Nastiti

Nastiti
Bab 127. Gara-Gara Racun Nyamuk


__ADS_3

Hampir dua tahun Ari dan Titi tinggal di rumah baru mereka.


Ari dan keluarganya merasa nyaman tinggal di rumah tersebut, walaupun keadaan rumah tangga Ari dan Titi masih diwarnai dengan tingkah laku Ari yang masih sering mabuk-mabukan.


Sebagai seorang istri, Titi hanya bisa mendoakan kebaikan bagi Ari.


Titi berharap Ari bisa meninggalkan minum-minuman keras seperti ia meninggalkan permainan kartu.


Titi yakin, jik Ari bisa meninggalkan permainan kartu maka Ari juga bisa meninggalkan minum-minuman keras.


Hubungan Titi dengan tetangga juga baik.


Titi suka memberi sayur atau makanan yang ia buat pada ibu Fikar, atau jika ibu Fikar memerlukan sesuatu, maka Titi akan memberikannya.


Titi sering membantu ibu Fikar mengangkat jemuran jika sore hari ibu Fikar tidak ada di rumah karena ibu Fikar sering bermain di rumah bibinya, istri dari mas Joko yang memasang listrik di rumah Titi.


Setiap hari rumah ibu Fikar kosong, setelah suaminya pergi bekerja sebagai instalatir listrik bersama mas Joko, ibu Fikar juga akan segera pergi keluar rumah menuju rumah mbak Emi ataupun ke rumah saudara kembarnya.


Ibu Fikar akan pulang untuk mengangkat jemuran jika akan turun hujan, atau membiarkan jemurannya hingga malam.


Pernah suatu hari, tidak tahu apa sebabnya ibu Fikar mendiamkan Titi.


Titi tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga ibu Fikar marah padanya.


Selama ini Titi selalu berusaha bersikap baik pada tetangganya, apalagi rumah ibu Fikar berdampingan dengan rumah Titi, hanya berjarak sekitar enam meter saja, dibatasi oleh pondasi rumah ibu Fikar yang belum dibangun.


Sore itu, Titi melihat jika jemuran ibu Fikar belum diangkat, sementara hari sudah sangat mendung dan akan segera turun hujan.


" Ya Allah, pertemukan hamba dengan ibu Fikar agar hamba bisa bertanya pada ibu Fikar apa kesalahan hamba dan bisa meminta maaf jika hamba ada salah. " doa Titi dalam hati sambil ia mengangkat jemuran milik ibu Fikar.


Ternyata doa Titi langsung terkabul.


Dari arah jalan, Titi melihat ibu Fikar yang masuk ke halaman rumahnya dan langsung menghampiri Titi.


Terlihat raut wajah tidak nyaman saat ibu Fikar tersenyum pada Titi.


" Terima kasih ya, Ti, sudah menolong mengangkat jemuran. " kata ibu Fikar saat Titi menyerahkan jemuran yang ada di tangannya.


Walaupun usia ibu Fikar lebih muda dari Titi, tapi ia memanggil nama pada Titi, sementara Titi memanggilnya ibu Fikar atau mbak.


" Iya, mbak.. sama-sama. " jawab Titi sambil tersenyum.


" Mbak, saya minta maaf ya kalau saya ada salah. " kata Titi pada ibu Fikar setelah Titi memberikan jemuran kepadanya.

__ADS_1


" Ga ada Ti, Titi tidak ada salah apa-apa." jawab ibu Fikar yang merasa tidak enak karena Titi meminta maaf kepadanya.


" Saya ga enak aja mbak, beberapa hari ini mbak seperti sedang kesal sama saya, sementara saya tidak tahu apa kesalahan saya. " kata Titi lagi.


" Ga ada kok Ti, saya ga marah sama Titi. " ucap ibu Fikar.


" Syukurlah jika demikian, jika saya ada salah saya minta maaf ya, mbak. " kata Titi lagi, lalu ia masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur.


Malam harinya, menjelang tidur Titi mengobrol dengan Ari, lalu Titi menceritakan kejadian sore tadi pada Ari.


" Pay, tadi may minta maaf pada ibu Fikar karena may tidak nyaman dengan sikap ibu Fikar yang mendiamkan may. " kata Titi pada Ari.


" Memang may punya salah apa pada ibu Fikar sampai may harus minta maaf? " tanya Ari.


" Ga ada sih, pay, may merasa tidak punya salah. Tadi may cuma bilang pada ibu Fikar kalau may minta maaf jika punya salah sama dia. " jawab Titi.


" Jika merasa tidak punya salah buat apa minta maaf? Selama ini pay perhatikan may rajin membantu mengangkat jemuran milik dia.


Dia minta bumbu, minyak sampai minta nasi, may kasih. Lalu tiba-tiba dia mendiamkan may dan may malah minta maaf, aneh aja rasanya.


Lain kali, jika may tidak bersalah tidak perlu minta maaf, walau dia mendiamkan dan tidak mau menegur may sekalipun. Pay tahu may selalu berusaha berbuat baik pada orang lain, apalagi pada tetangga, tapi jika may minta maaf pada sesuatu yang tidak may lakukan, pay tidak suka. "


Ari mengatakan pada Titi jika ia tidak suka melihat Titi merendahkan diri pada orang lain, karena selama ini Ari tahu bagaimana sikap tetangganya itu.


" Iya pay, may mengerti. Maaf ya pay, jika apa yang may lakukan sore tadi salah. " kata Titi pada Ari.


Ari memeluk Titi dari samping dan mengecup puncak kepalanya.


" Pay hanya tidak ingin jika kebaikan may dimanfaatkan oleh orang lain." imbuh Ari pada Titi.


Titi hanya mengangguk dalam pelukan Ari.


Begitulah Titi, selalu menceritakan apa yang ia alami pada Ari agar tidak ada salah paham atau ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


Titi akan pamit pada Ari jika ia keluar kantor karena ada urusan diluar.


Titi akan mengirim pesan pada Ari jika ia akan pergi menggunakan ojek, naik angkot ataupun diantar supir kantor.


Titi berusaha untuk menjadi istri yang baik buat Ari dan menjaga agar tidak ada hal-hal yang merusak hubungan rumah tangga mereka.


Titi tidak mudah percaya dan cemburu dengan berita yang kadang disampaikan oleh teman-teman Ari yang terkadang sengaja ingin menggoda.


Titi ingat saat teman Ari mengatakan jika Ari pernah berboncengan dengan perempuan.

__ADS_1


" Ri, kemarin siapa perempuan rambut panjang yang kamu bonceng? " tanya bang Yadi saat ia berada di kantor.


" Yang mana, bang? perasaan ga pernah bonceng cewek deh. " tanya Ari pada bang Yadi.


" Ah kamu ini Ri, jika didepan Titi pura-pura lupa. " kata bang Yadi lagi.


" Jadi kemarin bawa yang berambut panjang ya bang? bukan yang rambutnya pendek? " tanya Titi pada bang Yadi.


Bang Yadi hanya tertawa mendengar pertanyaan Titi.


Bang Yadi tahu jika Titi tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang seperti itu.


" Abang salah lihat kali, kan yang kemarin dibonceng sama bang Ari itu Titi. Karena abang melihat dari jarak jauh jadi abang kira bang Ari sedang membonceng perempuan lain. "


Kata Titi lagi pada bang Yadi.


Akhirnya mereka hanya tertawa karena bang Yadi tidak berhasil membuat Titi merasa cemburu.


🦂🦂


" Mbak, kemarin mbah Rahmat cerita sama Tuti jika Yati minta racun nyamuk satu keping, tapi sama mbak malah dikasih satu kotak. " kata Tuti saat ia bermain ke rumah Titi.


" Untuk apa yang seperti itu diceritakan? mbak ngasih satu kotak karena di rumah ada stok racun nyamuk. " kata Titi pada Tuti.


" Iya mbak, habis itu si Yati marah, katanya mbak ngasih tahu ke Titi jika mbak ngasih dia racun nyamuk. " kata Tuti lagi.


" Lha, kapan mbak cerita ke kamu? kamu kan tahu dari mbah Rahmat dan mbah Rahmat tahu karena dia sendiri yang cerita, kok malah menyalahkan mbak, sih? " kata Titi yang merasa heran karena ia tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun tapi ibu Fikar malah marah sama dia.


Akhirnya Titi tahu mengapa ibu Fikar marah padanya, semua gara-gara Titi memberi satu kotak racun nyamuk.


Padahal Titi tidak pernah cerita pada siapapun termasuk pada Tuti.


Titi heran pada ibu Fikar, mengapa ia yang bercerita pada orang lain tapi malah marah pada Titi.


" Ya sudahlah mbak, ga usah dipikirkan,. dia memang suka gitu, yang penting mbak ga pernah cerita pada orang lain dan Tuti juga tahu dari mbah Rahmat, bukan dari mbak Titi. " kata Tuti setelah ia mendengar cerita Titi yang meminta maaf pada ibu Fikar karena ibu Fikar mendiamkannya.


Betul kata Ari, jika tidak merasa bersalah mengapa harus minta maaf.


" Ibu Fikar yang bercerita pada orang lain malah marahnya pada Titi, sungguh aneh. " kata Titi dalam hati.


🦂🦂🦂


🦂🦂 Setiap orang pasti punya masalah dan mereka pasti punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah tersebut. 🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2