dan bukan tidak mungkin kepribadianmu yang lain juga akan menghilang."


Deg..


Mendengar kata menghilang membuat Mala merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, terbesit rasa tidak rela saat membayangkan Rey menghilang dari tubuh Arthur, namun Mala segera menepis perasaan bohoh itu, harusnya ia bahagia mendengar kemungkinan Arthur bisa terbebas dari penyakitnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Mala, pria yang duduk di sebelahnya terlihat bahagia, setelah sekian lama akhirnya ia menemukan setitik cahaya, ia harap setitik cahaya itu akan memendarkan cahaya yang lebih terang, ia ingin segera terbebas dari penyakitnya. Ia bahkan sudah membayangkan menikah dengan Mala dan membangun keluarga kecil nan bahagia bersama orang terkasihnya


__ADS_2