My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 36 Belanja Bersama


__ADS_3

"Tuan Arthur." Ucap Mala ragu, dia benar-benar tidak tau siapa yang berada dihadapannya sekarang.


"Ya sayang, ini aku." Balas Arthur seraya mengelus kepala Mala dengan lembut.


"Sayang." Bisik Mala.


Arthur tak menanggapi Mala, dia justru mengambil dress yang dimaksud oleh mama Wulan dan memberikannya kepada Mala agar gadis itu mencobanya. Mala memutar bola matanya malas, namun dia tidak bisa menolak kehendak Arthur, apalagi ada mama Wulan yang sedang mengamati mereka.


Mala keluar dari ruang ganti dengan dress lengan pendek dan panjangnya hanya sampai diatas lututnya. Arthur terpaku, dia kembali dibuat terpana akan kecantikan Mala, dress itu sangat cocok untuk Mala, namun Arthur kurang menyukainya karena dress itu terlalu pendek dan memamerkan paha putih milik Mala.


"Bagaimana tuan." Tanya Mala, dia terlihat risih mengenakan dress mini itu.


"Kau sangat cantik kak." Ucap Lea, gadis kecil itu menatap Mala dengan kagum. "Kak Mala cantik kan ma?" Imbuhnya lagi mencari dukungan kepada mama Wulan. Mama Wulan hanya mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya kepada Mala.


Namun tidak dengan tuan muda, Arthur menggeleng cepat, jari telunjuknya ia gunakan untuk memeberi kode kepada Mala agar gadis itu mengganti pakaiannya. Lagi-lagi Mala hanya menurut, dia kembali masuk kedalam ruang ganti dan keluar dengan pakaian yang ia kenakan sebelumnya.


"Kenapa sih kak, padahal baju itu kan cocok dipakai kak Mala." Protes Lea kepada kakaknya.


"Terlalu pendek." Jawab Arthur singkat.


Mama Wulan hanya tersenyum mendengar pendapat Arthur, dia yakin putra sambungnya sedang jatuh cinta sekarang, dia begitu posesif kepada Mala, gadis yang menjadi kekasih pura-puranya.


"Sepertinya mama harus pulang sekarang, kalian lanjut saja belanjanya." Ucap mama Wulan, dia tidak ingin mengganggu momen kebersamaan kedua pasangan itu.


"Tapi Lea masih mau jalan-jalan ma." Rengek Lea.


"Kamu lupa hari ini ada les." Ucap mama Wulan seraya memberi kode kedipan mata kepada Lea.


"Menyebalkan sekali, liburpun masih harus Les." Keluh Lea, namun gadis itu menurut untuk pulang.


Mama Wulan pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya, namun dia ditahan oleh Arthur. "Biar Arthur yang bayar ma." Jelas Arthur , lalu dia mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar.


"Terimakasih nak, mama merepotkan." Ucap mama Wulan dan Arthur hanya menggeleng.

__ADS_1


Setelah selesai, mama Wulan dan Lea berpamitam lalu mereka pergi meninggalkan Mala dan Arthur. Sekarang tinggal mereka berdua, kecanggungan nampak ketara diantara mereka, keduanya saling diam untuk beberapa saat.


"Ekhem, ekhem." Arthur berdehem mencoba untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.


"Apa tuan akan kembali kekantor?" Tanya Mala mengakhiri aksi saling diam mereka.


"Tidak, pekerjaanku sudah selesai, aku ingin istirahat dirumah."


"Kalau begitu mari kita pulang. Tapi dimana Asisten Rafli, apa tuan kesini sendiri?" Ucap Mala seraya mengedarkan pandangannya.


"Rafli masih dikantor."


Mala hanya mengangguk, lalu dia lebih dulu melangkahkan kaki keluar dari toko itu dan disusul Arthur kemudian. Mereka berjalan melewati sebuah supermarket, dan seketika terbersit niatan Arthur untuk belanja sayur dan kebutuhan lainnya, dia sangat ingat jika Mala suka memasak dan dia sangat menyukai masakan Mala.


"La." Panggil Arthur, mendengar namanya di panggil Mala lantas berhenti lalu memutar tubuhnya, kini mereka saling berhadapan.


"Kita belanja sayur dulu, aku bosan sarapan diluar, akhir-akhir ini aku merindukan masakan rumah." Ucap Arthur bertele-tele, susah sekali mengucapkan jika dia ingin Mala memasakan makanan untuknya setiap hari.


"Tuan ingin aku memasak untuk tuan?" Tebak Mala dan hanya diangguki oleh Arthur. Mala mengulas senyum melihat Arthur yang lagi-lagi bertingkah aneh, kemudian mereka berdua masuk kedalam supermarket.


"La." Panggil Artur dan siempunya namapun menoleh.


"Ya tuan?"


"Beli juga semua kebutuhan rumah yang stoknya sudah habis."


"Semua?" Ucap Mala girang, selama ditempat Arthur dia memang membutuhkan banyak hal yang akan dia gunakan untuk memasak maupun membersihkan apartemen.


"Ya."


Mala bersemangat mengambil barang-barang yang dia butuhkan untuk menunjang pekerjaannya. Arthur kembali tersenyum melihat Mala yang begitu bersemangat, namun dia segera menarik senyum itu sebelum Mala menyadarinya.


Kini mereka berada ditempat penjualan sayur dan bahan makanan yang lain. Mala menghentikan langkahnya, dia ingin memastikan makanan seperti apa yang Arthur inginkan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" Tanya Arthur seraya menatap bingung kearah Mala.


"Masakan seperti apa yang tuan inginkan?"


"Apa saja." Jawab Arthur singkat. "Asal kau yang memasaknya." Imbuh Arthur didalam hati.


Mala kembali melangkahkan kakinya, dia mulai memilih berbagai sayuran segar, ayam, daging dan ikan. Tak lupa dia juga mengambil beras, karena bukan orang Indonesia namanya jika belum makan dengan nasi.


Beberapa kali Mala meminta pendapat Arthur saat dia tengah memilih belanjaannya dan membuat mereka terlihat sangat dekat, aktivitas merekapun tak luput dari perhatian pengunjung yang lain dan mereka mulai saling berbisik.


"Mereka sangat cocok yaa."


"Pasti mereka pengantin baru, mereka sangat romantis."


"Wah, beruntungnya wanita itu memiliki suami yang sangat tampan."


"Mereka serasi sekali."


Mendengar itu semua membuat Mala dan Arthur kembali merasa canggung, mereka cepat-cepat menyelesaikan belanja mereka dan membayarnya.


Setelah selesai mereka segera kekuar dari tempat itu. Arthur kembali mendorong trolley belanjanya sampai diparkiran mobil. Mala membantu Arthur memasukkan semua belanjaan mereka kedalam mobil.


"Tuan kuncinya." Ucap Mala, tangannya menengadah diudara.


"Masuklah, aku yang menyetir hari ini" Ujar Arthur, lalu dia membukakan pintu untuk Mala. "Masuk." Imbuhnya lagi karena Mala masih mematung.


"Tapi tuan."


"Tidak ada tapi-tapian, cepat masuk atau gajimu aku potong." Ucap Arthur penuh penekanan.


Tanpa berfikir lagi Mala segera masuk, Arthur mengulum senyum, sepertinya potong gaji akan menjadi senjata untuk menekan Mala. Arthur segera masuk kedalam mobil, dia melirik Mala yang duduk bersebelahan dengannya lalu Arthur kembali tersenyum.


"Perasaan macam apa ini, kenapa aku bahagia sekali berdekatan dengan gadis bodoh ini, kenapa aku tidak bisa menahan senyumku setiap kali melihat wajahnya, apa aku sudah gila atau inikah yang dimaksud jatuh cinta."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2