
Pov Titi
Hari ini, hari anniversary pernikahan ku yang ke lima bersama bang Ari.
Tidak terasa waktu yang kami lewati bersama dalam sebuah keluarga sudah berjalan selama lima tahun.
Dalam masa lima tahun pernikahan kami, kami sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki.
Nanda sudah berusia empat tahun dan Andi baru berusia empat bulan.
Banyak suka duka yang kami lalui selama pernikahan kami.
Aku ingat saat pertama bang Ari mengungkapkan perasaannya ketika kami pulang dari luar kota untuk mengambil uang setoran.
Malam sebelum bang Ari menyatakan perasaannya, aku bermimpi digigit ular dan itu menjadi pikiranku sepanjang hari sebelum kami berangkat keluar kota.
Ternyata mimpiku itu menjadi nyata dengan bang Ari yang menyatakan perasaannya pada ku.
" Titi, aku suka kamu.! " kata bang Ari waktu itu dengan membisikkannya ke telingaku yang saat itu berpura-pura tidur karena aku malu.
Tidak disangka, dari pernyataan cinta bang Ari malam itu, kami bisa menjalin hubungan lebih dekat lagi.
Pada awalnya aku ragu untuk menerima cinta bang Ari karena perbedaan usia kami, aku lebih tua tiga tahun dari bang Ari.
Tapi karena keseriusan bang Ari, maka aku menerima bang Ari.
Setelah satu tahun kami berpacaran dan sempat LDR an, kami memutuskan untuk menikah satu hari setelah ulang tahun bang Ari yang ke dua puluh satu.
Banyak ujian yang kami hadapi diawal pernikahan kami ini.
Bang Ari yang baru mendapatkan pekerjaan di bagian lapangan di kantor tempat aku bekerja, mulai bergaul dengan teman-teman yang membawa pengaruh buruk.
Bang Ari jadi suka minum-minuman keras.
Hampir setiap malam bang Ari pulang dalam keadaan bau alkohol.
Aku sering menasehati bang Ari untuk tidak me minum-minuman keras, tapi bang Ari tidak mau mendengarkan apa yang aku sampaikan.
Hingga akhirnya saat awal kehamilan Andi, bang Ari harus dirawat dirumah sakit karena ia kurang tidur dan terkena tipes.
Ada hal lain yang Irvan sampaikan padaku setelah bang Ari sembuh dan keluar dari rumah sakit.
" Kak, sebenarnya abang itu bukan cuma terkena tipes, tapi sebelum itu abang sering mengkonsumsi obat-obatan. " kata Irvan waktu itu padaku.
" Obat-obatan, maksudnya gimana, Van?" tanya ku yang tidak mengerti dengan maksud Irvan.
__ADS_1
" Sebelum masuk rumah sakit, abang sering tidak tidur kan, kak? " tanya Irvan.
" Iya! " jawabku singkat.
" Kata kakak, abang sering mendengarkan musik setiap kali pulang dari luar, dan kakak mengira abang sedang mabuk minuman keras.? " kata Irvan padaku saat itu.
" Iya, karena selama ini kakak hanya tahu bang Ari berkumpul dengan teman-temannya lalu pulang malam dalam keadaan mabuk. "
Kataku menjelaskan pada Irvan apa yang aku tahu tentang apa yang sering bang Ari lakukan bersama teman-temannya.
" Sebenarnya, waktu itu abang terpengaruh obat-obatan terlarang, itu mengapa abang dirawat di RSJKO, dan bukan dirawat dirumah sakit umum. "
Kata Irvan menjelaskan padaku mengapa waktu itu bang Ari dirawat di RSJKO dan bukan dirumah sakit umum.
Aku terkejut saat mendengar penjelasan Irvan. Aku tidak menyangka jika bang Ari juga suka mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Aku yang hanya anak kampung dan tidak pernah mengerti akan hal-hal yang seperti itu sangat tidak menyangka jika bang Ari suka mengkonsumsi obat-obatan.
Tapi aku bersyukur, setelah keluar dari rumah sakit, bang Ari sudah tidak minum-minuman keras lagi.
Ada hobi baru bang Ari saat itu, yaitu mengumpulkan batu cincin.
Bang Ari sering pergi ke pantai yang ada diluar kota untuk mencari batu cincin.
Setelah bosan dengan batu cincin, bang Ari berulah dengan sering bermain kartu hingga mengabaikan aku yang sedang hamil hingga harus menunggu lama saat pulang bekerja.
Itu sisi buruk bang Ari selama lima tahun pernikahan kami.
Sisi baik bang Ari, dia seorang yang penyayang dan romantis.
Saat kami berkendara dengan menaiki motor, bang Ari selalu memintaku untuk memeluk pinggangnya.
Aku terkadang malu untuk melakukan hal itu.
Bang Ari akan menarik tanganku dan menahan di perutnya jika aku tidak memeluknya.
" Mengapa tidak mau peluk? dulu waktu pacaran maunya peluk-peluk, sekarang sudah halal malah tidak mau. " kata bang Ari menggoda ku jika aku tidak mau memeluknya.
Bang Ari juga tidak akan segan merangkul bahuku jika kami tengah berjalan berdua.
Atau ia akan memegang tanganku yang melingkar di perutnya saat aku memeluknya dari belakang dan tak jarang ia mencium punggung tanganku.
Aku sering merasa tersanjung dengan perlakuan bang Ari padaku.
Saat kami sedang berdua, bang Ari suka bersikap romantis dan sering menggoda sehingga aku sering merasa malu.
__ADS_1
Walaupun kami sudah menikah tapi aku sering merasa malu jika membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi.
Seperti itulah bang Ari, orang yang aku cintai dengan sepenuh hati.
Diawal pernikahan aku pernah ingin menyerah karena bang Ari yang suka mabuk hingga sering kali pulang malam.
Tapi aku berpikir ini ujian rumah tangga yang harus aku lalui.
Jika aku menyerah, apa yang aku dapatkan dari pernikahanku.
Maka aku harus kuat dan harus bisa melalui semua ini.
Aku harus punya keyakinan jika suatu saat bang Ari akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya.
Jika aku ingin mempertahankan rumah tanggaku, maka aku harus bersabar.
Aku harus banyak berdoa untuk kebaikan bang Ari dan keutuhan rumah tanggaku.
Saat aku melahirkan Andi, bang Ari melihat bagaimana rasa sakit yang aku rasakan sebelum melahirkan.
Ia melihat aku yang kelelahan dan kesakitan.
Bang Ari melihat bagaimana proses persalinanku sehingga ia yang pertama menggendong bayi yang baru lahir.
Aku berharap bang Ari bisa lebih mengerti aku dan menghargai perjuangan ku saat melahirkan anak-anaknya.
Apapun kondisi bang Ari, aku sangat menyayangi dan mencintainya.
Aku akan bertahan mendampingi bang Ari selama bang Ari ingin aku mendampinginya dan selama aku bisa melewati setiap ujian dalam rumah tangga kami.
Saat ini baru lima tahun usia pernikahan kami dan kami bisa melalui bersama setiap ujian rumah tangga kami.
Aku berharap jika bang Ari akan semakin dewasa dalam setiap pemikiran dan tindakannya.
Kemarin hari ulang tahun bang Ari yang ke dua puluh enam dan hari ini anniversary kami yang kelima.
Aku hanya berdoa semoga dengan semakin bertambah usia bang Ari akan semakin bertambah dewasa pemikirannya, semakin menyayangi keluarganya dan semakin mencintai aku, istrinya.
Semoga kebahagiaan akan selalu ada dalam kehidupan rumah tanggaku dan bang Ari.
Serta kehadiran anak-anak akan semakin menambah kebahagiaan itu.
Love you so much, bang Ari.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 Jika anda ingin membahagiakan istri anda, ajaklah ia berbicara mengenai sifat-sifat baik yang Anda temukan pada dirinya setiap hari. 🦂🦂