My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 139 Fakta


__ADS_3

"Saya hanya di suruh." Ucapnya dengan tergugu, tangannya yang gemetaran menandakan pria tua itu tengah ketakutan.


Mala beranjak dari duduknya, ia menghampiri pak Darman dan membantu pak Darman untuk berdiri, ia lalu menyuruh pak Darman untuk duduk di sofa bersamanya dan juga tuan Bagaskara.


"Tenangkan diri bapak dan bicarakan secara detail apa yang terjadi hari itu?" Ujar Mala seraya mengusap tangan pak Darman yang masih bergetar.


Lelaki tua itu memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Mala, melihat mata Mala ia kembali teringat akan bocah kecil yang asik bermain kembang api 15 tahun yang lalu, matanya yang terlihat begitu teduh dan bahagia, pak Darman tidak bisa melupakan sorot mata Mala saat gadis kecil itu menerima kembang api darinya.


"Kasus pembunuhan yang di rencana adalah kasus berat pak, masa Daluwarsanya paling tidak 18 tahun, sementara kebakaran itu terjadi 15 tahun yang lalu, jika bapak memilih bungkam, saya bisa kembali membuka kasus itu dan memenjarakan bapak, saya bisa meminta bukti kepada tuan Bagaskara." Ancam Mala dengan suara yang lembut.


Daluwarsa adalah lampau waktu untuk menuntut suatu tindak pidana.


"Jangan penjarakan saya non, saya sangat menyesali perbuatan saya."


"Kalau begitu ceritakan apa yang terjadi!"


Pak Darman menarik tangannya dan menyeka air mata yang menetes di wajah tuanya, sesekali nafasnya terdengar sangat berat, laki-laki tua itu tengah mengumpulkan keberaniannya mengakui segala kejahatannya di masa lalu.


"Waktu itu, istri saya hendak melahirkan anak bungsu kami, pekerjaan saya hanya seorang pelayan, sangat sulit untuk mengumpulkan uang sementara di rumah saya juga memiliki 3 orang anak." Pak Darman menjeda kalimatnya, matanya menerawang jauh, mengingat kembali masa lalu yang begitu kelam.


"Saat berniat meminjam uang kepada tuan Bagaskara, namun dia malah memberi saya sebuah pekerjaan. Dia menyuruh saya untuk membunuh menantunya..Awalnya saya menolak, namun bukan tuan Bagaskara namanya jika dia tak bisa memaksakan kehendaknya. Istri saya berada di rumah sakit dan harus segera di operasi. Semua terjadi karena kemiskinan saya, saya menerima pekerjaan itu demi istri dan anak saya."

__ADS_1


"Tapi apa salah nyonya Lidya sehingga tuan Bagaskara ingin membunuhnya?" Tanya Mala dengan dahi mengkerut.


"Saya tidak tau alasan pastinya, tapi yang saya dengar dari pelayan yang lain, nyonya Lidya mempunyai saham yang besar di dalam Bagaskara Group, mungkin tuan Bagaskara tidak menyukai hal itu."


Mala mengangguk, ia masih belum mengerti, hanya karena saham, seseorang tega menghabisi nyawa orang lain. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"


"Malam sebelum perayaan ulang tahun, tuan Bagaskara memberi tahukan rencananya, ia ingin nyonya Lidya terkunci di dalam ruangan dan saya harus membakar ruangan itu. Saya terpaksa menyetujuinya, namun setelah saya keluar dari ruangan tuan Bagaskara saya berubah fikiran, saya kembali lagi ke ruangannya, di depan pintu saya tidak sengaja mendengarnya tengah berbincang dengan orang lain. Tuan Bagaskara berencana mengambing hitamkan saya atas kebakaran yang terjadi. Saya sangat marah, namun saya tidak bisa berbuat apapun karena miskin. Akhirnya, esok paginya saya menjalankan rencana saya, namun saya tidak ingin di salahkan, untuk itu dengan di liputi amarah saya memanfaatkan tuan muda Arthur menyulut api dengan menggunakan kembang api."


Mala menutup mulutnya, sungguh malang nasib Arthur, penderitaannya di sebabkan oleh orang-orang terdekatnya. Mala merasa bersalah karena meninggalkan Arthur sendirian di atas Altar pernikahan mereka, gadis itu lalu menangis sejadi-jadinya.


Tuan Mahesa juga merasa bersalah karena secara tidak langsung ialah yang menyebabkan gagalnya pernikahan putrinya, ia lalu menarik Mala dan memeluknya. "Maafin papa, semua ini salah papa, harusnya papa tidak percaya begitu saja pada rekaman itu."


Sementara Mala menangis, pak Darman masih diam di tempatnya, penyesalannya memang tak merubah apapun, tapi dia sungguh ingin menebus segala kesalahannya di masa lalu.


"Saya mengetahuinya lewat siaran di televisi..Saya sangat menyesalinya non, Tuhan juga langsung memberi hukuman kepada saya, anak dan istri saya tidak bisa di selamatkan saat tengah di operasi."


Pak Darman beranjak dari sofa, ia kembali berlutut dan memohon pengampunan kepada Mala, ia bersujud tepat di kaki Mala, gadis itu terkejut dan segera menarik kakinya menjauh.


"Dan gara-gara anda, hidup Arthur sangat menderita."


Mala berlari keluar dari ruangan ayahnya, sudah jelas sekarang jika bukan Arthur pelakunya. Matahari mulai tergelincir menyisakan sebuah lukisan berwarna jingga yang sangat indah dan membentang memenuhi langit yang mulai gelap, Mala berlari sekuat tenaga, ia harus segera menemui Arthur dan memohon maaf pada kekasihnya.

__ADS_1


Langit sudah berubah gelap saat Mala tiba di depan bangunan dua lantai, ia mengatur nafasnya yang berderu, setelah lebih tenang ia masuk ke dalam bangunan itu dan mencari keberadaan Arthur.


Mala tak menemukan Arthur di ruangan Dokter Sheila, ruangan itu kosong, hingga salah seorang asisten Dokter Sheila menghampirinya dan memberitahunya jika Arthur di rawat di lantai atas.


Mala berlari seperti orang yang kesetanan, ia melompati dua anak tangga sekaligus, ia membuka pintu ruangan sesuai petunjuk sang asisten, namu lagi-lagi Mala di buat kecewa, tak ada seorangpun di sana.


Mala mempertajam pendengarannya, suara riuh berasal dari arah balkon bangunan tersebut, Mala melangkahkan kakinya menuju sisi terluar bangunan itu, betapa terkejutnya Mala, ia melihat Arthur berada di atas tembok pembatas balkon dengan wajah berurai air mata.


Mala segera menghampiri Dokter Sheila dan Rafli yang tengah mencoba menenangkan Arthur, keduanya terjekut melihat kedatangan Mala, begitupun dengan Arthur yang hampir saja melompat jika ia tak melihat bayangan Mala


"Andriani?" Panggil Arthur dengan bibir bergetar.


Mala segera mengetahui situasinya, kini Jade yang tengah mengendalikan tubuh Arthur, pemuda 17 tahun itu mencoba untuk bunuh diri lagi. "Jade turun, kau sudah berjanji padaku tidak akan melakukan ini lagi?" Bujuk Mala, ia merentangkan salah satu tangannya ke arah Jade


"Aku lelah, namun aku tidak tau apa yang membuatku lelah, aku benar-benar frustasi dan ingin mati."


"Jade dengarkan aku, mati bukan akhir dari segalanya Jade, ayo turun dan bicara padaku, aku berjanji akan menemanimu saat kau merasa bosan, aku akan menemanimu saat kau merasa lelah. Turun Jade, aku mohon."


Jade nampak ragu, namun akhirnya ia meraih tangan Mala dan turun dari pagar pembatas itu, tak perlu menunggu lama Mala segera memeluk tubuh kekasihnya yang sangat dingin itu, ia memeluk tubuh Arthur dengan erat, meskipun kini bukan Arthur yang merasakan pelukannya.


"Maafin aku, aku sangat menyesal, aku mohon kembalilah, aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2