
Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus obat buat bang Ari, Titi kembali ke kamar rawat bang Ari.
Titi masuk dengan membawa obat ditangannya.
" Ana, semua bawaan sudah siap? " tanya Titi pada Ana yang sedang duduk diatas brankar.
" Sudah kak, semua sudah dirapikan, tinggal diangkat saja. " jawab Ana sambil menunjukkan barang yang akan kami bawa pulang.
" Laci-laci sama bufet sudah diperiksa? . jangan ada yang ketinggalan. " kata Titi lagi pada Ana.
" Nanti kalau ada yang tertinggal kita susah balik lagi. " sambung Titi.
Ana turun dari atas brangkar dan memeriksa laci serta bufet kecil yang ada dikamar itu.
" Aman kak, semua sudah kosong. " kata Ana yang memberitahu Titi jika ia sudah memeriksa semua laci dan bufet, tidak ada yang tertinggal.
" Alhamdulillah, kalau semua sudah aman. " kata Titi.
Titi menghampiri bang Ari yang masih duduk diatas tempat tidurnya.
" Abang sudah siapkan? kita pulang ya?" kata Titi pada bang Ari sambil menaruh obat kedalam tas yang ia bawa.
" Tadi mbak Dewi nelepon, tanya kapan kita pulang. Abang jawab sebentar lagi karena adek sedang dipanggil dokter. " bang Ari menyampaikan pada Titi jika tadi mbak Dewi menelepon.
" Kata mbak Dewi, mas Yamin sedang menuju kesini.
Nanti mas Yamin yang akan mengantar kita pulang setelah mengantar pak Dani dan bu Atma pulang. "
Bang Ari berkata bahwa sore ini mas Yamin yang akan mengantar pulang atas perintah pak Dani.
" Baiklah kalau begitu, kita tunggu dilobi aja ya? biar mas Yamin tidak perlu kesini. " kata Titi pada bang Ari dan Ana.
" Kita jalan ke depan ya bang?" kata Titi pada Ari sambil membantu Ari turun dari tempat tidur.
Selama sakit, bang Ari terlihat begitu kurus dengan kumis yang sudah panjang dan rambut yang gondrong.
Ia terlihat seperti orang yang sudah tua.
Titi dan Ana membawa barang-barang milik mereka, tidak banyak karena tadi pagi sebagian sudah dibawa oleh Awal.
Mereka berjalan perlahan menuju lobi dan menunggu mas Yamin disana.
Dari lobi akan mudah terlihat jika mas Yamin datang menjemput mereka.
" Abang duduk disini dulu ya bang? " pinta Titi pada bang Ari saat mereka sudah sampai di lobi.
__ADS_1
" Kita tunggu mas Yamin disini saja, agar mudah terlihat saat dia datang nanti. " kata Titi lagi.
Bang Ari duduk disalah satu kursi yang ada di lobi, begitu pula dengan Ana.
Ia menaruh barang bawaannya dilantai dan ia duduk disamping bang Ari.
Titi masih berdiri dan melihat ke arah parkiran, melihat jika mobil yang dibawa mas Yamin sudah ada disana atau belum.
Setelah melihat ke sekitar tempat parkir, Titi belum melihat mobil yang dibawa mas Yamin.
Ia duduk disamping bang Ari, dan melihat jika suaminya itu sedang diam saja.
Titi bersyukur bang Ari tidak dirawat lama dirumah sakit, hanya empat hari.
Kesehatannya sudah mulai membaik sehingga diperbolehkan pulang oleh dokter.
" Belum datang ya mas Yamin nya? " tanya bang Ari pada Titi.
" Belum bang, mungkin sebentar lagi, kan harus mengantarkan pak Dani dan bu Atma pulang dulu. " jawab Titi pada suaminya yang tengah duduk disampingnya.
Tak lama, saat Titi melihat ke halaman rumah sakit, Titi melihat mobil yang dibawa mas Yamin tadi memasuki gerbang rumah sakit.
Titi berdiri dan berjalan ke halaman depan, mencegat mas Yamin agar tidak memarkirkan mobil karena kami sudah siap untuk pulang.
" Ti, kok disini? " tanya mas Yamin heran.
" Mas mau menjemput kami pulang kan? tadi kata bang Ari, mbak Dewi menelepon dan mengatakan jika mas Yamin yang akan mengantar kami pulang. " jawab Titi menjelaskan pada mas Yamin.
" Iya Ti, aku sama bos suruh jemput dan antar kalian pulang.
Apa kalian sudah mau pulang? " tanya mas Yamin yang melihat jika Ana dan Ari menghampiri mereka dengan membawa barang yang akan dibawa pulang.
" Iya mas, kami sudah siap untuk pulang. " Jawab Titi.
Mas Yamin membuka bagasi mobil dan memasukkan barang yang dibawa bang Ari dan Ana ke dalam bagasi.
Bang Ari duduk didepan bersama mas Yamin yang mengemudikan mobil, Titi dan Ana duduk di bangku tengah.
Setelah semua berada didalam mobil, mas Yamin mulai melajukan mobil keluar dari halaman rumah sakit.
" Selamat tinggal rumah sakit, semoga ini yang pertama dan terakhir kami datang kesini. Semoga setelah ini, tidak ada sanak keluarga yang dirawat di rumah sakit. " monolog Titi dalam hati saat mobil yang ia tumpangi meninggalkan rumah sakit.
" Sudah benar-benar sehat badannya, Ri?" tanya mas Yamin pada Ari.
" Alhamdulillah mas, sudah lebih baik. " jawab Ari pada mas Yamin.
__ADS_1
" Berapa hari kemarin dirawat, kok sampai kurus kayak orang yang sudah tua? " tanya mas Yamin.
" Dirawat dirumah sakit cuma empat hari, mas. Tapi yang namanya orang sakit, biar cuma empat hari sudah kayak sakit satu bulan. " jawab Titi pada mas Yamin.
" Makanya Ri, jaga kesehatan, jangan begadang terus, kalau sudah sakit kan bukan Ari sendiri yang susah, tapi keluarga juga ikut repot. "
Mas Yamin yang mengetahui jika bang Ari suka kumpul dengan teman-temannya yang tidak baik mencoba memberi nasihat pada bang Ari.
" Selama Ari dirawat, bukan hanya Titi yang repot, tapi keluarga yang lain juga.
Anak jadi ga ke urus karena Titi harus bekerja dan menunggu Ari di rumah sakit. Untung ada neneknya yang merawat anak kalian.
Untung ada Ana juga yang membantu menemani saat Titi harus ke kantor. "
Alhamdulillah, mas Yamin sangat perhatian pada bang Ari sehingga ia mau menasehati agar bang Ari tidak lagi melakukan hal yang sama, karena bukan hanya dirinya yang susah tapi juga keluarganya.
Mungkin karena mas Yamin sudah mengenal baik keluarga bang Ari, juga Titi, makanya mas Yamin mau menasehati bang Ari.
" Iya mas, semoga kejadian sakit seperti ini tidak terulang lagi. " kata bang Ari yang mendengarkan apa yang mas Yamin sampaikan.
Mobil terus melaju menuju rumah orang tua Titi dimana Titi dan bang Ari tinggal selama ini.
Hanya dua puluh menit perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh mas Yamin sampai dihalaman rumah orang tua Titi.
Mas Yamin menghentikan mobil dihalaman depan lalu membantu mengangkat barang bawaan dari bagasi.
Titi berjalan kearah belakang rumah untuk membuka pintu, karena ibu pasti sedang berada di dapur dan tidak tahu jika bang Ari sudah pulang dari rumah sakit.
" Assalamu'alaikum. " ucap salam Titi saat memasuki dapur.
" Waalaikumsalam warahmatullah.. " jawab ibu yang terlihat sedang mencuci sayur.
Ibu terkejut melihat kedatangan Titi, sebab ibu mengira jika Titi masih di rumah sakit.
🦂🦂🦂
Jika anda tidak ingin kehilangan kenikmatan,
Nikmatilah apa saja yang Anda dapatkan.
🦂🦂
Penjara hidup yang paling keras adalah pikiran sedih yang mengungkung jiwa kita.
🦂🦂
__ADS_1