
Malam ini selepas shalat isya, Titi dan Ari tengah bersantai didalam kamar, anak-anak sedang menonton televisi bersama nenek dan kakek mereka.
" May, ada teman yang menawarkan mobil pick-up pada pay.
Mobil lama tapi mesinnya masih bagus karena dirawat dengan baik. Apa may setuju jika kita ambil mobil itu? "
Tanya Ari pada Titi, yang mengatakan jika ada temannya yang menawarkan mobil pada Ari.
" Kita uang dari mana pay untuk membayar mobil itu? kita kan baru membeli sebidang tanah. "
Jawab Titi pada Ari dan mengatakan kondisi mereka saat ini.
" Teman pay itu pengen ganti motor, jadi kita bayar mobil itu dengan cara membayar angsuran motornya setiap bulan selama satu tahun.
Kita tidak diminta untuk membayar uang muka, hanya membayar angsuran motornya saja. "
Ari menjelaskan pada Titi jika mereka hanya perlu membayar mobil itu dengan cara membayar angsuran motor milik teman Ari.
" Angsuran perbulannya besar ga pay? kalau besar kita uang dari mana? kita kan sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah. "
Kata Titi pada Ari, Titi takut jika tidak mampu membayar angsuran motor itu jika terlalu besar.
" Angsuran motornya sama dengan angsuran motor kita dulu, Insya Allah kita bisa membayar angsurannya. "
Kata Ari yang mengatakan jika mereka bisa membayar angsuran motor itu karena tidak terlalu berat buat mereka.
" Kok bisa pay harga mobilnya semurah itu? bahkan hanya seharga motor saja? " tanya Titi heran setelah mengetahui jumlah angsuran motor yang harus dibayar.
Bagi Titi tidak masuk akal jika harga mobil bisa sama dengan harga motor walaupun itu mobil second.
" Sebenarnya teman pay mau memberikan mobil itu pada pay, tapi dia merasa tidak enak pada istrinya jika diberikan secara cuma-cuma, jadi beliau minta pay untuk membayar angsuran motornya saja. "
Kata Ari menjelaskan mengenai harga mobil yang akan mereka beli sangat murah.
" Ya sudah, terserah sama pay saja, kalau pay berminat dengan mobil itu, ya ambil saja. Nanti setiap gajian kita langsung bayar angsuran motornya ke dealer agar tidak terlambat. "
Kata Titi pada Ari dan akhirnya menyetujui untuk mengambil mobil itu.
Titi tahu siapa pemilik mobil itu setelah Ari mengatakannya pada Titi.
Teman Ari itu seorang anggota kepolisian yang memiliki kedudukan.
Usia mereka berbeda jauh, tapi Ari dan bapak itu bersahabat sangat dekat.
Hampir setiap minggu Ari dan bapak tersebut bersepeda berdua, berkeliling disekitar pantai atau ke tempat yang lebih jauh dengan bersepeda.
__ADS_1
Titi tahu beliau sangat baik, begitupun dengan istrinya.
Ari pernah membawa Titi dan anak-anaknya bersilaturahmi saat hari raya ke rumahnya dan mereka disambut dengan ramah.
Titi yang suka merasa minder, merasa malu saat harus beramah tamah dengan pejabat, walaupun itu teman Ari sendiri.
Akhirnya setelah membicarakan semuanya dengan Titi, Ari memutuskan untuk mengambil mobil itu dan membayar angsurannya setiap bulan.
🦂🦂
Keesokan harinya, Ari menghubungi temannya dan mengatakan jika ia bersedia mengambil mobil itu.
Berhubung Ari dan Titi sedang libur bekerja karena kalender merah, Ari langsung menuju rumah temannya untuk mengambil mobil karena temannya meminta Ari untuk datang kerumahnya.
Ari pergi ke rumah temannya dengan menggunakan sepeda karena temannya. mengajak Ari untuk bersepeda.
Di rumah, Titi membersihkan rumah mumpung sedang libur bekerja.
Walaupun tidak banyak yang dikerjakan karena Titi selalu membersihkan rumah sebelum berangkat bekerja.
Ibu Titi sedang memasak di dapur dan kedua anaknya tengah bermain dibawah pohon belimbing bersama ayah Titi.
Nanda sudah bisa bermain sendiri,. sedangkan Andi masih perlu diawasi.
" Ibu tidak ke rumah Titi? " tanya Titi pada ibunya saat ia membersihkan dapur.
Tuti sudah sehat dan sudah bisa mengurus bayinya sendiri. " jawab ibu pada Titi.
Bayi Tuti sudah berusia dua bulan dan Tuti sudah bisa mengurus Ais dan Iman sendiri tanpa bantuan ibu.
Tuti sudah terbiasa mandiri semenjak ia menikah karena langsung tinggal bersama suaminya setelah satu minggu pernikahan mereka.
Sebenarnya Titi merasa kasihan pada Tuti karena suami Tuti tidak seperti suami pada umumnya.
Suami Tuti terlihat baik didepan orang lain, suka membantu dan meminjamkan uang pada temannya yang membutuhkan, tapi jika pada anak istri ia akan sangat pelit dan perhitungan.
Hasil usaha meubel yang ia peroleh hanya sebagian yang ia berikan pada Tuti, sisanya ia simpan sendiri dengan alasan untuk modal membeli kayu jika ada orderan lagi.
Suami Tuti juga bisa dibilang pemalas karena ia bekerja sesukanya.
Hasil kerja Ali sangat bagus dan rapi sehingga banyak yang memesan perabotan rumah tangga pada Ali, seperti meja, kursi, lemari ataupun tempat tidur dan kusen.
Jika Ali serius dengan usahanya pasti ia bakal maju. Tapi sayang, Ali setengah hati saat bekerja.
Banyak pelanggannya yang kecewa pada Ali, bukan karena hasil kerjanya, tapi karena waktu yang dijanjikan tidak sesuai.
__ADS_1
Ali sering mengulur waktu dalam mengerjakan pesanan, jika di awal ia berjanji akan menyelesaikan dalam waktu satu minggu, tapi pada kenyataan nya pekerjaan itu baru selesai setelah dua minggu dan terkadang lebih.
Tidak ada kendala dalam pekerjaan Ali, yang membuat ia mengulur waktu karena Ali hobi memancing dan ia lebih mendahulukan memancing dari pada pekerjaan dan pesanan yang menumpuk.
Bukan sekali dua kali Tuti menegur suaminya untuk menyelesaikan pekerjaan dari pada memancing, tapi Ali tidak pernah memperdulikan teguran Tuti.
Terkadang Tuti merasa malu pada pelanggan yang kecewa karena pada saat mereka menagih pesanan, barang tersebut belum selesai Ali kerjakan.
Banyak alasan yang Ali katakan pada pelanggannya atas keterlambatan pesanan yang dibuatnya, hingga pada akhirnya Tuti tidak lagi memperdulikan kebiasaan Ali yang sering menunda-nunda pekerjaan demi pergi memancing.
🦂🦂
" Bu, nanti bang Ari mau mengambil mobil milik temannya untuk jadi kendaraan kita. "
Kata Titi pada ibu sambil membantu ibu mengupas bawang untuk bumbu memasak.
" Mobil apa, Ti? " tanya ibu tidak mengerti.
Titi menceritakan mengenai mobil yang tadi malam dibicarakan oleh Ari dan Titi pada ibunya.
" Bagaimana menurut ibu? " tanya Titi lagi.
" Ya tidak apa-apa jika kalian mau mengambil mobil itu, yang penting kalian sanggup untuk membayar angsurannya. " jawab ibu pada Titi.
" Sebenarnya Titi pengen nabung lagi bu, buat nanti membeli bahan bangunan untuk membangun rumah. "
Imbuh Titi pada ibu.
" Sabar aja Titi, jika sudah waktunya kalian pasti bisa punya rumah sendiri.
Lagian rumah ini kan luas jika hanya ayah dan ibu yang menempati, apa salahnya jika kalian menemani masa tua kami disini. " kata ibu pada Titi.
" Sebenarnya ibu dan ayah ingin kalian tetap tinggal disini bersama kami, tapi kami juga tidak bisa memaksa jika kalian ingin punya rumah sendiri karena itu keinginan setiap orang setelah berkeluarga. "
Ibu Titi mengatakan jika ia dan ayah Titi menginginkan Titi tetap tinggal bersama mereka karena hanya Titi yang belum memiliki tempat tinggal, dan jika Titi pergi maka ayah dan ibu Titi hanya tinggal berdua di rumah itu.
Titi tahu apa yang dirasakan oleh ayah dan ibunya, mereka pasti berat jika harus berpisah dengan anak-anak Titi.
Ibu sangat dekat dengan Nanda, sedangkan ayah Titi sangat dekat dengan Andi.
Bagaimana keadaan mereka jika harus berpisah dengan kedua cucunya tersebut.
Tapi Titi juga merasa ingin punya rumah sendiri karena ia sekarang sudah berkeluarga, Titi ingin mandiri dan tidak mengandalkan orang tuanya dalam mengurusi rumah.
Titi hanya bisa terdiam mendengar kata-kata ibunya, Titi tidak berani mengatakan apapun karena takut menyakiti hati ibunya.
__ADS_1
🦂🦂🦂
🦂🦂 Jangan ceritakan apa yang kau lihat di dalam rumah orang lain saat kau datang berkunjung kerumahnya karena bisa jadi itu merupakan rahasia mereka. 🦂🦂