
Hari terus berlaku, Titi menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Walaupun kini Titi telah menyandang gelar sebagai seorang istri, Titi tetap menjalani hari-harinya dengan rutinitas pekerjaan yang makin bertambah.
Sementara ini, Ari belum mendapatkan pekerjaan tetap.
Untuk mengisi hari-harinya, terkadang Ari ikut driver mengantarkan barang khusus dalam kota.
Setiap pagi, mereka akan berangkat kekantor bersama.
Jika tidak ada kegiatan, Ari akan tinggal dirumah dan membantu ayah.
Titi dan Ari tetap bersyukur menikmati masa-masa awal pernikahannya.
Terkadang ada selisih paham di antara mereka, tapi masih bisa mereka atasi bersama.
Seperti pagi ini, Titi merasa kesal pada Ari.
Sudah dua hari Titi menitipkan uang pada Ari untuk membayar tagihan telpon.
Titi belum ada perjalanan keluar kantor, jadi meminta Ari untuk membayar ke telkom.
Letak kantor telkom memang terbilang jauh dari kantor Titi.
Dengan alasan lupa, Ari tidak pergi membayar telpon.
Titi merasa kesal dan membiarkan Ari.
Mereka berangkat kekantor sama-sama tapi Titi hanya diam saja.
Tiba di kantor, Titi langsung masuk ke ruangannya dan Ari pergi kerumah ibunya.
Titi melakukan aktivitas di kantor dengan perasaan masih kesal pada Ari, tapi tetap fokus dengan semua pekerjaannya.
Sore hari saat pulang kerja, ia tak. melihat Ari menunggunya ditempat biasa.
Titi tak perduli, ia langsung naik angkot yang kebetulan lewat.
Titi tak langsung pulang, entah mengapa ia ingin pergi kepasar, walau tak tahu apa yang akan dia beli di pasar.
Titi hanya mengikuti kata hatinya untuk pergi kepasar.
Tiba di pasar, Titi turun dari angkot.
Ia tak tahu akan kemana dan akan membeli apa.
Titi melangkah menyebrangi jalan.
Tiba di sebrang jalan, Titi hanya berdiri tak tahu apa yang akan dilakukan.
Saat Titi tengah berdiri di tepi jalan, ia mengedarkan pandangannya.
Titi bermaksud untuk menunggu angkot untuk pulang.
Tiba-tiba, Titi melihat Ari keluar dari sebuah toko boneka.
Ditangannya ada sebuah boneka kelinci yang sedang memegang wortel berwarna oren.
Sesaat mereka saling pandang dengan jarak yang lumayan jauh.
Melihat Titi berdiri di tepi jalan, Ari menghampiri Titi lalu menyerahkan boneka kelinci itu pada Titi.
" Dek,. ini boneka buat adek... maaf ya kalau abang sudah buat adek kesal.! "
Lalu Ari memberikan boneka itu.
__ADS_1
Titi menerima boneka dari Ari.
" Iya bang, maaf ya kalau Titi merasa kesal pada abang.! " Titi meminta maaf karena telah merasa kesal pada Ari.
" Tidak apa dek, abang yang salah.
Ini, tadi abang sudah bayar rekening telponnya, ini abang baru pulang dari telkom dan turun disini.
Maaf ya, abang tadi ga nunggu adek pulang.! "
Ari menyerahkan bukti pembayaran rekening telpon pada Titi dan meminta maaf karena ga pulang bareng Titi.
" Terima kasih, bang.. Terima kasih atas bonekanya dan terima kasih karena abang sudah membantu membayarkan rekening telpon. Jika Titi tidak sedang sibuk, Titi ga akan minta tolong pada abang! "
Titi mengucapkan Terima kasih atas apa yang telah Ari lakukan.
" Tidak apa dek, abang yang salah.
Abang tahu adek sedang sibuk, tak seharusnya abang lalai saat adek perlu bantuan abang.! "
" Adek mau kemana, kok ada disini? apa ada yang mau dibeli? "
Ari menyadari kesalahannya dan bertanya pada Titi mengapa ia ada di pasar, tapi Ari tidak melihat Titi membawa belanjaan.
" Ga ada bang, ga tahu kenapa saat pulang tadi Titi ingin kesini, padahal ga ada yang ingin Titi beli! "
Titi menjelaskan mengapa ia sampai ada di pasar.
" Ya sudah, kita pulang aja kalau ga ada yang mau dibeli,. ini sudah sore juga! "
Ari mengajak Titi untuk pulang.
Merekapun mencari angkot yang melalui jurusan ke arah rumah mereka.
Ia merasa bahagia, Ari mengerti perasaannya dan tidak ikut marah saat Titi sedang merasa kesal padanya.
°°°°°
Pagi ini Ari dan Titi sedang bersantai dikamar.
Pekerjaan dirumah telah selesai dikerjakan.
Hari baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.
" Hari ini kita mau ngapain ya, bang?
Kerjaan sudah kelar, tinggal santai dan beristirahat.! "
Titi sedang duduk lesehan dilantai kamar. dengan bersandar pada pinggir tempat tidur.
Ari tidur dengan berbantal paha Titi, sementara Titi tengah mengusap-usap rambut Ari.
" Ya kita istirahat aja mumpung libur, adek juga kan sibuk di kantor kalau hari kerja, jadi hari libur dimanfaatkan untuk istirahat agar besok badan tetap fit saat kembali bekerja. "
" Tapi ngomong-ngomong, ada yang lagi rindu nih! "
Ari meminta Titi untuk memanfaatkan waktu libur dengan beristirahat dirumah.
" Siapa yang lagi rindu, bang? " tanya Titi menanggapi perkataan Ari.
" Sini dulu, dekatkan telinganya pada abang, abang bisikin! "
Ari meminta Titi untuk menunduk dan mendekatkan telinganya.
" Arthur lagi kangen sama Dewi, boleh ga Arthur ketemu sama Dewi?
__ADS_1
Via dan vio juga belum dibelai kan? "
Ari berbisik ditelinga Titi, lalu ia menatap wajah Titi meminta persetujuan.
Titi menatap wajah Ari yang ada di pangkuannya, lalu berkata..
" Ini kan masih pagi bang, baru jam sepuluh.. masa Arthur mau ketemu Dewi? "
" Justru masih pagi, nanti kita bisa istirahat sebelum shalat juhur.
Pas waktu juhur kita bisa mandi.
" Ya dek, mau ya? " pinta Ari pada Titi.
" Iya deh.. " jawab Titi sambil tersenyum.
Tanpa menunggu waktu, Ari langsung memanfaatkan kesempatan dengan mencumbu Titi.
( Selanjutnya adegan 18+ harus di skip, takut kena sensor 🤭🤭)
Setelah melakukan ritual melepas kangen antara Arthur dan dewi, akhirnya mereka tertidur karena merasa lelah.
°°°°°
Setelah membersihkan diri, Ari dan Titi melaksanakan shalat juhur lalu makan siang.
Setelah makan, mereka duduk di teras sambil menikmati teh hangat dan cemilan.
" Eh.. bang, kok rasanya Titi dah telat datang bulan ya?
Biasanya, tanggal segini Titi lagi cuti shalat, tapi ini kok belum nongol tamu si dewi? "
Titi bertanya pada Ari karena merasa heran karena ia belum datang bulan.
" Wah.. yang bener dek? jangan-jangan adek hamil? "
tanya Ari antusias.
" Iya kali ya bang, kayanya sudah lebih dari seminggu deh telatnya? "
" Kalau gitu, nanti habis ashar kita ke bidan ya, dek? "
" Iya bang, kita kerumah bidan Dina aja.
Dia kan dulu tetangga Titi, sekarang pindah ke jalan ujung! "
Titi setuju dengan ajakan Ari untuk memeriksakan diri ke bidan.
" Adek tahu bidan Dina, sudah kenal lama? "
" Bidan Dina itu sejak Titi masih kecil sudah jadi bidan.
Dulu bu Dina yang membantu tetangga sekitar sini melahirkan, karena memang baru bu Dina yang jadi bidan disini. "
" Bu Dina itu sangat baik, ia tak pernah meminta bayaran yang mahal pada setiap pasien yang berobat, baik hanya sekedar periksa ataupun pasien yang melahirkan."
" Dulu waktu masih SD dan SMP, kalau libur..Titi yang suka menyapu halaman rumah bu bidan yang luas.
Tiap bulan Titi menerima gaji dari hasil menyapu halaman.
Kalau Titi lagi sibuk sekolah, ibu yang mengerjakannya. "
Titi menceritakan tentang bidan Dina pada Ari, dan mereka sepakat untuk pergi periksa ke bidan Dina sore ini setelah shalat ashar.
✧༺♥༻✧
__ADS_1