
"Apa kamu hamil?" Celetuk Rafli, seketika wajahnya ikut memucat.
Lala tak menghiraukan ucapan Rafli, ia masih sibuk mengeluarkan isi perutnya. Setelah di rasa perutnya mulai nyaman, Lala menyeka bibirnya dengan sapu tangan yang Rafli berikan, gadis itu lalu berdiri mensejajari Rafli.
"Apa katamu tadi?" Tanya Lala dengan bibir bergetar.
"Hamil. Mungkinkah kamu sedang hamil." Rafli mengulangi ucapannya.
"Nggak mungkin, kita cuma melakukannya satu kali kak." Sangkal Lala.
"Lebih baik kita ke dokter, biar jelas, jika memang kamu hamil lebih baik kita percepat pernikahannya."
Lala mengangguk mengiyakan usulan Rafli. Lala sungguh takut, bagaimana jika ia hamil? Namun di tengah rasa takutnya ada perasaan aneh yang menyeruak di dalam hatinya, layaknya seorang calon ibu, Lala juga merasa sedikit bahagia manakala membayangkan bayi kecil hidup di dalam rahimnya.
Akhirnya Rafli dan Lala memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit, mereka tak memperdulikan kuliah dan pekerjaan lagi, keduanya tengah di rundung rasa takut. Rafli begitu khawatir, bukan ia tak bahagia jika Lala mengandung, namun status mereka yang belum sah menjadi suami istri membuat Rafli merasa dilema.
Pukul sembilan pagi Lala masuk ke dalam ruangan Dokter Kandungan setelah menunggu hampir satu setengah jam lamanya, mereka duduk bersebelahan layaknya pasangan suami dan istri.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter itu dengan ramah.
"Begini Dok, pagi ini saya mual dan muntah-muntah, bulan ini saya juga belum menstruasi." Terang Lala.
"Sudah tes urin di rumah?" Tanya sang Dokter dan di jawab gelengan kepala oleh Lala.
"Kita langsung USG saja ya. Silahkan naik bu."
Lala lalu berdiri dari duduknya, ia lalu berbaring di atas tempat tidur sesuai petunjung Dokter.
"Maaf ya." Ucap sang Dokter saat menyibakkan baju Lala ke atas. Lalu sesuatu yang dingin menyentuh perut Lala, gadis itu tak berani membuka matanya, tangannya kini bergetar hebat menunggu hasil pemeriksaan.
"Belum ada tanda tanda-tanda kehamilan, biasanya jika hamil akan ada titik hitam atau kantung janin. Kalau boleh tau berapa lama anda telat menstruasi?"
"Satu minggu Dok."
"Oh begitu. Tapi saat ini memang belum ada tanda-tanda anda sedang hamil. Perihal mual dan muntah bisa saja anda masuk angin. Sudah selesai anda bisa bangun."
Lala lantas bangun dan kembali duduk di sebelah Rafli.
__ADS_1
"Tapi dia sudah telat menstruasi Dok?" Tanya Rafli seraya menatap ke arah sang dokter.
"Siklus mentruasi pada wanita kadang suka tidak teratur pak, bisa jadi si ibu kelelahan atau stres sehingga mempengaruhi hormon yang menyebabkan mundurnya jadwal menstruasi." Terang Dokter itu di sertai senyum ramah.
"Namun jika kalian masih ragu kalian bisa memeriksakannya lagi minggu depan."
"Baik Dok, terimakasih."
Rafli dan Lala keluar dari ruang pemeriksaan, mereka berjalan beriringan hingga parkiran Rumah Sakit.
"Kamu mau kuliah apa bolos?" Tanya Rafli mengakhiri hening di antara keduanya.
"Kuliah kak, aku masih ada satu kelas lagi."
"Ya udah, ayo masuk, aku akan mengantarmu ke kampus."
***
Lantai 11 apartemen..
Sore hari Dokter Sheila kembali mengunjugi pak Karto, kali ini ia membawa boneka Kangguru beserta bayi kangguru yang berada di dalam kantung sang induk. Dokter Sheila begitu penasaran kenapa pak Karto selalu menyebutkan Kangguru dan anak Kangguru, namun saat melihat Kangguru di Yutub pak Karto tidak tertarik sehingga Dokter Sheila memutuskan untuk membeli boneka Kangguru.
"Bagiaman keadaan pak Karto?" Tanya Dokter Sheila dengan ramah.
"Baik Dok, siang tadi pak Karto sudah makan, beliau menghabiskan semua makanannya. Beliau juga tidur nyenyak setelah makan siang." Jelas suster Aida.
"Syukurlah."
Dokter Sheila lalu masuk ke dalam kamar pak Karto, lelaki tua itu tengah duduk di tepi ranjangnya dan menatap keluar jendela seperti hari-hari sebelumnya. Dokter Sheila lalu duduk di sebelah pak Karto, ia mengikuti pak Karto menatap ke arah jendela.
"Cuaca sore ini sangat cerah kek, apa kakek mau jalan-jalan di luar?" Ajak Dokter Sheila dengan suara lembut dan menenangkan.
Pak Karto menggeleng dengan cepat, ia menolak ajakan Dokter Sheila.
"Kenapa kek, kakeh tidak bosan berada di kamar sepanjang waktu?"
Pak Karto menoleh, wajahnya nampak sedih, mata tuanya mulai berkaca-kaca. "Saya takut, mereka akan membunuh saya jika menemukan saya lagi." Ujarnya dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Mereka, siapa yang kakek maksud?" Dokter Sheila berusaha mengajak pak Karto bicara, ia juga sangat penasaran kenapa kakek tua ini sempat mengalami kekerasan fisik.
"Mereka orang jahat. Mereka pembunuh. Mereka bersembunyi tapi mereka selalu mengawasi saya. Mereka adalah monster. Sama seperti gadis monster itu, mereka memiliki darah yang sama."
"Gadis monster, siapa dia kek?" Dokter Sheila semakin penasaran dengan masa lalu pak Karto.
"Dia gadis yang membawa Kangguru saya, dia membunuh semua orang."
"Kangguru, apa maksud kakek boneka ini?"Dokter Sheila menunjukkam boneka yang di bawanya. Pak Karto menatap boneka tersebut dengan mata yang berbinar, ia lalu merebut boneka Kangguru itu dari tangan Dokter Sheila.
"Kangguruku kemana saja kamu pergi." Ucap Pak Karto seraya memelul boneka Kanggurunya.
Pak Karto melepaskan boneka tersebut dari pelukannya, ia lalu mengeluarkan boneka Kangguru kecil dari kantung induknya, pak Karto merogoh kantun Kangguru tersebut, ia terlihat mencari sesuatu.
"Dimana kamu, kenapa kamu tidak ada. Apa bayi Kangguru sudah memakanmu." Ocehnya tak jelas.
Pak Karto meletakkan boneka induk Kangguru, ia lalu meraih kangguru kecil tersebut, hal yang samapun terulang, pak Karto merogoh kantung Kangguru kecil dengan jarinya, namun lagi-lagi wajahnya nampak kecewa karena tak menemukan sesuatu.
"Apa yang kakek cari?"
Pak Karto tak mengindahkan pertanyaan Dokter Sheila, ia kembali mencari sesuatu di kantung boneka Kangguru tersebut.
Sreeett..
Dokter Sheila membelalakan matanya saat pak Karto menarik paksa boneka Kangguru kecil sehingga kepada dan badannya terpisah.
"Kek, apa yang kakek lakukan."
Pak Karto tak memperdulikan ucapan doter Sheila, ia mengeluarkan serabut yang ada di dalam tubuh boneka, ia kembali menggorek serabut tersebut seolah tengah mencari sesuatu.
"Kakek, apa yang kakek cari? Kenapa kakek merusak boneka itu?"
"Kejahatan, kejahatan para monster itu, saya yakin Kangguru kecil sudah memakannya."
Dokter Sheila bangun dari duduknya, ia hanya mengamati saat pak Karto yang tengah merusak boneka Kangguru kecil beserta induknya.
Tiba-tiba Dokter Sheila mengingat cerita Asisten Rafli tentang rekaman CCTV yang kemungkinan besar di simpan oleh pak Karto. Dokter cantik itu lalu menghungi Rafli, mungkin saja semua ini merupakan petunjuk baru bagi Rafli untuk mengusut kasus kebakaran 15 tahun silam.
__ADS_1
"Raf, sepertinya pak Karto menunjukan dimana dia menyimpan rekaman itu."
BERSAMBUNG...