
Pov Titi.
Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada bang Ari.
Ia makin hari semakin berubah, tidak betah dirumah.
Rumah hanya dijadikan seperti sebuah penginapan.
Setiap malam pulang hanya untuk tidur, mandi lalu pergi.
Begitu terus yang terjadi.
Ia juga seperti tidak begitu perduli dengan anak pertama kami.
Jarang ia meluangkan waktu untuk bermain dengan anaknya.
Tapi sikapnya pada ku tidak berubah.
Ia masih bersikap baik, masih suka bercanda dan bersikap romantis.
Setiap hari bang Ari akan pulang larut malam.
Jika sudah dirumah, ia akan mendengarkan musik hingga tertidur.
Jika aku marah, ia akan tidur dibawah dengan membentangkan selimut disamping tempat tidur.
Terkadang aku tidak perduli dengan yang dilakukannya.
Sungguh, aku merasa sedih dengan perubahan sikapnya.
Pernah terjadi sebuah pertengkaran antara aku dan bang Ari, semua karena aku merasa kesal.
Ia baru saja pulang kerumah dan sudah mau pergi lagi.
Aku bukan tipe perempuan yang suka mengomel jika sedang marah, aku lebih senang diam dan tak akan bertegur sapa.
Bang Ari merasa tersinggung saat aku tidak mau menyapanya.
Aku masih menyiapkan semua keperluannya, tapi aku tidak mau menegurnya.
Saat itu, kedua orang tuaku tidak berada dirumah, dan anakku sedang tidur.
Dirumah ada anak tante Neng dan istrinya beserta anaknya yang seumuran dengan anakku, sedang menginap dirumah.
Aku dan bang Ari bertengkar hebat, pertengkaran pertama bagi kami, karena aku sudah tidak bisa berdiam diri lagi.
Aku membantah kata-katanya hingga aku tak bisa lagi berucap.
Bang Ari berusaha mencari kunci kamar yang aku sembunyikan.
Aku memang sengaja mengunci kamar agar ia tidak keluar dan kami bisa bicara.
" Mana kunci kamar? berikan padaku karena aku akan keluar! "
Bang Ari memaksa untuk meminta kunci kamar.
Aku hanya diam tidak menanggapi kata-katanya.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan aku menenangkan anakku agar tidak terganggu tidurnya.
__ADS_1
Melihat aku hanya diam, dia semakin marah.
" Apa mau kamu? dimana kunci kamarnya? "
bentaknya padaku.
"Aku tidak tahu, mau apa abang keluar? selesaikan dulu masalah kita! "
Aku menjawab kata-katanya.
Bang Ari berusaha merebut kunci kamar dari ku.
Aku bersyukur, anakku tidak menangis mendengar keributan kami.
Ada perasaan sedih karena anakku yang masih balita harus melihat dan mendengar pertengkaran kami.
Walau anakku sedang tidur, rasanya tidak pantas melakukan pertengkaran didepan seorang anak.
Aku merasa sakit ketika bang Ari membentak ku, orang tuaku saja tidak pernah berkata kasar, apalagi membentak.
Air mataku sudah tidak bisa aku bendung lagi, aku menangis karena hatiku terasa sakit.
Satu yang aku syukuri, se marah apapun bang Ari, ia tidak pernah bermain tangan.
Tak pernah sekalipun bang Ari memukul atau menamparku.
Seperti halnya aku, jika marah ia akan mengikuti cara ku dengan mendiamkan aku.
Sakit, itu yang aku rasakan.
Karena aku tak sanggup berkata-kata lagi, tanpa sadar aku memukul kaca lemari pakaian hingga pecah.
Aku tidak bisa bertengkar dengan kata-kata, aku lebih suka adu fisik atau aku lebih suka menyakiti diriku sendiri.
Entah mengapa, aku tidak bisa mengeluarkan banyak kata, jika aku berkata maka akan ada makian yang akan terasa sakit saat mendengarnya.
Aku tak ingin menyakiti dengan kata-kata, maka lebih baik aku diam.
Mungkin bang Ari sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan, beruntung tangan ku tidak terluka.
Bang Ari membimbingku untuk duduk di tepi tempat tidur.
Di peluknya aku yang tengah menangis.
Ia mengusap punggung dan kepala ku.
Dilihatnya tangan yang tadi aku gunakan untuk meninju kaca lemari, beruntung hanya ada sedikit luka pada jari tanganku.
Bang Ari mengambil tanganku yang aku biarkan tergantung disisi tubuhku, ia. meletakkan tanganku di pinggangnya.
" Sudah dek.. maafkan abang..! "
Ia membujuk agar aku berhenti menangis.
Aku bukan tipikal orang yang suka lama bila merasa marah, aku akan dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Begitupun dengan bang Ari, aku tak bisa marah terlalu lama padanya.
Ia terus membujuk dan menenangkan aku hingga aku terdiam.
__ADS_1
Sebenarnya, aku lebih suka mengalah jika ada suatu permasalahan terjadi.
Aku tak pernah mempermasalahkan hal-hal yang sepele, tak pernah berusaha untuk memancing keributan.
Tapi jika sudah merasa tidak di hargai, apa yang harus aku lakukan.
Pernah terbersit dalam hatiku untuk berpisah dengan bang Ari.
" Mumpung anakku masih kecil, mungkin lebih baik jika kami berpisah. "
Kataku dalam hati.
Tapi aku kembali berfikir, bukankah tujuan aku menikah aku ingin jadi istri yang shalehah?
Dulu, aku menikah dengan bang Ari karena aku ingin menjadi istri yang shalehah, istri yang bisa berbakti dan mengabdi pada suami.
" Jika sekarang aku menyerah dengan pernikahan ini, bagaimana aku kedepannya? Aku tidak akan pernah bisa berfikir secara dewasa.
Bukankah setiap pernikahan akan ada ujiannya? Mungkin ini ujian pernikahan yang Allah berikan padaku.
Jika sekarang aku menyerah, dimana perjuanganku sebagai seorang istri yang seharusnya bisa menyadarkan suami saat ia melakukan sebuah kesalahan. "
Dalam pelukan bang Ari, aku masih terisak. Aku masih berperang dengan diriku sendiri.
Akankah aku menyerah dengan pernikahan ini, atau aku bertahan dan berusaha menyadarkan bang Ari agar ia kembali seperti dulu.
" Ya Allah, aku tidak pernah menginginkan ada perpisahan dalam rumah tangga ku.
Beri aku kekuatan dan kesabaran yang lebih lagi ya Allah. "
Dalam diam ku, aku terus bermonolog dalam hati, memohon pada Allah agar aku bisa melewati ujian ini dengan baik.
Aku masih muda dan mungkin masih bisa mendapatkan lelaki lain sebagai suami.
Tapi jika aku tidak sabar dan tidak dalam menghadapi ujian rumah tangga, ada kemungkinan aku akan kembali gagal dalam pernikahan, karena aku yakin tidak ada rumah tangga yang tidak diuji, apapun bentuk ujian itu.
" Dek.. maafkan abang, ya? sudah jangan menangis lagi. "
Bang Ari masih membujuk aku yang masih terisak.
Sulit rasanya menghentikan tangis ini, karena ini satu-satunya cara bagiku untuk meluapkan rasa sesak yang aku rasakan.
Bang Ari membaringkan tubuhku diatas tempat tidur.
Ditatapnya wajahku yang masih basah dengan air mata, dan dengan tangannya ia menghapus air mataku.
Bang Ari tersenyum sambil terus membersihkan sisa-sisa air mata.
Ia juga tidak merasa jijik saat membersihkan cairan dari hidungku, dibersihkan nya dengan menggunakan tangannya, lalu mengelapnya dengan waslap milik anak ku yang ada diatas tempat tidur.
Aku bersyukur, sepertinya anakku mengerti dengan keadaan kami.
Ia sama sekali tidak terbangun atau merasa terusik dengan pertengkaran kami tadi.
Aku memang berusaha untuk tidak menguatkan suaraku saat aku bertengkar tadi.
Aku menenangkan diri, dan diam saat tidur disamping bang Ari.
Belum ada sepatah katapun yang terucap dari bibirku.
__ADS_1
****