
Beberapa waktu berlalu, saat ini Titi dan Ari tengah mengumpulkan bahan untuk membangun sebuah rumah dari papan di lokasi tanah yah mereka beli dari pak Bahrudin.
Balik nama sertifikat sudah selesai dan lokasi tanah juga sudah dibersihkan oleh Ari.
Ari meminta tolong pada tetangga yang tidak jauh dari lahannya untuk membantu membersihkan rumput.
🦂🦂
" Alhamdulillah ya pay, balik nama sertifikat sudah selesai, kini sudah sah tanah itu atas nama kita. " kata Titi pada Ari saat mereka tengah mengobrol berdua.
" Iya may, bersyukur kita langsung balik nama, jadi kita bisa tenang karena tanah tersebut sudah atas nama kita. " kata Ari menimpali kata-kata Titi.
" Mas Yamin bisa kan membantu kita membuat rumah di lokasi itu? " tanya Titi pada Ari.
" Insya Allah mas Yamin bersedia.
Apakah tidak apa-apa jika membangun rumah dari papan terlebih dahulu? " jawab dan tanya Ari pada Titi.
" Tidak masalah, yang penting keinginan kita untuk punya tempat tinggal sendiri. bisa segera terwujud. Kita beli papan yang murah saja, karena rumah itu kan bersifat sementara sampai kita bisa membangun rumah yang layak untuk tempat tinggal keluarga kita. "
Titi berkata jika ia tidak keberatan jika harus membuat rumah dari papan untuk sementara waktu.
Titi ingin merasakan bisa mengurus rumah tangganya sendiri dan tidak tergantung pada ayah dan ibunya.
Selama ini, ibu Titi yang banyak mengurusi dan membersihkan rumah.
Titi hanya sesekali membantu ibunya jika ia sedang tidak terburu-buru ke kantor ataupun saat Titi sedan libur bekerja.
" Cukup ga ya uang sisa kita jual perhiasan untuk membeli bahan bangunan? " tanya Titi pada Ari.
" Insya Allah cukup, karena kita hanya menggunakan bahan bangunan yang berkualitas rendah. " jawab Ari pada Titi.
" Kemarin ada teman yang menawari seng bekas proyek, sengnya masih bagus dengan bisa kita gunakan. " imbuh Ari yang mengingat jika ada teman yang menawarkan seng bekas kepadanya.
" Iya tidak apa-apa, kita ambil saja, lumayan kan bisa menghemat anggaran. " kata Titi menyetujui untuk membeli seng tersebut.
" Nanti rame lagi ga ya kalau kita sudah pindah dan punya rumah sendiri? " tanya Titi sambil tersenyum.
__ADS_1
" Maksudnya, gimana? " tanya Ari balik, ia tidak mengerti dengan pertanyaan Titi.
" Ingat ga pay, waktu orang-orang tahu kita punya mobil pickup itu?
Di kantor jadi heboh, katanya may korupsi uang kantor dan pay menggunakan mobil itu untuk hal yang tidak baik. " kata Titi menjelaskan maksud perkataannya tadi.
" Tidak perlu mendengarkan apa kata orang, yang penting kita tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan pada kita. Mereka tidak tahu kita bisa punya mobil itu darimana dan tidak perlu juga juta jelaskan pada orang lain.
Disaat kita memiliki sedikit kelebihan, pasti akan ada orang yang tidak suka dan iri pada kita, jadi hal-hal seperti itu tidak perlu menjadi beban pikiran bagi kita. "
Ari mengatakan pada Titi jika mereka tidak perlu menanggapi hal-hal buruk yang dikatakan oleh orang lain.
Selama mereka tidak melakukan apa yang dituduhkan dan tidak ada bukti dengan semua tuduhan, sebaiknya mereka mengabaikan saja.
" Orang yang berada disekitar kita, tidak semuanya suka jika kita terlihat lebih maju, padahal kita hanya punya mobil yang bisa dikatakan mobil jelek, tapi masih ada yang iri pada kita. " seloroh Ari lagi.
Apa yang dikatakan oleh Ari memang benar, tidak semua orang yang terlihat baik dihadapan kita akan mendukung apa yang kita lakukan, pasti akan ada yang tidak menyukai jika kita terlihat. lebih baik.
Ari dan Titi sudah memperhitungkan semua yang mereka butuhkan untuk membuat rumah sebagai tempat tinggal mereka nantinya.
🦂🦂
Mereka menyampaikan niat mereka untuk membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka sebelum mereka bisa memiliki rumah yang sebenarnya.
" Ayah, ibu,.. Ari dan Titi berencana untuk membangun sebuah rumah sederhana di tanah yang sudah kami beli.
Rencananya rumah itu terbuat dari papan biasa saja agar bisa menghemat biaya, nanti setelah kami ada rejeki, kami akan membangun rumah yang sebenarnya. "
Ari mengutarakan maksudnya untuk membangun rumah pada ayah dan ibu Titi.
Ayah Titi hanya diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ari.
Terlihat ada kesedihan di wajah ayah dan ibu Titi.
Walau bagaimana pun, selama Ari dan Titi menikah, mereka tinggal di rumah itu, apalagi saat ini mereka sudah memiliki dua orang anak yang dekat dengan nenek dan kakeknya.
" Kalau ayah terserah kalian bagaimana baiknya. Ayah tidak mungkin melarang jika kalian ingin memiliki tempat tinggal sendiri karena wajar setiap keluarga ingin memiliki tempat tinggal sendiri.
__ADS_1
Ayah hanya sedih jika harus kehilangan kedua cucu ayah, cucu yang sudah ayah asuh sejak mereka masih bayi. "
Ayah memahami keinginan Ari dan Titi yang ingin memiliki rumah sendiri, tapi ayah merasa bersedih jika harus berpisah dan berjauhan dengan kedua cucunya.
" Ibu juga sama seperti ayah, tidak bisa menahan keinginan kalian untuk punya tempat tinggal sendiri.
Bukankah dulu ibu pernah bilang, jika kalian punya tempat tinggal sendiri kalian bisa pindah dari rumah ini, jika belum punya rumah sendiri maka tinggallah bersama kami, menemani hari tua kami. "
Kata ibu yang juga tidak bisa melarang keinginan Ari dan Titi untuk membangun rumah sendiri.
Sebenarnya berat bagi ayah dan ibu untuk membiarkan Titi meninggalkan rumah mereka, tapi sebagai orang tua mereka juga tidak bisa bersikap egois dengan menahan mereka untuk tinggal dan menemani hati tua mereka.
Di satu sisi mereka juga merasa bahagia karena Ari dan Titi sudah berhasil memiliki tanah dan akan dibangun rumah untuk tinggal mereka dan anak-anaknya kelak.
" Terima kasih ayah, ibu, kami merasa bahagia jika ayah dan ibu merestui keinginan kami. " kata Ari pada ayah dan ibu Titi.
" Jika kami sudah pindah, kami pasti akan sering kesini untuk membawa Nanda dan Andi, ayah dan ibu juga bisa datang berkunjung ke rumah kami nanti." kata Titi berusaha membujuk ayah dan ibunya agar tidak merasa bersedih dengan rencana mereka untuk memiliki tempat tinggal sendiri.
Titi tahu jika kedua orang tuanya akan merasa kesepian jika mereka pindah dari rumah mereka.
Ayah dan ibu Titi juga akan merasa kehilangan kedua cucu yang telah mereka asuh sejak masih bayi.
Tapi walau bagaimana pun Titi ingin memiliki tempat tinggal sendiri.
Bukan Titi tidak menyayangi kedua orang tuanya dan menemani hari tua mereka, tapi Titi ingin agar ia bisa mandiri.
Pandu dan Tuti sudah memiliki tempat tinggal sendiri, tinggal Titi yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya.
Dan sebentar lagi keinginan untuk. memiliki rumah sendiri akan segera terwujud, tentu Titi dan Ari tidak akan menunda keinginan mereka itu.
Izin dari kedua orang tua sudah mereka dapatkan, dan secepatnya Ari dan Titi akan membuat rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka.
Rencana Ari dan Titi, pada hari senin lusa mereka akan meminta mas Yamin untuk mulai membuat rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka.
🦂🦂🦂
🦂🦂 Jangan meminta orang lain untuk introspeksi diri, tapi berusahalah untuk introspeksi pada diri sendiri sebelum meninggal orang lain melakukannya. 🦂🦂
__ADS_1