Nastiti

Nastiti
Bab 112. Kasih Sayang Seorang Ibu.


__ADS_3

Pov Tuti


" Alhamdulillah akhirnya putri keduaku lahir dalam keadaan sehat dan selamat.


Bersyukur aku bisa melahirkan di rumah dengan di temani ibu.


Dulu, Iman lahir ditemani ibu angkat mas Ali karena ibu tengah mendampingi mbak Titi yang akan menikah dengan bang Ari dan juga ibu tidak tahu jika aku melahirkan Iman. "


" Bahagia rasanya bisa melahirkan didampingi oleh ibu, bukan bermaksud ingin merepotkan ibu tapi aku merasakan kasih sayang ibu yang tidak pernah terputus walaupun aku sudah memiliki anak. "


" Pagi hari setelah mbak Titi berangkat ke kantor, aku mulai merasakan kontraksi. Pinggangku terasa pegal dan panas. Aku segera memanggil ibu untuk mengatakan jika aku sudah mulai kontraksi. "


" Bu, perut Tuti sudah mulai sakit, pinggang juga rasanya sudah terasa panas. " kataku pada ibu sambil menghampiri ibu yang sedang menyuapi anak-anak makan di dapur.


" Ya sudah, kalau begitu suruh ayah Iman memanggil bidan, ibu akan menyiapkan keperluan untuk kamu melahirkan. " kata ibu kepada ku sambil meminta anak-anak makan sendiri.


" Nanda, Iman, makan sendiri ya? nenek mau bantu ibu Iman dulu.


Itu adek Dik-dik nya bantu disuapi makannya. " pinta ibu pada Nanda dan Iman.


" Iya, nek! " jawab Nanda dan Iman bersamaan.


" Nek, ibu kenapa? " tanya Iman pada ibu.


" Ibu perutnya sakit, mau melahirkan, nanti adik Iman akan lahir. " jawab ibu pada Iman.


" Jadi sebentar lagi Iman akan punya adik ya, nek? " tanya Iman lagi.


" Iya, makanya Iman yang pintar ya? kan sudah mau punya adik. " jawab ibu pada Iman


" Hore.. Iman mau punya adik..! bang, Iman mau punya adik. " kata Iman pada Nanda dengan riang nya.


Nanda hanya menanggapi dengan mengangguk sambil melanjutkan makannya.


" Kalau sudah makan, piring sama cangkirnya taruh didalam ember ini ya, Iman? bang Nanda? masukkan juga piring punya Dik-dik. " kata ibu sebelum ibu pergi ke kamar pada Nanda dan Iman.


" Iya, nek! " jawab Iman dan Nanda, lalu keduanya melanjutkan makan mereka.


" Tut, dimana kamu simpan plastik untuk alas melahirkan? sudah ibu bawa kesini, kan? " tanya ibu saat sudah berada didalam kamar.


" Itu bu, ada didalam keranjang di atas bufet. " jawab ku pada ibu.


Ibu menurunkan keranjang dari atas bufet lalu mengambil plastik yang dulu digunakan mbak Titi untuk melahirkan, lalu membentang plastik tersebut di atas tempat tidur.


Sementara ibu menyiapkan keperluan untuk aku melahirkan, aku berjalan ke samping rumah untuk mencari mas Ali di meubel dan meminta mas Ali menjemput ibu bidan.

__ADS_1


" Mas, tolong jemput bu bidan sekarang, rasanya Tuti sudah mau melahirkan. " pintaku pada mas Ali yang sedang menyiapkan alat-alat untuk bekerja.


" Sudah mulai sakit, bu? kalau begitu ayah jemput bu bidan sekarang. " kata mas Ali sambil menaruh sugu yang sedang dipegangnya.


Mas Ali bergegas mengambil kunci motor yang terletak di atas tivi, lalu berpamitan untuk menjemput ibu bidan.


" Bu, ayah pergi menjemput ibu bidan dulu. " kata mas Ali kepadaku.


" Iya mas, hati-hati dijalan. " kataku pada mas Ali.


Setelah mas Ali pergi aku berjalan ke arah dapur untuk melihat anak-anak yang tadi sedang makan.


Rupanya mereka sudah selesai makan dan tengah menyimpan piring kotor ke dalam ember.


Sungguh pintar anak-anak itu, mau menuruti apa yang tadi dikatakan oleh ibu.


" Makannya, sudah? " tanyaku pada mereka.


" Sudah, bu. "


" Sudah, bi. "


jawab Iman dan Nanda bersamaan.


" Kalau sudah selesai makannya, kalian nonton tivi aja ya? jangan kemana-mana, bang Dik-dik nya diasuh." kataku pada Iman dan Nanda.


Aku menyetel cerita untuk anak-anak dengan menggunakan DVD agar mereka bisa nonton dengan tenang.


Setelah itu, aku terus berjalan-jalan di dalam rumah sambil sesekali menahan rasa sakit.


Dikamar, ibu sudah menyiapkan semuanya. Plastik sudah terpasang di atas kasur, baju dan perlengkapan untuk bayi juga sudah ibu siapkan disisi lain tempat tidur.


Aku sangat bersyukur masih ada ibu yang membantu semua keperluanku, karena aku tidak memiliki mertua yang bisa membantu disaat-saat seperti ini.


Aku tidak mengenal keluarga mas Ali karena disini dia hanya merantau dan katanya keluarganya ada di pulau Jawa.


" Kalau sudah tidak kuat jalan-jalan, istirahat aja dikamar. " kata ibu kepada ku.


Aku hanya menangguk menjawab kata-kata ibu sambil mengusap perutku yang terasa lebih sakit.


Aku berusaha menarik nafas dan membuangnya secara perlahan sambil beristighfar didalam hati.


Karena ini kelahiran anak yang kedua, sedikit banyak aku sudah punya pengalaman saat. melahirkan sehingga aku tidak terlalu panik.


" Duduk dulu Tut, ini minum teh manis hangatnya agar nanti ada tenaga. " kata ibu memintaku untuk duduk, lalu memberikan segelas teh manis hangat untuk aku minum.

__ADS_1


Aku duduk didekat anak-anak yang sedang asik menonton film kartun dari kaset yang tadi aku putar.


Mereka begitu asik dengan tontonannya sehingga tidak memperhatikan aku yang duduk di kursi tidak jauh dari mereka.


Aku meminum teh yang dibuat oleh ibu sambil terus mengusap-usap perut.


Memang sakitnya masih hilang timbul.


Setelah menghabiskan satu gelas teh manis, aku kebelet pengen buang air kecil, lalu aku berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk buang air kecil.


" Mau kemana, Tut? " tanya ibu saat melihat aku berjalan menghampiri ibu yang sedang berada di dapur.


" Mau ke kamar mandi, bu, rasanya Tuti pengen pipis. " jawabku pada ibu.


" Hati-hati jalannya, apa perlu ibu bantu? " tanya ibu padaku.


" Tidak perlu, bu, Tuti masih bisa jalan pelan-pelan. " jawabku pada ibu.


Dikamar mandi saat buang air kecil, aku merasa jika itu bukan air seni, tapi mungkin air ketuban yang sudah mulai keluar.


Dari kamar mandi aku langsung ke kamar dan membaringkan diri di atas kasur karena sakit di perutku sudah mulai sering terasa dan lebih sakit dari sebelumnya.


Ibu menghampiri lalu mengusap-usap pinggangku untuk membantu menenangkan dan mengurangi rasa sakit di pinggangku.


Setelah hampir satu jam, mas Ali kembali bersama ibu bidan yang langsung memeriksa jalan lahir.


" Alhamdulillah sudah mau lengkap. pembukuan, sabar ya? tinggal sebentar lagi. " kata ibu bidan kepadaku.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan ibu bidan karena sedang. merasakan sakit dari dalam perutku.


Ibu sudah menyuguhkan segelas teh untuk bu bidan sambil menunggu pembukaan lengkap.


Berselang sepuluh menit dari apa yang dikatakan oleh ibu bidan, aku merasakan perutku terasa melilit dan rasanya aku ingin BAB.


Dengan sigap bu bidan memeriksa jalan lahir yang sudah sempurna.


Dengan bantuan ibu bidan serta doa dari ibu, akhirnya aku bisa melahirkan putri kedua ku dengan selamat.


Lega dan bahagia rasanya setelah melewati proses ini.


Setelah bayi dimandikan dan kamar dirapikan dari alas plastik, aku beristirahat dikamar ditemani oleh tiga bocah yang tidak mau jauh dari bayiku karena mungkin mereka heran heran merasa gemes dengan bayi mungil yang ada dihadapan mereka.


Terima kasih ibu yang sudah mendampingi proses aku melahirkan dan membantu semua keperluanku.


Sungguh kasih sayang ibu itu dari semenjak kita dalam kandungan hingga kita tiada akan tetap bisa kita rasakan.

__ADS_1


πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚


πŸ¦‚πŸ¦‚Jangan mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, cukup Allah yang nanti akan memberikan ganjaran atas kebaikan kita. πŸ¦‚πŸ¦‚


__ADS_2