
Berita kematian Marsel membuat Arthur semakin cemas, ia semakin protektif terhadap Mala, setiap kali Mala mendapat jatah makan dari Rumah Sakit Arthur akan lebih dulu mencobanya, ketakutannya akan kehilangan Mala semakin menjadi-jadi.
Seminggu sudah Mala di rawat di Rumah Sakit, selama itu pula kondisi Mala semakin membaik, dalam dua hari mungkin Mala akan di perbolehkan untuk pulang.
Sore ini Lala datang bersama Rafli, beberapa hari ini Lala tak sempat datang karena kesibukannya menggarap tugas akhir.
Lala segera memeluk sahabatnya begitu ia tiba di kamar Mala. "Aku sangat merindukanmu." Ucapnya penuh semangat.
"Aku juga. Apa kamu sangat sibuk sampai melupakan aku? Mala pura-mura memasang wajah marah, ia ingin menjahili sahabatnya itu.
Lala melepaskan pekukannya, ia memegangi kedua bahu Mala dan menatapnya penuh sesal. "Maaf, aku sibuk banget beberapa hari ini."
"Sibuk menyiapkan lamaran?" Tebak Mala masih dengan wajah kesalnya.
"Dari mana kamu tau, aku bahkan belum bilang sama kamu." Lala terkejut karena Mala mengetahui rencananya dan Rafli.
"Tidak penting dari mana. Aku penasaran kenapa kamu tiba-tiba mau menikah, kamu nggak hamil kan?"
Lala seketika menjadi gugup. " Enggaklah, ngaco aja kamu. Aku tiba-tiba aja yakin kalau Rafli bakal jadi suami yang baik buat aku."
Kedua sahabat itu asyik bercengkerama hingga tak menyadari wajah tegang dari dua pria yang duduk tak jauh dari mereka.
"Apa ada informasi terbaru dari pihak kepolisian Raf?" Arthur bertanya dengan wajah serius, kematian Marsel sangat mengganggunya.
"Hasil otopsi sudah keluar, Marsel meninggal karena kehabisan banyak darah. Saya rasa mereka membuang Marsel tepat setelah mereka pergi dari rumah tua itu."
Arthur menoleh, ia menatap sahabatnya. "Kau harus lebih waspada Raf, mereka bukan orang sembarangan. Aku hanya penasaran kenapa mereka mengincar Mala. Aku juga semakin ragu jika dadyku terlibat dengan semua ini."
Arthur kembali mengingatkan Rafli, ia tak mau orang-orang terdekatnya celaka.
***
Di Apartemen Arthur..
Kondisi pak Karto sudah semakin baik,pak Karto di rawat oleh tiga perawat yang di sewa Rafli dan berjaga secara bergantian, setiap hari Dokter Sheila juga mengunjungi pak Karto untuk memastikan kondisi mental pria tua itu.
Seperti sore ini, setelah menutup tempat prakteknya Dokter Sheila pergi ke Apartemen Arthur untuk mengunjungi pak Karto. Setibanya di sana ia melihat pak Karto tengah duduk di atas tempat tidur sambil memandangi jendela yang berada di depannya, tatapan matanya terlihat kosong.
"Bagaimana kondisinya hari ini Sus?" Dokter Sheila bertanya kepada perawat yang bertugas hari ini.
"Kondisi tubuhnya sudah lumayan baik Dok, beliau lebih banyak diam hari ini."
Dokter Sheila mendekati pak Karto dan duduk di sebelahnya, pak Karto menoleh sekilas lalu ia kembali menatap keluar jendela.
"Kek, sedang lihat apa?" Tanya Dokter Sheila dengan lembut.
__ADS_1
"Kek, kakek sudah makan belum?"
"Apa kakek ingin keluar dan jalan-jalan di luar?"
Pak Karto menoleh, ia menatap sendu Dokter Sheila, raut wajahnya nampak sedih.
"Saya rindu anak saya."
Deg,,
Dokter Sheila terpaku di tempatnya karena pak Karto menunjukan sisi warasnya, Dokter Sheila diam sejenak, ia memikirkan perkataan Rafli untuk mengorek informasi dari pak Karto.
"Kakek punya anak?"
Pak Karto mengangguk pelan.
"Apa kakek ingat siapa namanya?"
"Aryo." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakek ingat dimana anak kakek tinggal, saya bisa mengantarnya kesana?"
Pak Karto menggeleng lemah. "Saya takut mereka akan mendatangi anak saya."
"Mereka? Siapa mereka kek?"
"Apa yang sudah mereka lakukan, kenapa kakek menganggap mereka jahat?" Pancing Dokter Sheila, ia berharap akan mendapatkan beberapa informasi dari pak Karto.
"Mereka membunuh." Ujarnya dengan tangan bergetar.
Dokter Sheila meraih tangan pak karto dan menggenggamnya. "Kakek nggak usah takut, kakek aman disini." Dokter Sheila mencoba menenangkan pak Karto.
Pak Karto mulai tenang kembali, Dokter Sheila kembali mengajaknya berbicara.
"Kek, apa kakeh kenal dengan Arthur Bagaskara?"
Pak Karto menatap Dokter Sheila tajam, matanya mulai berkaca-kaca dan keringat dingin nenetes di pelipisnya, detik selanjutnya tubuh tua itu mulai bergetar dengan hebat, pak Karto mulai merancau, kewarasannya mulai hilang lagi.
"Moster kecil, dia yang membakarnya, dia pelakunya, moster kecil, dia adalah moster kecil."
Pak Karto mulai berontak sehingga Dokter Sheila tepaksa menyuntikan obat penenang ke dalam tubuh pak Karto, setelah pak Karto mulai tertidur, Dokter Sheila keluar dari kamar di ikuti oleh perawat pak Karto.
Dokter Sheila duduk di sofa, ia memijat pelipisnya..Dokter cantik itu lalu meraih catatan dari dalam tasnya, ia mencatat setiap perkataan pak Karto. Dokter Sheila mengerutkan alisnya, ia baru menyadari setiap ia menanyakan tentang Arthur respon pak Karto selalu berlebihan, ia mulai merancau tentang monster kecil dan pembakaran.
"Tidak mungkin." Sangkal Dokter Sheila saat terlintas sesuatu di kepalanya.
__ADS_1
Kebakaran itu adalah sebuah kesengajaan, pelakunya adalah seseorang yang tak pernah kalian duga.
Dokter Sheila merinding begitu mengingat ucapan Petra beberapa saat yang lalu. Ia lalu meraih ponselnya dan menelfon seseorang.
"Ya hallo." Ucap seseorang dari seberang telefon.
"Dimana kamu Raf?" Tanya Dokter Sheila.
"Di Rumah Sakit, apa terjadi sesuatu?" Suara Rafli terdengar cemas.
"Bisakah kau ke apartemen sekarang, ada yang ingin aku diskusikan denganmu, hanya denganmu." Dokter Sheila menekankan kalimat terakhirnya.
"Aku segera kesana."
***
Rafli lebih dulu mengantarkan Lala ke rumahnya sebelum pergi ke apartemen Arthur. Sepanjang perjalanan Rafli memikirkan ucapan Dokter Sheila, sebenarnya apa yang ingin Dokter itu sampaikan.
"Jadi kapan kamu akan ke rumah?" Tanya Lala setelah sekian lama mereka terdiam.
Rafli menoleh sekilas, lalu ia kembali fokus ke depan. "Setelah Mala keluar dari Rumah Sakit, apa kamu sudah membicarakan ini kepada orang tuamu?"
Lala mengangguk. "Aku sudah bilang sama ibu, besok aku berencana untuk memberi tahu ayah."
"Terimakasih ya." Ucap Rafli seraya mengelus rambut Lala dengan tangan kirinya.
***
Satu jam kemudian Rafli tiba di apartemen Arthur, ia segera menghampiri Dokter Sheila dan duduk di sebelahnya. "Ada apa Dok, kenapa anda terlihat cemas?"
Dokter Sheila menatap Rafli dengan wajah serius. "Ini hanya dugaanku Raf, semoga apa yang ada dalam fikiranku sekarang tidak benar.
Rafli mulai memasang wajah serius, ia semakin penasaran apa yang akan Dokter Sheila katakan kepadanya.
"Kau ingat perkataan Petra beberapa waktu yang lalu mengenai kebakaran yang di sengaja dan pelakunya seseorang yang tak pernah kita duga?" Tanya Dokter Sheila dan Rafli hanya menjawabnya anggukan kecil.
"Seminggu terakhir ini aku berbincang dengan pak Karto, dan setiap aku menyebut nama Arthur Bagasakara ia mulai ketakutan, ia mulai merancau tentang monster kecil dan kebakaran."
"Petra bilang dia berada di sana dan melihat semuanya, berarti kepribadian Arthur terpecah sebelum kebakaran itu terjadi, mungkinkah monster kecil yang di maksud pak Karto adalah Arthur dan dia yang sengaja membakar tempat itu Raf?"
Dokter Sheila mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan apa yang terlintas di kepalanya, jika kepribadian Arthur tercipta sebelum kebakaran itu,makan bukan hal yang mustahil jika Arthur yang membakarnya, mungkin saja waktu itu kepribadian Arthur yang lain yang tengah memegang kendali pada tubuhnya.
"Atau mungkin Petra yang melakukannya, dia bilang dia berada di sana saat kebakaran itu terjadi?" Rafli menanggapi opini Dokter Sheila, karena sejauh ini hanya Petralah yang bersikap ugal-ugalan. Melihat Petra menyayat wajah Marsel tanpa ampun membuat Rafli yakin jika Petra tak memiliki hati nurani.
"Aku yakin jawabannya ada di rekaman CCTV yang kemungkinan besar di simpan oleh pak Karto!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...