
Pov Ari.
Dengan semakin berkembangnya perusahaan tempat aku bekerja, maka semakin banyak kegiatan yang aku lakukan.
Sebagai kepala lapangan, aku membawahi beberapa orang sopir dan kernek.
Setiap pagi aku akan kelapangan, membawa jadwal yang sudah disiapkan dari kantor lalu membagi DO sesuai jadwal, terkadang dalam situasi tertentu akan ada perubahan jadwal.
Aku senang ditempatkan dilapangan karena aku tidak terikat dengan kegiatan kantor.
Aku bisa bekerja dengan santai dan terkadang aku akan mengantar Titi istri ku bila ia ada kegiatan keluar kantor, seperti mengantarkannya ke kantor pelayanan pajak untuk melaporkan pajak bulanan, mengantarkan atau mengambil tagihan pada konsumen, juga untuk urusan penyetoran ke Bank.
Biasanya, aku akan mengantarkan Titi setelah membagikan DO pada para supir dan menyelesaikan tugas pertama dilapangan.
Karena pekerjaan ku dilapangan, aku jadi mengenal banyak orang, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun teman yang aku kenal karena pergaulan.
Teman-temanku terdiri dari orang Bea Cukai, Airud, Angkatan Laut, Pelindo, maupun dari Syahbandar karena pekerjaan ku juga berhubungan dengan mereka.
Pergaulanku memang luas.
Orang-orang senang berteman dengan ku karena aku tidak pernah pelit.
Jika sedang ada rejeki, aku yang membayari mereka minuman.
Aku memiliki teman dari berbagai kalangan, tapi kebanyakan dari mereka merupakan teman-teman yang sering mengajakku minum-minuman keras.
Hal inilah yang membuat ku jadi berubah, aku terkena pengaruh buruk teman-temanku.
Aku jadi mulai suka minum minuman keras, terkadang suka ikut bermain kartu dengan teman-teman ku.
Mungkin karena usia ku yang masih terbilang muda, dua puluh dua tahun tapi aku sudah menikah dan punya satu orang anak, jadi aku gampang terpengaruh oleh teman-temanku.
Memiliki istri dan anak, tidak membuat ku berfikir untuk memilih-milih teman yang baik.
Aku malah mengikuti mereka yang membawa pengaruh buruk padaku.
Aku mulai suka keluar rumah untuk berkumpul bersama teman-teman ku sambil minum minuman keras.
Saat pulang dari kantor, aku akan mengantarkan istri ku untuk pulang, lalu aku akan pergi lagi untuk menemui teman-teman ku.
Titi tak pernah banyak bicara, ia hanya akan bertanya kemana aku pergi dan akan pulang jam berapa.
" Ma.. papa pergi dulu ya? " pamit ku pada Titi.
" Nanti pulang jam berapa, pa? " tanyanya.
" Paling habis magrib papa sudah pulang! " jawabku.
Aku selalu menjawab kalau aku ada keperluan diluar, dan akan pulang sehabis magrib, walau kenyataannya aku akan pulang lewat dari tengah malam.
__ADS_1
Terkadang saat pulang, ibu mertua atau ayah mertua ku yang membukakan pintu.
Mereka tak pernah mengatakan apapun padaku, tak pernah menegur perbuatan ku, walaupun aku yakin mereka tahu apa yang aku lakukan karena aku selalu pulang dalam keadaan bau alkohol.
Entahlah, aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran kedua orang tua istriku.
Aku tahu, ayah Titi seorang yang pendiam dan jarang banyak bicara, dan ibu Titi sangat menyayangi aku seperti anaknya sendiri, aku tidak diperlukan seperti seorang menantu tapi seperti anak lelaki bagi ibu mertua ku.
Titi istri ku tak pernah marah dengan apa yang aku lakukan.
Ia terlalu sabar dengan semua yang aku lakukan, ia tak pernah banyak bicara.
Saat ia marah ataupun kesal, ia hanya diam.
Tapi terkadang aku bingung juga dengan sikap kedua mertua ku juga dengan sikap istri ku, mengapa mereka seperti tak perduli dengan apa yang aku lakukan.
Mereka seperti pura-pura tidak tahu kalau aku sering mabuk-mabukan.
Bahkan aku pernah pulang saat mabuk dan muntah didalam rumah, saat itu sudah lewat tengah malam dan ibu mertua ku yang membukakan pintu.
Melihat aku mabuk dan muntah-muntah, ibu mertua meminta aku membersihkan diri dan ia yang membersihkan muntahan ku.
" Bang.. pergi kekamar mandi, cuci muka dan bersihkan badan, bajunya taruh aja di kamar mandi! " pinta ibu mertua ku.
Walau dalam keadaan mabuk, aku masih bisa memahami apa yang disampaikan oleh ibu.
Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk berubah, tapi aku selalu terpengaruh oleh ajakan teman-temanku.
Seperti biasa, sore ini aku mengantarkan Titi pulang kerumah.
Setibanya dirumah, aku hanya menurunkan Titi lalu pamit pergi lagi karena aku sudah ada janji dengan teman ku, kami akan menghabiskan waktu di sebuah cafe.
" Ma.. papa pergi dulu ya..? " pamit ku pada Titi.
" Mau kemana lagi sih pa? baru juga pulang dan belum masuk kerumah sudah pergi lagi. " tanya Titi dengan nada kesal.
" Ada perlu sebentar sama kawan. " jawab ku.
" Tidak lihat Nanda dulu pa, kasihan dia tak pernah diajak main.
Papa ga ganti baju dulu" kata Titi lagi.
" Iya nantilah, papa buru-buru, ga perlu ganti baju nanti kelamaan, ga enak sudah ditunggu sama kawan! " jawabku.
" Nanti pulang jam berapa, pa? kalau bisa isya sudah dirumah.! " Pintanya.
" Iya! " jawab ku singkat, lalu aku melajukan motor ku meninggalkan rumah.
Aku tak sempat masuk kerumah, apalagi untuk melihat Nanda, anak ku.
__ADS_1
Aku sedikit kesal karena Titi seolah melarang ku untuk pergi dengan memberi banyak pertanyaan, sementara aku tadi sudah berjanji pada teman-temanku tidak akan lama, hanya mengantarkan Titi pulang.
Aku tahu Titi kesal dan marah pada ku karena aku pergi lagi sepulang kerja.
Suatu hal yang hampir aku lakukan setiap hari.
°°°°°°°°°
Malam ini, pukul dua puluh satu aku sudah berada dirumah.
Malam ini, aku sengaja pulang lebih cepat karena merasa tak enak pada kedua orang tua Titi jika setiap malam pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk.
Aku pulang setelah pesta alkohol bersama teman-teman ku disebuah cafe dipinggir pantai.
Saat aku pulang, Nanda anak ku sudah tidur, begitu pula dengan Titi.
Aku tak tahu apa Titi benar-benar sudah tidur atau hanya pura-pura karena merasa kesal padaku.
Setelah mencuci muka dan mengganti pakaian kerja yang tadi aku kenakan dengan celana boxer, aku berbaring disamping Titi dan memeluknya.
Aku memang tak pernah tidur mengenakan baju, aku tidur hanya mengenakan celana boxer, kebiasaan yang sejak dulu aku lakukan.
Aku merasa risih dan tidak nyaman jika tidur mengenakan baju.
Saat memeluk Titi, timbul perasaan ingin mencumbu istriku.
Aku menciumi tengkuknya, lalu membalikkan badan Titi agar menghadap kepada ku.
Kulihat anakku tidur dengan pulas disamping Titi, dekat dinding.
Ku fikir ini kesempatan ku, selagi anakku tertidur nyenyak.
Aku mulai menciumi leher dan wajah Titi, Titi hanya diam menerima perlakuan ku, aku tahu ia tidak tertidur, hanya memejamkan matanya.
Melihatnya tidak merespon, aku gencar menciumnya juga tanganku tak tinggal diam menyentuh semua area sensitif yang ada pada tubuh istriku.
" Ma.. papa pengen, ma.. " ucapku ditelinga nya dan terus berusaha memberikan rangsangan.
Titi hanya diam, tapi ia membalas ciuman ku.
Saat mendapat balasan dari Titi, aku jadi lebih bergairah lalu melakukan hajat ku pada Titi.
Setelah bergelut sekian lama tanpa perlawanan dari Titi, aku pun menuntaskan hajatku dan mencapai kepuasan.
Setelah itu, aku kembali memakai boxer dan tertidur pulas disamping Titi.
Aku tidak lagi memperhatikan keadaan Titi yang masih terbaring tanpa sehelai benang, aku juga langsung tidur tanpa menyelimuti tubuh Titi.
Karena merasa lelah dan masih dalam pengaruh alkohol, aku langsung tertidur pulas.
__ADS_1
°°°°°°°°