My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 123 Kebakaran


__ADS_3

Setelah acara ulang tahun selesai dan di lanjutkan makan siang bersama, kedua keluarga tersebut kini berada di dalam ruangan kerja milik tuan Raymon untuk membahah masalah pekerjaan.


Sementara itu Mala dan Arthur bermain di dekat kolam renang, mereka terlihat sangat akrab. Saat mereka sedang bermain salah seorang pekerja kebun mendatangi Mala membawa beberapa tangkai bunga mawar merah yang di petiknya dari kebun.


"Cah ayu, mau bunga tidak, cantiknya persis kaya kamu?" Ucap pekerja itu dengan logat Jawanya..


"Terimakasih pak." Balas Mala serasa menerima bunga tersebut.


"Terimakasih pak karto." Ucap Arthur seraya tersenyum.


"Njih, sama-sama den, saya permisi."


Sepeninggal pak Karto kedua anak itu kembali bermain, Mala nampak senang dengan boneka Kanggurunya.


"Mala, besar nanti kak Arthur akan menjadi seorang Arsitek seperti ibu Intan." Ucap Arthur seraya tersenyum.


"Kalau begitu Mala juga akan menjadi Arsitek seperti kak Arthur. Mala akan membuatkan taman penuh dengan bunga saat Mala menjadi Arsitek nanti." Jawab gadis itu dengan polos.


Karena bosan bermain, Mala dan Arthur menyusul kedua orang tua mereka ke dalam ruang kerja, namun kedatangan mereka tak di sadari oleh ke empat orang dewasa yang berada di sana.


"Kak apa itu permen? Mala menunjuk sebuah benda berbentuk tabung seukuran jari jempol orang dewasa. Arthur hanya mengangkat kedua bahunya karena ia juga tak tau benda apa yang di tunjuk oleh Mala.


"Pasti permen." Mala mengendap-endap mengambil benda tersebut dan memasukkannya ke dalam kantung boneka Kanggurunya.


"Ara, Mala titip permen ya, tapi jangan di makan." Ucapnya dengan gemas.


"Ayo keluar kak."


Arthur mengikuti gadis kecil itu keluar ruangan, keduanya kembali bermain di depan ruang kerja itu. Saat mereka sedang bermain tiba-tiba datang seorang pelayan laki-laki degan membawa beberapa bungkus kembang api dan memberikannya kepada kedua anak itu.


"Apa ini pak?" Tanya Arthur ketika menerima bungkusan tersebut.


"Kembang api den."


"Wah kembang api, kak ayo kita bermain kembang api." Sahut Mala dengan antusian.


"Kita mainnya di luar aja ya, disini bahaya." Ajak Arthur.


"Di luar ada angin den, lebih baik mainnya di dalam saja, biar bapak temenin."

__ADS_1


Kedua bocah itu menurut, mereka mulai menyalakan kembang api dan bermain di dalam ruangan yang cukup besar itu.


Tak berselang lama tuan Raymon, Pras dan Intan keluar dari ruangan itu secara bersamaan, kecuali Lidya yang masih tertinggal di dalam ruangan itu.


"Ibu mau kemana?" Tanya Mala saat melihat kedua orang tuannya keluar.


"Ibu akan menemui Opa Bagaskara, Mala dan Arthur tunggu disini ya." Ucap Intan tanpa menyadari kedua anak itu tengah bermain kembang api.


Kedua anak itu menurut dan lanjut bermain, tiba-tiba pelayan laki-laki yang menemani mereka bermain membisikkan sesuatu di telinga Arthur.


"Den, mau lihat pertunjukan kembang api yang besar." Bisik pelayan itu seraya tersenyum.


"Dimana pak?" Tanya Arthur antusian.


"Di sini, tapi aden yang harus menyalakan apinya, apa aden mau?"


"Mau pak."


Tanpa mereka sadari Intan dan Pras kembali masuk ke dalam ruangan itu karena stempel bisnis milik Pras hilang, mereka fikir mungkin stempel tersebut ketinggalan di dalam ruang kerja tuan Raymon.


Pelayan itu berjalan menuju ruang kerja tuan Raymon dan menguncinya dari luar, ia lalu menuangkan cairan berbau menyengat mengelilingi ruangan itu. Pelayan tersebut menuangkan cairan tersebut tepat di titik buta sehingga kelakuannya tak tertangkap oleh kamera pengawas.


"Saya sudah mengunci nyonya Lidya di dalam ruangan tuan." Ucapnya pada seseorang di ujung telefon.


Pelayan itu lalu kembali mendatangi Arthur dan memberikan sebuah pemantik kepada Arthur.


"Ayo den, nyalakan kembang apinya!"


Arthur menerima pemantik yang sudah menyala itu dan kembali menyulut kembang api yang ada di tangannya.


"Mau yang lebih besar nggak den kembang apinya?"


Arthur hanya mengangguk, Mala juga terlihat sangat bersemangat ingin segera melihat pertunjukan kembang api yang besar.


"Lempar kembang api ini ke sana." Ucap pelayan itu seraya menunjuk genangan air yang di tuangnya tadi.


Tanpa mengetahui apapun, dengan polosnya Arthur melemparkan kembang api yang berada di tangannya ke atas cairan yang menggenang di depan pintu ruang kerja milik dadynya.


Wusss,,

__ADS_1


Sambaran api dari kembang api tersebut menjalar mengelilingi ruangan itu, tak butuh waktu lama ruangan itu sudah di kelilingi oleh api, api menjalar dengan cepat dan membakar ruang kerja itu dalam sekejap, teriakan histeris mulai terdengar dari dalam ruangan itu.


Pelayan tersebut membawa Arthur dan Mala menjauh dari ruangan itu. Arthur tiba-tiba merasa panik dan ketakutan, tak lama setelah itu wajah piasnya berubah, tak ada lagi ketakutan di wajah bocah itu, ia justru menyunggingkan senyumnya saat api berkobar dengan sangat besar dan ******* habis ruangan itu.


Arthur melirik Mala yang tengah menangis seraya memeluk boneka Kanggurunya. "Berisik. Jangan menangis." Bentak Arthur hingga membuat gadis itu tersentak dan semakin menangis.


Kejadian itu tak luput dari pantauan pak Karto di ruang sekurity, awalnya ia hanya di suruh untuk menggantikan security yang ingin ke kamar mandi, namun siapa sangka ia justru melihat pemandangan yang mengerikan, pak Karto tau persis jika di dalam ruangan itu ada Intan dan suaminya.


Pak Karto membekap mulutnya, dengan tubuh bergetar pria itu keluar dari ruang security dan berniat menolong Intan dan Pras. Namun saat ia tiba di sana, ruangan itu sudah hampir habis di lalap api, pak Karto lalu mengahampiri Mala dan Arthur yang berdiri tak jauh dari ruangan yang terbakar itu, melihat kedatangan pak Karto pelayan yang bersama Arthur dan Mala lari meninggalkan tempat itu.


Pandangan pak Karto tertuju pada CCTV yang berada di sudut ruangan, pria itu lantas keluar mencari tangga, dan tak butuh waktu lama pak Karto datang dengan membawa tangga, ia menaiki tangga tersebut dan mencabut memory Card pada CCTV tersebut.


Pak Karto menghampiri Mala, ia menatap boneka Kangguru yang di peluk oleh Mala. "Cah ayu, bapak titip ini di sini ya, jangan sampai hilang." Ucap pak Karto seraya menyelipkan momery card tersebut ke dalam kantung boneka Kangguru kecil.


Pak Karto melirik Arthur sejenak, ia merinding melihat seringai di wajah bocah kecil itu. "Moster kecil yang mengerikan, bisa-bisanya ia membakar Villa ini." Batin pak Karto seraya menarik kedua bocah itu keluar ke halaman.


Tuan Raymon dan tuan Bagaskara serta pelayan berhamburan keluar, mereka berkumpul di halaman dan tak menyangka jika terjadi kebakaran di dalam villa milik orang kaya itu karena tak ada alarm saat kebakaran terjadi.


Tuan Raymon berkeliling mencari Mala, Arthur, istri dan kedua temannya, ia belum menyadari jika kebakaran itu terjadi di ruang kerjanya sementara ketiga orang itu berada di dalam sana.


"Cah ayu tunggu disini ya." Ucap pak Karto seraya mengelus kepala Mala, ia lalu meninggalkan Mala dan menyeret Arthur menghampiri opanya.


"Tuan, den Arthur yang sudah membakar villa ini." Adu pak Karto pada tuan Bagaskara.


"Apa maksudmu Karto?" Tanya tuan Bagaskara dengan wajah terkejut.


"Saya melihat den Arthur bermain kembang api di dalam ruangan, tiba-tiba dia melemparkan kembang api itu dan muncul kobaran api yang sangat besar."


"Jangan bohong kau Karto, jelas-jelas aku menyuruh seorang pelayan, tapi kenapa kau malah menuduh cucuku."


"Menyuruh pelayan, jadi kebakaran ini adalah rencana anda? Apa anda tau, tamu tuan Raymon berada di dalam ruangan itu?"


"Apa? Jadi bukan hanya Lidya yang berada di dalam ruangan itu?" Tuan Bagaskara nampak panik.


"Jadi nyonya Lidya juga berada di dalam sana?"


"Karto, tutup mulutmu atau aku akan membuatmu bertanggung jawab atas kebakaran ini." Ancam tuan Bagaskara.


"Silahkan saja, saya memiliki bukti bahwa bukan saya yang harus bertanggung jawab."

__ADS_1


"Wah jadi pengecut itu yang menyebabkan kebakaran ini." Gumam Arthur, ia kembali menyeringai.


BERSAMBUNG....


__ADS_2