
Titi benar-benar merasa bahagia saat melihat Ari ada dihadapannya.
Selama ini, ia hanya bisa menahan rindu karena tidak bisa bertemu dan berkomunikasi dengan Ari.
Ari yang bekerja di hutan, tak mungkin bisa dihubungi untuk berkomunikasi.
Titi hanya bertanya kabar Ari pada pak Supri bila ia sedang pulang untuk mengambil keperluan proyek dan kebutuhan karyawan disana.
****
" Mau langsung pulang atau mau jalan dulu, dek?" tanya Ari pada Titi.
" Langsung pulang aja, bang! kita ngobrol dirumah aja!" jawab Titi.
" Baiklah!" jawab Ari sambil menyetop angkot yang lewat.
Mereka pun naik angkot untuk pulang ke rumah Titi.
*****
" Assalamualaikum.." salam Titi dan Ari saat sampai di rumah dan melihat ayah serta ibu yang sedang duduk santai dibangku belakang.
" Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab ayah dan ibu.
Setelah ayah dan ibu menjawab salam, mereka menyalami tangan ayah dan ibu lalu mencium tangan keduanya dengan takzim.
Setelah dipersilahkan duduk, Ari duduk didekat ayah, sementara Titi masuk ke rumah untuk menyimpan tas dan mandi karena hari sudah sore dan ia pun sudah merasa gerah.
" Ari, kapan datang dari lokasi?" tanya ibu.
" Siang tadi bu, kebetulan Ari dapat jatah libur dan ikut pulang bareng pak Supri!" jawab Ari pada ibu.
" Gimana kerjaan disana, Ri?" tanya ibu lagi.
" Alhamdulillah lancar, bu. Insya Allah dalam waktu satu bulan semua pekerjaan selesai sesuai rencana.
Kami berusaha mengerjakan pekerjaan tepat waktu agar tidak terkena pinalti."
Jawab Ari menjelaskan pada ibu.
Ayah hanya mendengarkan obrolan Ari dan ibu, tanpa ikut nimbrung obrolan mereka.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Titi keluar untuk ikut ngobrol dengan orangtuanya dan Ari.
Titi juga membawa segelas teh hangat untuk Ari.
" Minum, bang!" tawar Titi pada Ari.
" Iya dek, terima kasih!" jawab Ari.
Ari meminum teh yang disuguhkan oleh Titi.
Saat Titi sudah duduk disamping ibu, ayah dan ibu pamit pada Ari.
" Kalian ngobrol aja ya, ayah sama ibu mau masuk dulu.
Ibu mau nonton sinetron kesukaan ibu, kalau nggak ngobrol didalam aja!" pamit ibu pada Ari.
" Iya bu, Ari sama Titi ngobrol disini aja!" jawab Ari pada ibu.
" Ya sudah, kami masuk dulu!" kata ibu lagi, lalu ayah dan ibu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
*****
" Sekarang tambah hitam aja, bang!
Kan kerja di hutan, seharusnya bisa lebih putih. Di hutan kan sejuk bang, banyak pepohonan jadi lebih sejuk!" kata Titi yang menggoda Ari.
Ia melihat kulit Ari yang terlihat lebih hitam setelah bekerja di proyek.
Mungkin karena ia harus menjadi pengawas dan mengawasi para pekerja di lapangan.
" Kenapa? kalau abang tambah hitam, adek ga suka lagi ya sama abang? Apa abang sudah ga ganteng lagi?
Kalau adek ga suka abang jadi hitam, nanti abang luluran pakai kapur biar hitamnya luntur!" jawab Ari membalas godaan Titi.
" Abang memang kerja di hutan, tapikan bukan bekerja dibawah pohon, kalau dibawah pohon gimana tukang mau membuat bangunan, memangnya sedang membuat rumah pohon?
Abang tetap mengawasi pekerja dilapangan, berjemur dibawah sinar matahari, jadi deh badan abang gosong dipanggang dibawah sinar matahari!"
Kata Ari sambil tergelak.
" Iya bang, Titi paham, Titi hanya menggoda abang.
Walaupun abang sekarang kelihatan lebih hitam, tapi adek yakin cinta abang tetap putih, cinta abang tetap buat adek.
Cinta adek buat abang pun tak berkurang hanya karena abang hitam!" goda Titi pada Ari.
Ari tertawa mendengar Titi yang sedang menggombal.
" Aih..sayangnya abang sekarang sudah pintar menggombal ya? belajar dari mana? sepertinya, sejak abang tinggal ke lokasi, adek jadi pintar menggombal!" Ari menjawab godaan Titi sambil tertawa.
Ari merasa gemas melihat wajah Titi yang merona karena malu setelah Ari mengatakan ia sudah bisa menggombal.
" Dek, terima kasih ya atas kiriman rendangnya tempo hari.
" Alhamdulillah kalau abang suka rendang yang Titi kirim.
Titi sedih aja waktu pak Supri bilang kalau di proyek lauknya hanya sambal dan ikan asin."
" Iya dek, memang lauk makan nya cuma itu, paling sama sayuran, kadang sama jengkol atau petai yang dapat dari pinggir hutan. Tidak ada makan sama ikan atau daging.
Tapi karena habis cape kerja dan makannya bersama-sama, makan sama lauk apapun jadi terasa enak."
" Abang ga takut apa selama disana, katanya disana masih banyak binatang buas."
" Iya, masih ada binatang buas.
Abang pernah kemalaman saat masuk ke lokasi, dijalan abang bertemu sama macan tutul, abang sama Ali hanya diam, berusaha tidak bergerak.
Setelah macan tutul pergi, kami baru melanjutkan perjalan ke lokasi."
" Abang juga pernah bertemu sama gajah.
Alhamdulillah, karena kami tak pernah mengganggu keberadaan mereka, mereka juga tidak pernah mengganggu kami."
" Alhamdulillah ya bang, Allah selalu menjaga dan melindungi kalian semua yang bekerja disana."
" Iya dek, semoga semua berjalan lancar hingga pekerjaan ini selesai.
Kalau tidak ada halangan, satu bulan kedepan pekerjaan bisa selesai, lebih cepat dari waktu yang disepakati dalam kontrak!"
" Aamiin..."
__ADS_1
*****
Malam ini, setelah makan malam, Ari dan Titi duduk diteras depan, mereka ngobrol disana.
" Berkas untuk ke KUA sudah siap semua, dek?" tanya Ari.
" Sudah bang, berkas punya abang juga sudah siap dan sudah diserahkan pada petugas yang akan mengurus pernikahan kita." jawab Ari.
" Alhamdulillah, berarti kita tinggal nunggu panggilan untuk penataran pra nikah di KUA ya?" tanya Ari lagi.
" Iya bang, makanya sebelum ada panggilan untuk penataran, kalau bisa pekerjaan abang sudah selesai dan abang sudah ada disini." kata Titi.
" Iya, Insya Allah nanti pekerjaan abang sudah selesai dan abang sudah ada disini.
Kalau pun belum selesai, ada Ali dan pak Supri yang akan menggantikan abang!" Ari menjelaskan masalah pekerjaannya pada Titi.
" Dek, besok kita jalan ke pantai yuk?
Sudah lama kita ga jalan-jalan." ajak Ari pada Titi.
" Boleh, bang! Gimana mau jalan-jalan kalau abang jalan-jalannya sama monyet di lokasi" goda Titi pada Ari.
" Enak aja, bilang abang jalan-jalan sama monyet. Sudah berani ya mengolok-olok abang?" kata Ari sambil menggelitik pinggang Titi.
Titi hanya diam saja saat Ari menggelitik pinggangnya.
" Lho dek, kamu ga geli abang gelitik pinggangnya?" tanya Ari heran.
" Kasihan deh abang, Titi bukan orang yang penggeli, bang!" jawab Titi sambil tertawa.
" Masa sih?" tanya Ari tak percaya.
Ia merasa penasaran, lalu kembali menggelitik pinggang Titi, Titi hanya tersenyum melihat ulah Ari.
Karena Titi hanya senyum-senyum, Ari lalu berjongkok dan mengangkat kaki Titi, lalu menggelitik telapak kaki Titi.
Titi tetap bergeming, ia tidak merasa geli.
" Ih..kamu aneh dek, kok ga geli? tanya Ari heran.
" Ga tahu bang, Titi memang tidak merasa geli bila digelitik!" jawab Titi.
" Bang, sini dulu..ada yang mau Titi sampaikan!" kata Titi meminta Ari yang sedang berjongkok untuk mendekat.
" Ada apa, dek?" tanya Ari sambil mendekat.
Setelah Ari mendekat, Titi langsung menggelitik pinggang Ari.
" Aduh dek, jangan digelitik, geli!" kata Ari sambil tertawa karena Titi menggelitiknya.
" Gantianlah bang, tadi abang yang
menggelitik adek.
Kata orang, kalau laki-laki penggeli berarti dia sayang istri!" kata Titi sambil menghentikan gelitikannya karena Ari sudah merasa lemas karena digelitik.
" Jelaslah abang sayang sama adek, kalau ga sayang ga jadi istri abang. Berarti adek yang tidak sayang sama abang, kan adek tidak penggeli?" kata Ari pada Titi.
" Kalau Titi ga sayang abang, ga mungkin Titi mau dilamar dan akan dinikahi abang!" kata Titi pula.
Malam ini, Ari dan Titi merasa bahagia.
__ADS_1
Mereka melepaskan rasa rindu setelah beberapa pekan tidak bertemu dengan saling menggoda dan bercanda.
(◠‿・)—☆(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧