Nastiti

Nastiti
Bab 89. Obrolan Titi Dan Bu Bidan.


__ADS_3

" Sekarang naik dulu keatas tempat tidur, biar kita periksa. " pinta bu Dina pada Titi agar naik ke ranjang tempat periksa pasien.


Titi naik dan berbaring diatas tempat tidur.


Bi bidan menyelimuti kaki Titi hingga ke bawah pusarnya, lalu menaikan blazzer yang Titi kenakan.


Bu bidan menekan perut Titi juga perut bagian bawah, lalu menampilkan stetoskop ke perut Titi.


" Sudah selesai. " kata bu bidan sambil menurunkan baju Titi, lalu bu bidan duduk di kursinya.


Titi turun dari tempat tidur, lalu duduk dihadapan bu bidan, disamping Ari.


Bu bidan mengeluarkan buku ibu dan anak dari bawah mejanya.


Lalu mencatat nama dan data Titi disana.


" Tadi belum ditimbang ya, Ti? coba timbang dulu berat badannya. " kata bu bidan sambil menaruh timbangan disamping mejanya.


Titi naik keatas timbangan, dan bu bidan melihat angka yang tertera.


Setelahnya Titi kembali duduk ditempat semula.


" Tensi darah normal 100/90, berat badan 54 kg. " kata bu bidan yang mencatat di buku pink.


" Dari hasil pemeriksaan dan hari terakhir haid, usia kehamilan Titi sekitar delapan minggu. " kata bu bidan sambil masih menulis di buku.


Titi dan Ari hanya mendengarkan apa yang ibu bidan sampaikan.


" Ada keluhan ga? seperti pusing atau muslim? " tanya bu bidan pada Titi.


" Alhamdulillah ga ada keluhan, bu. " jawab Titi.


" Nafsu makan gimana? apa ada perubahan? " tanya bu bidan lagi.


" Makan masih normal bu, ga ada masalah, sama seperti belum hamil." jawab Titi lagi.


" Baguslah kalau begitu, ini ibu kasih vitamin sama penambah darah.


Bulan depan kontrol lagi kesini, jangan lupa bukunya dibawa. " imbuh bu bidan sambil menyerahkan buku serta vitamin dan penambah darah buat Titi.


Titi melihat buku yang diberi ibu bidan, serta obat dan vitamin yang sudah ditulis aturan minumnya.


" Bagaimana kabar bapak sama ibu, Ti? " tanya bu bidan.


" Alhamdulillah semua sehat, bu. " jawab Titi.


" Iya, ibu belum sempat silaturahmi kesana, masih menunggu anak kedua dan si bungsu yang belum bisa mudik.


Karena anak Dwi masih kecil jadi kasihan kalau kena macet saat mudik.

__ADS_1


Mungkin satu dua hari ini baru sampai.


Nanti kalau sudah kumpul, ibu akan ke rumah Titi untuk bersilaturahmi dengan orang tua Titi."


Bu bidan mengatakan jika ia akan bersilaturahmi ke rumah Titi setelah anak keduanya datang dari luar kota.


Anak bu bidan ada empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan.


Anak pertama dan kedua sudah menikah dan tinggal di luar kota karena mereka bekerja disana.


Anak ketiga bekerja di kota mereka dan si bungsu tinggal bersama kakak keduanya karena sedang kuliah disana.


" Iya bu, ga apa-apa, kalau jalan bareng keluarga ga enak, lagian bisa sekalian temu kangen.


Dulu waktu kecil teman main, sekarang sudah punya kesibukan masing-masing jadi susah untuk bertemu.


Momen hari raya jadi momen yang pas untuk bersilaturahmi dan melepas rasa rindu dengan teman sepermainan. "


Titi dan anak-anak bu bidan memang teman sepermainan saat mereka masih sama-sama kecil.


Sejak ibu bidan pindah ke rumahnya yang sekarang, mereka jadi jarang bertemu selain momen saat hari raya mereka baru bisa bertamu karena mereka sudah besar dan punya kesibukan masing-masing.


Anak bu bidan ada yang melanjutkan sekolah ke luar kota, makanya mereka jadi jarang bertemu.


Setelah mengobrol lama dengan bu bidan, Titi dan Ari pamit untuk pulang.


Pandu belum punya anak juga kan? "


Ibu bidan mengatakan jika orang tua Titi akan merasa senang dengan kehamilan Titi sebab kakak tertua Titi yang sudah beberapa tahun menikah belum dikaruniai anak.


" Iya bu, bang Pandu belum ada tanda-tanda mau punya momongan, kadang kasihan juga lihat dia dan istrinya. "


Kata Titi yang merasa kasihan pada Pandu dan istrinya.


" Belum rejeki, sabar aja, nanti juga pasti punya anak. " kata bu bidan yakin jika Pandu dan istrinya akan diberi momongan oleh yang Kuasa.


Setelah berpamitan dengan ibu bidan, Titi dan Ari melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Sebelum pulang, Titi membelikan cemilan buat Nanda.


" Ada yang diinginkan ga may? sebelum pulang ke rumah, kalau may pengen sesuatu kita beli dulu. " kata Ari yang menawari Titi jika dia ingin sesuatu.


" Tidak ada pay, may cuma beli cemilan buat Nanda aja.


Biasanya kita beli kue satu kacang hijau kesukaan Nanda, tapi disini tidak ada. "


Titi mengatakan jika ia tidak menginginkan apa-apa dan hanya membeli cemilan buat Nanda.


Setelah membeli cemilan, Titi dan Ari pulang ke rumah karena hari sudah hampir jam lima sore.

__ADS_1


Tiba dirumah, Nanda sudah menunggu dibangku yang ada dibawah pohon belimbing.


Nanda sudah terlihat tampan karena sudah mandi.


" Mama, papa. " kata Nanda saat melihat motor papa berhenti tak jauh dari tempat dia duduk.


" Duh, anak mama sudah wangi, sudah mandi ya? " kata Titi sambil mencium Nanda karena merasa gemas.


" Sudah ma, abang mandi sama nenek. " Jawab Nanda riang.


" Karena anak mama sudah ganteng, ini mama ada oleh-oleh buat abang, tapi makannya jangan belepotan ya? nanti bajunya kotor. "


Kata Titi sambil memberikan sebungkus wafer pada Nanda.


Nanda sangat senang menerima oleh-oleh dari mamanya.


" Mama mandi dulu ya? nanti baru main sama abang. " kata Titi pada Nanda.


" Abang mau ikut masuk ga? " tanya Ari pada Nanda.


" Abang disini aja pa, makan kue. " Jawab Nanda sambil memakan wafer yang sudah dibuka bungkusnya oleh Titi.


Setelah pamit untuk mandi pada ibu yang menemani Nanda, Titi dan Ari masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.


🦂🦂


Malam ini sehabis makan malam, Titi dan keluarganya berkumpul diruang tivi sambil melihat acara televisi.


" Kok tadi pulangnya sore banget, Ti? " tanya ibu


" Biasanya jam empat sudah sampai. dirumah. " kata ibu lagi.


" Titi tadi ke rumah bu Dina dulu bu, periksa. " jawab Titi.


" Oh iya bu, bu Dina titip salam buat ibu dan ayah. Keluarga bu Dina mau bersilaturahmi kesini tapi masih menunggu anaknya yang dari luar kota. "


Titi menyampaikan salam dari bu Dina pada ibu dan ayahnya dan berkata jika keluarga bu Dina akan berkunjung setelah anaknya tiba dari luar kota.


" Iya, Alhamdulillah jika bu Dina mau kesini. Ibu dan ayahmu tidak bisa kemana-mana, masih ada tamu yang datang bersilaturahmi kesini. "


Ibu merasa senang saat tahu bu Dina akan datang.


Memang setiap hari raya, ibu Dina dan anak-anaknya selalu datang ke rumah ibu.


Mereka menganggap keluarga Titi seperti keluarga mereka sendiri karena sudah lama saling mengenal.


🦂🦂🦂


🦂🦂 Terkadang untuk menyudutkan orang lain, orang akan berkata " Coba introspeksi diri. " tanpa dia sendiri menyadari apa kesalahan yang dia lakukan pada orang yang diminta untuk introspeksi. 🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2