Nastiti

Nastiti
Bab 75. Pikiran Titi Yang Bercabang


__ADS_3

Wanita ditakdirkan menjadi sosok penuh cinta dan cantik dengan berbagai kepekaan emosi.


Wanita, secara alami bersifat romantis dan senantiasa merindukan telinga yang mau mendengarnya,


yang mau memahami dan mengerti perasaannya,


serta tangan lembut penuh kasih yang membelai dan menimang nya.


🦂🦂🦂


Jam menunjukan pukul empat pagi, Titi dan Ana makan sahur berdua di rumah sakit.


Bang Ari juga ikut terbangun tapi tidak ikut makan sahur.


Saat terbangun, bang Ari kembali bercerita tentang apapun.


Bang Ari tahu semua yang dia lakukan sebelum masuk ke rumah sakit.


Dari awal bang Ari meminta aku mengerjakan shalat subuh, membawa Nanda melihat sumur tua, hingga membersihkan kamar mandi dengan menggunakan odol.


Bang Ari juga mengatakan jika ia merasa malu karena dipakai kan sarung yang sudah robek.


Semua yang bang Ari lakukan diingat dengan baik.


Aku merasa heran, sebenarnya apa yang terjadi dengan bang Ari?


Jika terkena gangguan jiwa, ia tidak mungkin mengingat semua yang ia lakukan dengan baik.


Tapi jika bang Ari tidak tidur, ia akan terus bercerita.


Semua yang ia alami sehari-hari dia ceritakan.


Wajah bang Ari masih terlihat sangat kuyu walaupun ia sudah banyak tidur.


Aku memberi obat agar bang Ari beristirahat lagi, supaya bang Ari bisa tenang dan tidak banyak bercerita.


Sehabis sahur, Awal datang lagi ke rumah sakit.


Ia berniat membangunkan aku dan Ana untuk makan sahur, tapi Alhamdulillah kami sudah bangun dan makan sahur.


Saat jam enam pagi, aku pamit pada bang Ari untuk pulang.


Aku kasihan pada Nanda yang aku tinggalkan.


Aku juga harus berangkat ke kantor.


🦂🦂🦂


" Ana, kakak titip abang dulu ya, kakak mau pulang karena harus berangkat ke kantor. Kakak juga kasihan pada Nanda yang ditinggalkan dirumah. "


Titi pamit pulang pada Ana karena Titi harus berangkat bekerja.


" Iya kak, biar Ana yang jaga abang. "


Kata Ana sambil tersenyum.


" Bang, Titi pulang dulu ya? Titi tidak bisa jagain abang karena Titi harus kekantor.


Pulang dari kantor, Titi kesini lagi. "


Titi pamit pada Ari yang terbangun.


Titi menyalami tangan Ari dan mencium punggung tangannya.


Begitu pula dengan Awal yang berpamitan pada Ana dan Ari.

__ADS_1


Aku pulang bersama Awal menggunakan motor milik Awal.


Tiba dirumah, Titi langsung menggendong Nanda yang sudah bangun.


Rindu rasanya harus berpisah dengan Nanda.


" Nanda tadi malam tidak rewel, bu? "


tanya Titi pada ibunya yang tengah membersihkan dapur.


" Mana pernah rewel cucu shaleh nya nenek, ya kan? "


Nenek memuji jika Nanda tidak pernah rewel.


Alhamdulillah, aku sangat bersyukur Nanda sangat memahami keadaan orang tuanya.


Setelah menggendong dan mengajak Nanda bermain sebentar, aku pun mandi dan bersiap untuk berangkat bekerja.


Titi harus bisa membagi waktu, antara bekerja dan mengurus bang Ari yang sedang sakit.


" Bagaimana keadaan Ari, Ti? " tanya mbak Dewi ketika Titi sudah di kantor.


" Alhamdulillah baik mbak, cuma ya gitu.. kalau dia ga istirahat, dia bakal ngomong terus, semua dia ceritakan. "


jawab Titi menyampaikan keadaan Ari pada mbak Dewi.


" Sekarang, siapa yang menunggui Ari disana? "


Tanya mbak Dewi lagi.


" Ada Ana yang jaga disana mbak, nanti Awal sama Irvan juga mau kesana. "


Jawab Titi lagi.


Hari ini, Titi bekerja dengan pikiran yang bercabang.


Seharusnya, ia yang menjaga suaminya di rumah sakit, tapi karena tuntutan pekerjaan, Titi harus menitipkan Ari pada Ana.


Sore, sepulang dari kantor Titi pergi ke rumah sakit.


Hari ini, Titi hanya bekerja setengah hari, sampai ia menyelesaikan pekerjaannya.


Titi diizinkan pulang lebih dulu untuk merawat Ari yang sedang sakit.


Dari kantor, Titi bisa langsung naik angkot karena dari kantor Titi ada angkot yang langsung jurusan rumah sakit.


Turun dari angkot, Titi memasuki halaman rumah sakit.


Saat didepan IGD, Titi bertemu dengan dokter Tatik, dokter langganan Titi biasa berobat.


" Lho, Titi kenapa ada disini? Siapa yang sakit? " tanya dokter Tatik heran.


dokter Tatik melihat Titi yang berjalan menuju koridor rumah sakit.


" Eh, bu dokter.. Titi mau keruangan rawat bu, bang Ari yang sakit, bu. "


jawab Titi pada dokter Tatik.


" Lho, sakit apa suaminya, kok bisa sampai dirawat disini? Kapan mulai dirawat disini? " tanya dokter Tatik lagi.


" Sakit tipes bu, kemarin sore dibawa kesini dan langsung dirawat."


Jawab Titi lagi.


" Oh, begitu, semoga suami Titi bisa segera sembuh ya? nanti kalau sempat ibu jenguk suami Titi.

__ADS_1


Suaminya dirawat dimana? "


dokter Tatik mendoakan kesembuhan suami Titi, juga menanyakan ruang rawatnya.


" Aamiin ya rabbal alamiin..


Terima kasih atas do'a ibu.


Bang Ari dirawat di ruang Melati nomor tiga, bu."


Kata Titi yang mengaminkan doa dokter Tatik dan memberitahu ruangan dimana Ari dirawat.


" Ibu juga kenapa ada disini?


Apa ibu juga praktek disini? "


Tanya Titi pada dokter Tatik yang melihat dokter Tatik mengenakan jas dokternya.


" Iya, ibu praktek disini, kalau pagi di rumah sakit umum, kalau sore ibu disini.


Itu ruangan praktek ibu.


Kebetulan hari ini di rumah sakit umum sedang tidak banyak pasien, jadi ibu kesini dulu sebelum pulang ke rumah.


Disini ibu buka praktek jam empat sore."


jawab dokter Tatik yang menjelaskan pada Titi. dokter Tatik juga menunjukkan ruang prakteknya disini.


" Kalau begitu, Titi ke kamar bang Ari dulu, bu.


Assalamu'alaikum. "


Titi pun berpamitan pada dokter Tatik untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan dimana Ari dirawat.


" Iya, Ti. Waalaikumsalam. "


jawab dokter Tatik yang juga melanjutkan langkahnya menuju ruang prakteknya.


🦂🦂🦂


Tiba dikamar ruang rawat Ari, Titi melihat Ari dan Ana yang sedang tidur.


Ana tidur di ranjang pasien yang kosong.


Pelan-pelan Titi mendekati suaminya yang tengah tertidur karena pengaruh obat yang diminum nya.


Ditatapnya wajah Ari yang terlihat pucat dengan rambut yang gondrong dan kumis yang mulai panjang.


Ari terlihat lebih tua dan tidak terurus.


" Ya Allah, sembuhkanlah bang Ari dari sakitnya. "


Do'a Titi dalam hati, ia sangat sedih melihat keadaan Ari yang seperti itu.


Diusapnya kening dan kepala Ari perlahan-lahan agar tidak membangunkan tidurnya.


" Semoga ini menjadi pelajaran bagi abang. Setelah ini abang tidak lagi melakukan hal-hal yang merusak dan merugikan diri abang sendiri.


Jika seperti ini, bukan hanya abang saja yang sakit, Titi juga merasa sakit dan sangat sedih bang, seolah Titi tidak bisa mengurusi abang.


" Maafkan Titi yang belum bisa menjadi istri yang baik buat abang, sehingga abang mencari kesenangan dengan berkumpul bersama teman-teman abang diluar sana. "


Dengan perasaan sedih, Titi terus mengelus kepala Ari dan berdoa semoga dengan kejadian ini, Ari bisa berubah.


Ari mau meninggalkan kebiasaan buruknya dan kembali menjadi Ari yang lebih baik lagi.

__ADS_1


🦂🦂🦂


__ADS_2