
Keesokan harinya, Titi sudah merasa lebih baik setelah minum obat dan menghabiskan satu botol infus.
Jam delapan lagi, setelah Titi membersihkan diri, dua orang perawat menghampiri Titi.
" Selamat pagi ibu, bagaimana keadaannya hari ini? " sapa salah seorang suster dengan ramah.
" Alhamdulillah saya sudah lebih baik, sus. " jawab Titi sambil tersenyum.
" Saya lepas dulu botol infus nya, ya? ini botol infus nya sudah mau habis. " kata suster yang melepas jarum infus ditangan Titi, lalu menempelkan kapas kecil yang sudah diberi alkohol pada bekas jarum infus lalu merekatkan dengan plester.
" Saya periksa dulu jalan lahirnya ys bu? Masih ada keluhan pada perut ibu? " tanya suster sambil memeriksa jalan lahir.
" Alhamdulillah sudah tidak terasa sakit lagi, sus. " jawab Titi.
" Berarti sudah tidak merasa ada kontraksi palsu lagi ya bu? " tanya suster itu lagi.
Salah seorang suster mencatat hasil pemeriksaan Titi.
" Tidak ada, suster. " jawab Titi.
" Posisi bayi masih jauh dari jalan lahir, jadi kemungkinan ibu tidak akan melahirkan saat ini. Kemarin itu ibu hanya kelelahan dan demam serta mengulangi kontraksi palsu. "
Kata suster memberi penjelasan pada Titi.
Titi dan Ari hanya mendengarkan penjelasan perawat itu.
" Nanti setelah diperiksa oleh dokter, kemungkinan ibu bisa pulang siang ini. "
kata perawat yang mengatakan jika Titi bisa pulang siang ini.
Titi merasa senang saat suster mengatakan jika Titi bisa pulang siang ini.
Sekitar jam sembilan pagi dokter melakukan pemeriksaan pada Titi.
Setelah melihat hasil pemeriksaan, posisi bayi normal dan belum ada tanda akan melahirkan.
Dan perkiraan dokter Titi akan melahirkan diakhir bulan.
Setelah Ari menyelesaikan biaya administrasi,. siang ini Titi kembali pulang ke rumah dan beristirahat dirumah.
🦂🦂🦂
Flashback off.
Sore ini, Titi menunggu Ari yang akan menjemputnya setelah Ari menyelesaikan pekerjaan di lapangan.
Sekarang Ari punya hobi baru, bermain kartu bersama teman-temannya.
Hampir setiap hari Titi menunggu Ari di teras kantor setiap pulang dari bekerja.
Hampir setiap hari Titi duduk sendiri di teras hampir satu jam menunggu Ari menjemputnya, sementara teman-teman Titi sudah pulang dan kantor sudah tutup.
" Belum pulang, Ti? " tanya ibu Mita tetangga yang tinggal di samping kantor Titi.
" Belum mbak, masih nunggu bang Ari, bang Ari belum jemput. " jawab Titi.
" Memangnya Ari kemana? kok sudah dari tadi Titi nunggu tapi Ari belum datang. " kata ibu Mita lagi.
" Mobil sudah berangkat semua kan, Ti? kantor saja sudah tutup. " imbuhnya lagi.
__ADS_1
" Biasalah mbak, namanya juga bang Ari. " kata Titi lagi pada ibu Mita.
Ibu Mita merupakan tetangga kantor karena rumahnya berarti persis disamping kantor Titi.
Mita merupakan nama anak bungsunya.
Ibu Mita memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan Mita yang perempuan.
Karena sudah lama bekerja disana, Titi sudah kenal baik dengan tetangga disekitar kantor.
Suami ibu Mita merupakan seorang ketua RT disana.
Titi mengenal saudara-saudara ayah Mita yang berada disekitar kantor, karena ia penduduk asli disana, sedangkan ibu Mita berasal dari desa lain.
" Sudah berapa bulan kehamilannya, Ti?" tanya ibu Mita.
" Alhamdulillah sudah delapan bulan, mbak. " jawab Titi.
" Berarti bulan depan sudah lahiran ya Ti? Tapi biasanya lahiran anak kedua tidak begitu sulit karena sudah pernah melahirkan sebelumnya. " kata ibu Mita.
" Iya mbak, semoga lahirannya nanti lancar. " kata Titi lagi.
" Laki apa perempuan, Ti? sudah pernah USG? kalau dilihat-lihat sih sepertinya laki-laki lagi. "
Ibu Mita mengatakan jika kemungkinan besar anak kedua Titi berjenis kelamin laki-laki.
" Benar mbak, Titi beberapa hari lalu sudah USG dan jenis kelamin anak kedua Titi laki-laki. " jawab Titi yang memberitahu jika hasil USG memang anak kedua yang dikandung Titi seorang bayi laki-laki.
" Alhamdulillah, berarti nanti Nanda ada temannya bermain. " kata ibu Mita pada Titi.
" Iya mbak, Alhamdulillah. " kata Titi pula.
Anak mbak aja yang besar sudah masuk SMA, jadi sudah lebih dari lima belas tahun menikah belum dikaruniai anak. "
Ibu Mita menceritakan keadaan kakak iparnya yang sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak.
" Iya mbak, mungkin memang belum dikasih sama yang kuasa aja. " kata Titi yang tidak ingin membicarakan masalah kakak ipar ibu Mita.
Lama ibu Mita menemani Titi duduk di teras kantor.
Titi melihat jam di pergelangan tangannya, sudah. hampir jam lima sore tapi Ari belum juga datang untuk menjemputnya dan pulang ke rumah bersama-sama.
Ibu Mita berpamitan pada Titi karena mau mandi sore katanya.
Titi merasa kesal pada Ari karena bukan kali ini saja Ari membiarkan Titi menunggu lama.
" Kemana ini orang, sudah hampir satu jam menunggu masih belum datang juga. Tidak ingat apa kalau istri lagi hamil besar? Kalau ada angkot lewat depan rumah, sudah dari tadi aku tinggal pulang. "
Dengan kesal Titi menggerutu sendiri karena terlalu lama menunggu Ari.
Saat Titi melihat jam sudah menunjukkan pukul lima, Titi memutuskan untuk menyusul Ari ke tempat dia sering main kartu.
Titi tahu tempat itu karena Ari pernah mengatakan jika ia suka main kartu disana bersama teman-temannya.
Akhirnya Titi memutuskan untuk menaiki angkot dan menyusul Ari ketempat dia bermain kartu.
Sepuluh menit kemudian Titi sampai ditempat yang dia tuju.
Setelah membayar ongkos angkot, Titi menghampiri warung dipinggir jalan tempat para supir minum kopi.
__ADS_1
Titi tahu siapa yang menjaga warung itu karena para sopir sering bercerita di kantor jika mereka suka ngopi dan makan mie di warung itu.
" Maaf mbak, apa mbak melihat bang Ari? " tanya Titi pada seorang gadis yang ada di warung itu.
" Oh bang Ari mbak? itu ada dibangunan yang ada dibelakang. " jawab gadis itu.
" Terima kasih ya mbak, saya kesana dulu. " kata Titi berpamitan pada gadis itu.
" Iya mbak, silakan! " katanya pada Titi.
Titi berjalan ke belakang warung.
Dilihatnya motor Ari ada dibelakang warung disamping sebuah bangunan bekas tempat tinggal para tukang yang membuat kantor yang ada dibelakang warung.
Melihat motor Ari ada disana, Titi kembali merasa kesal.
Dihampirinya bangunan yang ada didepannya.
Entah keberanian dari mana, mungkin karena merasa terlalu kesal, Titi menendang dinding bangunan itu.
Dugghh...
Titi mengira jika bangunan itu terbuat dari papan ternyata dari triplek.
Karena kesal Titi tidak memperhatikan lagi.
Karena dinding itu terbuat dari triplek, otomatis tendangan Titi menggetarkan dinding dan menimbulkan suara yang kuat.
Titi mendengar suara orang yang berkata dengan pelan dan seperti tengah ketakutan.
Mungkin mereka juga terkejut dengan suara dinding yang ditendang dari belakang.
Karena tidak ada yang keluar, Titi berteriak dari luar.
" Bang Ari, keluar! " teriak Titi dari luar.
Tidak lama, terlihat Ari keluar dari bangunan itu sendirian.
Teman-temannya tidak ada yang keluar, mungkin mereka takut karena mendengar suara Titi yang berteriak memanggil Ari.
Setelah melihat Ari keluar, Titi mengajak Ari untuk pulang.
" Ayo, pulang! " kata Titi dengan kesal.
Ari tidak bicara apa-apa, ia menghampiri motor yang diparkir, lalu menghidupkan motor dan Titi duduk dibelakang.
Di sepanjang jalan menuju ke rumah, keduanya tidak ada yang bicara.
Titi masih merasa kesal pada Ari yang setiap hari membiarkannya menunggu setiap kali pulang dari kantor.
Sebenarnya Titi merasa malu melakukan hal itu tadi.
Titi tidak mau jika besok Ari akan menjadi ejekan teman-temannya.
Tapi Titi sudah tidak sabar karena sudah satu jam ia menunggu tapi Ari tidak datang menjemputnya.
🦂🦂🦂
🦂🦂. Hidup itu sawang sinawang, orang akan menilai jika hidup kita lebih baik dari mereka, begitupun kita akan melihat hidup orang lain lebih baik dari hidup kita. 🦂🦂
__ADS_1