Nastiti

Nastiti
Bab 17. Tuti dan Tio


__ADS_3

Tuti hanya duduk dan menyimak obrolan mereka.


Ia hanya menemani Titi menemui teman-teman barunya.


Tio memperhatikan Tuti yang hanya diam saja, sesekali ikut tersenyum bila yang dibicarakan terdengar lucu.


Tio pun menyapa Tuti.


" Tuti, masih sekolah? kelas berapa?" tanya Tio.


" Tuti, masih kelas dua SMA, mas!" jawab Tuti.


" Tuti ini kalem ya, dari tadi diam saja, ga ikut ngobrol!" kata Tio lagi.


" Kalau baru kenal, dia kalem mas, tapi kalau sudah akrab, dia anaknya rame, suka nyerocos." Titi menyahuti kata-kata Tio sambil tersenyum.


" Kalau gitu, kita kelapa boleh ga, Tut?" tanya Tio pada Tuti.


" Maksudnya, Kelapa apa mas?" tanya Tuti bingung dengan kata-kata Tio


" Kelapa, kenalan langsung pacaran." jawab Tio sambil tertawa.


Tuti ikut tertawa mendengar kata-kata Tio.


" Titi, sudah lama kerja?" tanya mas Jojo


" Lumayan, mas, sejak tamat sekolah Titi langsung kerja!" jawab Titi.


" Berarti, sudah hampir tiga tahun ya?" tanya Jojo lagi.


" Iya, mas..Alhamdulillah," jawab Titi lagi.


" Kami, masih boleh main kesini ga Ti?" tanya Iman pada Titi.


" Dengan senang hati, mas. Alhamdulillah jadi tambah banyak teman." jawab Titi lagi.


Mereka asik bercerita, dan bercanda.


Titi dan Tuti merasa senang mendapat teman baru.


Tanpa terasa, hari pun menjelang petang.


Huda dan teman-temannya pamit pulang.


" Ti, kami pamit pulang dulu, Insya Allah kapan-kapan kami main lagi kesini." kata Huda pada Titi.


" Baik, mas. Terima kasih karena sudah mau main kesini.


Lain kali, main lagi ya mas?" jawab dan pinta Titi pada teman-teman barunya.


Mereka semua pamit pada Titi dan Tuti sambil mengucapkan salam.


Titi dan Tuti menjawab salam mereka.


Saat teman-temannya mulai berjalan kearah gang, Tio mendekati Tuti dan berkata pelan pada Tuti.


" Tut, nanti kan malam minggu, saya boleh main kesini lagi sehabis isya?" tanya Tio.


" Iya, mas, boleh!" jawab Tuti singkat.

__ADS_1


Akhirnya, teman-teman Titi pun pergi meninggalkan rumah Titi.


Titi dan Tuti membereskan piring dan gelas bekas mereka menjamu teman-temannya.


Tuti langsung mencuci piring dan gelas yang kotor didapur, ia tak mau menumpuk pekerjaan.


Saat Titi masuk kedalam rumah, ada ibu dan ayah yang sedang nonton tivi.


Ibu pun bertanya pada Titi, " Siapa tadi yang datang, Ti? kaya nya belum pernah main kesini?' tanya ibu.


" Teman-teman baru Titi, bu..mereka anak-anak Kompi!" jawab Titi.


" Kenal dimana sama mereka, Ti?" tanya ibu lagi.


" Titi pernah satu angkot sama salah satu temannya, bu. Lalu Titi kenalan dengan mas Huda ditelpon, akhirnya mas Huda mengajak teman-temannya main kesini.!" jawab Titi menjelaskan pada ibu.


" Banyak teman boleh, Ti, tapi tetap harus hati-hati dan jaga diri." kata ibu menasehati Titi.


" Baik, bu..Insya Allah Titi akan selalu menjaga diri, bergaul dan berteman seperlunya." jawab Titi pada ibu.


Ayah hanya menyimak obrolan ibu dan Titi, ia hanya memperhatikan anak-anaknya, bila ada yang perlu dibenarkan pada anak-anaknya, baru ayah akan menasehati mereka.


Karena menjelang magrib, mereka bersiap-siap untuk melaksanakan sholat magrib.


Titi dan Tuti masuk kekamar mereka masing-masing.


\=\=\=\=\=\=\=


Malam ini, seperti janjinya, Tio datang bertamu kerumah Titi.


Ia datang dengan mengendarai motor.


Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tok..


" Assalamualaikum.." ucap tamu dari luar.


Tuti yang baru datang dari arah dapur, langsung menuju pintu depan.


Tuti membuka pintu dan menjawab salam.


Ceklek...pintu terbuka, Tuti melihat ada Tio didepan pintu.


Tuti tak menyangka, bila Tio benar-benar datang malam ini sesuai janjinya tadi.


Tio, mengulangi mengucapkan salam.


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab Tuti.


" Mari masuk, mas!" ajak Tuti pada Tio.


" Disini aja, lebih enak duduk diluar!" kata Tio pada Tuti.


" Baiklah, duduk dulu mas. Mas mau minum teh atau kopi?" Tuti mempersilahkan Tio untuk duduk diteras depan, sekalian ia menawarkan minum.


" Kopi aja, biar enak ngobrol sambil minum kopi." jawab Tio pada Tuti.

__ADS_1


Tuti pun kembali masuk kerumah, ia menuju dapur untuk membuat kopi.


Setelah membuat kopi,Tuti membawanya ke teras dengan ditemani sepiring singkong goreng dan pisang goreng yang masih panas.


Sementara, Tuti membuat teh manis untuk dirinya sendiri.


" Silahkan diminum kopinya, mas, ini ada pisang goreng, tadi habis magrib Tuti dan mbak Titi buat singkong goreng dan pisang goreng untuk cemilan." Tuti menawarkan kopi dan gorengan yang dibawanya pada Tio.


" Terima kasih, dek. Wah..mantap ini, minum kopi ditemani pisang dan singkong goreng.


Maaf, saya panggil adek aja, ya? ga enak rasanya manggil Tut, kaya bunyi kereta api aja, tut..tut..tut..!" kata Tio sambil bercanda pada Tuti.


" Iya mas, ga papa." jawab Tuti.


" Titi, mana dek? kok ga kelihatan?" tanya Tio.


" Mbak Titi lagi pacaran dikamar, mas." jawab Tuti sambil tersenyum.


" Lho..yang bener aja dek, masa Tuti pacaran dikamar? apa tidak dimarah sama kedua orang tua kalian?" tanya Tio heran.


" Ga mas, sudah biasa!" jawab Tuti lagi.


" Astagfirullah...yang bener dek?" tanya Tio tak percaya.


" Iya, mas. Mbak Titi pacaran sama novel dan musik di kamarnya, ditemani teh tawar hangat dan gorengan." kata Tuti sambil tertawa.


Tio merasa kesal pada Tuti yang sudah mengerjai nya, mukanya sedikit cemberut.


" Kamu itu, dek..dek..bikin kesel aja, kirain beneran! Saya sudah ga percaya kalau Titi pacaran di kamar, orang Titi kelihatan gadis baik-baik, kok!" kata Tio kesal.


" Iya, maaf.." kata Tuti lagi


" Emang Titi ga punya pacar, dek? kok, malam minggu ga ada yang ngapelin?' tanya Tio.


" Ga ada, mas. Yang mau sama mbak Titi sih ada beberapa orang, termasuk guru mengaji dan temen di pengajian.


Teman di kantornya juga ada, tapi mbak Titi ga pernah mau menanggapi.


Mbak Titi pertama pacaran saat hampir tamat sekolah dengan seorang PNS yang dinas di militer, tapi dengar kabar kalau pacar Titi ga lama lagi mau menikah sama tunangannya, tanpa memberi kabar atau kata putus pada mbak Titi!"


Tuti menjelaskan panjang lebar keadaan Titi dan Tio


Tio mendengarkan apa yang Tuti sampaikan.


" Jadi, Titi sekarang sedang patah hati? tanya Tio lagi.


" Ga juga, mas..mbak Titi biasa-biasa aja, ga kelihatan sedih.


Mbak Titi tetap semangat, dan beraktivitas seperti biasa, tak terlihat seperti orang patah hati!" kata Tuti menjawab pertanyaan Tio.


" Wah..hebat ya, Titi! Kelihatan tegar walau mungkin ia sakit hati atas perbuatan mantan pacarnya, tapi ia bisa bersikap biasa saja dan tak terlihat bersedih!" kata Tio lagi.


" Iya, mas. Kadang Tuti juga heran melihat mbak Titi, ia seperti tak ingin punya pacar lagi. Bila ibu bertanya, kapan mbak Titi mau menikah, mbak Titi hanya menjawab, bila sudah jodoh akan datang dengan sendirinya.


Sebenarnya, guru mengaji pernah berkata pada ibu, jika mbak Titi mau, ia siap melamar mbak Titi dan langsung menikah, tapi mbak Titi ga antusias dengan tawaran itu!" Tuti berkata dengan nada sedikit sedih.


" Sabar aja, dek, mungkin memang belum waktunya. Mungkin Titi ingin menghabiskan masa gadisnya dengan menikmatinya sendiri, jika jodohnya sudah datang, maka ia pasti akan menikah, lagian umur Titi juga masih muda!" Tio berusaha memberi masukan akan keadaan Titi.


Tuti mendengarkan apa yang Tio sampaikan.

__ADS_1


Terkadang Tuti merasa sedih melihat Titi, ia takut jika Titi merasa trauma untuk punya pasangan.


............................


__ADS_2