Nastiti

Nastiti
Bab 118. Pindah Rumah.


__ADS_3

Pagi ini Ari dan Titi mengemasi barang-barang mereka untuk dibawa pindah ke rumah baru.


Kemarin mas Joko sudah memasang listrik di rumah baru mereka sehingga hari ini mereka memutuskan untuk pindah rumah.


" Apakah semua barang yang akan dibawa sudah dikemas, may? " tanya Ari saat ia masuk kedalam rumah setelah menyiapkan mobil di teras depan agar memudahkan untuk menaruh barang yang akan dibawa.


" Semua sudah di kemas pay, tinggal diangkat ke atas mobil aja. " jawab Titi.


Ari mengangkat barang-barang yang sudah disiapkan oleh Titi untuk dibawa ke rumah baru. Tidak banyak barang lagi yang akan dibawa, hanya beberapa barang yang tersisa karena yang lain sudah diangkat beberapa hari yang lalu, tinggal pakaian mereka dan anak-anak serta beberapa barang lain yang akan diangkut hari ini.


" Apakah ini sudah semua May? tanya Ari pada titik saat dia mengangkat barang-barang tersebut ke atas mobil.


" Sudah pay, sudah tidak ada lagi yang akan dibawa. " jawab Titi yang sedang membersihkan kamar bekas mereka tempati.


Ari mengangkat pakaian dan barang-barang tersebut ke atas bak mobil dan menyusunnya.


" Apakah ayah dan ibu jadi ikut ke rumah Titi? " tanya Titi pada ibu saat melihat Titi menyapu kamar bekas ia tempati.


" Ibu yang akan ikut kesana sekalian mau ke rumah Tuti, Ayah tidak ikut. " jawab ibu.


Setelah semua barang yang akan dibawa diangkat ke atas mobil, Ari dan Titi bersiap untuk menuju rumah baru mereka.


" Abang, kita pamit dulu pada kakek." Kata Titi pada kedua anaknya yang sudah bersiap untuk naik ke atas mobil.


" Iya, Ma!" jawab Nanda dan Andi bersamaan sambil masuk ke dalam rumah untuk menemui kakeknya yang sedang duduk sendirian di kursi dapur seperti biasanya.


Ayah hanya duduk diam sendiri, terlihat kesedihan di wajah ayah karena harus berpisah dengan dua cucu kesayangannya.


Ari dan Titi menghampiri ayah, lalu duduk didepan ayah.


" Ayah, hari ini kami kan pindah ke rumah baru. Ari mohon maaf jika selama tinggal disini Ari dan Titi sudah banyak merepotkan ayah.


Ari juga minta maaf jika ada tingkah laku ataupun perkataan Ari yang menyinggung serta menyakiti perasaan ayah." kata Ari pada ayah


" Ayah merasa bersyukur, akhirnya kalian punya tempat tinggal sendiri sesuai keinginan kalian, walaupun Ayah merasa kehilangan kalian dan kedua cucu ayah tapi ayah bahagia karena kalian berhasil mewujudkan impian kalian untuk punya tempat tinggal sendiri." kata ayah yang berusaha menutupi kesedihan karena harus berpisah dengan kedua cucunya.


" Apa ayah tidak akan ikut ke rumah kami? " tanya Titi


" Tidak, ayah di rumah saja, cukup ibu yang akan ikut kalian ke sana." jawab ayah.


" Tapi nanti ayah main ke rumah kami agar ayah tahu tempat tinggal kami, ya ayah? " Kata Titi pada ayahnya.


Ayah hanya mengangguk, lalu Ari dan Titi pamit pada ayah. Mereka bersalaman dan mencium punggung tangan ayah.


" Kakek, abang sama adik mau pindah ke rumah baru, nanti kakek main ya ke rumah baru abang. " kata Nanda pada kakeknya sambil mencium tangan kakeknya.


" Iya,..nanti kakak akan main ke sana." kata ayah pada kedua cucunya.

__ADS_1


Terlihat kesedihan di wajah Ayah karena harus berpisah dengan kedua cucunya, cucu yang ayah asuh sejak duanya masih bayi, dan ayah memeluk kedua cucunya dengan erat, seperti enggan untuk berpisah.


Sebenarnya Titi merasa berat meninggalkan rumah kedua orang tuanya, karena kini orang tuanya hanya tinggal berdua saja tapi Titi juga ingin memiliki tempat tinggal sendiri agar ia bisa mandiri untuk mengurus keluarganya.


Setelah berpamitan dengan ayah, Ari, Titi, ibu dan kedua anaknya meninggalkan rumah orang tua Titi.


Rumah yang ditempati oleh Titi sejak ia remaja, karena keluarga Titi menempati rumah itu sejak Titi kelas dua SMK.


Sebelumnya keluarga Titi tinggal dipinggir jalan protokol sebelum mereka dijadikan kantor polis militer.


Kedua anak Titi juga dilahirkan di rumah itu, sehingga di sana banyak tertinggal kenangan Titi bersama keluarganya.


Kedua anak Titi naik ke mobil bagian depan bersama ibu dan Ari, sementara Titi membawa motor.


Ari mengikuti Titi dari belakang karena Ari tidak mungkin meninggalkan Titi yang membawa motor sendirian.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mereka tiba di rumah baru.


Di sana sudah ada uni Min beserta anak yang, Nuri. Tuti bersama Iman dan Ais yang sedang digendong oleh Tuti.


Mereka menunggu di ruang tamu.


Ari memarkirkan mobilnya di samping rumah lalu menurunkan barang-barang yang mereka bawa dibantu oleh uni Min dan Tuti yang sudah menidurkan Ais diruang temu dan dijaga oleh Iman, Nanda dan Andi.


Mereka menurunkan barang-barang lali langsung merapikan barang tersebut agar tidak dua kali kerja, sehingga barang-barang itu langsung ditempatkan ditempat masing-masing.


" Abang Nanda dan abang Dik-dik, sekarang punya rumah baru dan tidak jauh dari rumah bibi, kalau abang mau ke rumah bibi tinggal jalan kaki." kata Tuti pada kedua keponakannya.


jawab Nanda dengan riang.


Andi dan Nuri bermain di dekat Ais yang sudah terbangun dan sedang diajak mengobrol oleh Andi dan Nuri dengan bahasa mereka.


Tuti membuat es sirup untuk minum mereka dan menaruh gorengan di atas piring , karena saat di jalan tadi, Ari sempat membeli gorengan untuk cemilan mereka.


Karena tidak banyak barang yang dibawa dengan cepat mereka bisa menyelesaikan merapikan barang-barang, lalu duduk di ruangan tamu yang beralaskan tikar sambil makan gorengan dan minum es sirup buatan Tuti.


" Apa Uni jadi bantu-bantu di rumah Titi? " tanya uni Min pada Titi saat mereka sedang mengobrol diruang tamu.


" Titi sudah berbicara dengan bang Ari dan bang Ari menyetujui jika uni mau membantu Titi di rumah. Titi juga perlu orang untuk menjaga Andi saat pagi hari karena Nanda harus ke sekolah, Titi dan bang Ari harus ke kantor.


Jadi jika memang uni mau, uni bisa membantu Titi." jawab Titi pada uni Min.


" Alhamdulillah. " kata uni Min yang merasa senang karena bisa bekerja di rumah titi.


" Mulai besok, adek Nanda dan adik Dik-dik diasuh sama ibu, ya? " kata uni Min pada Nanda dan Andi


Uni Min memang sangat menyayangi Andi, karena Nuri usianya hampir sama dengan Andi dan sebelum uni Min memiliki anak, ia dan bang Pandu sering membawa Nanda bermain, mereka mengasuh Nanda seperti anak sendiri.

__ADS_1


Anak Titi dan anak Tuti memanggil uni Min ibu dan memanggil Pandu dengan panggilan bapak seperti Nuri memanggil kedua orang tuanya.


" Enak bener uni Min sudah mendapat pekerjaan tidak jauh dari rumah. Nanti gaji pertama jangan lupa beli bakso. " kata Tuti pada uni Min.


" Lha, kerja aja belum kamu sudah mikir gaji pertama." seloroh uni Min.


" Uni enak,.mbak Titi pindah rumah uni jadi dapat pekerjaan." seloroh Tuti sambil mencomot pisang goreng.


" Sesama saudara tidak boleh saling iri bi Ntik. Titi pindah membawa rezeki buat aku." kata uni Min pada Tuti.


Mereka asyik mengobrol dan bercanda di rumah baru Titi.


" Mas Ali mana dek, kok ga kelihatan? " tanya Ari pada Tuti.


" Biasalah bang, kalau libur kaya gini pekerjaan mas Ali cuma mancing. " jawab Tuti.


" Mancing dimana mas Ali, dek? " tanya Ari lagi.


" Katanya mau mancing kelaut bang, sewa perahu sama teman-temannya. " jawab Tuti lagi.


" Mas Ali itu, hobby banget mancing ya,. dek? " tanya Ari lagi pada Tuti.


" Bukan hobby lagi kalau Ali, tapi sudah jadi mania. Ali lebih mementingkan memancing dari pada menyelesaikan pekerjaan yang sudah di tunggu orang. " kata uni Min yang menjawab pertanyaan Ari.


" Memang benar itu uni. Kadang Tuti malu kalau ada orang nanyain pesanan tapi belum selesai dan tidak sesuai dengan waktu yang dijanjikan.


Mas Ali kalau dikasih tahu cuma diam saja, atau dia jawab "nanti juga selesai, yang penting dikerjakan" selalu seperti itu kalau dikasih tahu. "


Kata Tuti melepaskan kekesalannya pada Ali yang sering menunda pengerjaan pesanan karena pergi memancing.


" Susah juga ya memberitahu mas Ali jika seperti itu. " kata Ari pula.


☀☀


Ketika anak dan menantunya sedang mengobrol, ibu Titi malah berkeliling disekitar rumah Titi.


Ibu menanam katu yang ia bawa bibitnya dari rumah dipinggir rumah Titi yang berbatasan dengan pagar tetangga.


Ibu juga menaburkan bibit kenikir juga biji pepaya dihalaman rumah Titi.


Dari samping rumah, ibu ke depan rumah Titi lalu menanam bunga sepatu disepanjang pinggiran aliran air didepan rumah Titi.


Di rumah Titi, ibu malah bercocok tanam dengan bibit bunga dan tanaman yang sengaja ibu bawa dari rumah.


Ibu sangat senang karena tanah Titi terlihat luas dan bersih karena sebelum pindah Ari sudah meminta orang untuk. membersihkan rumput disekitar rumahnya.


Di belakang rumah Titi juga ada kolam yang luas dan bisa digunakan untuk memelihara ikan.

__ADS_1


🦂🦂🦂


🦂🦂 Perpisahan dengan anak dan cucu menjadikan kesedihan yang mendalam bagi orang tua, walaupun mereka juga merasa bahagia jika anak-anaknya bisa hidup mandiri. 🦂🦂


__ADS_2