Nastiti

Nastiti
Bab 52. Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Malam ini merupakan malam pertama bagi Ari dan Titi, tapi sayang saat hendak shalat ashar, Titi kedatangan tamu bulanan.


Hehehehe.. kasihan Ari, harus puasa dulu selama seminggu.


( Pengantin baru malah kena palang merah🀣🀣)


Dikamar pengantin, Ari dan Titi sedang duduk ditepi pembaringan.


Ari sedang melipat sarung yang tadi ia kenakan saat shalat isya, sementara Titi hanya diam memperhatikan.


Tadi Titi meminta pada Ari agar Titi yang melipat sarung itu, tapi Ari menolak.


Ari tak mau membebani Titi dengan pekerjaan remeh yang bisa ia kerjakan sendiri


Setelah melipat sarungnya, Ari menaruhnya bersama sajadah dan pecinya diatas bufet disamping tempat tidur.


Ari mendekati Titi dan duduk disampingnya.


" Kenapa dek, kok kelihatannya agak murung? Apa kecapean ya setelah acara pernikahan kita tadi? " tanya Ari yang melihat Titi sedikit murung.


Ari menarik tangan Titi lalu mengajaknya untuk naik keatas tempat tidur.


" Mau abang pijitin punggung sama kakinya? " tanya Ari lagi yang melihat Titi masih diam.


Titi hanya menggeleng.


Diraihnya bahu Titi, lalu memeluknya.


Ari memegang dagu Titi, lalu mengangkat wajah Titi yang menunduk?


" Kenapa, ada yang salah? semenjak masuk ke kamar, adek kelihatan murung.


Kalau ada apa-apa, sampaikan pada abang, jangan diam aja, abang takut kalau adek diamin abang. " Ari membujuk Titi untuk menyampaikan apa yang ia rasakan.


Setelah agak lama terdiam, akhirnya Titi pun membuka mulut untuk bicara.


" Bang.. maaf ya, malam ini Titi tidak bisa menjalankan kewajiban Titi, karena Titi sedang dapat tamu bulanan.


Abang pasti kecewa ya sama Titi? "


Akhirnya Titi menyampaikan perasaan bersalahnya pada Ari.


Ia belum bisa menjalankan kewajibannya karena kedatangan tamu bulanan.


Ia merasa malu menyampaikan hal ini pada Ari, tapi ia tak mau Ari salah paham bila ia hanya diam saja karena rasa bersalahnya.


Ari tertawa mendengar perkataan Titi, lalu memandang wajah Titi sambil memegang dagunya.


" Jadi itu yang bikin adek sedih? Kenapa harus sedih, abang ga papa, namanya juga tamu bulanan, bukan disengaja tapi mungkin memang sudah waktunya untuk datang.

__ADS_1


Tapi jadi bagus donk, nanti saat melakukannya adek dalam masa subur, mungkin kita bisa langsung dapat momongan!"


Ari menanggapi perkataan Titi dan berusaha menghibur Titi karena itu memang bukan sebuah kesengajaan.


" Jadi abang ga marah? " tanya Titi


" Nggaklah dek, abang ga marah, kenapa juga harus marah! " jawab Ari menenangkan Titi.


" Apa benar abang nanti mau kita langsung punya momongan? usia abang kan masih sangat muda? " tanya Titi lagi.


" Jika Allah cepat memberi kita momongan, tentu abang akan sangat bahagia, jika belum juga tak mengapa, toh kita juga baru menikah."


" Usia abang ga masalah, justru abang merasa senang jika memiliki anak saat masih muda.


Nanti jika anak kita sudah besar, kami akan dikira dua beradik karena sama besarnya, bukan seperti ayah dan anak, jadi abang akan terlihat awet muda! "


Ari menjawab pertanyaan Titi yang merasa ragu jika Ari ingin cepat punya momongan.


Ari menyampaikan pendapatnya dengan sedikit bergurau agar Titi merasa nyaman saat mereka bersama sekarang ini.


Ari tahu jika saat ini Titi sedang berdebar-debar, karena itu juga yang Ari rasakan saat ini.


" Ari memandang bola mata Titi dengan lekat, begitupun Titi memandang Ari.


Ada perasaan bahagia di hati keduanya karena sekarang mereka telah sah sebagai sepasang suami-istri.


Ari mendekatkan wajahnya pada Titi.


Dengan perasaan yang berdebar, Titi memejamkan matanya.


Melihat Titi yang memejamkan mata, membuat Ari tak sabar untuk menikmati bibir merah Titi yang ada dihadapannya.


Ari memejamkan mata sambil menikmati debaran jantungnya.


Ia menempelkan bibirnya dibibir Titi yang terasa lembut, lalu mulai ******* bibir itu pelan.


Saat ia merasa bahwa Titi diam saja, Ari menggigit sedikit bibir bawah Titi dan kembali ******* bibir Titi yang sedikit terbuka akibat gigitannya.


" Buka mulutnya dek, dan balas ciuman abang! " pintar Ari pada Titi yang hanya diam saja.


Titi tak tahu harus berbuat apa, ia berusaha mengikuti apa yang Ari lakukan padanya.


Melihat Titi yang mulai mau membalas ciumannya, Ari semakin kuat ******* bibir Titi, lalu mulai memainkan lidahnya di rongga mulut Titi.


Titi merasa tersengal saat Ari terus menciumi bibirnya, ia menekan tengkuk Titi sementara Titi memegang pinggang Ari dengan sedikit malu.


Saat melihat Titi yang seperti kehabisan nafas, Ari menghentikan ciumannya lalu mengelap bekas saliva dibibir Titi dengan jarinya.


" Sudah ya bang, kita istirahat aja.. " Titi mengajak Ari untuk istirahat, ia takut Ari tak kuat menahan hasratnya karena Titi belum bisa menunaikan kewajibannya.

__ADS_1


" Maafkan abang ya dek bila membuat mu tak nyaman. Abang tahu, kita belum bisa melakukannya. Mari kita istirahat aja. "


Ari pun membaringkan Titi ditempat tidur,. memperbaiki letak bantalnya agar Titi merasa nyaman.


Titi menuruti apa yang Ari lakukan padanya, ia membaringkan tubuh dan menarik selimut.


Ari pun melakukan hal yang sama, membaringkan tubuhnya disamping Titi.


Titi tidur telentang, sementara Ari memiringkan tubuhnya agar bisa memeluk Titi.


Mereka sama-sama merasakan debaran jantung mereka yang berdebar dengan kencang.


Apa yang mereka lakukan tadi merupakan hal yang pertama, apalagi saat ini mereka tidur dalam satu selimut yang sama.


Titi berusaha menahan debaran di dadanya, juga rasa malu karena Ari memeluk perutnya.


Titi berusaha memejamkan mata agar bisa tidur dengan cepat.


Ia ingin menghilangkan perasaan aneh yang ia rasakan saat Ari mencium nya tadi.


Titi ingin merasakan yang lebih dari itu.


Saat ia melakukan ciuman pertamanya dengan Ari, ada perasaan yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.


Selain gelenyar-gelenyar aneh yang ingin ia rasakan bersama Ari, ia merasakan suatu perasaan yang sangat bahagia, merasa banyak kupu-kupu yang berterbangan dalam hatinya.


Jangan lupakan perasaan panas dingin yang Titi rasakan, juga peredaran darah yang ia rasa lebih cepat mengalir dalam tubuhnya.


Titi memejamkan mata menikmati setiap debaran yang ia rasakan.


Menyadari Titi yang belum tidur, Ari menarik tubuh Titi agar menghadap kearahnya, lalu tangannya memeluk pinggang Titi dengan erat juga kakinya yang membelit kaki Titi.


Titi semakin merasa jantungnya seakan hendak copot mendapat perlakuan demikian dari Ari.


" Sudah, istirahatlah.. adek pasti capek setelah acara kita tadi.


Besok tak enak kalau bangun kesiangan, nanti kita dikira habis main golf, padahal lapangannya sedang kebanjiran.! "


Ari mencoba menghilangkan ketegangan dan rasa gugup yang Titi rasakan dengan menggodanya.


Titi tersenyum mendengar godaan Ari, lalu ia memberanikan diri untuk masuk kedalam dekapan Ari dan menempelkan kepalanya di dada Ari.


Titi berusaha mencari posisi nyaman dalam dekapan Ari.


Ari pun mengecup puncak kelapa Titi, lalu ia pun memejamkan matanya.


Begitupun dengan Titi, setelah ia merasa nyaman berada dalam dekapan Ari, Titi pun tertidur dengan lelap.


β—Œβ‘…βƒα΅αΆ¦Λ’Λ’(κœ†Λ˜Νˆΰ·†Λ˜Νˆκœ€)ΚΈα΅’α΅˜β‘…βƒβ—Œ

__ADS_1


Ari dan Titi tidur dulu ya sob.. besok disambung lagi ceritanya.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan dengan ❀, komen dan vote serta hadiah buat othor agar lebih semangat. πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


__ADS_2