Nastiti

Nastiti
Bab 80. Titi Dapat Pinjaman Dari Kantor.


__ADS_3

Setelah memasukkan tagihan kedalam amplop coklat, Titi menyerahkan amplop itu pada mbak Dewi.


" Ini mbak tagihannya, semua sudah didalam tinggal menyerahkan pada PT. AG. " kata Titi pada mbak Dewi.


" Iya Ti, terima kasih, nanti pulang dari kantor mbak antarkan kesana. " kata mbak Dewi pada Titi.


" Sudah selesaikan mbak? kalau tidak ada lagi, Titi pamit ke rumah sakit lagi. "


Titi menanyakan pada mbak Dewi jika tidak ada lagi pekerjaan, Titi akan kembali ke rumah sakit.


" Sudah Ti, tidak ada pekerjaan lain lagi, kalau mau kembali tidak apa-apa. " jawab mbak Dewi pada Titi.


" Iya mbak, Titi takut nanti dokter visit tapi Titi tidak ada disana.


Kasihan nanti Ana tidak tahu apa yang disampaikan oleh dokter. "


Titi mengatakan pada mbak Dewi jika Titi takut saat dokter datang dia tidak ada di ruang rawat Ari.


Setelah. mengatakan hal itu, Titi bersiap untuk pulang.


" Titi pulang diantar sama supir aja.


Wi, kasih Titi pinjaman untuk biaya rumah sakit. "


Bu Atma meminta pada mbak Dewi untuk memberi pinjaman biaya rumah sakit pada Titi.


Dan meminta Titi untuk pulang diantar supir.


" Titi bisa pulang naik angkot aja bu, ga perlu diantar. " kata Titi pada bu Atma.


Titi merasa sungkan jika harus diantar oleh supir pak Dani.


" Ti, ini tanda tangan dulu. "


Mbak Dewi meminta Titi untuk menandatangani bukti pengeluaran kas sebagai bukti pinjaman Titi di kantor.


Titi menerima pinjaman itu karena takut uang yang ia pegang tidak cukup untuk biaya berobat Ari selama dirawat di rumah sakit.


" Terima kasih, mbak! " kata Titi setelah menandatangani blanko pengeluaran kas dan menerima uang dari mbak Dewi.


" Titi pulang dulu mbak, pak, bu! " kata Titi berpamitan pada orang-orang yang ada di kantor.


" Min, tolong antar Titi ke rumah sakit! " pinta bu Atma pada mas Yamin , supir pak Dani yang masuk ke ruangan setelah dipanggil pak Bari atas perintah bu Atma.


" Baik, Bu! " jawab mas Yamin.


" Ayo Ti, saya antar! " ajak mas Yamin pada Titi.


Titi dan mas Yamin keluar dari ruangan kantor setelah berpamitan dan mengucapkan salam.


Titi duduk didepan, disamping mas Yamin karena tidak mungkin Titi duduk di kursi belakang.


Setelah Titi duduk, mas Yamin mulai menghidupkan mesin mobil dan mobil pun meninggalkan halaman kantor.


" Sakit apa Ari, Ti? " tanya mas Yamin pada Titi.

__ADS_1


" Kata dokter sih kena tipes, mas. " jawab Titi.


Titi dan mas Yamin sudah lama saling mengenal, semenjak awal Titi bekerja di perusahaan itu.


Mas Yamin merupakan salah satu kepercayaan pak Dani.


Jika ada proyek, maka mas Yamin yang dipercaya pada Dani untuk mengerjakan proyek.


Mas Yamin satu kantor dengan mbak Weni dan Feni.


Mas Yamin merupakan pelaksana proyek kepercayaan pak Dani.


" Ari kena tipes? pantas dia berhalusinasi.


Tapi, aku juga pernah kena tipes Ti, hampir sama dengan Ari.


Perasaan ada yang ngajak ngobrol, terus kaya lihat sesuatu yang mustahil.


Mungkin karena pengaruh demam tinggi jadi sarafnya sudah ga nyambung. "


Mas Yamin menceritakan pengalamannya saat dulu ia terkena tipes sambil tertawa.


" Seperti itu rupanya ya mas kalau sudah demam tinggi, bisa berhalusinasi. "


kata Titi pada mas Yamin.


" Ya begitulah, Ti, mungkin karena pengaruh panas tadi. " kata mas Yamin pula.


" Jadi hari ini Ari akan pulang? " tanya mas Yamin.


" Iya mas, Alhamdulillah akhirnya mas Ari sembuh dan bisa pulang ke rumah. "


" Memang berapa hari Ari dirawat, Ti? " tanya mas Yamin lagi.


" Sudah empat hari mas bang Ari dirawat. " jawab Titi.


" Lumayan juga empat hari, aku dulu sampai satu minggu baru keluar dari rumah sakit. " kata mas Yamin yang mengatakan jika ia juga pernah dirawat karena terkena tipes.


" Iya mas, lumayan empat hari, saur sama buka di rumah sakit.


Anak bujang di rumah jadi ga keurus. "


kata Titi yang mengatakan jika selama Ari sakit ia makan saur dan berbuka di rumah sakit.


" Iya ya, Ti.. jadi buka sama saur di rumah sakit, repot juga ya Ti? " seloroh mas Yamin sambil tertawa.


" Iya mas, untung ada Ana yang membantu menjaga bang Ari jika Titi bekerja. Ana juga teman buka dan saur di rumah sakit, paling pulang sebentar untuk mengantar cucian kotor dan ambil baju ganti. "


Titi. mengatakan jika ia sangat bersyukur karena ada Ana yang menemaninya selama di rumah sakit.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit.


Titi turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada mas Yamin yang sudah mengantarkannya.


" Terima kasih ya mas, sudah nganterin Titi. " kata Titi pada mas Yamin.

__ADS_1


" Iya Ti, sama-sama. Maaf ya ga bisa mampir, takut bos mau pakai mobil. Titip salam buat Ari. "


Mas Yamin mengatakan jika ia tidak bisa mampir karena takut jika mobil akan digunakan oleh pak Dani atau bu Atma.


" Iya mas, tidak apa-apa, Insya Allah nanti salam dari mas Titi sampaikan pada bang Ari. "


Titi memaklumi jika mas Yamin tidak bisa mampir karena ia membawa mobil pak Dani.


Setelah mas Yamin meninggalkan halaman rumah sakit, Titi langsung menuju ruang rawat Ari.


" Assalamu'alaikum. " salam Titi sambil membuka pintu ruang rawat.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Ari yang sedang duduk di atas tempat tidur.


Titi melihat Ana yang tertidur, mungkin ia mengantuk karena sehabis saur tidak tidur lagi, karena mereka saur kesiangan.


Untung masih sempat makan saur.


Titi menghampiri Ari dan mencium. punggung tangannya.


" Bang, ada salam dari mas Yamin. " kata Titi yang menyampaikan salam mas Yamin pada Ari.


" Waalaikumsalam. " jawab Ari.


" Ketemu sama mas Yamin dimana? " tanya Ari.


" Tadi Titi diantar pulang sama mas Yamin, bu Atma yang memintanya untuk mengantarkan Titi pulang. "


Titi mengatakan pada Ari jika ia pulang diantar mas Yamin atas perintah bu Atma.


" Dek, tadi dokter sudah kesini, adek diminta untuk menemui dokter di ruangannya. "


Ari memberitahu Titi jika dokter sudah memeriksanya dan Titi diminta untuk menemui dokter di ruangannya.


" Ari ketemu sama dokter dulu ya bang? biar kita bisa cepat pulang. "


Titi pamit pada Ari untuk menemui dokter.


Titi keluar ruang rawat Ari menuju ruangan dokter.


Tiba di ruangan dokter, Titi dijelaskan tentang kondisi Ari yang sudah membaik, namun ada obat yang harus Titi tebus untuk diminum Ari setelah pulang ke rumah.


Setelah. mendengar penjelasan dari dokter, Titi menuju apotik untuk menebus obat sekalian membayar biaya perawatan Ari selama di rumah sakit.


Titi. bersyukur, rupanya perawatan disana sangat murah, uang pinjaman dari kantor tidak Titi gunakan karena uang pegangan Titi cukup untuk membayar biaya perawatan.


🦂🦂🦂


Kehidupan merupakan luka dan harapan, suka dan duka.


Kebahagiaan sejati tidak mungkin didapati selain di surga.


🦂🦂


Aku melihat jalan begitu dekat ketika aku berangkat menuju sang kekasih,

__ADS_1


namun ia tampak jauh ketika aku meninggalkannya.


🦂🦂


__ADS_2