Nastiti

Nastiti
Bab 115. Angkat-Angkat Barang.


__ADS_3

Hari ini Ari dan Titi tengah bebenah beberapa barang yang akan mereka bawa.


Alhamdulillah, rumah sementara yang mereka bangun sudah selesai.


Sebuah rumah berdinding papan, dengan lantai semen serasa dapur dan kamar mandi yang menjadi satu.


Dapur mereka berdinding seng yang Ari beli dari temannya.


Dinding kamar bagian belakang menjadi pembatas dengan kamar mandi, dan sekat antara kamar mandi dan dapur hanya ada sebuah tirai yang dipasang jika ada orang yang sedang mandi.


Ari dan Titi memasang PAM sebagai sumber air karena tempat mereka tinggal merupakan daerah rawa sehingga tidak bisa membuat sumur karena airnya tidak bagus.


🦂🦂


" Pay, sudah semua barangnya dinaikkan ke atas mobil? " tanya Titi pada Ari.


" Alhamdulillah sudah, barang yang mau dibawa sudah dinaikkan keatas mobil.


Tinggal satu kali lagi, semua selesai diangkut. " jawab Ari yang mengatakan jika barang yang akan mereka bawa sudah diangkat keatas mobil.


Beruntung Ari memiliki mobil pickup sendiri sehingga mereka tidak perlu menyewa mobil untuk menganggap barang-barang milik mereka.


" Ti, kursi tamunya kenapa tidak dibawa? itukan kamu yang beli. " kata ibu pada Titi saat Titi membongkar barang yang akan mereka bawa.


" Tidak perlu, bu, biar kursi tamunya untuk disini aja, nanti ada rejeki Titi bisa beli lagi. " jawab Titi pada ibu.


" Ga usah buang-buang uang untuk membeli yang baru, bawa aja kursi itu. " kata ibu lagi pada Titi yang meminta Titi untuk membawa kursi tamu.


Di rumah ibu memang ada dua kursi tamu, salah satunya sofa yang Titi beli.


Tapi kursi itu memang Titi beli untuk di rumah ibunya dan Titi tidak berniat membawa ke rumah barunya.


" Biar disini aja sofa nya, bu, lagian mana muat sofa itu diruang tamu rumah Titi. " kata Titi pada ibu.


Tidak semua barang milik Titi mereka bawa karena selain rumahnya sempit, barang-barang tersebut memang sengaja Titi simpan di rumah ibunya.


Mereka hanya membawa satu tempat tidur dan satu lemari pakaian, satu lemari hias, kulkas dan mesin cuci.


Peralatan dapur juga dibawa seperlunya karena rumah mereka hanya memiliki satu kamar.


Antara ruang tamu dan ruang keluarga akan dibatasi dengan lemari hias yang mereka bawa.

__ADS_1


Lemari hias itu akan mereka isi dengan pakaian Nanda dan Andi.


Satu set meja makan mereka taruh diruang tengah antara ruang tamu dan dapur.


Meskipun rumah mereka terbuat dari papan dan hanya memiliki satu kamar, tapi Ari dan Titi sangat bersyukur karena akhirnya mereka bisa memiliki rumah sendiri.


Rumah sementara mereka dibangun di bagian paling depan karena saat mereka ingin membangun rumah yang permanen, mereka tidak perlu membongkar rumah tersebut karena Ari dan Titi akan membangun rumah di bagian belakang, yang saat ini mereka bangun, nantinya akan menjadi halaman rumah mereka.


" Sudah siap semua, bang? " tanya Ali pada Ari.


Ya, Ali yang membantu Ari untuk mengangkut barang ke rumah baru mereka.


" Sudah, sebentar lagi kita berangkat, mas..! " jawab Ari pada Ali.


Setelah semua siap, Ari, Titi dan Ali berangkat ke rumah baru Ari untuk mengantar barang.


Titi ikut untuk membantu merapikan barang agar tidak kerja dua kali.


Tiba di rumah baru mereka, Titi langsung memposisikan barang-barang sesuai tempatnya masing-masing.


Karena tidak banyak barang yang dibawa, pekerjaan mereka jadi cepat selesai.


" Mas, nanti malam nginap disini ya, tolong jagain dulu. " kata Ari pada Ali.


" Amanlah kalau masalah nginap, nanti saya ajak teman juga untuk menemani disini. " kata Ali yang menyetujui untuk menginap di rumah Titi sebelum mereka pindah karena masih menunggu pemasangan listrik.


" Ini ada dua lampu teplok untuk penerangan nanti malam, minyak tanahnya ada didalam jerigen putih dibawah meja dapur. "


Titi menunjukkan dua lampu teplok yang ia taruh di atas lemari hias untuk penerangan Ali nanti malam.


" Ya sudah, beres lah kalau gitu. " kata Ali pula.


Selesai merapikan perabot rumah, Ari dan Titi langsung pulang karena hari sudah sore.


Ari menggembok pintu rumah lalu memberikan satu kunci pada Ali untuk Ali membuka rumahnya nanti malam.


Ali langsung pulang ke rumah karena tadi ia menyusul mereka dengan membawa motornya, sehingga Ali tidak perlu kembali ke rumah orang tua Titi untuk mengambil motor.


🦂🦂


" Alhamdulillah selesai juga ya pay, kita angkut-angkut barang hari ini. " kata Titi pada Ari saat mereka tengah bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Kedua anak mereka sudah tidur dengan pulas karena tadi siang mereka bermain bersama Iman, dan malam ini Iman menginap dan tidur bersama ibu Titi.


" Iya, untung kita punya kendaraan sendiri untuk angkat barang sehingga kita bisa mengatur waktu untuk mengangkat barang. " kata Ari pula.


" May, bisa urutkan kaki pay ga? rasanya pegel banget. " pinta Ari pada Titi.


" Sebentar, may cari minyak urut dulu. " kata Titi sambil turun dari atas tempat tidur.


Titi mencari obat gosok didalam tasnya, karena Titi memang selalu menyediakan balsem didalam tas.


Titi memijat kaki Ari menggunakan balsem karena minyak urut sudah dibawa ke rumah baru bersama kotak obat.


" Sudah may, sudah berkurang pegal-pegalnya." kata Ari yang merasa kakinya sudah enakan.


" Langsung cuci tangan ya, may? jangan lupa pakai sabun biar ga panas." pinta Ari pada Titi sambil tersenyum mesra.


" Dasar ganjen. " kata Titi sambil tersenyum malu, karena Titi sudah tahu maksud permintaan Ari.


Ari hanya tertawa melihat Titi yang tersipu sambil berjalan keluar kamar untuk. mencuci tangan dikamar mandi.


Ari heran, mengapa Titi masih merasa malu jika ia mengajak Titi bermesraan padahal mereka sudah memiliki dua orang anak.


Selesai mencuci tangan, Titi kembali ke kamar dengan membawa satu mug air minum, lalu meletakkan air minum di atas nakas.


Ari dan Titi tidur dikamar lama dengan menggunakan tempat tidur Titi sewaktu masih gadis karena springbed mereka sudah dibawa ke rumah baru.


" Sudah cuci tangan ya, mau? " tanya Ari pada Titi setelah Titi mematikan lampu kamar dan berbaring disamping Ari.


Ari mengarahkan tangan Titi pada arthur yang sudah bangun dan mengeras.


" Ih, Arthur sudah bangun aja, padahal belum diapa-apain. " kata Titi sambil mengusap Arthur.


" Arthur sudah bangun sejak may ngurut kaki pay. " kata Ari yang menikmati sentuhan tangan Titi pada Arthur.


" Pantas tadi minta urut nya cuma sebentar. " kata Titi sambil terus melakukan tugasnya.


Malam ini dilewati oleh Ari dan Titi dengan memadu kasih.


Menumpahkan hasrat mereka dengan saling memberi dan menerima luapan kemesraan diantara mereka sehingga mereka mencapai puncak kenikmatan dan membaringkan tubuh setelah keduanya merasakan kepuasan.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂 Saat mengingat kasih sayang dari seorang ayah yang telah tiada, baru dirasakan sebuah penyesalan karena dulu tidak memperhatikan kesedihannya karena harus berpisah dengan kedua cucu kesayangannya. 🦂🦂


__ADS_2