Nastiti

Nastiti
Bab 124. Kembali Seperti Dulu.


__ADS_3

Usaha cucian motor yang dimiliki Ari semakin berkembang.


Setiap hari pemasukan juga semakin bertambah.


Selain cucian motor, setiap sore cucian Ari akan ramai dengan angkot yang mencuci di sana.


Entah bagaimana awalnya, saat sore akan ada satu dua angkot yang minta cuci, tapi lama kelamaan ada sekitar sepuluh angkot yang berlangganan mencuci di tempat cucian Ari.


Terkadang mereka harus antri untuk mendapat giliran mencuci, tapi para supir merasa nyaman.


Terkadang mereka meninggalkan angkot mereka dan pulang ke rumah terlebih dahulu, lalu akan kembali untuk mengambil angkot yang sudah selesai dicuci.


Ari menerima anak-anak yang ada didekat tempat usahanya untuk yang ingin bekerja pada Ari.


Awalnya hanya ada dua orang saja yang bekerja mencuci di tempat Ari, tapi untuk saat ini sudah ada enam orang anak.


Ari membayar mereka dengan sistem bagi hasil, empat puluh enam puluh.


Empat puluh persen penghasilan untuk para pekerja dan enam puluh persen untuk pemilik.


Gaji dibayarkan setiap satu minggu sekali agar tidak terlalu repot.


Mereka juga bekerja secara bergantian, masing-masing mendapat kesempatan yang sama untuk mendapat giliran mencuci kendaraan.


Tetapi ada juga anak-anak yang memiliki langganan sendiri.


Ada beberapa supir angkot yang meminta anak tertentu untuk mencuci angkotnya karena merasa nyaman dan puas dengan cara kerja mereka.


🦂🦂


" Yank, Alhamdulillah usaha kita berjalan lancar. Cucian motor selalu ramai,.dan setiap sore banyak angkot yang mencuci di tempat kita sehingga anak-anak yang bekerja pun semakin semangat." kata Ari pada Titi saat mereka tengah duduk di ruang tamu.


Sekarang Titi sudah membeli kursi tamu sehingga tidak perlu duduk di tikar lagi saat mereka duduk di ruang tamu.


" Benar Yank, kita harus bersyukur karena kita sudah memiliki usaha sendiri, selain kolam ikan, kita juga punya usaha cucian. Ikan-ikan kita juga berkembang dengan baik, dan tidak tidak lama lagi kita bisa memanen ikan-ikan di kolam. " kata Titi yang menanggapi kata-kata Ari.


" Besok sore sebaiknya kita membeli ampas tahu lagi karena tock ampas tahu kita udah tinggal sedikit, nanti sore mas gondrong juga akan mengantarkan roti BS. Katanya ada beberapa karung roti BS di warungnya." kata Ari lagi.


" Kalau begitu kita tinggal membeli ampas tahu untuk tambahan makanan ikan-ikan kita." Kata Titi pula.


" Hari minggu kita pergi ke pabrik tahu untuk mengambil ampas tahu di pabrik tahu langganan kita seperti biasa. "

__ADS_1


Kata Ari.


Untuk mengurangi biaya pakan yang mahal, tidak setiap hari Ari dan Titi memberikan pelet pada ikan-ikan.


Karena ikan-ikan peliharaan mereka sudah mulai besar dan memerlukan banyak pakan, Ari dan Titi menyiasati makanan ikan dengan memberinya ampas tahu juga roti-roti kadaluarsa.


Ada teman Ari yang memiliki ternak ayam dan menawarkan pada Ari ayam ayamnya yang mati untuk umpan ikan lele, tetapi Ari tidak mau memberi bangkai ayam pada ikan peliharaannya.


Ari lebih senang memberi makan dengan ampas tahu dan roti kadaluarsa atau ikan-ikan rusak yang tidak terjual yang didapat dari temannya.


🦂🦂


Dibalik kebahagiaan Titi dan Ari karena sudah tinggal di rumah sendiri juga sudah memiliki usaha lain, ada hal yang membuat Titi merasa sedih.


Hal itu karena Ari kembali pada kebiasaannya dahulu, Ari kembali suka berkumpul dengan teman-temannya dan meminum minuman keras.


Seperti kebiasaannya dahulu, terkadang Ari tidak pulang ke rumahnya dan hanya pulang untuk berganti pakaian lalu pergi lagi dan pulang saat menjelang subuh.


Satu hal yang sangat Titi sesalkanx mengapa Ari mengulangi kesalahan yang sama dengan berkumpul dengan teman-temannya dan kembali suka meminum minuman keras.


Titi pernah mengajak Awak untuk mencari Ari di Pelabuhan saat tengah malam karena sudah dua hari Ari tidak o


pulang.


Titi tidak ingin bertengkar dengan Ari, apalagi jika didepan anak-anak mereka,. sehingga saat Titi marah dan kecewa ia lebih baik diam.


Saat Titi dan Awal mencari ke pelabuhan, mereka tidak menemukan keberadaan Ari sehingga mereka pulang ke rumah.


Ari banyak memiliki teman yang bekerja di pelabuhan seperti dari Airud, KPLP, Pelindo maupun dari Angkatan Laut.


Ari merupakan orang yang gampang bergaul dan memiliki banyak teman. Apalagi Ari orang yang royal tidak pernah pelit jika ia sedang memiliki uang, Ari akan dengan senang hati mentraktir teman-temannya buat minum-minuman keras.


Dengan demikian banyak teman-temannya yang suka kepadanya.


Ari tidak pernah menggunakan uang gaji untuk Bersenang-senang, jika ada rejeki dari pekerjaan sampingan, Ari akan memberikan sebagian uangnya pada Titi sebelum ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya.


Ari selalu terbuka pada Titi mengenai penghasilannya di luar gaji yang ia peroleh dan dua pertiga dari penghasilan itu ari berikan pada Titi.


Titi bersyukur karena Ari tidak pernah menyembunyikan penghasilannya pada Titi. Berapapun yang ia dapat Ari akan memberitahu Titi dan Titi pun tidak bergerak berkeberatan jika Ari mengambil sebagian penghasilannya karena Titi tahu jika Ari menggunakan uang itu untuk mentraktir teman-temannya.


Titi hanya tidak ingin jika Ari selalu mabuk-mabukan dan Titi berusaha untuk mengingatkan Ari agar ia tidak lagi meminum minuman keras tapi Ari sudah terlanjur berteman dengan orang-orang yang salah sehingga ia sulit untuk lepas pergaulan itu.

__ADS_1


Mereka memiliki dua anak laki-laki dan Titi tidak mau jika anak-anak mereka meniru hal yang salah dari perbuatan ayahnya.


🦂🦂


Keesokan harinya, saat Titi sedang berada di atas angkot karena akan pergi ke undangan bersama tetangga yang lain, Titi melihat Ari berada di pencucian motor milik mereka.


Ari tengah duduk di atas motor dan sedang berbicara dengan Herman, orang yang dipercaya untuk mengelola usaha itu.


Ari melihat Titi yang berada di atas angkot, begitu pula Titi melihat Ari.


Titi merasa sedih karena merasa jika Ari tidak perduli padanya.


Ari tidak tahu jika Titi mencemaskan keadaannya dan ingin agar Ari kembali ke rumah.


Sepanjang jalan, Titi berusaha menahan tangis agar tidak ada yang tahu kesedihan dan rasa sakit yang tengah Titi rasakan.


Sepulang dari kondangan, Titi melihat Ari sudah berada di rumah.


Dengan mengesampingkan rasa sakit dan kecewa, Titi mengajak Ari berbicara berdua, kebetulan kedua anak mereka sedang bermain ke rumah Tuti.


" Pay, bisa kita bicara? " tanya Titi pada Ari yang tengah bermain ponsel.


" Iya, may. " jawab Ari sambil meletakkan ponselnya di atas kasur.


" Pay kemana saja? Mengapa tidak pulang sampai dua hari? May sampai harus bohong di kantor dan mengatakan jika pay sedang sakit sehingga tidak masuk kerja, padahal may tidak tahu dimana keberadaan pay. " kata Titi menyampaikan uneg-unegnya pada Ari saat mereka tengah duduk di pinggir tempat tidur.


" Maafkan pay, may.. pay mabuk dan ketiduran di tempat pay minum, jadi pay tidak pulang. " jawab Ari sambil memandang Titi.


" Mengapa sampai dua hati tidak pulang? May merasa cemas dengan keadaan pay. " kata Titi lagi dengan air mata yang mulai berlinang.


" Maafkan pay ya may..?? " kata Ari yang juga meneteskan air mata keren melihat kesedihan Titi.


Ari memeluk Titi dengan erat dan meminta maaf pada Titi.


Awalnya Titi tidak membalas pelukan Ari, tapi Ari mengambil tangan Titi dan melingkarkan tangan itu di pinggangnya.


Titi begitu mencintai Ari sehingga ia selalu mengalah dan memaafkan kesalahan Ari.


Hingga Ari mengajak Titi untuk melakukan ritual suami istri tanda jika mereka telah berbaikan dan Titi tidak menolak sehingga mereka menikmati kebersamaan mereka.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂 Rasa cinta terkadang mengalahkan rasa benci karena sebuah kesalahan dan menghapus kesalahan tersebut. 🦂🦂


🦂🦂 Terkadang orang mengatakan jika menerima begitu saja kesalahan yang dilakukan oleh pasangan adalah perbuatan bodoh tanpa mereka tahu apa tujuan dari memaafkan kesalahan pasangan tersebut. 🦂🦂


__ADS_2