
Setelah merapikan perhiasan dan menyimpan kembali kedalam lemari, Titi kembali duduk didekat Ari.
" Jadi besok perhiasannya kita bawa ke toko langganan kita ya, pay? Rasanya ga akan banyak potongan karena labelnya aja masih ada, kelihatan jika barang tersebut tidak pernah digunakan. "
Kata Titi yang mengajak Ari untuk menjual perhiasan itu esok hari.
" Iya, besok perhiasannya kita jual di toko tempat kita membeli perhiasan itu.
Tadi kita sudah hitung sesuai harga sekarang, masih ada uang lebih setelah kita membayar harga tanah tersebut. "
Kata Ari yang sudah memperhitungkan perhiasan yang mereka miliki dengan harga tanah yang akan mereka bayar.
" Iya, Alhamdulillah ya pay, tabungan kita cukup untuk membayar tanah pak Bahrudin. Mungkin sudah jadi rejeki kita ya, pay? "
Titi berkata mungkin tanah itu memang sudah jadi rejeki mereka, karena saat ada yang menjual tanah, tabungan mereka juga cukup untuk membayar tanah tersebut.
" Besok perhiasannya bawa aja may, jadi sepulang kerja kita bisa langsung ke toko emas. "
kata Ari yang meminta Titi untuk membawa perhiasan itu besok agar bisa langsung di jual.
" Baik pay, besok perhiasannya langsung may bawa, biar may bawa tas yang lebih besar. " kata Titi menyetujui usulan Ari untuk langsung menjual perhiasan itu esok hari.
Setelah mereka berbincang dan shalat isya, akhirnya Ari dan Titi beristirahat karena Nanda sudah tidur terlebih dahulu.
🦂🦂
Keesokan harinya, sepulang kerja, Ari dan Titi langsung pergi ke toko emas yang ada di kota, toko emas tempat mereka membeli perhiasan.
Titi sudah mengabari Tuti agar mengantarkan Nanda pulang ke rumah setelah menjemputnya dari sekolah, karena Titi tidak bisa menjemput Nanda di rumah Tuti.
Tiba di toko emas, Titi mengeluarkan perhiasan yang akan dijualnya beserta kuitansi pembelian.
" Mau dijual semua ini, uni? " tanya pemilik toko yang merupakan orang Minang.
" Iya uda, barangnya mau dijual semua. Masih mulus semua kan, uda? belum pernah saya pakai, kertas ukuran barang nya aja masih ada. "
jawab Titi pada uda pemilik toko.
" Ga pernah dipakai barangnya ya, uni? " tanya pemilik toko yang masih meneliti perhiasan yang akan Titi jual.
" Memang sengaja untuk tabungan, uda, jadi cuma disimpan dan tidak dipakai. " jawab Titi menjelaskan mengenai perhiasan yang tidak pernah ia pakai.
__ADS_1
Setelah meneliti dan memeriksa perhiasan milik Titi dan mencocokkan dengan kuitansi pembelian, pemilik toko tidak memberikan potongan apapun pada Titi.
" Uni, karena perhiasan uni masih utuh semua dan Uni juga langganan disini, saya tidak akan memotong biaya apapun pada uni.
Perhiasan uni saya bayar sesuai harga hari ini. "
Pemilik toko mengatakan jika ia tidak memotong harga perhiasan Titi karena perhiasan tersebut masih utuh dan tidak pernah dipakai.
" Alhamdulillah, terima kasih, uda. " kata Titi dengan perasaan yang bahagia karena tidak ada pemotongan untuk perhiasan yang ia jual.
Setelah. menghitung semua harga perhiasan sesuai jumlah perhiasan yang Titi jual, pemilik toko menyerahkan uang tunai pada Titi dan Titi menghitung kembali uang dari pemilik toko.
Untung Ari dan Titi duduk di dalam ruangan, tidak didepan toko karena Titi harus menghitung uang terlebih dahulu.
Sangat berbahaya jika Titi menghitung uang ditempat penjualan perhiasan, karena bisa saja ada orang yang mengintai untuk mencopet uang Titi.
Beruntung Titi sudah terbiasa menghitung uang secara cepat, sehingga tidak terlalu lama Titi selesai menghitung semua itu.
" Alhamdulillah, semua uangnya pas, uda. " kata Titi setelah menghitung semua uang yang ada di atas meja.
" Masukkan dalam amplop ini saja uangnya, uni. " kata pemilik toko sambil memberikan amplop coklat sebagai tempat uang pada Titi.
Sebelum Titi dan Ari berpamitan, pemilik toko mempersilakan Ari dan Titi meminum kopi yang sudah mereka siapkan.
" Terima kasih, uda, atas bantuannya, semoga kami bisa kembali membeli perhiasan disini untuk menabung kembali. "
Kata Ari pada pemilik toko setelah Ari dan Titi meminum kopi yang sudah disediakan pemilik toko.
" Sama-sama uda, semoga uda dan uni bisa tetap berlangganan membeli perhiasan disini. " kata pemilik toko ramah.
Setelah berbasa-basi, akhirnya Ari dan Titi berpamitan pada uda pemilik toko, lalu Ari dan Titi keluar dari dalam ruangan dan melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
" Kita langsung pulang, may? atau ada yang mau dibeli dulu? " tanya Ari pada Titi.
" May tidak mau beli apa-apa, pay, kalau pay ada yang mau dibeli sekalian aja, mumpung kita sedang berada di kota. "
Jawab Titi yang mengatakan jika ia tidak ada rencana membeli apa-apa.
" Kita mampir ke toko kue langganan kita aja may, beli oleh-oleh untuk anak-anak di rumah. " kata Ari yang mengajak Titi untuk membeli kue ditempat biasa mereka membeli kue.
" Baiklah kalau begitu, kita memutar jalan dulu untuk pergi ke toko kue. "
__ADS_1
Imbuh Titi yang menyetujui keinginan Ari untuk membeli kue.
Setibanya di toko kue, Ari memilih kue kesukaannya dan anak-anak.
Ari juga membeli ayam goreng untuk mereka makan di rumah.
Selesai membeli kue dan ayam, Ari dan Titi meninggal toko kue untuk melanjutkan perjalanan mereka guna pulang ke rumah.
Setelah hampir satu jam perjalanan, Ari dan Titi tiba di rumah.
Sesampainya di rumah, Nanda dan Andi sudah menunggu kedatangan Ari dan Titi. Mereka terlihat gembira saat kedua orang tuanya datang dengan membawa kotak kue kesukaan mereka.
" Mama, mama bawa kue sama ayam, ya? " tanya Nanda yang sudah tahu apa yang dibawa oleh mamanya karena Ari dan Titi sering membawa anak-anak mereka makan di toko kue yang juga menyediakan makanan lainnya, seperti ayam goreng, siomay, cah kangkung juga makanan lain.
Di sana juga terdapat perosotan untuk bermain anak, sehingga para orang tua bisa makan sambil memperhatikan anak-anak mereka yang tengah bermain perosotan.
" Ini mama bawakan kue sama ayam kesukaan abang sama adek, nanti makan sama-sama, ya? " kata Titi pada Nanda.
" Horee.. asik ada kue sama ayam! " kata Nanda dengan riang.
" Adek mau kue sama ayam juga, nggak? " tanya Ari pada Andi yang sekarang sedang di gendongnya.
" Iya, mau..! " jawab Andi.
" Sekarang semua masuk ke rumah ya, cuci tangannya yang bersih biar bisa makan ayamnya. " kata Titi pada kedua anaknya.
Ari menurunkan Andi dari gendongannya, lalu membantu Nanda dan Andi mencuci tangan.
Titi menyiapkan kue dan ayam buat anak-anaknya, lalu memisahkan untuk ibu dan ayahnya juga memisahkan buat Ari.
Setelah mencuci tangan, Nanda dan Andi duduk didepan tivi menunggu mamanya membawakan ayam buat mereka.
" Ini ayam untuk abang sama adek, sebelum makan jangan lupa baca bismillah dulu, ya? " kata Titi pada kedua anaknya dan menaruh satu potong ayam di piring mereka masing-masing.
Setelah Nanda dan adiknya makan ayam milik mereka, Titi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tidak lama lagi sudah masuk waktu maghrib.
🦂🦂🦂
🦂🦂 Hidup saling menghargai akan menciptakan sebuah kedamaian. 🦂🦂
🦂🦂 Jangan lupa untuk bersyukur dengan apa yang sudah menjadi milik kita, dan tidak perlu mengambil sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain. 🦂🦂
__ADS_1