Nastiti

Nastiti
Bab 59. Gibah


__ADS_3

Setelah mengetahui kehamilan Titi, ayah dan ibu sangat bahagia karena akan mendapatkan cucu dari Titi.


Ibu meminta Ari untuk lebih memperhatikan Titi, terutama jika ada sesuatu yang Titi inginkan.


Ari mendengar apa yang ibu sampaikan.


Ari pun memberi perhatian lebih pada Titi, ia ingin menjaga Titi dan kehamilannya.


Ari belajar untuk jadi suami siaga.


Bersyukur karena Titi tidak mengalami morning sickness seperti wanita hamil pada umumnya.


Titi masih melakukan aktivitas seperti biasa, seperti saat belum hamil.


Tidak ada perbedaan antara sebelum dan saat hamil, Titi bisa makan apapun yang ia mau tanpa ada rasa pusing atau mual karena ngidam.


Karena itu tidak banyak yang mengetahui kehamilan Titi kecuali keluarga dan teman dekat Titi.


°°°°°°


Siang ini, Titi akan mencari supir yang sedang beristirahat dan berkumpul di base camp untuk ke kantor karena ada permintaan pengiriman mendadak.


Saat melewati samping rumah warga yang ada dibelakang kantor, tak sengaja Titi mendengar ada beberapa orang yang sedang duduk dan mengobrol dibawah pohon jambu air tanpa menyadari bila Titi berada tak jauh dari mereka.


" Ga nyangka ya, ternyata Titi sekarang sedang hamil! " ujar seseorang.


" Iya, pantas aja Ari cepat-cepat nikahin Titi, mungkin karena Titi sudah isi duluan, padahal Ari masih sangat muda.! " ujar yang lain menimpali kata-kata temannya.


" Aku dengar, ibu Ari ingin agar Ari bisa mendapat pekerjaan tetap dan membantu ibunya sebelum dia menikah, tapi ternyata Ari memutuskan untuk cepat-cepat menikah dengan Titi.


Kalau bukan karena kecelakaan, ga mungkin Ari cepat-cepat menikahi Titi. " yang lain pun ikut menimpali.


" Ga usah berburuk sangka, selama ini kita lihat Titi gadis yang baik dan tidak pernah berbuat macam-macam! " sahut yang lain lagi.


" Kalau ga ada apa-apa, ga mungkin Ari nikah muda dan belum lama menikah Titi sudah hamil aja! " orang yang pertama membicarakan Titi kembali menimpali.


Titi mendengarkan apa yang dikatakan orang-orang tersebut dengan perasaan sedih.


Dia tak menyangka bila ada orang yang berprasangka buruk terhadapnya.


Ia juga tak pernah memaksa Ari untuk segera menikah dengannya karena Titi sadar usia Ari masih sangat muda, lagian Ari juga belum punya pekerjaan tetap.


Tapi Titi juga tidak bisa menolak jika memang sudah jodohnya menikah dengan Ari dalam keadaan Ari masih sangat muda.


Ia juga ingin Ari bisa bekerja lebih dulu dan membahagiakan ibunya.


Tapi jodoh mereka telah sampai hingga mereka memutuskan untuk menikah.


Setelah menetralkan perasaannya dan pura-pura baru datang, Titi melewati beberapa orang yang tadi sedang meng gibah nya dan menyapa mereka.

__ADS_1


" Lagi ngumpul nih, numpang lewat ya ibu-ibu! " sapa Titi sambil tersenyum pada ibu-ibu yang tadi meng gibahnya.


" Eh.. Titi, mau kemana? " tanya orang yang tadi mengatakan bahwa Titi hamil duluan..


" Mau ke base camp bu, mau manggil supir. Mari bu, Titi ke base camp dulu.! "


Jawab Titi lalu pamit pada ibu-ibu itu untuk melanjutkan perjalanannya ke base camp.


" Iya, Ti..! " jawab ibu-ibu itu.


Sepintas Titi masih mendengar ibu-ibu kembali menggibah Titi, tapi Titi tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.


Walau merasa sedih dengan apa yang disangkakan orang-orang itu, tapi Titi tidak bisa berbuat apa-apa.


Titi berfikir, biarlah orang berfikir negatif tentang dirinya, toh suatu saat kebenaran akan terbukti dengan sendirinya.


Jika orang menganggap dia hamil duluan, nanti saat Titi melahirkan orang akan tahu berapa lama pernikahan Titi dan berapa lama kandungan Titi, sebab kehamilan tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat jika tidak dalam situasi darurat.


Setelah memanggil supir dari base camp, Titi kembali ke kantor tapi tidak melalui jalan yang tadi dilaluinya.


°°°°°°


Saat pulang kerja sore ini, Titi mengajak Ari untuk ke kota.


Titi ingin membeli sesuatu.


" Bang, kita ke kota dulu yuk! Titi pingin makan laksan.


Sekarang rasanya Titi ingin sekali makan laksan.! "


Titi meminta Ari untuk mengantarnya membeli laksa di kedai penjual laksa yang ada di kota.


Kemarin Titi makan laksa yang dibawa oleh istri bosnya ke kantor.


" Laksan itu apa, dek? " tanya Ari.


" Laksan itu makanan khas Palembang yang terbuat dari sagu dan ikan, rasanya sangat enak, hampir sama dengan mpek-mpek tapi menggunakan kuah santan yang dicampur ebi, jadi sangat gurih.


Kedai yang jualnya ada di kota. ! " Titi menjelaskan apa itu laksan pada Ari.


" Baiklah, kita kesana untuk membeli laksan, apa anak kita yang ingin makan laksan? " tanya Ari sambil mengusap perut Titi yang mulai terlihat karena sudah berusia tiga bulan.


Dengan mengendarai motor, Ari membawa Titi untuk membeli apa yang diinginkannya.


Ini ngidam pertama Titi selama hamil karena selama ini Titi tak pernah meminta makanan ataupun hal yang aneh-aneh seperti orang ngidam pada umumnya.


Titi juga tidak pernah minta dibelikan rujak atau buah-buahan yang rasanya masam yang biasa dimakan wanita yang hamil muda.


Titi bersyukur karena ia tak pernah menginginkan yang aneh-aneh dan saat periksa pun kandungan Titi sangat sehat.

__ADS_1


Ari melajukan motor yang dikendarainya menuju arah kota, mencari makanan yang diinginkan oleh Titi.


Saat ini, Ari membawa motor milik suami tante Neng yang dititipkan pada Titi karena mereka sekeluarga pulang ke kampung halaman sang suami setelah suaminya pensiun.


Setelah pensiun, suami tante Neng ingin membuka usaha dikampung halamannya agar bisa dekat dengan keluarga besarnya yang sudah lama ditinggalkan karena suami tante Neng bekerja jauh dari kampung halaman dan menikah dengan tante Neng.


Anak kedua tante Neng juga melanjutkan kuliah di sana.


Karena Titi belum memiliki kendaraan, maka suami tante Neng meminta Titi untuk memakai dan merawat kendaraan yang ditinggalkan nya.


Setelah hampir satu jam perjalanan, Ari dan Titi sampai di kedai yang menjual laksa, makanan khas Palembang.


Titi memesan satu porsi laksa untuk dibawa pulang.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Titi mengajak Ari pulang karena hari sudah sangat sore.


" Dek, mau langsung pulang atau masih ada yang mau dibeli? mumpung kita masih di kota.


Mungkin ada yang lain yang adek inginkan.! " Ari bertanya pada Titi.


" Tidak bang, Titi tidak ingin makan yang lain lagi. Titi cuma ingin makan laksa ini aja.


Sebaiknya kita langsung pulang, takut ke magriban dijalan.! "


Jawab Titi dan langsung mengajak Titi untuk pulang.


Sebelum pulang, Titi meminta Ari untuk membeli martabak manis untuk oleh-oleh ayah dan ibu dirumah.


" Bang, kita beli martabak dulu ya buat ayah dan ibu dirumah. " pinta Titi.


" Iya, dek! " jawab Ari


Lalu mereka mencari penjual martabak.


Saat melihat penjual martabak, Ari menghentikan motornya dan memesan martabak.


" Bang, pesan martabak manis dua loyang, rasa coklat dan rasa kacang! " pinta Ari pada penjual martabak.


" Baik mas, tunggu sebentar.


Silahkan duduk dulu, mas! "


Jawab penjual martabak dan mempersilahkan Ari untuk duduk sambil menunggu martabak yang ia pesan.


" Sini dek, duduk dulu.. kita tunggu martabaknya sambil duduk disini.! " pinta Ari pada Titi.


Titi menghampiri Ari lalu duduk di bangku plastik yang diambilkan Ari dari dekat penjual martabak.


Titi menikmati suasana sore di kota sambil menunggu penjual martabak menyiapkan pesanannya.

__ADS_1


Tak lama, penjual martabak menyerahkan martabak pesanan Ari dan setelah Ari membayar pesanannya, Ari dan Titi melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.


°°°°°


__ADS_2