
Pagi ini, Titi berangkat ke kantor sendiri, karena Ari masih ingin tinggal di rumah nya.
Ari ingin ikut ayah Titi ke kebun, katanya ingin belajar berkebun pada ayah.
Jadilah Titi berangkat sendiri.
Seperti biasa, Titi menyelesaikan pekerjaan rutinnya.
Hari ini, pekerjaannya tidak begitu padat.
Biasanya Titi akan sibuk diawal dan diakhir bulan.
Ia akan sibuk menyiapkan semua laporan dan tagihan.
Saat tengah santai, mbak Dewi menghampiri Titi dan duduk di kursi depan meja Titi.
" Ti, mbak dengar kamu dah jadian ya sama Ari? " tanya mbak Dewi.
" Iya, mbak! " jawab Titi malu.
" Oh, syukurlah! Titi tahu kan, kalau Ari baru tamat sekolah dan belum punya pekerjaan? " tanya mbak Dewi lagi.
" Iya, mbak! Titi tahu.
Ari sudah cerita sama Titi." jawab Titi.
" Iya, Ti.. Ari kan masih saudara mbak, dia masih sangat muda.
Keluarganya berharap Ari bisa berhasil.
Sebagai anak lelaki yang paling tua, ibunya Ari berharap Ari bisa membantu keluarganya.
Ibunya berharap, Ari bisa memiliki pekerjaan yang bagus, baru memikirkan untuk menikah. "
Mbak Dewi menyampaikan harapan ibu Ari terhadap Ari.
" Iya mbak, Titi mengerti. Kami juga baru sekedar berpacaran, belum memikirkan masalah menikah.
Titi tahu Ari masih sangat muda, ia juga bilang ke Titi ingin membahagiakan ibunya terlebih dahulu.
Jadi kami menjalani hubungan ini biasa-biasa saja, berjalan apa adanya.
Walau sejujurnya, Titi tidak ingin main-main dalam menjalani sebuah hubungan.
Titi ingin serius dalam menjalin sebuah hubungan.
Tapi, kita tidak tahu jodoh mbak.
Titi berharap hubungan ini bisa berlanjut hingga ke pernikahan. "
Titi juga menjelaskan hubungannya dengan Ari.
Titi tidak mau ada yang salah paham, dan menganggap hubungan mereka hanya sekedar bermain-main saja mengingat usia Ari yang masih muda dan baru menyelesaikan sekolahnya.
Titi memang serius menjalin hubungan dengan Ari.
Titi sudah mendengar bagaimana sepak terjang Ari saat tinggal bersama nenek nya.
Justru, Titi ingin bisa membuat Ari menjadi lebih baik lagi.
Bila memang mereka berjodoh, Titi ingin menjadi istri yang shalehah seperti cita-citanya.
Titi ingin, Ari bisa menjadi imam yang baik dan bertanggung jawab di keluarga mereka nanti.
__ADS_1
Titi ingin membawa Ari ke arah yang lebih baik lagi.
" Syukurlah jika Titi paham, mbak hanya tidak ingin ada hal-hal yang tidak baik dalam hubungan kalian.
" Iya mbak, Titi paham.. Titi akan menjalani hubungan ini sebaik mungkin, menjaga nama baik kedua keluarga.
Setelah menyampaikan semua unek-unek nya pada Titi, mbak Dewi merasa lega dan ia kembali ke mejanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
***
Jam istirahat, Feni mengajak Titi untuk ke kantin.
Sudah lama mereka tidak makan di kantin.
Tiba di kantin, Ana sedang sibuk melayani beberapa orang driver yang juga sedang makan siang.
" Baru istirahat, Ti? " tanya bang Mus, salah seorang driver.
" Iya bang, nih baru keluar, tadi nunggu Feni dulu menyelesaikan pekerjaannya.! " jawab Titi.
" Iya Ti, abang makan duluan ya? " pamit bang Mus.
" Iya bang, silahkan.. Titi juga lagi pesan, tuh Feni yang mesan ke Ana! " jawab Titi.
Setelah memesan makan siang mereka, Feni duduk disebelah Titi.
Ia sengaja duduk dekat Titi karena ada yang ingin dibicarakannya.
" Ti.. hubungan kamu sama Ari baik-baik aja kan? " tanya Feni.
" Iya, hubungan kami baik-baik aja, memang kenapa Fen? " tanya Titi.
" Nggak, aku dengar-dengar, ibunya Ari ga setuju, karena Ari masih muda, baru tamat sekolah dan belum punya pekerjaan.! " jawab Feni.
Bukan ga setuju, ibunya bang Ari hanya ingin bang Ari punya pekerjaan dan bisa sukses dulu, baru memikirkan untuk menikah.! " jawab Titi menjelaskan pada Feni.
" Oh.. syukurlah Ti kalau begitu, aku kira ibunya Ari benar-benar tidak setuju dan melarang hubungan kalian. " kata Feni lagi.
" Ya nggaklah! " kata Titi menegaskan.
Saat tahu kalau Titi dan Ari menjalin hubungan, Feni sangat mendukung temannya itu.
Feni ikut bahagia, akhirnya temannya itu mau membuka hati untuk menjalin hubungan dengan seseorang.
Saat Ana menghidangkan makan siang mereka, akhirnya mereka menghentikan obrolan dan menikmati makan siangnya.
Sesaat setelah makan siang, Yanto menghampiri Feni dan mengatakan bahwa mbak Weni memintanya untuk ke kantor.
" Mbak Fen,..kata mbak Weni, kalau sudah makan siangnya langsung ke kantor, mbak Weni mau ada urusan ke luar! " kata Yanto memberitahu Feni.
" Oh iya, kak! terima kasih, ini Feni baru selesai makan. Feni langsung ke kantor! " kata Feni pada Yanto.
" Ti, aku duluan ya, mbak Weni mau keluar. " pamit Feni pada Titi.
" Iya Fen, ga papa! aku mau shalat juhur dulu baru balik ke kantor! " jawab Titi.
Feni pun keluar dari kantin dan kembali ke kantor.
Setelah Feni pergi, Titi menghampiri Ana di dapur, dan minta izin untuk numpang shalat disana.
Disebelah dapur, ada kamar tempat shalat juga istirahat.
" An, mbak numpang shalat ya? " kata Titi pada Ana.
__ADS_1
" Eh.. iya mbak, silahkan! " jawab Ana sambil mencuci piring.
Saat Titi mendekati Ana, ia melihat kaki Ana yang memerah dan dibaluri bedak putih.
" An, itu kakinya kenapa? kok merah gitu?" tanya Titi.
" Ini mbak, kemarin saat Ana angkat air panas untuk isi termos, tiba-tiba gagang pancinya lepas, jadi air panasnya nyiram ke kaki Ana. " jawab Ana menjelaskan.
" Astaghfirullahalazim.. pasti sakit banget itu An, terus di kasih apa itu kok putih-putih? " tanya Titi merasa prihatin atas musibah yang menimpa Ana.
" Kemarin saat kena air panas langsung dibaluri sama garam halus, mbak.
Ini Ana balur pakai odol. " jawab Ana.
" Ya Allah.. semoga ga apa-apa ya An, dan semoga bisa cepat sembuh. " doa Titi buat Ana.
" Iya mbak, terima kasih! " jawab Ana.
" Mbak, boleh nanya ga? " tanya Ana pada Titi.
" Iya boleh, ada apa An? " tanya Titi balik.
" Gimana hubungan mbak Titi dengan bang Ari? " tanya Ana.
" Alhamdulillah, hubungan kami baik- baik aja. Kenapa? Ana setuju ga kalau mbak jadi pasangan bang Ari? " Titi menjawab dan bertanya balik pada Ana.
" Kalau Ana sih setuju-setuju aja mbak, yang penting mbak baik, bisa menerima keadaan bang Ari dan keluarga kami " jawab Ana.
" Jadi beneran nih Ana setuju mbak sama bang Ari? " tanya Titi meyakinkan.
" Iya mbak, Ana setuju. Ana sudah lama kenal sama mbak, dan Ana merasa nyaman kalau ngobrol sama mbak.
Mbak cocok kok sama bang Ari.! Jawab Ana menegaskan.
" Alhamdulillah kalau Ana setuju mbak menjalin hubungan dengan bang Ari.
Mbak takut Ana tidak setuju dan tidak mau berteman lagi dengan mbak. "
" Ga mungkin Ana ga setuju mbak, selama ini mbak Titi baik kok.
Ana malah senang kalau benar bang Ari nikah sama mbak Ana.
Mulai sekarang, Ana panggil mbak Titi kakak ya? Biar pas, bang Ari dan kak Titi. "
" Alhamdulillah, terimakasih ya An sudah. memberi dukungan atas hubungan kakak sama bang Ari.
Berarti, panggilan kakak sebagai tanda restu dari Ana ya? "
" Ibu sama saudara yang lain gimana An, setuju ga? "
" Insya Allah, semua setuju kok, kak! "
Titi merasa lega setelah mendapat restu dari Ana dan keluarga nya atas hubungannya dan Ari.
Ia dan Ana sama-sama tersenyum bahagia, lalu Titi memeluk Ana.
" Terima kasih ya An! " ucap Titi pada Ana.
" Sama-sama, kak! " jawab Ana.
Setelah ngobrol sejenak masalah hubungannya dengan Ari, Titi pun melaksanakan shalat juhur dengan perasaan bahagia. 💖
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧
__ADS_1