Nastiti

Nastiti
Bab 91. Perjalanan Titi Dan Ari.


__ADS_3

Waktu berlalu, kandungan Titi sudah memasuki usia empat bulan.


Alhamdulillah sama seperti kehamilan pertama, tidak tidak mengalami morning sickness.


Titi hanya tidak bisa mencium bau bakso dan sate.


Alhasil, jika lewat di depan tukang bakso atau sate, Titi akan menutup hidung dengan jilbab yang ia kenakan.


Atau Titi akan menghirup aroma tengkuk Ari yang membuatnya merasa nyaman.


Titi juga tidak pernah meminta yang makanan yang macam.


Seperti buah-buahan yang masam atau rujak.


Titi makan makanan yang biasa ia makan.


Tapi hari ini, ada sesuatu yang Titi inginkan.


Ia ingin memakan es tong-tong yang sering lewat didepan rumahnya.


Sore hari saat pulang kerja, Titi meminta Ari untuk membeli es tong-tong sebelum mereka pulang.


" Pay, may pengen beli es tong-tong, nanti kalau lihat penjual es tong-tong kita beli ya? " kata Titi pada Ari yang menginginkan makan es tong-tong.


" Kita cari dimana es tong-tong nya, may? " tanya Ari pada Titi.


" Biasanya didepan rumah sakit suka ada yang mangkal.


Kita lihat aja, kalau dijalan kita lihat ada penjual es tong-tong lewat kita panggil. "


jawab Titi yang biasanya melihat penjual es tong-tong mangkal didepan rumah sakit.


Ari menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, sambil melihat-lihat disepanjang jalan menuju pulang jika ada penjual es tong-tong.


Sampai mereka berbelok ke arah rumah sakit, mereka tidak melihat penjual es tong-tong yang biasanya. menggunakan sepeda ataupun didorong.


Sampai didepan rumah sakit, mereka juga tidak melihat penjual es tong-tong.


" Dimana may penjual es tong-tong nya? sepertinya didepan rumah sakit ini tidak ada. " kata Ari yang menghentikan motornya didepan rumah sakit.


Ari dan Titi mengedarkan pandangan mencari penjual es tong-tong.


Titi melihat ketempat biasa penjual es itu mangkal, tapi tidak ada.


Juga ditempat penjual lain, siapa tahu ia pindah lokasi.


Setelah puas mencari, mereka tidak menemukan keberadaan penjual es tong-tong.


" Gimana may, penjual es nya tidak ada." kata Ari pada Titi.

__ADS_1


" Iya pay, mungkin sudah pulang atau tidak jualan lagi disini. " kata Titi yang merasa kecewa.


" Terus gimana? " tanya Ari lagi.


" Ya sudah, kita pulang aja. " jawab Titi tidak bersemangat.


Ari merasa kasihan melihat Titi yang kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


Selama ini Titi tidak pernah meminta apapun.


Untuk itu, Ari akan berusaha memenuhi apa yang Titi inginkan.


" Kita cari ya may penjual es tong-tong nya. " kata Ari pada Titi.


" Mau cari kemana? tadi sepanjang jalan dari kantor sampai kesini kita tidak menemukan penjual es tong-tong.


Biasanya dia mangkal disini juga tidak ada. Mungkin kita sudah kesorean nyarinya. "


Titi tidak tahu kemana akan mencari penjual es tong-tong karena hari sudah menjelang sore.


" Sudah, kita jalan aja dulu ke arah kota, siapa tahu nanti ada penjual es tong-tong. " kata Ari sambil menyalakan motor setelah Titi duduk dibelakang Ari.


Ari melajukan motor ke arah pasar, dengan santai sambil tetap melihat dan mendengar jika ada penjual es tong-tong.


" Sabar ya may, nanti pasti ketemu. " kata Ari sambil memegang tangan Titi yang melingkar di perutnya.


" Iya pay, terima kasih sudah mau mengantar mencarikan es tong-tong. " kata Titi pada Ari.


" Iya, heran aja, biasanya kalau ga pengen suka lihat penjual es tong-tong, bahkan hampir setiap hari lihat penjual es tong-tong mangkal didepan rumah sakit. Giliran hari ini pengen makan es tong-tong, malah ga nemu penjualnya satu pun. "


Titi menggerutu dan merasa heran, karena hampir setiap hari ia melihat penjual es tong-tong, tapi hari ini penjual es tong-tong tidak ditemukan sama sekali.


" Itu namanya ujian orang yang lagi ngidam. " imbuh Ari pada Titi.


" Iya kali ya? kalau lagi ga pengen ada, giliran pengen ga ada. " kata Titi sambil tertawa.


Ari dan Titi terus menyusuri jalan untuk mencari penjual es tong-tong.


Sepanjang jalan mereka mengobrol, bercerita banyak hal.


" Coba kita tadi mampir dulu ke rumah ya, pay? kita bisa ajak Nanda sekalian. " kata Titi yang menyesali mengapa mereka tidak mengajak Nanda.


" Padahal kalau kita belok ke rumah dulu tadi ga begitu jauh. " kata Titi lagi.


" Tadi bukan ga mau mampir ke rumah dulu, takutnya kalau sudah ke rumah malas untuk keluar lagi. " kata Ari.


" Iya juga sih, kalau kita mampir ke rumah dulu yang ada kita ga jadi cari es tong-tong karena malas mau keluar lagi."


" Sudah lama ya pay kita ga ajak Nanda jalan-jalan? " kata Titi pada Ari.

__ADS_1


" Iya ya? kapan terakhir kita ajak Nanda jalan? " tanya Ari.


" Rasanya belum lama sih, kalau ga salah beberapa bulan sebelum pay sakit." Jawab Titi.


Ari terdiam mengingat kapan terakhir ia mengajak Nanda jalan.


" Ingat ga waktu kita mau ke rumah Eni? Kita berangkat kesana jam dua siang dengan menggunakan motor. "


Titi mengingatkan Ari saat mereka pergi keluar kota menggunakan motor.


" Iya, pay ingat. Kita pergi naik motor dan plat motor bagian belakang copot dan belum dipasang.


Saat kita tiba di perbatasan kota dingin ada razia, untung kita tidak kena tilang karena plat motor kita tidak ada satu. "


Kata Ari yang mengingat perjalanan mereka ke luar kita.


" Saat ada polisi yang memperhatikan motor kita, may cemas banget pay, takut kena tilang. Dalam hati may berdoa agar kita selamat dan tidak kena tilang.


Untung ada polisi lain yang meminta kita melanjutkan perjalanan. "


Kata Titi yang merasa cemas saat motor mereka dihentikan petugas razia.


" Memang betul ya, kalau kita berdoa sebelum pergi, kita akan dilindungi selama perjalanan. "


Kata Ari yang juga merasa bersyukur karena mereka bisa lolos dari razia.


" Tiba di tujuan malah Eni nya sedang pulang ke rumah orang tuanya.


Rupanya kita selisih jalan dengan Eni saat di gunung.


Kita naik motor dan Eni bersama suaminya naik mobil, jadi saat papasan pun tidak ada yang tahu. "


Tujuan mereka keluar kota ingin bermain ke rumah Eni, saudara Titi.


Mereka tidak memberi kabar terlebih dahulu karena ingin memberi kejutan.


Saat Titi menelepon Eni dan menanyakan alamatnya, ternyata Eni sudah dirumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah Titi.


Karena sudah jam tujuh malam dan Nanda sudah tertidur, mereka memutuskan untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari tempat mereka menelepon Eni.


" Tahu ga pay? saat kita menginap di penginapan, itu pertama kali may menginap di penginapan. " kata Titi yang mengingat pertama kali ia menginap di sebuah penginapan.


" Memang sebelumnya belum pernah menginap di penginapan atau hotel gitu? " tanya Ari heran.


" Belumlah, memangnya may pergi kemana sampai. menginap di hotel segala. " jawab Titi sambil tertawa.


" Makanya pas kita sarapan pagi di penginapan, may bingung karena piringnya lebar-lebar, padahal may ingin mengambil sop. Rupanya mangkuk untuk sop ada dimeja bagian bawah. "


Kata Titi yang merasa malu saat pertama kali mereka sarapan pagi di penginapan karena Titi tidak tahu jika ada mangkuk untuk sop, dan Titi menaruh sop di piring lebar.

__ADS_1


Untung Titi tidak mengambil banyak dan sop nya dicampur dengan nasi.


__ADS_2