
Hari ini, seperti biasa Titi menjalani aktivitasnya di kantor.
Ia menyiapkan semua perlengkapan untuk memulai aktivitasnya.
Titi menyiapkan catatan dan nota-nota yang akan dibuat tagihan.
Para konsumen ada yang minta dibuat tagihan per pengiriman, ada pula yang per setoran, dan ada yang perbulan.
Titi selalu merapikan setiap dokumen sesuai dengan nama-nama konsumennya, merapikan nota-nota sesuai setoran dan pengiriman.
Pada saat membuat tagihan, Titi tidak merasa kesulitan.
Titi memang selalu teliti dengan pekerjaannya, ia tak pernah menunda suatu pekerjaan, jika tidak selesai di kantor, maka Titi akan membawanya kerumah.
Hanya ada kekurangan Titi yang sulit dihilangkan, ia tak punya rasa percaya diri dan selalu merasa minder dengan orang lain.
Titi berusaha untuk menutupi kekurangannya itu, tapi begitu sulit baginya.
Mungkin karena ia berasal dari keluarga yang sederhana, atau ada sesuatu hal yang lain yang membuatnya merasa demikian.
Kelebihan Titi, ia bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Ia selalu siap melakukan pekerjaan apapun, walaupun itu bukan pekerjaannya, dan selalu siap membantu pekerjaan teman-temannya bila diperlukan.
Siang ini, saat jam istirahat, Titi pergi ke kantin bersama mbak Weni, karena Feni sedang ada urusan keluar.
" Mau pesan apa, Ti?" tanya mbak Weni
" Mbak lagi pusing, mau pesan mie rebus dengan cabe rawit yang banyak!" kata mbak Weni lagi.
" Iya, mbak, Titi juga mau pesan mie rebus aja, tadi di kantor sudah makan roti yang dibawa mbak Dewi, jadi masih rada kenyang kalau makan nasi." jawab Titi.
Lalu mbak Weni memesan mie pada Ana, penjaga kantin.
"An, mbak pesan mie rebus pake cabe rawit yang banyak, Titi pesan mie rebus pake telur, cabe nya dua biji aja!" pesan mbak Weni pada Ana.
" Iya, mbak, siap!" jawab Ana.
" Mbak Weni mau pake cabe banyak-banyak, nanti sakit perut, terus bilang gara-gara makan mie rebus buatan Ana!" Ana menggerutu pada mbak Weni.
" Tenang aja, An..mbak ga bakal protes, Insya Allah ga bakal sakit perut juga.
Mbak lagi pusing nih buat draff untuk proyek mess yang akan dibangun di perkebunan yang baru dibuka". jawab mbak Weni pada Ana.
Ana pun menyiapkan pesanan mbak Weni dan Titi.
Lalu membawanya ke meja yang mereka tempati.
" Silahkan, mbak, mie nya sudah siap!" kata Ana sambil menaruh mie pesanan mbak Weni dan Titi.
__ADS_1
" Terima kasih, Ana!" ucap mbak Weni dan Titi.
Mereka pun mulai menyantap mie pesanan nya.
" Mau minum apa, mbak?" tanya Titi.
" Mbak minta air putih hangat aja Ti, biar pas sama mie mbak yang pedas." jawab mbak Weni.
Titi mengambilkan mbak Weni air putih hangat, sementara ia mengambil air mineral dalam botol.
" Mie buatan Ana memang mantap!" kata mbak Weni sambil mengelap keringat di dahi dan wajahnya.
" Iya mbak, memang beda mie buatan Ana, Titi pernah nyoba buat sendiri di rumah, tapi rasanya biasa aja, kalau buatan Ana memang benar-benar enak!. jawab Titi membenarkan ucapan mbak Weni.
" Apa rahasianya An? Apa pakai jampi-jampi biar enak?" tanya Titi menggoda Ana.
" Iya, mbak, harus pakai jampi-jampi biar laris dagangannya." jawab Ana sambil tertawa.
" Mbak, mau tau ga jampi-jampi Ana? Mana tahu nanti mbak mau pake juga?" tanya Ana
" Apa jampi-jampi nya An?" tanya Titi iseng.
" Tapi, rahasia ya mbak, jangan kasih tahu yang lain!" kata Ana lagi.
" Kaya yang iya aja, kamu nih An, pake jampi-jampi segala!" sela mbak Weni.
" Mau tau ga, mbak?" tanya Ana dengan memasang wajah serius.
" Ahh..ga jelas banget kamu, An..mbak kira kamu serius!" jawab Titi.
" Mbak Titi, masa masih percaya yang begituan? kalau mau masak atau aktivitas lain, cukup baca bismillah aja mbak!" kata Ana lagi masih dengan tawanya.
Ia merasa lucu melihat wajah penasaran dari mbak Weni dan juga Titi.
" Iya ya An, yang penting kita berusaha untuk mencari rejeki yang halal.
Dengan niat yang baik, Insya Allah akan dilancarkan dan dimudahkan Allah!" ujar Titi pula.
" Iya mbak, Aamiin.." balas Ana.
Setelah menyelesaikan makan mie, dan waktu istirahat habis, mbak Weni dan Titi kembali ke kantor.
Mereka melanjutkan aktivitas kerja mereka hari ini.
*** (&_&) ****
Sore ini, setelah menyelesaikan semua pekerjaan, Titi bersiap untuk pulang kerumah.
Ia telah merapikan mejanya, menyimpan semua berkas ditempatnya masing-masing, lalu Titi mengambil tas nya.
__ADS_1
" Mau pulang bareng, Ti?" tanya pak Beri.
Rumah pak Beri, memang satu arah dengan Titi, dan ia selalu membawa mobil bila ke kantor.
" Tidak, pak! Terima kasih, Titi naik angkot aja!" tolak Titi.
" Baik, Ti, kalau begitu saya duluan!" ucap pak Beri lagi.
" Iya, pak, hati-hati dijalan!" balas Titi.
Akhirnya, pak Beri melajukan kendaraannya meninggalkan halaman kantor.
Mbak Dewi telah dijemput tunangannya, dan mbak Weni dijemput suaminya.
" Fen..sudah selesai belum beberesnya? mau pulang bareng ga?" tanya Titi pada Feni.
" Bentar Ti, ini tinggal masukin barang-barang ke dalam tas." jawab Feni.
Feni pun memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas, lalu keluar kantor dan menghampiri Titi yang menunggu di teras depan.
Titi dan Feni keluar dari halaman kantor, mereka menuju jalan raya untuk mencari angkot.
Saat didepan rumah Ana, Titi melihat Ana dan ibunya sedang duduk di teras, tapi ada seseorang yang baru dilihat oleh Titi.
Saat melihat Titi dan Feni lewat didepan rumahnya, Ana menyapa mereka.
" Baru pulang, mbak? Mampir dulu!" tanya dan tawar Ana pada Titi dan Feni.
Saat Ana menyapa Titi dan Feni, lelaki yang duduk di antara Ana dan ibunya melihat kearah mereka, ia tersenyum pada mereka.
" Iya, An..baru keluar kantor.
Sudah sore, maaf ga bisa mampir, besok aja kita ketemu lagi!
Mari An, bu..kami pulang dulu?" balas Feni pada Ana, Titi hanya tersenyum dan sedkit mengangguk pada Ana dan ibunya, tanda ia pamit pada mereka.
" Iya, mbak. Hati-hati dijalan." balas Ana.
" Iya, An, terima kasih!' jawab Feni lagi.
Titi dan Feni melanjutkan perjalanan untuk menuju jalan raya guna menunggu angkot.
" Ti, siapa ya cowok yang duduk dekat Ana tadi? Kaya nya baru melihatnya hari ini, apa saudara Ana ya? dia duduk diantara Ana dan ibunya, atau kekasih Ana?" tanya Feni penasaran pada Titi.
Titi menoleh apa Feni yang berjalan disampingnya, lalu Titi memukul pelan tangan Feni, Feni pun mengaduh pelan.
" Kenapa sih, Ti? koq malah mukul aku?" protes Feni.
**** (∆_∆) ****
__ADS_1
Note : Buat teman-teman, jangan lupa dukungannya dengan memberi Like, Komen and Vote, biar semangat untuk Up.