
Setelah Nanda mengalami kecelakaan, Nanda harus izin dari sekolah karena ia tidak bisa berjalan untuk sementara.
Hati ketiga Nanda setelah diurut, pak Kandar datang ke rumah untuk melihat keadaan kaki Nanda.
" Bagaimana keadaan kakinya, pak? " tanya Titi pada pak Kandar.
" Insya Allah bagus, tidak ada pergeseran lagi. Tulangnya sudah menempel dengan sempurna. Jangan banyak bergerak agar tulang tidak bergeser lagi, juga perbannya jangan sampai di lepas. " jawab pak Kandar yang merasa puas karena tulang yang ia sambung tidak bergerak dan masih menempel dengan sempurna.
" Alhamdulillah pak jika begitu, semoga bisa lekas pulih. " kata Titi yang merasa bersyukur dengan apa yang dikatakan oleh pak Kandar.
Titi membuatkan kopi dan cemilan untuk pak Kandar dan pak Kandar mengobrol dengan Ari.
Setelah menghabiskan kopi, pak Kandar berpamitan pada Ari dan Titi dan Titi pun memberi uang bensin pada pak Kandar walaupun pada awalnya pak Kandar menolak karena ia sudah menerima biaya pengobatan diawal.
Dengan alasan untuk uang bensin, akhirnya pak Kandar menerima uang itu.
Siang ini, setelah shalat dzuhur Titi izin pada mbak Dewi untuk pulang karena ada ustadz dan teman-teman Nanda yang akan datang berkunjung untuk melihat kondisi Nanda.
Sore kemaren ustadznya menghubungi Titi dan mengatakan jika mereka akan melakukan kunjungan.
Sebelum pulang, Titi mampir ke warung untuk membeli makanan untuk disuguhkan pada teman-teman Nanda.
Di rumah ibu juga sudah membuat cemilan untuk disuguhkan pada tamu yang akan datang.
" Assalamu'alaikum. " salam Titi saat masuk kedalam rumahnya lewat pintu samping.
" Waalaikumsalam. " jawab ibu yang tengah menyuapi Nanda dan Andi makan.
" Wah anak mama lagi pada makan, ya?" kata Titi pada anak-anaknya.
" Iya, mereka baru mau makan setelah ibu suapi. " kata ibu.
" Manja banget ya kalian sama nenek? makan aja minta disuapin. " kata Titi pada kedua anaknya.
" Tadi nenek yang mau nyuapin makan, ma, bukan adek yang minta disuapin. " kata Andi membela diri.
" Iya ya, dek, tadi nenek yang mau menyuapi kita makan. " kata Nanda pula.
" Ya sudah,. makan yang banyak biar abang cepat sembuh dan adek cepat besar, mama mau ke kamar dulu. " kata Titi sambil bangkit dari duduknya.
" Mama bawa apa? " tanya Andi saat Titi membawa kantong kresek ditangannya.
" Ini ada jajanan untuk teman-teman abang nanti. " jawab Titi.
" Adek mau ma jajanannya. " kata Andi lagi.
" Iya, nanti mama kasih jajanan buat abang sama adek, tapi makannya habiskan dulu. " kata Titi pula.
__ADS_1
Pukul dua siang, teman-teman Nanda dan gurunya datang ke rumah.
Ada satu orang guru dan sepuluh orang murid yang datang berkunjung.
" Assalamu'alaikum. " salam mereka serentak.
" Waalaikumsalam warahmatullah. " jawab Titi dan ibu yang ada didalam rumah.
" Mari silakan masuk, ustadz, anak-anak. " kata Titi mempersilakan mereka untuk masuk.
Titi dan ustadz tidak bersalaman, mereka sama-sama menangkup kan tangan di depan dada.
" Mari ustadz silakan duduk. " kata Titi mempersilakan ustadz dan teman-teman Nanda untuk duduk di tikar yang sudah disediakan.
" Maaf Bu, ini ada buah tangan buat Nanda. " kata ustadz sambil memberikan kantong berisi buah pada Titi.
" Terima kasih ustadz, mohon maaf jadi merepotkan. kata Titi sambil menerima kantong tersebut.
Nanda duduk sambil menyandar pada dinding dan meluruskan kakinya.
Ustadz menghampiri Nanda dan Nanda menyalaminya lalu mencium punggung tangannya.
Teman-teman Nanda juga menyalami Nanda setelah ustadz meminta mereka untuk saling bersalaman.
Setelah itu mereka duduk bersama di atas tikar, teman- teman Nanda ada yang duduk di dekat Nanda dan memperhatikan kaki Nanda yang di perban.
" Maaf Bu, teman-teman Nanda yang lain tidak bisa ikut karena mobilnya tidak muat, jadi ustazah juga tidak bisa ikut karena mengajar anak-anak yang tidak bisa ikut. " kata ustadz yang meminta maaf karena tidak semua bisa ikut berkunjung untuk melihat keadaan Nanda.
Antara murid dan guru pun terlihat sangat akrab dan seperti keluarga, karena terkadang anak-anak itu bermanja dan bergurau dengan guru saat mereka tengah beristirahat.
Ustadz Ridwan merupakan salah satu ustadz favorit anak-anak karena ia pandai mengambil hati anak-anak dan sangat akrab dengan anak muridnya.
" Tidak apa ustadz, sudah dikunjungi dan dijenguk seperti ini saja saya sudah bersyukur dan berterima kasih karena ustadz dan teman-teman Nanda sudah bersedia berkunjung dan memberikan doa untuk kesembuhan Nanda. " kata Titi pada ustadz Ridwan.
" Bagaimana Ananda bisa jatuh dari pohon, bu? " tanya ustadz Ridwan.
" Namanya sudah musibah ustadz, bagaimana kejadian sebenarnya saya juga tidak tahu karena saya tidak menanyakannya pada Nanda, takut ia masih trauma dengan kejadian itu." jawab Titi.
Titi menceritakan apa yang terjadi pada sore hari saat kejadian Nanda jatuh dari pohon.
" Benar bu, namanya sudah musibah tidak bisa dielakkan, kedepannya bisa jadi pelajaran untuk lebih berhati-hati lagi. " kata ustadz Ridwan pula.
Ibu dan Tuti datang dari dapur dengan membawa makanan dan minuman, lalu menyuguhkan pada ustadz dan teman-teman Nanda.
" Silakan ustadz diminum airnya, anak-anak juga silakan diminum dan makanannya dimakan, ya? " kata Tuti pada mereka.
" Terima kasih, bu.. maaf jadi merepotkan. " kata ustadz pada Tuti.
__ADS_1
" Tapi ibu ini bukannya ibu Iman ya? murid kelas tiga? " tanya ustadz yang mengenali Tuti.
Disekolah antara murid dan orang tua memang saling mengenal karena setiap bulan ada POMG ( Pertemuan Orang tua Murid dan Guru).
Pertemuan diadakan dikelas masing-masing dan diadakan kegiatan sesuai kesepakatan, seperti arisan dan pengajian, jadi dengan adanya POMG antara orang tua dan guru ada komunikasi yang baik sehingga jika ada sesuatu yang terjadi disekolah bisa dikomunikasikan dan dibahas bersama.
Selain itu antara sesama orang tua murid juga jadi saling mengenal, sehingga bisa tahu masing-masing anak dan orang tuanya.
" Benar ustadz, saya ibunya Iman dan saya adik dari ibunya Nanda. " jawab Tuti.
" Oh begitu ya? pantas saja Nanda dan Iman terlihat sangat akrab disekolah, rupanya mereka saudara sepupu. " kata ustadz yang baru tahu hubungan Nanda dan Iman.
" Benar ustadz, Nanda ini kakak sepupu Iman. " kata Tuti lagi.
Ustadz hanya tersenyum sambil mengangguk setelah mengerti hubungan Iman dan Nanda.
" Mama Nanda, kapan Nanda masuk sekolah lagi? " tanya Yoga, salah seorang teman Nanda.
" Do'akan ya agar Nanda bisa segera sembuh dan bisa masuk sekolah lagi." jawab Titi pada pada Yoga.
" Jadi kalian ingat ya untuk mendoakan kesembuhan Nanda agar Nanda kembali bersekolah. " kata ustadz pada anak didiknya.
" Baik, ustadz..!! " jawab anak-anak serentak.
Anak-anak masih berusaha tujuh dan delapan tahun itu sangat antusias dan berkata jika mereka akan mendoakan kesembuhan Nanda.
" Jadi menurut dokter bagaimana, bu? apa proses penyembuhannya lama? " tanya ustadz Ridwan.
" Nanda tidak berobat ke dokter ustadz, tapi saya bawa berobat ke tukang urut patah tulang. Menurut beliau Insya Allah dalam waktu dua bulan sudah bisa berjalan normal. " jawab Titi.
" Tapi bulan depan sudah mau ulangan semester bu, apa Nanda bisa ikut ulangan? " tanya ustadz lagi.
" Insya Allah bisa ustadz, nanti Nanda bisa menggunakan kruk untuk membantunya berjalan. Yang penting saat ini Nanda tidak banyak bergerak agar tulangnya tidak bergeser lagi. " jawab Titi yang mengatakan jika Nanda bisa ikut ulangan semester bulan depan.
" Baiklah bu, nanti Nanda bisa saya beri materi pelajaran untuk belajar di rumah agar bisa ikut ulangan. " kata ustadz lagi.
" Baik ustadz, terima kasih atas perhatian dan bantuannya pada Nanda." kata Titi pula.
Setelah berbincang-bincang dan mendoakan kesembuhan Nanda, ustadz Ridwan dan teman-teman Nanda pun berpamitan untuk kembali ke sekolah karena sebentar lagi anak-anak akan pulang ke rumah masing-masing karena jam pelajaran sekolah akan segera berakhir.
Jam belajar di sekolah itu dari pukul tujuh tiga puluh hingga pukul empat sore. Anak-anak pulang setelah melaksanakan shalat ashar berjamaah disekolah dan pada hari sabtu mereka libur sekolah.
Ustadz Ridwan dan teman-teman Nanda kembali ke sekolah setelah berpamitan pada Titi dan Tuti serta ibu yang mengantar mereka hingga ke halaman dimana mobil ustadz Ridwan diparkir.
Setelah mengucapkan salam, ustadz Ridwan dan teman-teman Nanda meninggalkan rumah Nanda untuk kembali ke sekolah.
π¦π¦π¦
__ADS_1
π¦π¦Setiap menebar kebaikan maka akan menuai kebaikan.
Begitupun sebaliknya, jika menebar keburukan maka akan menuai keburukan pula. π¦π¦