Nastiti

Nastiti
Bab 101. Titi Dilangkahi Tuti.


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepat, saat ini Nanda sudah berusia enam tahun dan sudah duduk di kelas B sebuah TKIT.


Nanda anak yang pintar dan berani.


Walaupun Nanda sedikit pendiam, tapi dia berani maju saat gurunya meminta Nanda untuk maju ke depan kelas.


Setiap pagi Nanda pergi ke sekolah diantar oleh Ari dan Titi karena sekolah kantor Ari dan Titi melewati sekolah Nanda.


Saat pulang Nanda akan dijemput dan dibawa Tuti pulang ke rumah Tuti karena anak Tuti juga bersekolah yang sama dengan Nanda, tetapi anak Tuti sudah duduk di kelas 1 SDIT karena usianya lebih tua satu tahun dari Nanda.


Ya, Tuti memang lebih dulu menikah dari Titi.


Dulu ayah tidak setuju saat Tuti mengatakan jika kekasihnya akan melamar Tuti.


Flashback on.


" Mbak, mas Ali mengatakan jika ia akan datang melamar Tuti. Bagaimana menurut mbak Titi? "


Tanya Tuti yang meminta pendapat Titi karena kekasihnya berniat melamar Tuti.


" Ya baguslah jika Ali melamar Tuti, berarti dia benar-benar serius menjalin hubungan sama kamu. "


Jawab Titi yang menyetujui jika Ali melamar Tuti.


" Kamu sendiri bagaimana? apa sudah siap jika Ali melamar kamu? "


Titi balik bertanya kesiapan Tuti jika Ali melamarnya.


" Kalau Tuti sih siap aja, mbak, tapi mbak gimana? " jawab dan tanya balik Tuti pada Titi.


" Apa mbak ga masalah jika Tuti menikah terlebih dahulu? " tanya Tuti lagi.


" Mbak ga masalah jika kamu mau menikah terlebih dahulu, berarti jodoh kamu lebih dulu daripada mbak. "


Jawab Titi yang tidak mempermasalahkan jika Tuti lebih dahulu menikah.


" Hubungan mbak sama bang Ari bagaimana? " tanya Tuti mengenai hubungan Titi dan Ari.


" Hubungan mbak sama bang Ari tidak ada masalah. Saat ini bang Ari sedang berusaha mencari pekerjaan di kota tempat dia bersekolah selama ini. "


Titi menjawab bahwa hubungannya dengan Ari baik-baik saja walaupun Ari sedang mencari pekerjaan di kota lain.


" Apa ayah dan ibu setuju jika Tuti menikah lebih dulu dari mbak Titi? " tanya Tuti yang merasa khawatir jika orang tua mereka tidak menyetujui Tuti menikah lebih dulu dari Titi.


" Biar nanti mbak yang akan bicara pada ayah dan ibu. "

__ADS_1


Kata Titi yang akan berbicara pada orang tua mereka mengenai rencana Ali yang akan melamar Tuti.


Beberapa hari setelah perbincangan Titi dan Tuti, ayah dan ibu memanggil Titi untuk bicara.


" Ti, kamu sudah tahu rencana Ali yang akan melamar Tuti? " tanya ibu pada Titi setelah mereka duduk diruang tivi.


" Iya bu, Tuti sudah cerita semuanya pada Titi. " jawab Titi yang mengatakan jika Tuti sebelumnya sudah bercerita pada Titi.


" Terus bagaimana pendapat kamu, Ti?" tanya ibu lagi.


" Titi tidak masalah jika Tuti mau menikah lebih dulu dari Titi. " jawab Titi apa adanya, bahwa ia tidak merasa keberatan jika Tuti melangkahinya.


" Ayah tidak setuju jika Tuti melangkahi Titi. Lagian Tuti juga baru bekerja di kantor notaris sebagai admin. "


Ayah yang tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara ibu dan Titi akhirnya bicara jika ayah tidak setuju jika Tuti menikah terlebih dahulu dari Titi.


" Tidak apa ayah jika Tuti menikah lebih dulu, berarti jodoh Tuti sudah sampai.


Dari pada ditunda hingga Titi menikah lebih dulu, takutnya nanti ada apa-apa. "


Titi benar-benar tidak mempermasalahkan jika Tuti menikah mendahuluinya.


Setelah meyakinkan ayah dan ibu, akhirnya mereka mengizinkan Tuti menikah terlebih dahulu.


" Kamu minta pelangkah apa dari Tuti? " tanya ayah pada Titi.


Terserah mereka mau memberi apa pada Titi. "


jawab Titi pada ayah.


Titi tidak meminta pelangkah yang memberatkan pada Tuti karena Titi tahu jika Tuti belum lama bekerja di sebuah kantor notaris.


Pelangkah biasanya diberikan oleh seorang adik yang akan menikah terlebih dahulu dari sang kakak.


Biasanya pelangkah itu berupa set pakaian, dari baju hingga pakaian dalam, peralatan make-up lengkap dan cincin emas.


Pelangkah diberikan sang adik kepada kakak sebagai permohonan restu atau tanda terima kasih dari sang adik pada kakaknya yang akan dilangkahi oleh adiknya.


Sesuai kesepakatan dan kesanggupan Tuti, akhirnya Tuti memberikan cincin seberat dua gram pada Titi.


Pada saat Titi menikah dangan Ari, Tuti tengah melahirkan anak pertamanya sehingga tidak bisa menghadiri acara pernikahan Titi dan Ari.


Flashback off.


Karena rumah Tuti tidak jauh dari kantor Titi, maka setiap pulang bekerja Titi akan menjemput Nanda di rumah Tuti.

__ADS_1


Di rumah Tuti, Nanda ikut les dengan anak tetangga Tuti.


Nanda les membaca, menulis dan berhitung serta mengaji.


Nanda anak yang patuh, dia tidak menolak saat diminta untuk ikut les.


Nanda malah senang karena di rumah bibinya ia sudah memiliki banyak teman dan mereka juga ikut les ditempat yang sama.


Jarak dari rumah Tuti ke tempat les tidak sampai seratus mereka, jadi Tuti juga tidak repot untuk mengantar jemput.


Tuti tinggal tidak jauh dari rumah Pandu.


Jarak dari rumah Tuti ke rumah Pandu hanya dua ratus meter.


Sedangkan jarak dari kantor Titi ke rumah Tuti lebih kurang berjarak empat ratus meter.


Tuti dan Pandu tinggal di daerah perkampungan yang baru berkembang karena rencananya tidak jauh dari rumah Pandu akan dibangun sebuah perumahan.


Andi, anak kedua Titi dan Ari sudah berusia dua tahun.


Andi lebih aktif dan lebih berani berinteraksi dengan orang lain dibanding Nanda yang pendiam.


Jika disekitar rumah Andi sering dipanggil Dik-dik, karena Nanda terbiasa memanggilnya adek.


Mbak Min istri Pandu sering memanggilnya Entoh, karena anak bang Pandu memanggilnya dek Entoh.


Bang Pandu baru memiliki momongan setelah sembilan tahun menikah dan anaknya seumuran dengan Dik-dik, hanya selisih lima bulan lebih tua anak bang Pandu yang seorang perempuan.


Sejak kecil Dik-dik sangat dekat dengan bang Pandu dan istrinya.


Jika di rumah, Dik-dik lebih dekat dengan kakeknya.


Dik-dik tidak akan segan duduk di atas pangkuan kakeknya yang berkeringat karena habis dari kebun atau dari mencari rumput untuk sapi.


Terkadang sepulang dari mencari rumput, kakeknya akan membawakan Dik-dik buah ciplukan atau rambutan hutan yang memiliki biji seperti markisa.


Kakeknya akan memberikan apa yang dibawanya dan dengan senang hati Dik-dik akan memakan ciplukan yang dibawa kakeknya.


Nanda dan Dik-dik walaupun sama-sama laki-laki tapi mereka jarang bertengkar.


Mereka jarang berebut mainan ataupun yang lain.


Nanda sudah mengerti jika adiknya menginginkan sesuatu maka ia akan mengalah, apalagi Nanda jarang berada di rumah karena setiap pagi Nanda pergi ke sekolah bersama Ari dan Titi dan pulang sore setelah dijemput di rumah Tuti ketika Ari dan Titi pulang bekerja.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂 Kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya tidak pernah berubah walaupun mereka telah tumbuh dewasa. 🦂🦂


__ADS_2