
" Ayolah, kita jalan!" ajak Titi.
"Tapi sebentar, saya simpan ini dulu!" Titi menunjuk gelas bekas jus dan toples kripik.
Saat Titi akan mengambil gelas jusnya, Huda mengambilnya lebih dulu, lalu menghabiskan isinya.
" Sayang kalau ga dihabisin, nanti pasti dibuang, atau mau Titi habisin kalau sudah dibawa kedapur?" goda Huda pada Titi.
Titi merasa malu terus digoda oleh Huda, ia merasa gemes pada Huda, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Titi tak menyangka bila Huda akan seperti itu, bersikap konyol dan suka menggodanya.
Titi melihat Huda sebagai sosok TNI yang pendiam.
Saat ngobrol bersama teman-temannya, ia lebih banyak diam, memperhatikan dan menyimak pembicaraan, sesekali ia ikut menimpali dan ia lebih banyak menunduk.
Tapi sore ini, Titi melihat Huda yang jauh berbeda, ia suka iseng, suka bercanda, dan suka menggoda Titi.
Hal itu membuat Titi merasa terkejut dengan perubahan Huda.
Saat Titi hendak kedapur, ia melihat Tuti yang pulang dari warung, lalu memanggilnya.
" Tut..sini!" panggil Titi
Tuti menghampiri Titi dan bertanya,
" Ada apa, mbak?"
" Tolong bawakan ini ke dapur!"
tunjuk Titi pada gelas dan toples diatas meja.
Saat Tuti melihat ada Huda disana, ia menyapanya.
" Mas Huda, apa kabar? sudah lama, mas?"
" Alhamdulillah kabar baik, lumayan lama karena sudah menghabiskan satu gelas jus!" jawab Huda sambil bercanda.
Tuti tersenyum mendengar jawaban Huda.
" Ti, mbak mau jalan sama mas Huda, lihat orang yang lagi kemah dilapangan.
Kalau ayah atau ibu nanyain mbak, kasih tahu aja." kata Titi berpesan pada Tuti.
Tuti mengiyakan pesan dari Titi, lalu ia membawa toples dan gelas kotor ke dapur.
***
Titi mengambil novel yang ada diatas meja, lalu menyelipkan dibalik punggungnya.
Kebetulan ia memakai celana jeans dan kemeja yang sedikit ia masukkan kedalam celana panjangnya, ia menarik sedikit kemejanya keluar untuk menutupi pinggangnya yang tidak memakai gesper.
Begitulah Titi, jika dirumah ia lebih suka mengenakan celana panjang dibanding mengenakan rok atau dres.
Huda memperhatikan apa yang Titi lakukan, ia heran saat Titi menyelipkan novel dibalik punggungnya.
__ADS_1
Tapi, Huda tak mengatakan apapun.
Mereka pin berjalan keluar pekarangan rumah.
" Kita mau kemana?" tanya Huda.
" Dah..mas ikut aja, ga bakal Titi bawa nyasar kok, mas juga ga ada tujuan kan mau ajak Titi kemana?
Jadi, ikuti aja arah jalan Titi!" jawab Titi pada Huda sambil tersenyum.
" Baiklah saya ikuti, awas ya kalau nanti saya diajak ke jalan yang ga benar !" kata Huda lagi.
" Tenang aja mas, mas akan saya bawa ke jalan yang benar, jalan yang di Ridhoi oleh Allah Subhanahu Wataala!" jawab Titi sambil tertawa.😄😄
Ia merasa senang bisa menggoda Huda.
Ada rasa bahagia dihatinya saat bisa bersama Huda.
Huda merasa gemes mendengar jawaban Titi, ingin rasanya ia mencubit tangannya, tapi ia tak berani, takut Titi marah karena ia menyentuhnya.
Huda hanya bisa memandangi Titi dengan wajah yang dibuat kesal saat Titi mentertawakan nya.
Titi meledek Huda yang terlihat kesal padanya.
" Kenapa, kesel ya? mau nyubit?"
Titi mengangsurkan lengannya pada Huda, dan pada saat Huda akan memegang lengannya, Titi menarik lagi lengannya, lalu berlari mendahului Huda sambil tertawa.😄😄
" Wiss la dalah jan...jan.., bikin geregetan aja, kalau khilaf wis tak rangkul sisan!" gumam Huda geregetan melihat tingkah Titi yang mengerjai nya.
" Maaf ya, mas!" kata Titi saat Huda sudah menghampirinya.
Huda hanya diam, menghela nafas dengan kasar, ada rasa kesal dan lucu melihat tingkah Titi.
Saat pertama bertemu Titi, ia fikir Titi gadis yang agak pendiam juga rada pemalu, tapi ternyata ia suka iseng dan ngeselin juga.
" Sudah...ga usah kesel gitu mukanya, ga cocok sama bodynya!" kata Titi tetap menggoda Huda.
"Apa hubungannya wajah kesel sama body?" tanya Huda akhirnya membuka suara.
" Iya ga pantes lah, body tinggi, tegap tapi wajahnya kusut kaya baju ga disetrika karena lagi merajuk!" kata Titi sambil tertawa meledek Huda.
Huda makin dongkol mendengar kata-kata Titi.
" Huuffff..." Huda menarik nafas dan menghembuskan nya berulang kali, mengeluarkan rasa kesalnya karena tidak bisa membalas Titi.
Melihat Huda seperti itu, Titi mengulurkan tangannya pada Huda, " Maaf ya, mas, kalau mas merasa kesal sama Titi!" kata nya pada Huda.
" Ga papa!" kata Huda sambil menurunkan tangan Titi yang menggantung karena Huda tidak membalas uluran tangan Titi.
" Mas cuma geregetan aja, ga bisa balas kamu, takut kebablasan!" kata Huda pula.
Titi hanya tersenyum mendengar ucapan Huda.
Dan mereka pun terus melangkahkan kaki, entah kemana Titi akan mengajaknya.
__ADS_1
Titi mengajak Huda kelapangan tenis yang ada dibelakang Polda, karena Titi juga tak tahu akan membawa Huda kemana.
" Lho..kok kesini? mau ngapain? ngajakin main tenis?" tanya Huda beruntun.
" Kita duduk disini aja mas, pura-pura lagi nonton turnamen.
Tumben, biasanya minggu sore ada yang main, ini kok sepi?" ujar Titi pula.
Mereka duduk dibangku kosong disamping tempat tinggal Khalik, karena disitu memang ada tempat duduk yang disediakan untuk orang beristirahat.
Titi tahu, Khalik tidak ada dirumah karena biasanya ia ke rumah saudaranya.
Sebagai pengurus masjid dan sipil yang bekerja di Polda, Khalik mendapat tempat tinggal agar ia tepat waktu saat mengumandangkan azan saat tiba waktu shalat dan mengurus semua keperluan masjid.
Huda duduk tak jauh dari Titi, ia melihat Titi yang sedang mengarahkan pandangannya ke lapangan tenis.
" Ti..kamu bawa buku apa sih, kok diselipkan di belakang punggung gitu?" tanya Huda.
" Ini novel yang Titi baca mas, tinggal sedikit lagi, belum selesai!" jawab Titi.
" Kenapa harus diselipkan di punggung, ga dipegang aja?" tanya Huda lagi.
" Biar praktis mas, ga repot pegang novel, kan tagannya jadi bebas." jawab Titi santai.
" Novel apa sih, sini saya lihat!" ujar Huda sambil berusaha merebut novel yang ada dipunggung Titi.
" Apa sih, mas..jangan lihat-lihat, ini novel buat remaja!" kata Titi sambil berusaha menghindar dari tangan Huda yang hendak mengambil novelnya.
Huda tetap berusaha untuk mengambil novel itu, tapi Titi terus berusaha menghindar.
Ia menepis tangan Huda yang akan meraih novel dibalik punggungnya.
Akhirnya, mereka seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.
Mereka seperti tak menyadari apa yang mereka lakukan.
Saat tak bisa juga merebut novel itu dari Titi, Huda menghentikan apa yang dilakukannya.
Sebenarnya, ia hanya ingin menggoda Titi, dan tidak ingin benar-benar mengambil novel itu.
Ia tersenyum melihat wajah Titi yang kemerahan.
Titi mengibas-ngibaskan tangan ke bajunya, merapikan kemeja yang kusut karena menghalangi tangan Huda yang akan mengambil novelnya.
" Cantik...dan bikin geregetan!"
kata Huda dalam hati.
Entah mengapa, ada perasaan bahagia saat ia bersama Titi, rasa ingin selalu bersamanya, ingin selalu melihat senyumnya, dan ia merasa bahagia saat ia bisa menjahilinya.
Tapi ia juga menyadari jika ia tak mungkin bisa bersama Titi, ada seseorang yang sudah terikat dengannya.
Ia tahu, bahwa Jojo sudah memberitahu pada Titi bahwa ia telah bertunangan.
Tapi dari cara Titi memandang dan suka menjahilinya, ada perasaan Titi yang berbeda terhadapnya, dan ia juga tahu jika Titi berusaha menjaga batasan mereka.
__ADS_1
Titi gadis yang baik, ia tak akan merusak hubungan orang, begitupun dengan Huda yang tidak mungkin mengkhianati tunangannya.