Nastiti

Nastiti
Bab 97. Titi Kelelahan.


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang Titi hanya diam saja karena masih merasa kesal pada Ari.


Bukan hanya sekali ini Ari membiarkan Titi menunggu lama di kantor karena Ari tidak segera datang setelah ia menyelesaikan tugas di lapangan.


Terkadang Titi merasa malu jika orang bertanya mengapa Titi belum pulang dan Ari belum menjemput Titi, karena orang-orang disekitar kantor sudah tahu pekerjaan Ari dan kapan Ari menyelesaikan pekerjaannya.


Titi hanya menjawab jika Ari ada pekerjaan lain dan Titi menunggu Ari menjemputnya.


Sudah jadi rahasia umum jika Ari suka bermain kartu dan mengabaikan istrinya yang sedang hamil besar, dan menunggu lama untuk bisa pulang setelah jam kantor berakhir.


Ari juga tidak mengatakan apapun pada Titi karena Ari tahu jika Titi sedang marah padanya.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Titi jika ia sedang marah, Titi tidak akan mengomel atau mengatakan apapun, Titi hanya akan diam.


Titi tidak akan berkata apa-apa, dan jika Titi sedang marah maka Titi tidak akan menyapa siapapun.


Tidak ada yang dapat Ari lakukan saat melihat Titi sudah mode diam, Ari tidak berani untuk menyapanya.


Pov Ari.


Sore ini, aku telat lagi menjemput Titi untuk pulang.


Aku tengah asik bermain kartu bersama teman-temanku di gudang bekas tempat tinggal kuli bangunan.


Sudah jadi kebiasaan ku beberapa waktu ini untuk bermain kartu bersama teman-teman.


Setelah menyelesaikan pekerjaan di lapangan, teman-teman langsung mengajak aku untuk bermain.


Hari ini permainan sedang seru, aku jadi. lupa untuk menjemput Titi untuk pulang.


Saat kami tengah asik bermain, tiba-tiba dugghhh... dinding bangunan yang terbuat dari triplek ada yang menendang dari luar.


Aku dan teman- teman yang tengah asik bermain menjadi sangat terkejut.


" Aduh, ada apa? apa kita sedang di gerebek? " tanya temanku dengan perasaan takut.


Kami semua takut jika di gerebek, kami tidak bisa lari karena jalan keluar hanya melalui pintu depan.


Didalam kami semua terdiam, tidak ada yang berani bersuara.


Kami menunggu apa yang akan terjadi, siapa yang sudah menggerebek kami.


Sesaat kami menunggu namun tidak ada yang membuka pintu dan masuk kedalam rumah.


Tiba-tiba aku mendengar suara Titi yang mengajak ku untuk pulang.


" Bang Ari, keluar! " teriak Titi dari luar.


Seketika teman-temanku merasa lega, ternyata bukan pihak berwajib yang menggerebek kami, tapi istriku Titi yang mengajakku.


Wajah-wajah tegang teman-temanku seketika terlihat lega.


" Istri kamu Ri, keluarlah." kata temanku yang masih merasa terkejut dengan kejadian tadi.


Aku keluar dari rumah itu dan menghampiri Titi yang sudah menunggu ku di luar.


" Ayo kita pulang! " kata Titi dengan nada kesal.

__ADS_1


Titi terlihat marah, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu lama menjemputnya untuk pulang.


Sekilas aku melihat jam tangan yang aku pakai, sudah jam lima lewat.


Wajar jika Titi marah karena sudah satu jam Titi keluar dari kantor tapi aku belum menjemputnya.


Aku berjalan mendekati motor yang aku parkir dibelakang warung.


Titi mengikuti langkahku mendekati motor, lalu naik ke boncengan motor tanpa bicara apapun.


Sepanjang jalan Titi hanya diam, tidak bicara apapun.


Aku tahu kebiasaan Titi, jika marah ia akan diam dan semua orang akan didiamkan nya.


Aku merasa bersalah pada Titi karena membiarkannya menunggu lama.


Ia pasti capek karena pekerjaan Titi lebih banyak duduk, apalagi dengan kehamilan Titi yang sudah delapan bulan, Titi lebih banyak membutuhkan istirahat.


Saat tiba dirumah, Titi masih tetap diam dan tidak mau menegur ku.


Sejak kejadian Titi menendang dinding tempat aku dan teman-temanku bermain kartu, aku dan teman-teman tidak lagi bermain kartu.


Aku tidak tahu apa teman-temanku masih bermain ditempat lain atau tidak.


Tapi aku sendiri benar-benar tidak mau lagi bermain kartu.


Mungkin itu suatu teguran buat aku. Beruntung Titi yang menggerebek waktu itu, jika pihak berwajib? bisa repot urusannya.


🦂🦂🦂


Sore ini seperti biasa, aku dan Titi pulang dari kantor dengan mengendarai motor.


Titi harus menyelesaikan tagihan dan laporan-laporan.


Sudah dipastikan jika Titi seharian duduk didepan mesin tik untuk menyelesaikan pekerjaannya.


" Pay, perut may sakit, sepertinya mau melahirkan. " kata Titi saat kami berada diperjalanan pulang.


" Sabar ya, mudah-.mudahan lahir dengan sehat dan selamat. " kata Ari yang mendoakan kelancaran saat Titi melahirkan nanti.


Usia kandungan Titi sudah sembilan bulan dan Titi belum cuti melahirkan.


Berbeda dengan anak pertama, Titi melahirkan setelah satu bulan cuti.


Tapi kali ini, Titi belum cuti sama sekali.


Sampai dirumah, Titi mandi dengan shalat ashar.


Ari sudah mengatakan pada ibu jika Titi sudah merasa mulas.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ari, ibu mempersiapkan segala keperluan Titi untuk melahirkan.


Ibu telah membentangkan plastik lebar diatas kasur Titi karena Titi akan melahirkan dirumah.


Saat magrib, Titi masih bisa melaksanakan shalat magrib, tapi ketika isya, Titi sudah tidak tahan menahan sakit di perutnya.


Sejak habis magrib, bu bidan sudah datang ke rumah Titi.

__ADS_1


Setelah diperiksa, ternyata pembukaan Titi sudah lengkap.


Bu bidan sudah siap didepan jalan lahir.


Ibu memegang tangan kiri Titi smentara Ari memegang tangan kanannya.


Titi sudah merasa kelelahan tapi bayi Titi belum mau keluar.


Titi diminta untuk memakan telur ayam kampung agar Titi ada tenaga.


Sudah habis empat butir telur yang Titi makan tapi Titi masih lemas.


Mungkin Titi kelelahan karena terlalu banyak duduk.


Akhir bulan merupakan waktu yang sibuk bagi Titi karena banyak pekerjaan.


Titi sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendorong bayinya saat bu bidan meminta Titi untuk mengedan.


" Ti, jangan tidur ya? " kata bu bidan saat melihat Titi sudah kelelahan.


" Gimana perasaan Titi sekarang? " tanya bu bidan yang sengaja mengajak Titi mengobrol.


" Titi capek bu, Titi ngantuk pengen tidur." jawab Titi.


" Jangan, Titi jangan tidur. " kata bu bidan.


" Ti, kita ke rumah sakit ya? " kata bu bidan.


" Terserah bu, Titi cuma ngantuk ingin tidur. " jawab Titi yang sudah mengantuk dan kelelahan.


" Ari akan telepon kak Ruby untuk minta antar ke rumah sakit. " kata Ari yang akan menelepon kakaknya agar membawa mobil untuk mengantarkan Titi ke rumah sakit.


Ibu Titi keluar dari kamar dan menghampiri ayah yang sedang wirid setelah selesai shalat isya.


" Yah, tolong Titi, kasihan dari tadi anaknya belum mau lahir.


Titi nya sudah kecapean. " kata ibu yang meminta ayah untuk membantu Titi.


" Ambil air putih satu bekas, bu! " pinta ayah.


Ibu bergegas ke dapur untuk mengambil air putih.


Ari sendiri sedang menelepon kakaknya dan meminta kakaknya datang membawa mobil.


☎ " Assalamu'alaikum. Kak, bisa minta tolong ke rumah bawa mobil?


Titi mau melahirkan dan akan dibawa ke rumah sakit. " kata Ari saat kakaknya sudah mengangkat panggilan dari Ari.


☎ " Waalaikumsalam. Titi mau dibawa ke rumah sakit? Iya, kakak langsung kesana. " jawab kak Ruby saat mendengar Titi akan dibawa ke rumah sakit.


Dengan segera kak Ruby dan suaminya melaju menuju rumah Titi.


Sementara ayah memberi Titi segelas air yang harus Titi minum.


🦂🦂🦂


🦂🦂 Seseorang yang tidak mempunyai harta adalah orang miskin.

__ADS_1


Namun orang yang lebih miskin dari itu adalah orang yang tidak memiliki apapun selain harta. 🦂🦂


🦂🦂 Sumur ambisi tidak memiliki dasar. 🦂🦂


__ADS_2