Nastiti

Nastiti
Bab 65. Rencana Aqiqah


__ADS_3

" Gimana kerjaan hari ini, bang? sudah beres? kok masih pagi abang bisa pulang? " tanya Titi beruntun pada Ari.


" Alhamdulillah.. pagi ini abang sudah kasih jadwal sama para sopir, juga sudah kasih DO masing-masing.


Tadi abang sudah pamit ke kantor, dan mbak Dewi juga meminta abang untuk pulang dulu." Ari. menjawab pertanyaan Titi.


" Abang nanti ke kantor lagi? " tanya Titi lagi


" Nggak, dek..! kebetulan hari ini jadwal cuma satu rit, tidak ada mobil yang ngisi lagi, jadi abang ga balik lagi ke kantor. " jawab Titi.


Oek...


Oek..


Oek..


Saat Titi dan Ari tengah duduk dan mengobrol, tiba-tiba bayi mereka menangis.


Titi berdiri dari duduknya dan mendekati bayi mungil yang tengah menangis.


" Duh.. anak mama nangis, napa haus ya? atau popo#knya basah? " tanya Titi pada bayinya.


Titi meraba bagian pantat bayinya.


" Eleh-eleh.. ngompol ya, bedongnya sudah basah. " kata Titi sambil membuka bedong putranya.


" Kenapa dek? ngompol ya jagoan papa? " tanya Ari pada Titi.


" Iya nih, jagoan kita ngompol, pantatnya basah, jadi menangis karena merasa ga nyaman." jawab Titi.


" Bang, tolong ambil air hangat untuk me lap anak kita, biar ga gatal.! " pinta Titi pada Ari.


Ari pun pergi kedapur untuk mengambil air hangat, lalu kembali kekamar dengan membawa baskom kecil berisi air hangat.


Dengan telaten Titi membersihkan bayinya yang ternyata PUP dengan menggunakan waslap yang dicelupkan ke air hangat.


Setelah bersih, Titi memberi bedak lalu mengganti popok dan juga bajunya, karena sudah basah terkena air kencing.


Titi mengumpulkan pakaian kotor bayi nya dalam ember kecil, nanti tinggal dibersihkan dikamar mandi.


Setelah mengganti popok dan baju, Titi memasang bedong agar bayinya tetap nyaman, lalu ia memberi asi pada bayinya.


Melihat Titi yang bisa mengerjakan sendiri membedong bayinya, Ari pun bertanya :


" Adek sudah bisa semua ya, menggantikan popok dan juga membedong bayi.


Belajar dari mana? " tanya Ari heran.


" Tadi lihat bu bidan cara membedong bayi, Titi sekalian belajar..biar ga merepotkan ibu! " jawab Titi.


" Untuk nama putra kita, apa jadi kasih nama yang sudah kita siapkan kemarin, bang? " tanya Titi


" Iya, kita kasih nama yang sudah kita siapkan aja.


Muhammad Arka Vernanda, kita panggil Nanda! " jawab Ari.


" Wah.. kita panggil bang Nanda ya, karena ia ananda kita yang pertama! " kata Titi sambil menatap putranya yang masih menyusu padanya.


Setelah berhenti meminum asi, Titi meletakkan kembali bayinya diatas tempat tidur.

__ADS_1


" Sudah mau zuhur bang, abang shalat dulu ya baru kita makan siang! " pinta Titi pada Ari.


" Iya, abang mau mandi dulu sekalian wudhu lalu shalat zuhur! " kata Ari sambil berdiri dari duduk nya.


Ia melangkah keluar kamar dan menuju kamar mandi, sementara Titi tetap dikamar menunggui bayi mereka.


Saat makan siang, ibu telah menyiapkan bening bayam untuk Titi sebagai sayurnya.


Kebetulan di kebun belakang sedang banyak bayam yang tumbuh dan bisa dijadikan sayur.


" Ingat, Ti..! jangan makan nasi panas, tunggu dingin dulu, juga air minumnya! " kata ibu pada Titi.


" Iya bu, tadi nasinya sudah Titi dinginkan dulu, air minumnya juga hangat! " jawab Titi.


" Kalau turun dari tempat tidur, sandalnya dipakai ya Ti? biar ga dingin! " pinta ibu pada Titi.


" Iya, bu! " jawab Titi singkat.


Mereka pun mulai makan siang bersama.


°°°°°°


Hari terus berlalu, tak terasa satu bulan sudah usia bayi Titi.


Titi tetap mengikuti dan melakukan pantangan-pantangan yang ibu berikan.


Titi dilarang makan dan minum yang panas, kata ibu nanti lidah bayi akan putih jika minum atau makan yang panas.


Saat makan Titi juga harus hati-hati, jangan sampai ada beras yang masih berupa padi termakan oleh Titi karena menurut ibu, itu akan membuat payudara terasa sakit.


Titi diberi makan dengan sayur bening, bukan tumisan.


Ibu jarang memberi Titi makanan yang digoreng.


Alhamdulillah selama ini Titi terlihat sehat, bayinya pun sehat, saat usianya satu bulan, timbangan berat badan Nanda pun bertambah.


Titi bersyukur ada ibu yang merawat dan memperhatikannya saat ia melahirkan.


******


Menjelang empat puluh hari, Titi dan Ari berencana untuk melaksanakan aqiqah bagi putra mereka.


Mereka berencana untuk melakukan syukuran atas kelahiran putra pertama yang lahir secara normal di rumah, memberi nama, sekaligus mencukur rambut.


Dalam islam, biasanya aqiqah dilaksanakan saat bayi berusia tujuh hari, empat belas hari atau dua puluh satu hari.


Bisa juga dilakukan lebih dari hari itu, sesuai kemampuan orang tua yang akan melakukan aqiqah.


Biasanya aqiqah untuk anak laki-laki dilakukan dengan menyembelih dua ekor kambing atau domba, bila tak mampu cukup satu ekor saja.


Untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing atau domba.


°°°°°°°°°


" Bu.. jam berapa kita akan kerumah kak Titi? " tanya Ana pada ibunya.


Pagi ini, ia tengah merapikan piring-piring yang sudah dicuci dan menaruhnya di rak piring.


" Sebentar lagi, jam setengah sembilan kita berangkat, ibu mau siap-siap dulu.

__ADS_1


Kalau sudah selesai beberes dapur, kamu langsung mandi aja! " kata ibu pada Ana.


" Iya, bu! " jawab Ana.


Ana langsung membersihkan dapur, menjemur pakaian yang tadi sudah dicuci nya.


Hari sabtu, Ana tidak membuka kantin karena biasanya hari sabtu sepi, jika ada sopir yang pesan kopi mereka akan langsung ke rumah Ana.


Setelah urusan dirumah selesai, ibu Ari dan Ana berangkat ke rumah Titi, mereka berangkat dengan naik angkot.


>>>>>>>>>>>


Menjelang siang ini keluarga Ari juga sudah datang, ada ibu dan Ana adik Ari.


Kakak Ari akan datang sore hari karena menunggu anaknya pulang dari sekolah.


" Assalamu'alaikum... " salam ibu Ari dan Ana saat sampai di rumah Titi.


Mereka melihat Titi yang sedang duduk diruang tamu karena pintu depan sengaja dibuka agar ada angin yang masuk.


" Wa'alaikumussalam.. silahkan masuk bu, Ana! " jawab Titi membalas salam dan meminta ibu serta Ana masuk.


Titi menyalami dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.


" Apa kabar, bu? " tanya Titi sambil memeluk ibu mertuanya.


" Alhamdulillah ibu sehat.


Mana cucu ibu? " jawab Lis, ibu mertua Titi.


Ibu Lis juga menanyakan keberadaan cucunya.


" Nanda ada dikamar bu, sedang tidur.


Titi nungguin disini, kalau dikamar suka ikut ngantuk! " jawab Titi.


" Kak, ini ada oleh-oleh buat adek bayi, juga buat kakak ngemil! " kata Ana sambil menyerahkan paperback dan kantong kresek yang dibawanya.


" Bawa apa sih, An? kok malah repot-repot, cemilan kakak ada kok, ntar banyak ngemil malah tambah gendut.! kata Titi pada Ana sambil mengambil kantong yang diserahkan oleh Ana.


" Itu cuma oleh-oleh buat adek dari ibu sama Ana, sama sekali ga merepotkan.! " kata Ana lagi.


" Terima kasih bu, Ana atas oleh-oleh nya, maaf jadi merepotkan! " kata Titi merasa tak enak hati pada ibu Lis dan juga Ana.


" Mari bu, kita kekamar lihat cucu ibu."


ajak Titi pada ibu mertua nya.


Ia juga mengajak Ana untuk melihat bayinya.


" Ana mau lihat juga ga? " tanya Titi.


" Mau lah kak, waktu kesini kan adek bayinya masih kecil, baru berapa hari.


Ini dah lebih satu bulan, pasti dah tambah gede! " jawab Ana sambil tertawa.


Merekapun masuk kekamar Titi untuk melihat bayi Nanda.


<<<<<<<>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2