
Pagi menjelang, suara azan subuh terdengar dari mushala yang tak jauh dari rumah Titi.
Pandu terbangun dari tidurnya, tadi malam ia pindah tidur dibawah bersama ayahnya.
Ayah sangat menyayangi Pandu, tapi sejak kecil Pandu tak pernah bersikap manja.
Pandu bangun dengan keadaan badan yang pegel-pegel semua, ia menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya, ayah sudah bangun, ia pun beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan melakukan shalat subuh.
Karena merasa badannya sakit semua, Pandu sholat subuh dirumah.
Ibu, Titi dan Tuti pun sudah bangun, mereka shalat subuh dikamar masing-masing.
Ayah dan teman-teman Titi, shalat subuh di mushala.
Selepas sholat subuh, Shiddiq dan teman-temannya pamit pulang.
Pagi ini, selepas sarapan ayah dan ibu Titi duduk dikursi santai didapur.
Ayah duduk di sofa lama yang diletakkan didapur, sementara ibu duduk dikursi kayu.
"Yah..gimana ya dengan keadaan Pandu? sudah bertahun-tahun Pandu seperti itu, setiap sebulan sekali atau jika Pandu banyak fikiran, pasti Pandu kerasukan.
Ibu sangat kasihan melihat kondisi Pandu. Selama ini, Pandu rajin beribadah, ia tak meninggalkan shalat lima waktu, rajin mengajar anak-anak mengaji dimasjid, tapi mengapa dia masih sering kerasukan? Apa yang harus kita lakukan, yah?" ibu bertanya pada ayah dengan raut wajah sedih.
Ayah diam sejenak, lalu melihat pada ibu.
"Ayah juga bingung bu, dari dulu sudah kita upayakan untuk mengobati Pandu.
Sudah banyak orang pintar atau pun ustadz yang kita mintai tolong untuk mengobati nya. Bermacam-macam syarat yang diminta, sudah kita penuhi, tapi tak satupun yang berhasil mengobati Pandu.
Ayah juga heran, mengapa jin nya begitu kuat bertahan ditubuh Pandu.
Pandu bukanlah anak yang bandel, dia penurut jika diberitahu, tak pernah berbuat onar, saat teman-temannya suka merokok dan mabuk-mabukan, Pandu tidak terpengaruh.
Setiap pulang kerja, Pandu langsung pulang, tidak keluyuran. Dia keluar rumah, jika ada keperluan saja.
Tapi entah mengapa, Pandu malah bisa ketempelan Jin.
Kita hanya bisa berdoa, semoga nanti ada yang bisa menyembuhkan Pandu, hingga ia bisa lepas dari jin yang ada dalam tubuhnya." ayah pun menjawab perkataan ibu dengan raut wajah sedih.
"Iya yah, semoga Pandu bisa segera disembuhkan. Ibu takut, jika Pandu kerasukan ditempat umum atau tempat lain yang jauh dari kita. Bagaimana keadaannya nanti jika jauh dari kita?" ujar ibu lagi.
"Berdoa saja bu, untuk kesembuhan dan keselamatan Pandu, selama ini Pandu tidak pernah kerasukan diluar rumah, selalu saat berada dirumah."
__ADS_1
Ayah mencoba menenangkan ibu.
"Nanti ibu panggil mbah Warsih agar mengurut badan Pandu, pasti badannya sakit semua." pinta ayah pada ibu.
'Iya, yah..sebentar lagi ibu kerumah mbah Warsih, memintanya untuk mengurut Pandu" jawab ibu.
" Ya, sudah bu, ayah mau cari rumput dulu buat sapi, nanti keburu panas, ayah juga nanti mau mengganti papan tempat tidur Pandu yang patah." ujar ayah.
"Baik yah, ibu juga mau kerumah mbah Warsih dulu" pamit ibu pada ayah.
Akhirnya, ayah dan ibu pun menghentikan obrolan, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing.
Sementara, Titi dan Tuti sedang mengobrol dikamar Titi.
Mereka telah menyelesaikan tugas masing-masing, mereka membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mbak, untung tadi malam, saat kambuh ada teman-teman yang sedang bermain kesini, hingga mereka bisa membantu ayah juga kakek Abdul.
Jika tidak ada mereka, pasti kita kerepotan. Untung rumah kita juga agak jauh dari tetangga, hingga tidak ada yang terganggu" ujar Tuti pada Titi.
"Iya, Tut..Alhamdulillah. Mbak sering merasa kasihan pada ayah dan ibu, mereka sedih dengan keadaan bang Pandu. Ayah dan ibu sudah mengupayakan pengobatan untuk bang Pandu, tapi sampai sekarang bang Pandu belum bisa disembuhkan." ujar Titi membalas perkataan adiknya.
"Iya, ya mbak, kasihan melihat keadaan bang Pandu seperti itu. Memang tidak mengganggu aktifitasnya sehari-hari, bang Pandu masih bisa beraktifitas secara normal, tapi saat kambuh, ia selalu berusaha untuk lari, jin yang ada ditubuhnya selalu berusaha membawanya pergi, jika ia berhasil membawa bang Pandu, berarti bang Pandu akan meninggal dan dibawa ke alamnya." Tuti berujar sedih.
"Iya, mbk..kita selalu berdoa ya untuk kesembuhan bang Pandu.
Semoga bang Pandu bisa segera sembuh, bisa lepas dari pengaruh jin, hingga ia bisa menikmati kehidupan normal, tanpa harus sering kerasukan." doa Tuti.
"Iya, Tut...Aamiin ya rabbal alamin" balas Tuti.
Sore ini, Titi tidak kemasjid, karena setiap hari minggu libur mengaji.
Titi mengajak adiknya Tuti untuk bermain volly dilapangan.
" Tut, kelapangan yuk, lihat yang main volly, suntuk diam dirumah terus, pekerjaan rumah sudah selesai, pakaian sudah disetrika kan?"
"Iya, mbak..pekerjaan sudah selesai, baju juga sudah disertrika semua.
Yuk lah mbak, kita kelapangan, Tuti juga mau beli sesuatu diwarung teh Yuni."
Akhirnya, Titi dan Tuti berjalan beriringan menuju lapangan volly yang ada di gang depan.
Lalu, mereka pun kerumah teh Yuni yang ada didepan lapangan.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." salam Titi dan Tuti.
"Waalaikumsalam. Eh..Titi sama Tuti, mau kemana sore-sore jalan berduaan?" teh Yuni menjawab salam dan bertanya pada Titi dan Tuti.
"Cuma mau main kesini aja teh, mau lihat yang main volly" jawab Tuti.
"Oh..paling sebentar lagi main, teteh juga baru selesai beberes rumah. Tuti sama Titi mau ikut main ga?" tanya teh Yuni.
"Ga teh, kami cuma mau nonton doang!" jawab Tuti.
Tak lama, ada om Cahyo yang datang ke warung teh Yuni.
Ia pun menyapa Titi dan Tuti.
"Eh..ada duo Te disini, ngapain? mau ikut main volly ga?" om Cahyo menyapa Titi dan Tuti.
"Ga lah, om, cuma mau nonton aja." jawab Titi.
"Kenapa ga ikut main? seru lho main volly nya?" kata om Cahyono lagi.
" Ga om, takut kena smash, yang main orangnya kuat-kuat semua, nanti kami cuma kena smash." jawab Tuti.
"Ya, ga mungkinlah kalian di smash, kalian kan bukan bola." kata om Cahyo lagi.
" Ga om, biar kami jadi penonton aja." balas Tuti lagi.
Akhirnya, Tuti dan Titi hanya jadi penonton, mereka menolak saat diajak ikut main volly.
"Ti, ayo donk ikut main, ga seru kalau kamu ga ikut, masa cuma jadi penonton?"
kata Susi mengajak Titi untuk ikut main.
"Iya nih, masa duo Te ga ada yang ikut main? kata Dama pula.
"Tuti ga semangat ikut main volly, karena ga ada Toni yang ikut main" ledek kak Yudha pada Titi.
Teman-teman Titi pun ikut meledek Tuti.
Tuti hanya tersenyum mendengar olok-olok mereka, ia tak ambil pusing.
Memang, teman-teman Toni sudah banyak yang tahu hubungan Toni dan Tuti, tapi Tuti santai aja, dia menjalani hubungan dengan Toni mengalir apa adanya, tak pernah bercerita pada siapa pun, mereka tahu dengan sendirinya, karena jika sedang dapat tugas piket, Toni kadang izin untuk main kerumah Tuti.
Menjelang magrib, mereka pun selesai bermain volly, Titi dan Tuti pun pulang kerumah.
__ADS_1