Nastiti

Nastiti
Bab 27. Hanya Saling Pandang.


__ADS_3

Titi diam mendengar apa yang Feni katakan.


Ia tak mungkin menghampiri Ari, ia merasa malu karena disana banyak teman-teman kerja mereka yang sedang berkumpul.


Titi tak mau ada gosip seperti saat ia pergi ke Bank bersama Ari.


***


Ari memandang Titi dari tempatnya berdiri bersama teman-temannya.


Ia melihat Titi datang bersama Feni dan bang Yadi.


Ari bermonolog dalam hati sambil memperhatikan Titi dari tempatnya berdiri.


" Ingin rasanya aku menghampiri mbak Titi dan mbak Feni yang duduk tak jauh dari panggung pelaminan.


Ingin duduk menemani mereka disana, tapi entah mengapa aku merasa malu untuk sekedar menyapa mereka.


Aku hanya diam dan memperhatikan dari jarak yang tak begitu jauh."


" Aku tahu, mbak Titi melihat ku saat pengantin menuju pelaminan, tapi mbak Titi tidak menyapa ku, mungkin karena jaraknya agak jauh jadi dia tak memanggil ku.


Aku lihat, mbak Titi terus melihat kearah ku, hingga ia tak memperhatikan mbak Feni yang berbicara padanya.


Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.


Aku sedikit merasa GR saat tahu mbak Titi masih melihat kearah ku, padahal aku ga tahu pasti, mbak Titi sedang memperhatikan siapa, mungkin cuma perasaan aku aja kalau dia terus melihat kearah ku."☺️☺️


Kami hanya bisa saling pandang dari jauh, tanpa ada yang mau mengalah untuk menghampiri.😭


***


Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, acara masih berlangsung meriah.


Sejak tadi, Titi tidak fokus dengan acara itu, ia penasaran dengan sikap Ari yang tidak mau menyapanya, hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.


" Fen, sudah jam sepuluh lewat nih, bang Yadi mana ya?


Sudah waktunya kita pulang!" kata Titi pada Feni, sambil matanya mencari-cari keberadaan Yadi.


" Iya ya, Ti..aku juga sudah ngantuk, besok aku harus ke gereja pagi-pagi.


Sudah ada belum bang Yadi nya?" Feni membalas perkataan Titi sambil matanya ikut mencari keberadaan Yadi.


Saat melihat keberadaan Ari yang masih ada ditempatnya, Feni meminta Titi agar minta diantar pulang oleh Ari.


" Ti, kita minta antar pulang sama Ari aja, yuk?" pinta Feni pada Titi.


" Ga mungkinlah, Fen..kita kesini bareng sama bang Yadi, masa pulang sama Ari?


Lagian, kita ga tahu Ari kesini naik apa?" kata Titi pada Feni.


" Bilang aja sama Ari, suruh dia cari bang Yadi, dan bilang kalau dia yang mau antar kita pulang!


Paling Ari kesini naik motor sama teman-temannya, kan kita bisa boncengan naik motor!" Feni tetap dengan pendapatnya.

__ADS_1


" Iya, taruhlah Ari kesini naik motor bareng temannya. Terus temannya minta bonceng sama Ari, kalau Ari ngantar kita, teman Ari pulang sama siapa?" Titi juga tetap dengan pendapatnya.


" Temen Ari kan laki-laki, disini juga banyak teman-teman yang tinggal di base camp ikut ke acara ini, jadi teman Ari bisa ikut pulang sama temannya yang lain!"


" Fen...kalau Ari naik motor, terus ngantar kita pulang, gimana caranya kita duduk bonceng tiga?


Perjalanan dari sini ke rumah kita hampir satu jam naik motor.


Cuaca juga dingin karena sudah malam.


Kalaupun Ari bawa jaket, ga mungkin jaketnya kita pakai berdua."


Kamu, dengan pakaian seperti itu mau boncengan di motor?


Aku pake legging, masih bisa naik motor walau kita bonceng tiga.


Lha kamu?? cuma pake daleman pendek, kalau rok kamu diangkat, kasihan nanti sampai rumah betis sama paha kamu sudah jadi es karena kedinginan.!" Titi merasa kesal pada Feni yang ngotot minta diantar pulang sama Ari, lalu menjelaskan tentang keadaan Feni saat ini.


" Ha..ha..ha...".Feni tertawa sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak mengganggu orang lain


" Maaf, Ti..aku lupa kalau kita pakai gaun dan aku cuma pakai dalaman pendek.


Tadinya, aku fikir bakal seru kalau kita pulang bareng Ari, walau kita harus bonceng tiga.


Setelah kalian mengantar aku pulang, kalian kan bisa jalan berdua sampai ke rumah kamu."


Feni menjelaskan alasannya pada Titi.


" Fen...Fen..kamu kok sampai kefikiran kaya gitu!"


Titi hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang Feni sampaikan.


" Gimana, apa kalian sudah mau pulang?" tanya Yadi.


" Iya, bang..ini sudah hampir jam setengah sebelas, Titi takut orang tua Titi sudah menunggu dirumah." jawab Titi.


Titi ingat, saat ia pernah lembur hingga jam delapan malam dan mbak Dewi hanya mengantarnya hingga depan gang.


Saat turun dari mobil teman mbak Dewi, ayah sudah menunggu Titi dibawah pohon cemara.


Jadi, Titi ga mau membuat orang tuanya cemas walau Titi sudah diberi izin untuk pergi.


" Iya bang, Feni juga sudah ngantuk, besok pagi Feni harus ke gereja.!" kata Feni pula pada Yadi.


" Ya sudah, kalian salaman sekalian pamit pada pengantin, saya mau ambil mobil dulu sama manggil bang Zen, karena bang Zen mau pulang bareng kita.


Setelah pamit, kalian langsung kepinggir jalan, saya tunggu disana!." pinta Yadi pada Titi dan Feni.


" Baik, bang..kami pamit pada mempelai dulu." kata Titi sambil bangkit dari duduknya.


Yadi pergi mencari bang Zen, lalu ke parkiran untuk mengambil mobil.


Sementara Titi dan Feni menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai sekalian berpamitan.


" Selamat ya buat kalian berdua, semoga menjadi keluarga yang samawa." ucap Titi kepada kedua pengantin sambil menyalami mereka, lalu cipika cipiki dengan pengantin wanitanya.

__ADS_1


Feni hanya mengikuti apa yang Titi lakukan.


" Kenapa cepat sekali pulangnya? acaranya juga masih berlangsung.


Kalian sudah makan?" tanya Herman pada Titi dan Feni.


" Ini sudah jam setengah sebelas, rumah kami kan jauh, kak!


Alhamdulillah kami sudah makan, terima kasih atas jamuan nya!" jawab Titi pada Herman.


" Baiklah, hati-hati dijalan, terima kasih sudah mau datang!" kata Herman lagi.


" Iya, kak! terima kasih!" balas Titi.


Titi dan Feni turun dari panggung, lalu mereka ketepi jalan untuk menunggu Yadi yang mengambil mobil diparkiran.


Setelah mobil Yadi ada dihadapan mereka, Titi dan Feni pun masuk ke dalam mobil, ternyata didalam sudah ada bang Zen yang duduk disamping Yadi.


"Bang Zen ikut pulang, kan acaranya masih rame, bang?" tanya Titi pada bang Zen.


" Iya, Ti..acara muda-mudi, abang kan sudah mati pajak, datang kesini cuma mau absen aja, tadi siang ga bisa datang karena ada acara keluarga." jawab bang Zen.


" Oh..gitu, emang tadi abang datang sama siapa? kok sekarang pulangnya nebeng bang Yadi?" tanya Feni pada bang Zen.


" Tadi sama rombongan dari base camp, tapi karena anak muda semua, mereka pulangnya masih lama, nunggu acara selesai.


Abang ga mungkin ikutan acara anak muda, kasihan kakak kalian nunggu dirumah!" jawab Zen pada Feni.


" Iya ya, bang...lebih baik istirahat dirumah sama keluarga.!" kata Feni lagi.


Mereka pun asik bercerita selama dalam perjalanan.


Mereka mengantar Feni terlebih dahulu, karena mereka melewati arah rumah Feni sebelum menuju rumah Titi.


Saat tiba dirumah, ayah sudah menunggu Titi diteras rumah.


Titi turun dari mobil diikuti Yadi dan Zen.


Mereka mengucapkan salam pada ayah, dan ayah menjawab salam mereka.


" Terima kasih sudah mengantarkan Titi pulang, maaf kalau sudah merepotkan.!" kata ayah pada Yadi dan Zen.


" Iya pak, tidak apa-apa.


Tadi saya yang menjemput Titi, jadi saya harus mengantar Titi pulang.


Karena sudah malam, kami pamit pulang pak!" balas Yadi pada ayah.


" Baiklah, hati-hati dijalan!" kata ayah lagi.


Setelah mengucapkan salam, mereka meninggalkan rumah Titi untuk pulang kerumah masing-masing.


Titi dan ayah masuk ke rumah untuk beristirahat.


Setelah membersihkan diri, Titi shalat isya karena tadi ia belum melaksanakan shalat isya.

__ADS_1


Setelah shalat, Titi pun membaringkan tubuhnya untuk tidur.😴😴


***(&_&)**


__ADS_2