
Setengah jam setelah Arthur berangkat, bel apartemen berbunyi, Mala kembali mengingat pesan Arthur untuk tidak membuka pintu untuk orang asing, untuk itu dia memilih diam saja, karena dia tidak merasa mempunyai janji dengan siapapun, jika itu Arthur pasti tidak akan menekal bel, begitu yang ada difikiran Mala.
Namun bel kembali berbunyi berulang-ulang dan membuat Mala terusik, gadis itu terpaksa bangun dari posisi nyamannya diatas sofa dan berjalan mendekati pintu. Mala mengintip dari lubang yang tersedia dipintu, lubang kecil yang bisa dibuka dan ditutup yang biasa digunakan untuk melihat siapa tamu yang datang, Mala terkejut melihat mama Wulan berada didepan pintu dan dia segera membuka pintunya.
"Nyonya." Sapa Mala, melihat ekspresi tak suka diwajah mama Wulan membuat Mala mengoreksi panggilannya. "Mama Wulan." Ulang Mala dan yang dipanggilpun merasa senang, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengulas senyum diwajahnya.
"Apa mama mengganggumu?" Tanya mama Wulan dengan lembut.
"Tidak ma, silahkan masuk."
"Surpricee.." Seru Lea, gadia kecil itu keluar dari balik punggung ibunya.
"Lea, kau juga datang?" Ujar Mala tak kalah senang melihat kehadiran Lea.
Mala mempersilahkan keduanya untuk masuk, mama Wulan dan Lea sudah duduk disofa sementara Mala pergi kedapur membuat teh untuk tamunya.
"Tidak perlu repot Mala, kami kesini karena ingin menjengukmu." Tutur mama Wulan saat Mala datang dengan dua cangkir teh ditangannya.
"Tidak repot ma, hanya teh saja."
Mama Wulan mengulas senyum, dia memperhatikan Mala dengan seksama. "Bagiamana keadaanmu, Arthur bilang kamu demam?" Tanya mama Wulan, dia meraih tangan Mala dan menuntunnya untuk duduk disebelahnya.
"Sudah baikan ma, Tuan Arthur saja yang berlebihan, dia bahkan melarangku bekerja hari ini."
"Tuan, apa tidak salah, kakak memanggil kak Arthur dengan sebutab tuan?" Lea menggeleng tak percaya seraya menatap Mala.
"Itu panggilan sayangku Lea." Dalih Mala sambil tersenyum. "Lalu apa aku harus memanggilnya sayangku." Imbuh Mala dalam hatinya.
Tiga wanita berbeda generasi itu larut dalam obrolan mereka, ketiganya sangat antusias menceritakan tentang hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka, Mala sangat bahagia bisa bertemu dengan mama Wulan dan Lea, mama Wulan sangat baik kepadanya, Mala merasa seperti memiliki seorang ibu sekarang, dia bersyukur karena mama Wulan menerimanya sebagai kekasih Arthur, meskipun hanya kekasih pura-pura, dan karena itu Mala merasa bersalah karena telah membohongi mama Wulan.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Arthur karena telah memberiku kesempatan untuk merasakan hangatnya sebuah keluarga." Batin Mala seraya menatap mama Wulan dan Lea dengan penuh syukur.
Hari beranjak siang, lelah berbincang kini ketiganya merasa lapar. Namun Mala merasa bersalah karena tidak memiliki bahan masakan untuk makan siang mereka.
"Bagaimana kalau kita makan diluar." Ajak mama Wulan dan langsung disetujui oleh Lea.
"Tapi ma." Mala sedikit keberatan, bukan karena tidak ingin makan siang bersama mereka, namun Mala takut Arthur akan memarahinya karena keluar tanpa izin.
"Kau takut Arthur marah? Tenang saja mama akan memberi tau Arthur. Ayo bersiap sekarang, kasian Lea sudah kelaparan."
Mala menurut, dia segera pergi kekamarnya untuk bersiap. "Mereka pasti dukun, ibu dan anak itu bisa menebak isi kepalaku." Desis Mala saat sedang berjalan kekamarnya.
Sementara Mala bersiap, mama Wulan memilih untuk menelfon Arthur dan memberi tahu jika Mala akan makan siang bersama mereka, mama Wulan kembali tersenyum saat Arthur menyetujui rencana makan siang mereka.
"Lea, sepertinya kakakmu sudah mulai berubah." Ucap mama Wulan kepada putrinya.
Mala sudah selesai mengganti pakaiannya, dia terlihat sederhana dengan celana jeans dan hoodie yang telihat kebesaran ditubuhnya, saat akan kelur tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ternyata Arthur yang menelfonnya.
"Aku mengirim uang ke rekeningmu, pakailah untuk mentraktir mama dan Lea makan."
Mala menjauhkan ponselnya dari telinga, gadis itu memeriksa pesan masuk, benar saja Arthur mengiriminya uang, namun nominalnya membuat mata Mala membulat sempurna, gadis itu beberapa kali menghitung angka nol dibakang angka 3. "30 juta." Pekik Mala, dia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Tuan bukankah ini terlalu banyak." Ujar Mala.
"Anggap saja sisanya 5 kali lipat gaji yang Rafli janjikan padamu."
"Tapi tuan...
Tut..tut..tut
__ADS_1
Arthur sudah menutup telfonnya sebelum Mala menyelesaikan kalimatnya, Mala berdecak, dia kembali memeriksa nominal direkeningnya. "Sudahlah anggap saja bayaranku kemarin karena hampir tenggelam." Ujar Mala dengan senyum merekah diwajahnya.
Malapun keluar dari kamar, mama Wulan dan Lea sudah menunggu dan mereka segera berangkat untuk mencari makan siang dengan diantar oleh supir pribadi mama Wulan.
Mereka singgah disalah satu restoran Chinese food yang berada disalah satu Mall di Jakarta, ketiga wanita itu segera mencari tempat duduk yang nyaman dan segera memesan menu makan siang mereka.
"Foto dulu kak." Usul Lea dan diangguki oleh mama Wulan dan Mala.
Mereka mengambil banyak foto dengan berbagai pose, ketiganya larut dalam kebahagiaan sampai pesanan mereka datang. Mala tersenyum bahagia melihat mama Wulan dan Lea tengah menikmati makanannya, dia ingin berterimakasih kepada Tuhan karena memberinya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini, kebahagiaan yang tidak pernah ia dapat dari keluarganya.
Selesai makan, mereka memilih untuk jalan-jalan di dalam mall, mama Wulan tak sedetikpun melepaskan tangan Mala dan membuat Lea merasa tersaingi, gadis itu mencebikkan bibirnya hingga membuat mama Wulan dan Mala terkekeh.
Diam-diam Lea mengambil foto mamanya dan Mala lalu mengirimkannya kepada Arthur. "Kak lihatlah, pacarmu telah mengambil alih perhatian mama."
"Kalian dimana?" Balas Arthur.
"Kita di mall dekat kantor kakak, datanglah kesini."
Arthur tak membalas lagi, Lea berlari menyusul mama Wulan dan Mala yang sudah masuk kedalam toko baju. Mama Wulan dan Lea sibuk memilih bahu, sementara Mala hanya mengamati mereka, dia tidak tertarik untuk membeli baju ditoko ini karena harganya sangat mahal, Mala terbiasa membeli baju dipasar ataupun toko-toko kecil dipinggir jalan yang harganya murah.
"Mala tidak belanja?" Tanya mama Wulan setelah menyadari Mala hanya duduk dan mengamati mereka.
"Tidak ma, pakaian Mala sudah banyak." Ujar Mala.
"Lihatlah, dress itu sangat cantik, pasti cocok untukmu, ayo cobalah." Mama Wulan mengambil sebuah dress berwarna peach dan menyuruh Mala mencobanya.
"Tidak ma, dress ini terlalu pendek, Tuan Arthur tidak akan menyukainya." Ucap Mala berbohong, dia terpaksa memakai nama Arthur untuk menolak mama Wulan.
"Siapa bilang aku tak menyukainya, kamu
__ADS_1
saja belum mencobanya." Seru sebuah suara dari belakang Mala, gadis itu berbalik dan melihat Arthur sudah berdiri didepannya dengan senyum lebar hingga Mala tidak bisa membedakan siapa yang tengah berada dihadapannya, apakah itu Rey atau Arthur.
BERSAMBUNG....