Nastiti

Nastiti
Bab 20. Kebersamaan Titi dan Ari


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja, membawa cerita sendiri-sendiri pada setiap mahluk yang ada di bumi.


Ada yang melewati hari dengan perasaan penuh syukur dan gembira, ada yang merasa sedih dan kecewa menjalani hidupnya.


Bersyukur, karena yang Maha Kuasa memberikan kehidupan kepada setiap mahluk nya sesuai dengan apa yang digariskan.


Menjalani hidup sesuai dengan tuntunan dan ketentuan.


Sedih dan kecewa yang dirasakan, karena apa yang didapat tidak sesuai dengan keinginan, padahal yang Kuasa memberikan apa yang dibutuhkan dan bukan apa yang diinginkan.


Apa yang diinginkan, belum tentu yang terbaik sesuai dengan apa yang dibutuhkan.


Karena Allah yang maha segalanya, yang mengatur segala kehidupan mahluk nya.


Kita hanya perlu bersyukur atas segala nikmat yang diberi Nya.


Bersabar atas ujian Nya, tabah dan tawakal dalam menjalani setiap fase kehidupan, karena Allah tak kan memberi cobaan diluar batas kemampuan.


Dalam menjalani kehidupan, kita hanya perlu berusaha, berdoa dan pasrah atas segala ketentuan Nya.


***


Pagi ini, Titi akan pergi ke sebuah Bank untuk melakukan transaksi penarikan tagihan.


Karena letak Bank jauh dari kantor Titi, dan tidak ada kendaraan operasional, maka Titi mencari Ari untuk minta tolong diantar ke Bank.


Hubungan Titi dan Ari sudah mulai akrab, mungkin karena Titi berteman baik dengan Ana, jadi Ari bisa mudah dekat dengan Titi.


" An..ada Ari, ga? tanya Titi pada Ana yang lagi beres-beres dikantin.


" Ada,.mbak, tadi masih dirumah!


Ada apa, mbak?" jawab dan tanya Ana


" Ada perlu, An..mbak mau minta antar ke Bank, Ari ada motor kan?" tanya Titi lagi.


" Ada mbak, panggil aja bang Ari nya, paling masih tiduran di kamarnya!" jawab Ana lagi.


" Baik, An. Terima kasih!" kata Titi.


Titi berjalan menuju rumah Ana, lalu ia mengetuk pintu yang setengah terbuka.


Tok..


Tok..


Tok..


" Assalamualaikum.." Titi mengucapkan salam.


Terdengar seseorang melangkah, keluar dari arah dapur.


" Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab Ari sambil membuka pintu lebar-lebar.


" Eh, mbak, ada apa mbak pagi-pagi kesini, mau cari Ana? Ana sudah ke kantin!" kata Ari pada Titi.


" Ga kok, Ri, aku ada perlu sama kamu!" kata Titi pula.


Karena Titi tahu, usia Ari lebih muda darinya, maka Titi hanya memanggil nama pada Ari.


" Tumben, ada perlu apa, mbak?"


" Ada motor ga, Ri? mau minta tolong antar ke Bank BPD, mau narik Cek!"


" Ada, tapi motor vespa, mau ga?"

__ADS_1


" Ga papa, deh...dari pada naik angkot, jauh banget Bank nya!"


" Ya, sudah..aku siap-siap dulu, nanti aku samper ke kantor!"


" Ga usah, nanti aku kesini, aku mau ambil tas dulu!"


Lalu, Titi pergi ke kantor untuk mengambil tasnya, sementara Ari bersiap-siap.


Ia mengeluarkan motor dari dalam rumah, lalu menyiapkan dua helm.


Ari juga mengganti baju dan celananya dengan yang lebih rapi.


Tak lama, Titi datang dengan menenteng tasnya.


" Sudah siap, Ri?" tanya Titi


" Sudah, mbak!" jawab Ari


" Ayok lah, kita jalan, mumpung masih pagi, biar cepat selesai urusan!" ajak Titi pada Ari.


" Yuk, mbak!" kata Ari sambil memberikan satu helm pada Titi.


" Ini helm nya, mbak." Ari memberi helm pada Titi.


Titi mengambil helm dari tangan Ari, lalu memakainya.


Setelah siap, mereka pun berangkat ke Bank dengan menggunakan motor.


***


Disepanjang jalan, Ari mengajak Titi ngobrol, ia berusaha lebih akrab dengan Titi.


" Tumben mbak ke Bank naik motor, biasanya diantar pakai mobil." kata Ari.


" Mobil lagi dipakai keluar kota, ada urusan kerjaan disana.


" Mbak, mbak dapat undangan pernikahan Herman Sabtu lusa?" tanya Ari.


" Iya, tadi ada undangan nya dimeja." jawab Titi.


" Mbak mau pergi? rumah calon pengantinnya jauh juga!" tanya Ari lagi.


" Insya Allah, mungkin nanti pergi bareng Feni!" jawab Titi lagi.


" Tapi acaranya malam, dan tempatnya jauh, mbak!" ujar Ari.


" Iya, nanti tanya teman lain yang mau datang kesana, biar bisa barengan." balas Titi.


Tak terasa, karena mengobrol sepanjang jalan, mereka telah sampai di Bank.


Titi meletakkan helm di spion motor, lalu ikut antrian di Bank.


Setelah memarkirkan motor, Ari ikut masuk menyusul Titi.


Tak lama, Titi telah menyelesaikan urusannya di Bank.


Ari mengambil motor di parkiran, lalu menghampiri Titi yang menunggu didekat pintu keluar.


" Kita makan dulu ya, tak jauh dari sini ada rumah makan sederhana, tapi masakannya enak." ajak Ari pada Titi.


Lalu Ari pun memberikan helm untuk dikenakan Titi.


" Baiklah, ini sudah mau jam istirahat juga, nanti sampai di kantor pas habis jam istirahat!" Titi menyetujui ajakan Ari.


Ari melajukan motornya menuju rumah makan yang dimaksud.

__ADS_1


Sampai disana belum terlalu ramai, karena belum masuk jam istirahat.


Titi memilih meja didekat jendela, terasa lebih sejuk karena dekat pohon besar.


Ari duduk didepan Titi, lalu ia memanggil pelayan.


Ari bertanya pada Titi, makanan yang akan dipesannya.


" Mau makan pakai lauk apa, mbak? sama minumnya, apa?"


" Saya minta lauk ikan bakar, minumnya teh tawar hangat!"


" Saya, sama gulai kepala ikan, minumnya samain aja, teh tawar hangat!"


Pelayan mencatat pesanan mereka, lalu meminta mereka menunggu sebentar.


" Sebentar ya mbak, mas, pesanannya disiapkan dulu!"


Lalu pelayan pun pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


" Sudah sering makan disini ya, kok tahu kalau disini makanannya enak?" tanya Titi.


" Sudah beberapa kali kesini, awalnya diajak sama teman." jawab Ari.


" Emang, mbak belum pernah makan disini?" tanya Ari pula.


" Belum, baru kali ini, karena jarang ke Bank BPD ini, biasanya di Bank Mandiri yang dekat simpang lima." jawab Titi.


" Kirain mbak suka kesini." kata Ari lagi.


Tak lama, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, lalu menatanya diatas meja.


" Silahkan, mbak, mas!" kata pelayan setelah menata makanan diatas meja.


" Terima kasih!" kata Titi


Titi berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangan.


" Ga makan pakai sendok, mbak? Ari bertanya pada Titi.


" Ga lah, lebih enak makan langsung dengan tangan, lebih nikmat!" jawab Titi.


" Ini kan ada kobokan mbak, ga perlu repot ke wastafel." kata Ari lagi.


" Biar puas dan terasa lebih bersih cuci tangannya, kalau di kobokan ga puas, kobokan kan kecil!" ujar Titi menjelaskan.


Ari pun berdiri, lalu ia pun mencuci tangan di wastafel.


" Lho, ga jadi pakai sendok?"


" Ga lah, mbak..biar sama seperti seperti mbak."


Mereka pun mulai menikmati makanan yang sudah dihidangkan.


Mereka terlihat lahap menikmati makanan masing-masing.


Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kantor.


Kali ini, mereka tak banyak bicara, mungkin karena kekenyangan setelah makan siang.


Sementara,Titi merasa pinggangnya pegal karena duduk menyamping di body motor vespa yang besar.


Tapi Titi menikmati perjalanan nya kali ini, entah mengapa, ia merasa nyaman saat bersama Ari.


Ari, enak dan nyambung saat diajak ngobrol, ia tak kaku walau ia tahu usia Titi lebih tua darinya, dan ia menghargai Titi dengan memanggil "mbak" pada Titi.

__ADS_1


***


__ADS_2