
Titi terdiam saat ia sadar dengan apa yang ia lakukan tadi.
Ia merasa malu pada Huda dan merasa kekanak-kanakan.
Tak sengaja, ia beradu pandang dengan Huda yang juga sedang menatapnya.
Titi semakin merasa malu saat tahu sedang ditatap oleh Huda.
Dadanya berdebar-debar saat tak sengaja menatap mata Huda.
Huda memecah suasana canggung diantara mereka.
Ia mengajak Titi untuk pulang.
" Ti, kita pulang yuk, sudah sore.!" ajak Huda.
" Iya mas, ayok kita pulang!" jawab Titi sambil sedikit menunduk, ia malu pada Huda bila ingat dengan kelakuannya tadi.
Huda yang tahu kalau Titi masih malu, pura-pura tidak mempermasalahkan kejadian tadi.
Huda sendiri sebenarnya merasa malu bila ingat apa yang ia lakukan tadi, tapi ia merasakan pendar bahagia dalam hatinya, menikmati momen kebersamaan nya bersama Titi.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
" Mas, kita lihat yang lagi kemah yuk? ada pasar malam juga disana!" ajak Titi pada Huda saat melewati lokasi perkemahan.
" Mau lihat apa?" tanya Huda
" Apa aja, mas..siapa tahu disana ada cowok ganteng yang dijual, lumayan buat koleksi!" jawab Titi asal.
Akhirnya, karena tidak tahan gemes dengan jawaban Titi, Huda mencubit lengan Titi.
" Apa in sih, mas? kok main cubit-cubitan?" tanya Titi pada Huda sambil mengusap lengannya.
Ga sakit sih, Titi cuma caper aja sama Huda.🤭🤭
" Iya, nanti habis cubit-cubitan, kita senggol-senggolan!" jawab Huda asal juga.
" Ha..ha..ha..bisa aja mas, nya! jangan suka ngambek lah, ga pantes! lagian nanti gantengnya hilang!"
Titi tertawa mendengar jawaban Huda, lalu menggodanya.
" Dah lah..ga bakal menang ngomong sama kamu, senang bikin kesal.
Ditanya apa, jawab nya apa!
Tak gigit baru tahu rasa!" ujar Huda.
" Wuih..bisa gigit juga ya? apa aja keahlian lainnya?" tanya Titi lagi.
" Tentara itu sudah biasa latihan merayap, juga ahli merayapi.
Kamu suka dirayapi?" tanya Huda.
" Ga nyangka, kirain jaim, ternyata jahil!" jawab Titi saat mendengar pertanyaan Huda.
" Cowok pendiam ternyata bisa juga ngomong asal, siapa yang ngajari?"
" Kamulah yang ngajari, sejak berteman dengan kamu, jadi nambah pintar saya.
Pintar membalas kata-kata kamu!"
Mereka berjalan sambil asik berdebat.
Ada saja yang mereka perdebatkan, kadang Titi tertawa mendengar kata-kata Huda.
Huda hanya tersenyum, ia jarang tertawa lepas seperti Titi.
__ADS_1
Kata Titi, terlalu menjaga image, takut kehilangan gelar cowok pendiam.
Dilokasi perkemahan, mereka cuma muter-muter aja, melihat kegiatan anak-anak yang sedang berkemah.
Lalu mereka kebagian pasar malam, melihat pernak pernik aksesoris.
" Mau beli apa,Ti? Kalau ada yang minat, ambil aja, nanti mas yang bayar!" kata Huda menawari Titi untuk membeli sesuatu.
" Ga lah mas, ga ada yang menarik, cuma lihat-lihat aja.
Lagian, Titi ga suka koleksi aksesoris.!" kata Titi menolak tawaran Huda.
" Kamu kan perempuan, masa ga suka?" tanya Huda lagi.
" Titi paling suka beli ikat rambut mas!" jawab Titi.
" Kalau mau beli ikat rambut, ayok kita cari!"
" Ga usah mas, ikat rambut Titi masih banyak kok!"
Merekapun melanjutkan berkeliling sambil terus mengobrol.
" Dengar-dengar, lokasi ini mau dijadikan RSUD ya, Ti?
Bakal rame disini nanti kalau sudah jadi RSUD."
" Iya, mas. Menurut info yang bisa dipercaya, setelah acara perkemahan ini, disini akan dibangun RSUD, RSUD yang lama mau dijadikan sekolah perawat.!"
" Gaya mu, Ti..Ti...pake dapat info dari yang terpercaya.
Kalau begitu, info itu bukan kabar burung dong?"
" Bukan mas, burungnya dah ga mau bawa kabar, dah ga bisa dipercaya!"
" Burung siapa yang ga bisa dipercaya?"
Setelah keliling pasar malam, Titi pun mengajak Huda karena tidak ada yang menarik minatnya.
Hanya jalan melihat-lihat orang yang berjualan, atau menonton anak-anak yang bermain diarena permainan.
Titi memang tidak ingin membeli apa-apa, ia hanya ingin menikmati momen jalan bersama Huda.
Huda pun tak keberatan mengikuti apa yang Titi lakukan.
Mereka sama-sama menikmati momen kebersamaan yang baru pertama mereka lakukan.
Setelah bosan berkeliling, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah Titi.
Menjelang magrib, Huda pamit pulang pada Titi, karena temannya juga sudah menjemputnya.
Setelah Huda pulang, Titi bersiap-siap untuk melaksanakan shalat magrib dikamar nya.
***
Selesai shalat isya, Titi merebahkan tubuhnya diatas kasur, merilekskan tubuhnya yang sedikit cape.
Tak lama, Titi bangun lagi dari tidurnya, ia membuka bufet yang ada disisi tempat tidur, lalu mengambil diary miliknya.
Titi membuka lembar diary nya, lalu menuliskan sesuatu disana.
Dear diary,..
Dy...
Hari ini, aku sangat bahagia..😍
Entah mimpi apa aku semalam, sore tadi mas Huda mengajak ku untuk jalan sore.
__ADS_1
Ga ada yang spesial sih, kami cuma jalan ke lapangan tenis, melihat anak-anak yang sedang berkemah, lalu keliling pasar malam.
Tak ada yang kami lakukan, tapi aku tak menyangka bila ia suka jahil.
Kami bercanda seperti anak kecil yang sedang berebut mainan saat ia ingin mengambil novel dari balik punggung ku.
Dy...
Aku tak bisa menggambarkan perasaan ku saat ini.
Entah apa yang ada dalam hati ku, jatuh cinta kah aku pada mas Huda???
Ahh...ga mungkin,..
Mas Huda sudah bertunangan, dan aku ga mau merusak hubungan mereka, lagian belum tentu mas Huda juga punya perasaan yang sama, mungkin ia hanya iseng sekedar menggoda ku.
Dy...
Aku tak bisa membohongi perasaan bahagia ku saat ini.
Aku merasa, seperti tengah jatuh cinta.
Perasaan berdebar dan seperti banyak bunga yang berterbangan dalam hati ku.
Ah...dy, aku jadi malu..☺️☺️
Dy,..
Aku rasa,.aku ga akan bisa melupakan momen yang terjadi sore tadi.
Walau aku tahu, kami tak mungkin bisa bersama, tapi entah mengapa... kebersamaan itu terasa begitu membekas dalam hati ku.
Aku terbayang saat tak sengaja melihat ia sedang mencuri pandang menatap ku, dan saat itulah..aku merasakan debaran yang membahagiakan dalam hati ku.
Aku ingat, saat tadi ia menahan diri untuk tidak mencubit lengan ku, padahal dalam hati aku ingin sekali ia melakukannya.
Dy,..
Aku tak tahu, apa yang istimewa dari dirinya dibandingkan dengan yang lain.
Ada beberapa yang mencoba mendekat dan mencari perhatian ku, hingga Dendy yang katanya ingin dijodohkan dengan ku.
Tapi, tidak ada yang membuat aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hati ku.
Tidak ada yang bisa menggetarkan hati hingga membuat ku enggan untuk
melupakan momen kebersamaan itu.
Dy,...
Aku rasa, aku akan tetap menyimpan kenangan ini bersama mu, dengan goresan-goresan tinta dalam tiap lembar mu.
Dan akan selalu tersimpan di lubuk hati terdalam ku.❤️
Titi mengakhiri menulis diary, menyimpan isi hati nya dalam lembar-lembar diary.
Lalu, Titi mengunci dan menyimpan diary itu didalam bufet.
Tiba-tiba ia mendengar ada yang mengetuk pintu depan.
Tok...
Tok...
Tok...
*****$_$****
__ADS_1