
Paginya Rafli sudah berada di Rumah Sakit, tuan Raymon membawanya ke Rumah Sakit karena luka yang di derita Rafli cukup parah. Setelah melihat rekaman CCTV kemarin, Rafli memutuskan untuk tidak memberi tahu Arthur mengenai isi rekaman tersebut dan sepakat untuk tidak pernah mengungkit masalah itu lagi.
Namun ada satu hal yang mengganggu di benak Rafli, kenapa api tiba-tiba berkobar hanya karena sebuah kembang api? Pertanyaan itu terus muncul namun Rafli tak bisa bertanya kepada tuan Bagaskara karena laki-laki tua itu mengancam keselamatan Lala jika Rafli terus mengungkit masalah kebakaran 15 tahun silam.
Semua orang panik setelah semalaman Rafli menghilang. Setelah mendapat kabar dari pihak Rumah Sakit, bu Yati, Lala, Arthur serta Mala segera ke Rumah Sakit pagi itu juga. Mereka nampak sangat khawatir, apalagi Lala, gadis itu tak henti-hentinya menangis.
Arthur dan Mala menunggu di depan ruang perawatan Rafli, sementara Lala dan bu Yati masuk terlebih dahulu menemui Rafli.
Lala masuk ke dalam ruangan Rafli, matanya bengkak akibat menangis semalaman, bahkan untuk berjalanpun ia sedikit tertatih saking takutnya terjadi sesuatu terhadap Rafli.
Di atas ranjang perawatan, Rafli terbaring lemah dengan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya. Lala dan bu Yati tak kuasa menahan tangis melihat kondisi Rafli, namun tangis mereka akhirnya membangunkan Rafli dari tidurnya.
"Ibu, Lala." Ucapnya dengan suara serak.
"Apa yang terjadi nak, kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya bu Yati dengan wajah yang begitu khawatir, air matanya berderai, menangisi nasib putra tunggalnya.
"Rafli di rampok bu." Jawab Rafli, ia terpaksa berbohong kepada ibu dan calon istrinya.
Rafli melirik Lala yang hanya berdiri dan diam di sebelahnya, ia lalu meraih tangan sang kekasih dan menggenggamnya dengan erat. "Aku baik-baik saja, hapus air matamu." Ucapnya menenangkan Lala.
Air mata Lala semakin deras, ia lalu memeluk Rafli dengan hati-hati, gadis itu kembali meluapkan tangisnya di atas dada Rafli. "Aku hampir saja mati karena mencemaskanmu." Ucap Lala di tengah isaknya.
Rafli mengelus kepala Lala yang berada di dadanya, ia merasa bersalah karena telah membuat orang-orang di sekitarnya merasa khawatir. "Maafin aku, aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
Lala melepas pelukannya saat ia merasa sedikit lebih tenang, lalu ia teringat akan Arthur yang menunggu di luar.
"Kami keluar dulu, tuan Arthur menunggu di luar bersama Mala." Terang Lala dan hanya di jawab anggukan oleh Rafli.
Lala dan bu Yati keluar dari ruangan tersebut, tak lama setelah itu Arthur dan Mala masuk. Arthur segera menghampiri Rafli dengan ekspresi wajah yang tak bisa di tebak, antara marah melihat kondisi sahabatnya dan merasa lega karena Rafli kembali dalam keadaan hidup.
"Siapa yang berani melakukan ini padamu?" Tanya Arthur dengan kilatan amarah di matanya, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal.
__ADS_1
"Saya di rampok tuan." Jawab Rafli, lagi-lagi ia berbohong.
"Rampok? Apa yang kau sembunyikan dariku Raf, kemarin aku menemukan mobilmu di pinggir jalan, tak mungkin rampok itu melupakan mobilmu kan dan kenapa rampok itu malah membawamu?" Cecar Arthur, ia tak percaya dengan penuturan sahabatnya.
"Jawab Raf, apa dady yang melakukannya. Pria itu sungguh keterlaluan." Arthur hendak pergi dari ruangan itu namun Rafli segera menghentikannya.
"Arthur tunggu, kenapa emosimu tak pernah berubah." Dengus Rafli. Kali ini ia berperan sebagai seorang sahabat karena akan lebih mudah untuk membujuk Arthur.
"Bagaimana aku tidak emosi, semalaman aku mencarimu, aku bahkan sampai menginap di rumah ibu."
"Wah, jadi kau sangat mengkhawatirkanku ya?" Goda Rafli seraya tersenyum.
"Cih,." Arthur melengos membuang wajahnya membuat Rafli dan Mala terkekeh bersama melihat kelakuan Arthur.
"Sekarang cepat katakan apa yang terjadi?" Tanya Arthur, suaranya terdengar lebih lembut.
"Katakan atau aku akan menemui dady dan menghajar pria tua itu." Imbuh Arthur tak sabar.
"Cepat." Seru Arthur seraya menatapnya tajam.
"Kenapa kamu nggak bisa sabar si, kasian Asisten Rafli, lihatlah kondisinya tapi kamu malah memarahinya." Protes Mala namun tak mendapat tanggapan dari Rafli.
Rafli melirik Mala, ada rasa menyesal di dalam hatinya karena harus merahasiakan fakta tentang kematian kedua orang tuanya. "Maafin aku Mala, ini yang terbaik untuk kalian berdua." Batin Rafli.
Rafli lalu menatap Arthur yang sudah tak sabar mendengar ceritanya.
"Marsel yang melakukannya." Ucap Rafli memulai narasinya.
"Marsel masih hidup, lalu mayat itu?" Arthur begitu terkejut mendengar penuturan sahabatnya.
"Mayat Jack. Marsel membunuhnya dan menukar identitas mereka."
__ADS_1
"Lalu kenapa Marsel melakukan semua ini padamu?"
"Marsel adalah tangan kanan tuan Bagaskara."
"Opa?" Arthur kembali terkejut karena dugaannya salah selama ini, ia mengira jika Marsel adalah orang suruhan tuan Raymon.
Rafli mengangguk pelan. "Selama ini, tuan Bagaskaralah yang sudah mengawasi kita, beliau tau jika aku menemukan rekaman itu dan menyuruh Marsel untuk mengambilnya dariku, namun Marsel menyimpan dendam padaku gara-gara Petra menghajarnya habis-habisan waktu itu sehingga dia menyuruh anak buahnya untuk menyerangku."
"Tunggu sebentar, maksudmu Opa jugalah yang sudah menyuruh Marsel untuk mencelakai Mala?" Arthur mulai tersulut emosi, namun ia harus menahannya sampai Rafli menyelesaikan ceritanya.
Lagi-lagi Rafli hanya mengangguk.
"Tapi kenapa, apa salah Mala? Kenapa juga Opa sangat terobsesi dengan rekaman itu?" Arthur tak henti-hentinya melayangkan pertanyaan.
"Tuan Bagaskara tau jika Mala adalah gadis yang selamat bersamamu saat kebakaran itu, saat kalian pergi ke puncak tuan Bagaskara marah dan mengira jika Mala yang sudah menyuruhmu untuk menyelidiki tentang kebakaran tersebut. Dan mengenai isi rekaman , aku sudah melihatnya dan mengerti kenapa tuan Bagaskara tidak ingin kamu melihat rekaman itu!"
"Apa isinya? Kali ini Mala yang bertanya, gadis itupun penasaran, karena gara-gara rekaman itu nyawanya hampir melayang.
"Rekamannya tak terlalu jelas, namun aku melihat kalian berdua menangis ketakutan di tengah kobaran api. Tuan Bagaskara tak ingin Arthur melihatnya karena beliau tau jika Arthur mengidap DID, beliau tak ingin Arthur mengingat masa lalunya yang kelam, dimana ia harus melihat mamy nya meninggal dalam kebakaran itu." Ucap Rafli, ia kembali merasa bersalah karena harus berbohong kepada sahabatnya, namun Rafli juga tak menutupi kejahatan tuan Bagaskara kepada Mala sehingga Arthur tak akan memaafkan tuan Bagaskara begitu saja. Mendengar cerita tentang masa kecil Arthur membuat Rafli sadar, jika penyakit Arthur bukan hanya dari mamy-nya namun juga dari dady dan Opanya yang serakah akan kekuasaan, hal itu tentu membuat Rafli sangat marah dan tak ingin hidup tuan Bagaskara tenang, dengan menceritakan niatnya untuk mencelakai Mala, Rafli rasa itu balasan yang setimpal karena hubungannya dengan sang cucu pasti akan merenggang.
"Opa tau tentang penyakitku?"
"Ya, tuan Bagaskara mengetahui segalanya."
"Arthur, Mala bolehkan aku meminta sesuatu sebagai sahabat kalian?" Ucap Rafli dengan wajah serius.
"Katakan." Sahut Arthur.
"Bisakah kalian berhenti mencari tau tentang kebakaran itu, menurutku kebakaran itu memang sebuah kecelakaan yang tak bisa di hindari, aku hanya ingin kalian melanjutkan hidup dan bahagia bersama. Aku juga yakin jika kepribadian Arthur terpecah karena kebakaran itu, untuk itu aku harap kalian tidak membahasnya lagi. Aku tau pasti berat untuk kalian, tapi bukahkah akan lebih menyakitkan jika kalian mengingat masa kecil kalian? Jadi aku mohon, lanjutkan hidup kalian dan berbahagialah. Mari kita fokus untuk menyembuhkan Arthur tanpa harus menoleh ke belakang."
BERSAMBUNG...
__ADS_1